
****
"Kami berangkat!" teriak Dennis sambil berlari menghampiri mobil orang tuanya. Diikuti juga oleh teman-temannya di belakang.
"Iya! Hati-hati ya, Nak!" Ibunya melambai.
Dennis dan teman-temannya akan pergi ke Rumah Sakit tempat Rei dirawat. Dennis sangat senang, akhirnya ia boleh keluar rumah juga untuk menjenguk sahabatnya.
Mereka semua naik mobil milik Orang tuanya Dennis. Dan ternyata... Dennis sendiri lah yang akan menyetir mobil itu!
Semuanya segera masuk ke dalam mobil. Dennis pastinya paling depan. Tempat di sampingnya diduduki oleh Akihiro. 3 Bangku di belakang mereka ditempati oleh Adel, Sachiko di tengah dan Mizuki. Dan 3 bangku sisahnya yang paling belakang tidak ada yang menempati.
Orang tua Dennis tidak ikut. Yang pergi hanya mereka berlima saja.
"Eh, Dennis? Apa kau bisa menyetir mobil?" tanya Akihiro tidak percaya.
Dennis mengangguk sambil memasukan kunci mobil ke dalam lubangnya. "Iya bisalah." Jawabnya berbangga diri. "Aku kan sering memakai mobil ini untuk pergi jalan-jalan bersama si sampah dulu." Lanjutnya.
"Eh? Sampah siapa?"
"Itu si Diana. Ah, pura-pura tidak tahu saja." Jawab Dennis lagi sambil menyalakan AC mobil. Lalu setelah itu, Dennis menarik persenelingnya dan menginjak gas secara perlahan.
Akihiro hanya mengangguk. Ia mulai diam sambil bersandar di bangku yang ia tempati. Matanya melirik ke jendela mobil di sampingnya. Mobil sudah berjalan. Akihiro dapat melihat pemandangan sawah di Desa lewat kaca jendela itu. Sangat indah dan tersusun rapih.
"Oh, iya Mizuki," Akihiro kembali membuka mulutnya.
Mizuki menyahut pelan, "Iya?"
"Adikmu itu tidak kau kembalikan ke dalam sangkarnya?"
BUK!
Setelah mendengar perkataan Akihiro, Mizuki langsung terkejut dan menjadi kesal. Lalu dengan cepat ia memukul kepala Akihiro yang kebetulan duduk di depannya itu.
"Sembarangan saja kalau ngomong!" bentak Mizuki.
Akihiro tertawa sambil memegang kepalanya. "Hehe... maaf, maaf! Habisnya aku masih bingung dengan ceritamu itu. Masa di perjalanan jauh, adikmu bisa mengikuti dirimu tanpa kau sadari, sih?"
"Hah, entahlah... di Jepang dia anak paling pintar main petak umpet. Mungkin, saat di kereta dan pesawat, dia bisa mengumpat di mana saja." Jawab Mizuki. "Tapi... aku akan mengembalikan dia ke Jepang nanti." Lanjutnya.
"Haduh bulak-balik. Pasti merepotkan, ya?"
"Iya tidak apa, deh!"
"Setidaknya kita bisa bersantai saja dulu. Kalian tahu, tidak? Sebenarnya ujian akhir semester ini ditunda dulu, loh! Gara-gara kejadian kemarin dan juga... sekolah kita mau direnovasi lagi menjadi baru! Wah... pasti kita liburan lama, nih! Uuuh... senangnya!" Akihiro kegirangan sendiri.
Tapi tidak hanya ia, Dennis juga ikut senang. "Wah? Benarkah? Asik banget, nih! Kita bisa main terus."
"Ayo lah kita ke warnet, yuk! Di dekat sini ada warnet, gak?"
"Weh, kuy! Ada nih, di belakang rumahku, tahu!"
"Kalau begitu kita Otw lah!"
__ADS_1
"Eh, Ayuk! Sekarang nih?"
"Iya."
"Oke, putar balik!"
"Iiiih! Kalian ini kenapa, sih!?" Mizuki membentak. Lalu kedua tangannya menjewer telinga kanannya Akihiro dan telinga kirinya Dennis. "Kita ini mau menjenguk Rei di rumah sakit! Bukan mau bermain!"
"A–aduh... ah! Ah! Jangan seperti ini, sakit Mizukiii...!" Akihiro mengeluh sambil berusaha untuk melepaskan tangan Mizuki dari telinganya.
Dennis juga. Tapi kedua tangannya tetap memegang setir mobil. "Lepaskan, Kak! Jangan gini, dong... aku sedang menyetir tau! Nanti kalau tabrakan gimana?"
Mizuki akhirnya melepaskan kedua teman-temannya. Lalu ia kembali duduk dengan tenang sambil melipat tangannya ke depan. Menghembuskan nafas berat dan berkata, "Habisnya kalian ini malah main-main! Awas saja kalau di sana kalian masih bersikap seperti anak kecil!"
"Pfft... itu yang kau sebut ancaman?" Akihiro bergumam sambil menahan tawa.
Mizuki mendengarnya. Ia masih mendiamkan dan bersabar dalam menghadapi Akihiro untuk saat ini. Tapi Akihiro... sebaiknya jangan sampai membuat Mizuki jadi marah lagi, deh!
****
Saat sampai di sana–
Dennis dan teman-temannya langsung masuk begitu saja lewat pintu depan. Lalu di lorong pertama, mereka celingak-celinguk mencari kamar Rei.
"Eh, ngomong-ngomong apakah di antara kalian ada yang sudah menemui Kak Rei?" tanya Dennis.
Semuanya menggeleng. Ternyata mereka juga belum pernah menjenguk Rei di rumah sakit ini. "Eh? Kalau blom pernah, lalu bagaimana kita bisa menemukan kamar Rei?" panik Dennis.
"Ah, baka! Tadi bukannya tanya dulu sama penjaga yang di pintu depan tadi. Ikh! Sekarang juga, cepat kalian bertanya sana!" perintah Mizuki.
"Kalau begitu cepat hubungi Yuni!" tegas Mizuki lagi.
"Sabar, dong! Ini Aku sedang mencari nomornya." Setelah lama mencari akhirnya Akihiro menemukan nomor Yuni. "Nah ini dia! Sebentar, ya? Ku hubungi dulu." Akihiro menekan nomor Yuni, lalu langsung menempelkan ponselnya ke telinga. Sekarang tinggal tunggu Yuni mengangkat teleponnya.
Mizuki melipat tangannya ke depan lagi dan menggerutu, "Dari tadi lama banget, sih? Padahal cuma nyari nomor Yuni, doang!"
"Huu... kau tidak tahu, sih... aku kan banyak penggemar. Jadi ini semua nomor penggemarku. Nomor Yuni berada di bawah."
Mizuki memasang wajah melasnya. Perkataan Akihiro telah membuat Mizuki jadi jengkel. "Sudah belum? Lama sekali diangkatnya!"
"Sabar... ini masih bunyi Tut Tut mulu dari tadi."
Tak lama kemudian, [ Maaf! Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi....]
Akihiro terkejut. Lalu ia kembali menatap layar ponselnya. "Eh? Kok tidak bisa, sih?" Akihiro mengetik-ngetik ponselnya. Lalu tak lama kemudian, ia terdiam sejenak. Lalu tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.
"Hehe... maap ya, teman-teman... ini anu... aku ternyata tidak ada pulsa, hehe...."
BUAK! BRUK!
"KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI TADI, DIAN BODOH!" Mizuki memukul wajah Akihiro lalu membentaknya.
"Ma–maaf! Aku kan tidak tahu, aduh...."
__ADS_1
"Hehe... kalian berdua hentikanlah. Tenang saja, aku bisa kok menghubungi Yuni." Untung saja ada Dennis yang masih memiliki pulsa. Bukan kayak Akihiro yang gak modal anaknya!
****
GREEEKKK....
Pintu kamar Rei bergeser dan terbuka. Lalu beberapa orang mulai masuk ke dalam kamarnya Rei. Ternyata yang datang itu adalah Dennis dengan yang lainnya.
"Halo, Rei!" sapa Mizuki sambil berlari pelan ke arah ranjang Rei.
Rei melambai sambil mengeluarkan senyum samarnya. "Iya. Halo juga."
"Hei, Rei! Bagaimana keadaanmu?" tanya Akihiro.
"Aku sudah mulai baikan, kok! Hanya perlu istirahat saja."
"Tapi tidak ada yang luka, kan? Maafkan aku. Karena aku merasa bersalah sekali telah melakukan hal yang tidak baik padamu. Aku harap kakak baik-baik saja, ya?" ucap Dennis lirih, lalu ia membungkuk pada Rei.
"Hei, Dennis, kau tidak usah seperti itu padaku." Rei memegang kedua pipi Dennis, lalu mengangkatnya. Membiarkan wajah Dennis berhadapan dengan wajah Rei.
Dengan posisi seperti itu, Rei berkata lirih pada Dennis. "Kau tidak pernah salah, Dennis. Kau sahabat terbaikku. Dan aku sendiri sudah banyak pengalaman seru semenjak kau hadir di hidupku. Dan berkat kau juga, kita semua bisa berkumpul seperti ini."
Setelah mendengar perkataan Rei itu, seketika Dennis jadi terharu. "Oh, Kak Rei... aku sangat menghargai perkataanmu itu dan terima kasih!" Dennis tersenyum senang.
Rei kembali melepaskan pipi Dennis. Lalu setelah itu, Dennis langsung memeluk Rei yang masih terduduk di tempat tidurnya. Lalu tak lama kemudian, Rei mencium kening Dennis untuk membuat Dennis tambah senang lagi.
Seketika semuanya jadi terkejut. Begitu juga dengan Dennis sendiri. Dengan tampang terkejut, Mizuki menutup setengah wajah dengan tangannya. Sedangkan Akihiro tersenyum miring dengan ekspresi konyolnya.
"Wah... seperti aku dulu, ya?" gumam Akihiro dengan tertawa kecilnya.
"I–iya tuh! Sekarang, wajah Dennis sudah seperti ikan mati, tuh!" Mizuki tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Aaa... Kak Rei, a–apa yang kakak...."
"Tenang saja, Dennis! Itu sudah menjadi kebiasaan Rei, kok! Mencium orang lain untuk membuatnya bahagia. Seharusnya kamu senang!" jelas Akihiro sambil tertawa.
Dennis kembali menatap Rei. Ia melihat ekspresi Rei yang menatap dirinya dengan wajah yang manis. Ditambah lagi dengan senyumnya yang tulus.
"Rei... setelah sekian lamanya aku bersamamu, sekarang aku baru tahu, kalau sebenarnya... sahabat yang baik adalah sahabat yang selalu mendorong teman baiknya ke jalan yang penuh dengan tantangan agar kita bisa mendapatkan banyak pengalaman yang tak akan kita lupakan. Pengalaman bersamamu dan teman-teman baruku ini adalah kenangan terindah selama hidupku!" Batin Dennis dalam hati. Lalu setelah itu, Mizuki mengajak semuanya untuk bercerita bersama di dalam kamar rawat Rei.
Semua mengiyakan. Dan seharian penuh, mereka habiskan waktu bersama untuk bercanda, bermain sambil mengisi kenangan indah untuk masa depan dan menghapus kenangan buruk di masa lalu.
Tapi apakah petualangan mereka akan sampai di sini saja? Adakah misteri lain yang belum mereka pecahkan? Jika iya, mungkin di masa yang akan datang, mereka bisa mengetahui jawabannya!
*
*
*
*
___________________________________
__ADS_1
Season 2–Diana's Terror End~ ♥