Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 11–Chika di Foto Kenangan


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Kau mau apa kemari? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Rei dengan nada dingin.


Adit terlihat ketakutan. Ia mundur secara perlahan ke belakang. Lalu tanpa menjawab pertanyaan Rei tadi, si Adit langsung berbalik badan dan berlari menjauh dari rumah Dennis.


Rei menelengkan kepalanya. Ia jadi terheran dengan sikapnya Adit. "Loh? Kok lari, sih? Ada apa dengannya?"


"Kak Rei, ada apa? Tadi siapa yang mengetuk pintu?" tanya Dennis yang tiba-tiba muncul di samping Rei.


Rei menggeleng. "Hah, anak dari kelas kita. Dia datang ke sini, tapi saat aku membuka pintu, tiba-tiba saja dia lari begitu. Tampangnya terlihat seperti orang yang ketakutan saat melihatku. Manganya wajahku ini seram, ya?"


Dennis tertawa kecil. "Ah... tidak juga, kok! Emm... ngomong-ngomong tadi siapa yang datang? Apa kau mengenalnya?" tanya Dennis yang masih penasaran dengan orang yang baru saja mengetuk pintu rumahnya dengan keras tadi.


"Kan aku bilang, tadi anak yang datang itu si Adit. Anak dari kelas kita. Bisa dibilang dia juga teman sekelas kita." Jawab Rei sambil kembali menutup pintu rumah Dennis. "Tapi sebenarnya, dia bukan teman kita." Rei sedikit bergumam.


Dennis melirik ke tampang Rei yang terlihat agak datar. Keningnya sedikit berkerut, dan matanya juga sedikit Rei sipitkan. "Rei kenapa?" pikir Dennis dalam hati.


Rei akan kembali ke ruang Televisi untuk menonton film bersama seperti sebelumnya. Karena semua orang sedang berkumpul di sana. Dennis mengikuti Rei dari belakang.


Tapi sebelum sampai di sana, Dennis menghentikan langkah Rei dengan menarik baju belakangnya. "Kak Rei, sebenarnya yang tadi datang itu... orangnya seperti apa, ya?" tanya Dennis ragu.


Rei menengok ke belakang, lalu ia pun membalikan tubuhnya menghadap ke Dennis. Ia menjawab, "Kan tadi sudah aku bilang. Namanya Adit. Dia anak dari kelas 3-C. Kelas kita juga. Memangnya kau tidak kenal dia?"


Dennis menggeleng sambil tertawa. "Ahaha... tidak, kak! Kan belum semua aku mengenal murid di sekolah. Apalagi di kelas sendiri. Tapi sepertinya kalau yang namanya Adit itu..., aku hanya tahu namanya saja. Tapi aku tidak tahu tampang wajahnya."


Rei mendesah pelan, lalu ia merogoh saku celana untuk mengambil ponsel miliknya. Setelah ia mengeluarkan ponselnya itu, Rei mengetik sebentar. Lalu tak lama kemudian, ia memperlihatkan layar ponselnya pada Dennis. Sebuah foto bersama saat kenaikan kelas tahun kemarin.


Terpampang wajah Adit di dalam foto itu. Rei menunjuk ke arah seseorang yang ingin Dennis ketahui, yaitu tampang wajah Adit. "Ini si Adit. Dia yang ini."


Dennis memperhatikan foto itu sejenak, lalu mengangguk paham. "Ooh... jadi dia. Tapi kok, dia yang paling tinggi dari yang lainnya? Malah dia lebih tinggi dari Kak Rei."


Seketika setelah Dennis berkata kalau Adit itu lebih tinggi dari Rei, Rei pun memasang wajah melasnya. "Iya... dia memang anak paling tinggi di kelas."

__ADS_1


"Ooh... ini foto tahun kapan?" tanya Dennis. "Kok aku tidak ada di sana, ya? hehe...."


"Tentu saja tidak. Ini foto saat aku masih kelas 1. Dan foto ini diambil saat kami ingin menaiki kelas 2. Dan apa kau tau? Ada kejanggalan yang terdapat dalam foto ini, loh!" ujar Rei sedikit menakuti Dennis.


"Eh? Benarkah?"


"Coba kau lihat lagi. Apakah ada yang aneh dengan foto ini?" tanya Rei.


Tanpa kembali memperhatikan foto itu, Dennis langsung menjawab, "Iya. Terlihat dari foto, sebagian besar semuanya tidak tersenyum sama sekali."


"Bukan itu. Tapi iya sih. Yang kumaksud, bukan soal tampang mereka. Tapi... apa kau tidak melihat anak lain di foto ini?" tanya Rei.


"Maksud kakak?"


"Coba carilah. Sebenarnya di sini ada sosok Chika yang juga ikut berfoto bersama kami yang ada di foto ini."


Dennis terkejut. "Eh? Benarkah? Tapi di mana?" Dennis terlihat takut. Ia tidak bisa menemukan sosok Chika yang Rei maksud itu.


Rei sedikit tersenyum. Lalu ia akan memberitahu sosok Chika yang ada di dalam foto kelasnya itu. Rei menunjuk. "Dia ada di sini."


Tepat sosok itu ada di samping seorang gadis. Sosoknya muncul di paling pojok dari barisan para murid. Dennis mensipitkan matanya.


"Eh, tapi di sini memang benar ada si Chika, loh! Apa kau tidak bisa melihatnya?" tanya Rei heran.


"Hah... mungkin aku tidak bisa melihatnya." Dennis menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya.


"Ini aneh. Semua anak yang ada di dalam foto ini bisa melihat sosok Chika itu. Tapi kenapa kau tidak bisa?" pikir Rei.


"Mungkin karena aku tidak terlibat di dalam foto itu, kali!"


"Hah... mungkin saja begitu. Tapi Yuni saja bisa melihatnya. Padahal dia tidak ada di dalam foto ini, loh! Masa kau tidak bisa melihatnya." Rei kembali menutup ponselnya. Lalu ia pun memasukan ponselnya itu ke dalam saku celananya.


"Kan dia anak yang bisa melihat yang seperti itu!" Dennis jadi geram. Rei telah membandingkan kemampuan Yuni dengan dirinya itu. Kan Dennis dengan Yuni itu beda jauh.


"Hah... memangnya sosok Chika itu seperti apa?" tanya Dennis penasaran.


"Dia tidak seram seperti yang kau pikirkan. Chika yang di foto itu berbentuk seperti anak kecil biasa. Dengan tubuh yang sempurna dan wajahnya yang cantik." Jelas Rei.


"Oh, jadi begitu. Untung saja. Aku pikir, sosok penampakan Chika itu sangat menyeramkan seperti yang orang lain bilang."

__ADS_1


"Iya... tapi sebenarnya, penampakan Chika itu tidak hanya ada di foto kelasku. Tapi di foto anak lain juga ada." Kata Rei lagi.


Seketika Dennis terkejut. "Hah? Semua foto dari kelas lain juga ada penampakan Chika juga?" tanya Dennis tidak percaya.


"Iya. Chika suka muncul di pinggir kumpulan barisan anak-anak. Mungkin dia ingin meninggalkan kenangan tentang dirinya pada semua orang lewat foto-foto ini." Jawab Rei.


"Iya, loh! Di foto kelasku juga ada~"


"UWAAA!"


Dennis dan Rei terkejut. Disaat ketegangan tentang cerita penampakan Chika itu, tiba-tiba saja Akihiro muncul di samping mereka. Entah sejak kapan anak itu ada di sana.


"Kak Dian membuatku kaget saja!" bentak Dennis. Karena dirinya tidak suka dikagetkan oleh orang lain. Dennis itu mudah sekali kaget.


"Haha~ Sudah, ya? Aku ingin bermain game. Kau mau ikut, ga?" ajak Akihiro pada Dennis.


Dennis terlihat sangat senang. "Eh? Benarkah? Kebetulan aku sedang bosan. Kan kalau main game pastinya seru, nih!"


"Iya, ayo~"


"Hei, tunggu dulu!" Rei tiba-tiba saja menarik kerah baju belakang Akihiro. "Kau sudah membereskan barangmu? Besok kita berangkat, loh!"


"Tenang, Rei~ Aku sudah membereskan semuanya. Sekarang kan waktunya santai. Ayo Dennis!"


"Iya, kak!"


Akihiro dan Dennis berjalan cepat ke arah sofa yang ada di ruang tamu. Mereka akan bermain di sana. Sedangkan Rei pergi ke ruang Televisi untuk bergabung dengan yang lainnya.


****


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2