Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 69– Menemukan Jalan Keluar


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Zainal menemukan satu pohon tinggi lagi yang akan ia panjat. Bagian kulit batang pohon itu terlihat mudah untuk dipanjat bagi Zainal. Jadi langsung saja ia menaiki pohon itu untuk melihat keadaan.


Sementara Zainal mengawasi, yang lainnya pergi untuk melihat-lihat. Tidak semuanya pergi. Yang pergi hanya beberapa anak. Ada yang mau memperhatikan ekosistem di sana, ada yang ingin buang air kecil sebentar, dan ada juga yang ingin mencari sinyal di ponselnya.


Orang yang ingin mencari sinyal itu adalah si Rashino dan Nashira. Untuk satu hari saja, mereka tidak akan bisa hidup tanpa internet. Intinya, mereka tidak suka kalau ponsel mereka tidak berguna hanya karena galat sinyal.


"Ayolah, ayolah... muncul, dong! Satu batang saja." Gumam Rashino sambil terus mengarahkan tangannya yang memegang ponsel ke atas. Sementara Nashira hanya duduk di tanah tak jauh dari Rashino. Ia terus memainkan ponselnya tanpa mempedulikan sinyal tersebut. Padahal di ponsel mereka, sinyal itu benar-benar kosong. Hanya ada tanda "X" dan lambang batang sinyalnya menghilang.


"Aku hanya ingin membuka Google saja untuk mencari berita penting hari ini. Kumohon!" gumam Rashino lagi. Ia terus mundar-mandir di depan Nashira untuk mencari sinyal yang ia inginkan.


Karena mulai risih dengan gerak gerik Rashino, Nashira pun menegurnya. "Kau duduklah dulu! Aku capek sendiri tahu melihatmu jalan-jalan seperti itu. Apa kakimu tidak lelah?"


"Ah, tidak." Rashino menggeleng. Ia tidak mendengarkan Nashira dan terus saja bergerak sambil menggerutu. "Nash, kita ini harus mencari sinyal. Karena di ponselku benar-benar kosong. Biasanya kan suka banyak notifikasi message dan web lainnya. Tapi kenapa di sini tidak ada sama sekali karena sinyal? Ah, sialan! Sinyalnya mana sih?! Aku mohon... aku mohon...."


Nashira menghela nafas berat, lalu ia menutup kedua telinganya agar tidak mendengar ocehan dari Rashino. "Kakak beda 5 menitku itu benar-benar menyebalkan kadang. Dia juga suka tidak sabaran anaknya." Gumam Nashira mendeskripsikan sikap baru kakak kembarnya. Tidak hanya itu, diam-diam ia juga mencatat sikap kakaknya di ponselnya. Ia mencatat di aplikasi Pencatat Cerita miliknya.


WUSSHH....


"Eh?" Nashira tersentak, lalu menengok. Ia melihat sesuatu yang sempat lewat di sampingnya tadi. "Apaan tuh? Tadi kayak ada bayangan hitam gitu."


"Nashira! Lihat!" kejut Rashino mengagetkan Nashira. Ia memperlihatkan layar ponselnya pada Nashira dengan bangganya.


"Apaan, sih?! Bikin kaget saja!" bentak Nashira. Ia tidak suka dikagetkan seseorang dengan sengaja. Tapi padahal... dirinya suka mengejutkan orang lain.


Rashino tersenyum dan menjawab, "Haha... lihat ini!" Ia kembali menunjukan layar ponselnya, lalu menunjuk. "Kau lihat, ini? Ponselku ada sinyalnya, dong!"


"Cuma satu batang doang." Ujar Nashira cuek.


"Eeehh... walau satu batang, tapi setidaknya aku bisa mendapatkan notifikasi nanti!" Rashino tertawa lalu ia membalikan ponselnya. Rashino melihat layar ponselnya dengan senang hati karena di ponselnya itu dia bisa mendapatkan sinyal. Tapi tak lama, tiba-tiba saja tanda "X" di dekat batang sinyal itu kembali muncul lagi. Dan seketika semua batang sinyal itu menghilang. Rashino terkejut melihatnya.


"Tidaaaak! Jangan hilang lagi, huweeee...." Rashino berteriak kesal sambil membanting ponselnya berkali-kali di pahanya. Tadinya ia ingin membanting ke tanah, tapi takut rusak.


"Satu catatan lagi. Kakak beda lima menitku itu suka cengeng dan manja jika keinginannya tidak dituruti." Nashira menekan tombol enter untuk menyimpan catatannya. Lalu setelah itu, ia kembali menutup ponselnya. Setelah itu, Nashira mengulurkan tangannya pada Rashino untuk meminta bantuan. Nashira ingin berdiri, maka Rashino harus membantunya.


Rashino mengangguk. Lalu ia menarik tangan Nashira dan merangkulnya. Mereka berdua kembali ke perkumpulan kelompoknya. Setelah Rashino dan Nashira, ada beberapa anak lainnya yang kembali.


Dennis yang sedang melihat kupu-kupu juga akan kembali setelah ia mendengar teriakan Rei yang memanggilnya. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja....


Tuk!


Ada yang menyentuh punggung Dennis. Sontak Dennis langsung berbalik badan. Ia tidak melihat siapa-siapa di belakangnya itu. Lalu tanpa sadar, matanya melirik ke bawah dan melihat sesuatu yang telah menarik perhatiannya. Di bawahnya itu, ia melihat ada tulisan yang terukir di atas tanah. Karena penasaran, Dennis pun membaca tulisan itu.


Kau tenang saja. Jangan merasa cemas lagi. Anak yang namanya Dian itu sudah kembali ke kelas.


"Eh? Ini... tulisan ini dari siapa?" gumam Dennis.

__ADS_1


Tuk!


Sekali lagi, Dennis merasa seseorang menepuk punggungnya lagi. Ia jadi terkejut sampai tubuhnya terjatuh duduk ke tanah. Dennis berbalik badan, dan tepat di depan kakinya, ia melihat tulisan lain yang muncul.


Di kelas ia sedang sendirian. Bersimbah darah di depan kelas. Diirinya terluka karena diserang oleh seseorang.


"A–apa-apaan ini?!" Tanpa disengaja, Dennis berteriak setelah membaca pesan kedua itu. Matanya masih fokus menatap tulisan kedua. Lalu tiba-tiba saja muncul sebuah kaki di hadapan Dennis.


Secara perlahan, Dennis pun mendongak. Kaki itu masih tersambung dengan tubuh manusia. Semakin ke atas, Dennis bisa melihat tubuh Manusia yang sempurna dengan tangan. Dan saat lirikan matanya sampai di kepala manusia itu, ia akhirnya bisa melihat wajah seseorang yang ada di depan Dennis!


Dennis terkejut. Ia langsung berdiri dan mundur ke belakang secara perlahan. Karena ia melihat sosok si gadis yang masih menyimpan Misteri bagi Dennis. Kenapa tidak? Karena gadis itu selalu muncul tiba-tiba entah dari mana, dan dia selalu muncul di saat Dennis sedang dalam bahaya saja.


"Ka–kau siapa? Kau kan si gadis yang suka menolongku itu!" tegas Dennis. Kali ini ia bisa melihat seluruh wajah gadis itu dengan jelas. Si gadis tersenyum, dan mengeluarkan suaranya.


"Temanmu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja di dunia asalmu. Dia... memerlukan bantuanmu segera. Karena dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Jadi untuk sekarang, gunakan waktu sebaik mungkin untuk keluar dari dunia ini dan jika sudah menemukan jalan keluarmu, tolong jangan kembali masuk ke dalam hutan ini lagi."


"Karena... teman yang kau cari itu sudah tidak ada di dunia ini...."


"'Teman yang kau cari?' Tunggu! Apa teman yang kau maksud itu adalah si Dian?!"


"Hei, Dennis! Cepat kemarilah! Kau sedang apa di sana sendirian. Nanti hilang, loh!" teriak Rei mengejutkan Dennis. Dennis menengok ke arah Rei, lalu tak lama ia kembali melirik ke arah gadis misterius yang berdiri di hadapannya itu.


Dennis kembali terkejut karena gadis di depannya sudah menghilang entah ke mana. Dia tidak tahu ke mana perginya gadis itu. Bahkan dia sendiri juga tidak tahu sejak kapan gadis itu menghilang.


"Hah, padahal aku ingin bertanya banyak hal padanya. Bahkan aku tidak tahu siapa namanya." Gumam Dennis.


"Dennis! Ayo cepat! Kita mau pergi lagi, loh!" Rei kembali berteriak. Kali ini dengan nada suara yang sedikit tegas. Tanpa memikirkan gadis yang berbicara dengannya tadi, Dennis pun pergi beranjak dari tempatnya berdiri tadi. Ia menghampiri Rei sambil tertawa kecil.


"Hehe... aku melihat kupu-kupu aja, kok! Sampai aku lupa kalau kita harus pergi, haha...."


Rei hanya tersenyum samar, lalu pandangannya kembali melirik ke Zainal yang ada di atas pohon. Sementara Dennis menundukkan kepalanya sambil terus memikirkan tentang perkataan yang diucapkan gadis itu padanya.


"Zainal! Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?!" teriak Ethan dari bawah pohon yang Zainal panjat. Zainal menjawab, "Berita buruk, Ethan! Kita tidak akan bisa keluar dari sini!"


Semuanya terkejut dengan perkataan Zainal. Lalu semuanya kecuali Rei, Dennis dan Yuni, bertanya banyak hal pada Zainal sampai mereka semua ribut dan berisik.


"Kenapa memangnya?!"


"Apa yang terjadi?! Apa ada masalah?"


"Ada bahaya, kah?"


"Apa benar?! Berarti kita akan mati, dong!"


"Aku tidak mau. Aku tidak mau mati di sini."


"Tapi bohong." Zainal berujar. Seketika semuanya pun terdiam dan langsung mendongak melirik ke arahnya. Zainal tersenyum, lalu ia duduk santai di atas dahan pohon itu. "Tapi bohong, haha... kalian jangan ketakutan begitu. Kita semua aman, kok!"


"Dan apa kalian tahu? Aku sudah menemukan lautnya, loh!"


"Eh, benarkah, kak?" tanya Dennis tidak percaya. "Nanti kau bohong lagi!"


Zainal menggeleng, lalu ia menunjuk ke depan. "Di sana! Jalan keluar tepat ada di depan kita!"

__ADS_1


Semuanya jadi senang dan bahagia. Mereka menghembuskan nafas lega, lalu mereka semua berlari menuju ke jalan yang ditunjukan Zainal. Sampai-sampai... mereka lupa kalau Zainal tidak bisa turun sendiri.


"Woy! Kalian jangan tinggalin aku, dong! Bantuin dulu, haduh...."


****


"Waaahh!"


Wajah mereka semua terlihat senang. Kedua kelompok yang masih utuh itu akhirnya menemukan jalan keluar mereka. Saat ini, mereka sudah menginjak pasir pantai yang lembut berwarna putih kekuningan. Dan di hadapan mereka adalah laut yang sangat luas.


"Kita benar-benar sudah sampai!"


"Yeay! Inilah tujuan kita!!"


"Kita semua akan selamat dari sini, horeee!!"


Semuanya bersorak sekali lagi dengan bangganya. Lalu mereka semua berlari menghampiri air laut yang selalu datang ke tepi pantai dan membasahi pasirnya sampai berubah menjadi gelap.


Di pinggir laut, mereka bermain air lautnya. Menginjak-injak dan mencipratkan air laut itu ke teman-teman mereka untuk bermain-main dan berehat sejenak sambil meluruskan kaki mereka yang sakit dan pegal karena terlalu lama berjalan.


Di saat semuanya sedang senang, hanya ada satu orang saja yang tidak terlihat seperti yang lainnya. Yaitu Dennis. Ia terlihat cemberut saja dari tadi.


Yuni menepuk pinggang Rei, lalu berkata, "Rei. Lihat Dennis."


Rei menengok. Lalu setelah itu, Rei berjalan pelan mendekati sahabat dekatnya itu, dan merangkul tubuhnya. Dennis tersentak dan langsung menoleh ke arah Rei. "Dennis, apa kau masih mencemaskan si Dian?" tanya Rei pelan.


Dennis menggeleng. "Tidak. Aku hanya... ya jujur saja. Kau benar, Kak Rei. Aku mencemaskan dia." Dennis menunduk malu. Rei mengelus punggungnya dan berkata, "Tidak apa-apa. Kau teman yang baik. Jadi sekarang, sesuai dengan janjiku, aku akan membantumu untuk mencari si Dian."


"Ah, tidak usah, kak!"


"Loh, kenapa?"


"Umm... karena–"


"TOLOOONG! TOLONG KAMI DI SINI!!" Rei dan Dennis terkejut. Mereka mendengar suara teriakan pinta tolong dari seorang gadis. Semuanya juga mendengar suara itu.


Ternyata, ada beberapa anak yang masih selamat, muncul dari dalam hutan. Ada 5 gadis yang tersisah dan 2 lelaki dengan tubuh gemuk. Salah satu dari lelaki itu menggendong seseorang di punggungnya.


Beberapa orang yang masih selamat itu, mendekati Rei. "Ada apa ini? Kalian dalam bahaya?"


Gadis dari kelas 2-A menggeleng dan menjawab, "Tidak. Kami semua selamat. Tapi... orang ini! Kakak kelas kami terluka!"


Orang yang dimaksud gadis itu adalah si... Davin yang sedang tak sadarkan diri di punggung seorang lelaki gemuk! Apakah Rei ingin menolong Davin?


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2