
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Pukul 9 malam–
Setelah berjam-jam di kamar untuk beristirahat, Dennis dan teman sekelompoknya yang sedang berkumpul di kamarnya Davin yang kebetulan ternyata ada di lantai bawah.
Hanya dengan berbekal senter saja sebagai pengelihatan dan juga mental mereka, akhirnya semua pun siap untuk pergi keluar dari zona aman menuju zona berbahaya yang ada di depan kamar.
Dennis, Yuni, Revi, Zainal dan Davin pun keluar dari kamar. Mereka berlima berjalan sampai di pinggir lapangan. Mengatur nafas sebentar, lalu kembali melangkah lagi sampai ke tengah lapangan.
Setelah berada di lapangan, Dennis dan yang lainnya bisa melihat ada dua anak buahnya Bob yang mirip seperti manusia berbadan kekar dengan kepala gundul. Padahal mereka berdua hanyalah robot yang dirancang sebagai penjaga.
Tepat di tengah lapangan, Revi dan Zainal mengeluarkan senter yang sedari tadi sudah disembunyikan dibalik tubuh mereka. Revi dan Zainal menyalakan senter tersebut, lalu mengarahkan cahayanya ke atas langit. Lalu tak lama mengayunkannya ke bawah dan menyodorkan cahaya senternya ke arah kedua robot yang sedang berdiri di depan gerbang.
Kedua robot itu melihat Dennis dan temannya. Lalu salah satu robot mulai berjalan mendekati Dennis.
"Itu dia tandanya!" Semua anak yang sedang bersembunyi di setiap sudut dan kamar di sekolah itu pun berujar bersamaan setelah mereka melihat cahaya senter yang disorotkan ke langit oleh Revi dan Zainal. Ternyata selain cara untuk memberi perhatian pada robot, gunanya cahaya senter itu juga sebagai menanda kalau semuanya harus segera menjalankan misi mereka masing-masing.
Para kelompok penjaga pergi ke tempatnya, yaitu di atas atap setelah mereka menetap lama di kamar seseorang yang ada di lantai 4. Memang sengaja harus menetap di lantai paling atas. Karena agar mereka lebih cepat dan mudah sampai di atap. Selain itu, mereka juga bisa langsung menghindari kamera CCTV yang ada di lantai 4.
Setelah para kelompok itu sampai di atap gedung 1 dan 2, mereka langsung mengambil senjatanya yang sudah disiapkan dari sore hari. Senjata itu mereka letakan di sudut pembatas atap. Senjata-senjata tersebut berupa tongkat yang dibuat dari patahan gagang sapu. Ada juga yang menggunakan besi dari gagang kainpelan, bahkan sampai menggunakan alat-alat dapur yang mereka dapat dari kantin.
Ah, yang penting semua alat yang mereka gunakan sebagai pelindung itu bisa dijadikan senjata yang bagus jika ada bahaya yang datang. Tapi sepertinya, dengan posisi mereka berada di atap, tidak akan ketahuan oleh Bob karena di sekitar sana tidak ada kamera pengintainya. Mereka akan aman.
Tapi mereka juga tetap harus berhati-hati. Karena jika tidak waspada, maka kedua robot yang ada di tengah lapangan itu bisa saja melihat dengan mata tajam sang robot dan bisa saja salah satunya memotret apa yang ia lihat dan langsung dikirim ke Bob.
Tapi semoga saja tidak. Mereka pasti aman di atas sana. Karena tugas mereka hanya untuk mengamati.
Dan sekarang tinggal kelompok satunya lagi. Yaitu kelompoknya Akihiro. Saat ini, mereka sedang menyelinap di belakang gedung 1. Secara diam-diam, mereka akan pergi ke gudang belakang untuk menyelamatkan guru-guru yang sedang disekap di dalam gudang.
Tapi saat sampai di gudang, Akihiro menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. "Teman-teman, perubahan rencana!"
"Eh?"
"Nih! Untuk Rei dan Ethan, kalian tetap di sini untuk membantu guru-guru. Sedangkan aku dan Rei akan pergi menemui Bob." Jelas Akihiro. Ia benar-benar telah mengubah rencananya. Tapi ternyata, perubahan itu dapat disetujui dan diterima oleh semuanya.
__ADS_1
"Oke! Kalau begitu, biarkan kami yang membebaskan guru-guru yang ada di dalam." Ujar Rei.
Akihiro mengangguk. Lalu ia mengajak Adit untuk pergi mengikutinya dengan cepat. Karena waktu adalah emas. Semakin cepat, maka semakin baik. Akihiro dan Adit pergi menemui Bob di ruangannya sedangkan Rei dan Ethan berusaha untuk membuka pintu gudang uang menyekap guru-guru kesayangan mereka di dalam.
Lanjut ke kelompok lainnya. Yaitu kelompoknya Rashino. Saat ini mereka bertiga sedang bersembunyi dibalik tembok di gedung 2. Mereka tidak hanya bertiga. Ternyata di sana juga ada Yuni dari kelompoknya Dennis. Untuk apa Yuni di sana?
"Nah. Setelah waktu dan tanda isyaratnya tiba, kita harus cepat sampai di dekat pintu itu." Ujar Rashino dengan berbisik. Yuni mengangguk. "Iya. Nanti aku duluan yang pergi untuk menjalankan tugasku."
"Oke."
"Baik... tenang Dennis... sedikit lagi..." Revi terus berbisik pada Dennis agar Dennis tidak ketakutan saat satu robot yang menodongkan pistol itu terus berjalan mendekatinya.
Zainal sudah menurunkan tangannya yang sedang memegang senter. Dennis juga sudah siap dengan kain hitam yang ia sembunyikan dibalik tubuhnya. Tak lama, setelah robot itu sampai di dekat Dennis, secara sengaja Zainal menekan tombol di senternya lalu kembali mematikannya lagi.
"Itu dia tandanya! Ayo Yuni!" Setelah Rashino melihat tanda yang dikeluarkan Zainal, ia langsung memberitahukan pada Yuni tentang tanda tersebut.
Yuni mengangguk. Lalu dengan cepat ia berlari tanpa terdengar suara hentakan kakinya. Ia berlari mendekati si robot kedua yang masih berdiri di depan gerbang. Saat ia sudah dekat dengan robot kedua itu, Yuni mulai mengeluarkan kain hitam di genggamannya. Lalu setelah ia berdiri di belakang si robot, dengan cepat Yuni langsung menutup mata di robot dengan kain dan mengikat kain itu ke belakang agar tidak terlepas dari mata si robot. Setelah itu, Yuni menendang robot itu sampai terjatuh dan mengambil pistol yang dipegang robot kedua itu.
Robot pertama terkejut saat mendengar suara keributan dari belakangnya. Sontak ia langsung memutar kepalanya ke belakang untuk melihat keadaan temannya. Ini kesempatan yang Dennis tunggu!
Setelah si Robot menengok ke belakang, dengan cepat Dennis juga melakukan hal yang sama seperti Yuni. Ia langsung menutup mata si robot, tapi setelah itu ia tidak menendangnya tapi malah mendiamkannya. Lalu setelah Dennis selesai dengan kain itu, Revi pun mulai bergerak. Dengan cepat ia langsung merebut pistol yang dipegang si robot. Baru... setelah Revi berhasil mendapatkan pistol itu, Zainal maju ke depan dan langsung menendang robot yang ada di depannya sampai terjatuh.
Saat disitulah kemenangan akhirnya didapatkan oleh kelompok Dennis. Tapi jangan senang dulu. Setelah kelompoknya menjatuhkan kedua robot penjaga itu, Yuni dan Zainal langsung menembak kepala robot berkali-kali sampai benar-benar mati.
Tapi walau begitu, Davin masih tetap dianggap sebagai kelompoknya Dennis dan juga dipuji karena kerja samanya untuk melawan kedua robot itu dengan mudah.
"Haha... ternyata mudah. Tidak seperti yang aku bayangkan." Ujar Ethan berbangga diri. Ia menginjak-injak tubuh robot yang ada di hadapannya itu berkali-kali karena merasa gemas. Yang lainnya hanya tertawa dengan senangnya.
Dan sekarang... karena sudah tidak ada yang berjaga di depan gerbang, maka Rashino dengan kedua temannya akan menjalankan tugas mereka. Yaitu keluar dari lingkungan sekolah untuk meminta bantuan dari luar.
Tapi saat Rashino sampai di depan gerbang, ia melihat gerbangnya masih terkunci dan digembok. Mereka tidak bisa membukanya tanpa gembok. Maka dari itu, kelompoknya Dennis akan membantu untuk mencari kunci tersebut di sekitar tubuh si kedua robot yang telah mati.
Sambil menunggu mereka mencari kuncinya, sekarang... ayo lihat bagaimana keadaan Rei dan Ethan di gudang.
Mereka ternyata masih sibuk membuka kunci gudangnya dengan kawat yang sudah dibentuk secara khusus oleh Ethan untuk membuka kunci gudang tersebut.
Di dalam gudang memang terdapat beberapa guru-guru yang disekap di dalam sana. Setelah mendengar ada suara orang yang sedang membuka pintu gudang dari depan, sang wali kelas 3-C, yaitu Ibu Mia. Beliau berlari kecil sambil menyeret tubuhnya sampai ke depan pintu gudang. Ia tidak bisa bergerak karena tangan dan kakinya terikat oleh tali dan tidak bisa berteriak juga karena mulutnya dibekap oleh lakban hitam. Sama seperti guru yang lainnya. Mereka juga seperti Bu Mia.
Bu Mia berharap kalau orang yang sekarang ini sedang berusaha untuk membuka pintu gudang itu adalah orang yang baik, yang akan membantu dirinya dengan teman sepekerja lainnya.
CKLEK!
__ADS_1
Setelah Ethan memutar kawat itu, akhirnya ia dapat membuka pintu gerbangnya. Ethan melompat bangga karena telah berhasil. Rei juga ikut senang. Lalu tanpa membuang waktu lagi, mereka berdua langsung membuka pintu untuk menyelamatkan guru-guru mereka yang masih ada di dalam gudang.
Setelah membuka pintunya, Rei dan Ethan terkejut karena mereka melihat Bu Mia tergeletak di depan pintu gudang. Langsung saja Rei membuka ikatan Bu Mia untuk membebaskannya. Lalu Ethan masuk ke dalam gudang untuk membantu guru yang lainnya.
Mereka berdua berhasil menyelesaikan tugasnya dan guru-guru terlihat sangat senang karena Rei dan Ethan bisa datang untuk membantu mereka.
Dan sekarang... tinggal Akihiro dan Adit. Saat ini, mereka sudah masuk ke dalam ruang pribadinya Bob yang ternyata berada di bawah tanah. Pada awalnya, mereka masuk lewat besar yang ditutup oleh tempat sampah besar yang ada di taman paling belakang sekolah.
Tak disangka, ternyata tempat sampah itu juga bisa menyimpan rahasia.
Setelah menuruni beberapa anak tangga yang terbuat dari kayu untuk masuk lebih dalam ke bawah tanah, Akihiro dan Adit sedikit membungkuk agar bisa masuk ke dalam terowongan bawah tanah yang diameternya cukup kecil juga. Tidak terlalu kecil. Tapi sedang gitu. Hanya setengah dari tinggi tubuh manusia (mungkin).
"Dian, apa kau yakin tempatnya di sini?" tanya Adit.
"Iya. Udah tau tempatnya tersembunyi seperti ini. Pastinya mencurigakan sekali dong. Pasti benar di sinilah ruangan Bob berada." Jelas Akihiro sambil terus merangkak masuk.
"Hmm... iya sih. Aku pernah masuk ke dalam ruangan si Bob itu. Tapi dari awal, aku tidak tahu jalan menuju ke sana. Karena saat di taman, tiba-tiba saja Bob menutup mataku dengan kain dan berbisik. Meminta diriku untuk jangan membuka kainnya sampai diriku dihantarkan langsung ke dalam ruangannya." Batin Adit. "Dan sekarang... aku akan kembali ke ruangan itu!"
"Eh? Terowongannya sudah buntu? Dan... oh! Ini dia!" Dian menemukan sebuah pintu yang terbuat dari baja. Saat diputar kenop pintunya, ternyata pintu itu bisa terbuka. Langsung saja Akihiro dan Adit masuk ke dalam pintu kecil itu. Walau kecil, tapi masih muat untuk masuk ke dalamnya dengan cara merangkak.
Setelah berada di dalam, semuanya sangat gelap dan tidak terlihat apa-apa di sana. Lalu secara perlahan, Akihiro mencoba untuk berdiri. Dan ternyata ia bisa berdiri setelah melewati pintu tersebut. Adit juga melakukan hal yang sama.
Tapi setelah Adit berdiri, tiba-tiba saja dari belakang ada yang memukul kepalanya dengan keras. Adit pun langsung terjatuh. Akihiro masih sempat menahan tubuh Adit dan berteriak padanya untuk membangunkan temannya yang tiba-tiba pingsan itu.
"O–oy! Ada apa denganmu?! Adit!"
Tap... tap....
Akihiro tersentak. Ia mendengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya. Akihiro berusaha untuk mencari orang itu, tapi karena ruangannya sangat gelap, maka Akihiro tidak bisa melihat apapun. Tubuh Adit yang ada di depannya saja Akihiro tidak bisa melihatnya. Intinya di pandangan Akihiro, semuanya serba hitam, hitam dan hitam saja. Gelap gulita.
"Hebat, ya? Bisa menemukan ruangan saya ini."
"Eh! I–itu suaranya Bob! Ba–bagaimana dia bisa tahu kalau aku akan kemari?!" batin Akihiro mulai panik. Saat ini, dia tidak bisa melihat apapun. Jadi kemungkinan besar, dirinya tidak akan bisa menyerang si Bob.
"Apa jangan-jangan... ada orang yang telah memberitahu kalau Aku dengan Adit ini akan datang? Ini bencana!"
*
*
*
__ADS_1
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8