
****
Rei dan Akihiro pergi ke taman sepi dan menyeramkan yang ada di sekolah mereka itu. Sebuah taman yang terdapat gedung menara tua. Tempat terjadinya kasus pembunuhan siswi di sekolah mereka.
Saat di depan menara gedung itu, Rei mendekati bercak darah yang ada di pinggiran tembok gedung itu. Ia hanya melihat sekilas, lalu kembali berdiri.
Kepalanya mendongak ke atas. Melirik ke arah jendela yang ada di lantai 3 di atas sana. Ia bergumam, "Dilihat dari sini, tempat jendela di lantai paling atas itu lumayan tinggi juga ternyata. Bercak darah ini benar-benar menjijikan."
Sekarang di mana Akihiro? Dia sedang berdiri di dekat kolam berdarah yang airnya telah berwarna hijau sepenuhnya. Dirinya sedang memperhatikan Rei yang sedang keliling-keliling di sekitar gedung itu.
"Sepertinya Rei sedang mencari petunjuk. Jadi seperti inikah tugas seorang detektif yang ada di film-film itu?" batin Akihiro. "Rasanya seru banget ya bisa jadi detektif. Apalagi, kasusnya ini sungguhan." Akihiro senyum-senyum sendiri. Ia sedang membayangkan sesuatu yang membuatnya senang di dalam kepalanya.
"Dian! Kemarilah!" seru Rei. Seketika Akihiro yang sedang melamun itu pun terkejut. Lalu dengan cepat, ia langsung berlari menghampiri Rei.
"Ada apa, Rei?" tanya Akihiro.
"Eh, lihatlah ini." Rei menunjuk ke arah pintu masuk ke dalam menara itu. Ia menunjuk ke kenop pintu yang tertutup rapat.
Akihiro menelengkan kepalanya bingung. "Eh? Apa yang aneh dengan pintu itu?" tanyanya.
"Aduh... lihatlah ini. Pintu ini terkunci. Aku tidak bisa membukanya." Ujar Rei. Lalu dari posisi bungkuknya, ia pun kembali berdiri tegak. "Ini aneh, loh! Pintu ini terkunci. Lalu bagaimana pelaku dan korban bisa masuk ke dalam tempat ini?"
"Eh? Ini beneran dikunci?" tanya Akihiro tidak percaya.
"Iya. Kau lihatlah sendiri." Rei memegang kenop pintunya, lalu memutar kenop itu untuk membuka pintunya. Tapi ternyata, pintu itu tidak bisa terbuka walau Rei sudah membenturkan tubuhnya untuk mendobrak pintu itu. Tetap tidak bisa dibuka.
Akihiro terkejut. "Oh iya juga! Kalau pintu ini dikunci, lalu bagaimana caranya pelaku pembunuh itu bisa masuk?"
"Itulah yang kupertanyakan dari tadi! Sekarang jadi tambah membingungkan. Bagaimana bisa dua orang itu masuk ke dalam gedung ini, sementara pintu masuknya saja dikunci dan tidak bisa dibuka sama sekali." Rei kembali berpikir keras.
"Ah aku tidak tahu. Tapi tadi aku yakin kalau korban benar-benar sudah ada di lantai paling atas. Dia ada di dalam bangunan ini." Kata Akihiro.
"Iya itu. Menara ini cuma punya satu pintu, kan? Apa mungkin ada pintu lain yang membuat si Korban dengan pelaku bisa masuk ke tempat ini?" tanya Rei pada Akihiro. Matanya kembali melirik. Mencari sesuatu yang mungkin bisa ia temukan di sekitar bangunan itu. Tapi ternyata tidak ada apa-apa. Hanya ada batu, tembok yang berlumut, dan kotoran tanah di sekitar gedung itu.
"Entahlah... coba kita tanya sama Pak Satpamnya. Siapa tau dia bisa membuka pintu ini. Dia pasti yang menyimpannya." Saran Akihiro.
"Pak Satpam di sini hanya menjaga sekolah. Dia tidak menyimpan apapun." Kata Yuni yang tiba-tiba muncul di samping Akihiro.
"UWAAA! Yuni?! Sejak kapan kau di sini?!" Akihiro terkejut bukan main. Dia benar-benar kaget saat melihat Yuni yang muncul di sampingnya itu.
"Hai, kakak!" Eh, ternyata juga ada Adel juga di belakang Yuni.
"Aku hanya mengantar Adel." Yuni menjawab pertanyaan Akihiro setelah beberapa detik ia terdiam.
"Iya. Kakak menghilang dari pagi. Aku lagi mencarinya. Lalu kebetulan, kami lewat sini. Eh, aku lihat ada Kak Rei sama Kak Dian. Ya sudah kita samperin saja." Jelas Adel. "Nah, sekarang mumpung aku masih di dekat kakak-kakak ini, Adel mau tanya dong. Kalian...."
"Aku tidak melihat Dennis. Dari tadi aku juga sedang mencarinya." Rei menyela.
"Ah, kakak juga sedang mencari Kak Dennis?"
"Iya. Tapi sekarang ini, kamu sedang ada tugas yang membingungkan. Susah tahu!" Akihiro mengeluh.
__ADS_1
"Sedang apa kalian?" tanya Yuni.
"Gini, Yun! Tadi ada kasus pembunuhan lagi. Dan sekarang, lokasi pembunuhannya ada di tempat ini. Pertama kali kami duga, korban melompat dari atas lantai tiga karena ingin bunuh diri. Tapi karena ada kejanggalan, akhirnya kami pun menduga kalau korban dibunuh dengan cara didorong dari atas lantai tiga itu." Rei menjelaskan.
Yuni dan Adel mendengarkan di tempat mereka berdiri. Sedangkan Akihiro... dia juga mendengarkan tapi dirinya saat ini sedang jongkok di pinggir Kolam Kerdarah sambil memainkan rumput lalang di pinggir kolam. Namanya juga anak gabut, hehe...
"Jadi begitu. Nah sekarang, kalian mau apa?" tanya Yuni lagi.
"Begini, pikiran kami sekarang... eh, sebenarnya pertanyaan yang masih membingungkan adalah, 'bagaimana caranya si Korban dan pelaku masuk ke dalam gedung ini?'. Begitu. Kami masih bingung. Tadinya aku ingin masuk ke dalam gedung ini, tapi aku tidak bisa karena pintunya terkunci." Jelas Rei lagi.
"Hmm... kalau masuk, kita pasti bisa menemukan petunjuk. Baiklah, aku ingin membantu kalian." Kata Yuni.
"Adel! Adel juga mau ikutan!" Adel melompat-lompat kegirangan.
"Yaah... baiklah." Rei mengangguk.
Akihiro kembali berdiri. Lalu ia berjalan pelan ke arah Rei. "Eh, daripada kita mencari kuncinya, lebih baik kita dobrak pintunya saja langsung! Gak usah lama-lama dah...."
Akihiro menempelkan tubuhnya pada pintu itu. Ia ingin melakukan caranya. Yaitu, mendobrak pintu. Tapi sebelum itu, ia berpikir dulu. "Katanya pintu ini terkunci, kan? Kalau dikunci, pasti akan susah juga untuk membukanya walaupun sudah di dobrak. Sepertinya aku harus meminta banyak banyak, nih!" pikirnya dalam hati.
"Eh, teman-teman..." Akihiro menengok ke belakang sambil tertawa kecil. "Tolong bantu aku mendobrak pintunya dong, hehe...."
"Huh, tadi katanya kau bisa?"
"Hehe... aku baru kepikiran. Kan pintu ini dikunci. Jadi akan susah juga jika aku saja yang mendorongnya. Ayolah bantu aku. Kan kalian juga yang mau masuk." Setelah mengatakan itu, Akihiro kembali menghadap ke depan pintu. Ia meletakan kedua tangannya ke depan pintu. Posisi untuk mendorong pintunya. "Nah ayo!"
Sementara Rei juga mempersiapkan diri untuk mendorong pintunya dengan bahu mereka. Sedangkan Adel dan Yuni, hanya diam saja.
"Iya ayo!"
"Oke! Dalam hitungan, satu... dua... ti... gaaa!"
BRAK!
Akihiro terkejut. Karena baru saja ia mendorong sedikit pintu itu, tiba-tiba pintunya sudah ambruk dengan sendirinya. "Ahaha... sepertinya aku tidak perlu bantuannmu, Rei. Pintunya sudah terbuka."
"Huh, merepotkan saja. Kalau tahu pintu ini bisa mudah untuk dibuka, kenapa tidak dari tadi aku mendorongnya?!" Rei menggerutu kesal.
"Sepertinya pintu ini memang sudah lama. Engsel pintunya juga sudah berkarat, jadi mudah untuk dibuka walau hanya dengan dorongan." Yuni menjelaskan.
"Ya... sepertinya begitu." Rei bergumam. Lalu ia pun mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gedung menara itu.
Seperti dulu. Lantai satu dipenuhi dengan buku-buku usang di mana-mana. Dan juga, lantainya yang kotor penuh dengan dedaunan dan kertas di mana-mana.
"Kita langsung saja cek ke lantai tiga, yuk!" ajak Akihiro. Ia langsung berlari mendekati tangga menuju lantai dua. Suara dedaunan yang terinjak-injak selalu muncul setiap mereka melangkah di tempat itu.
"Eh?!" Akihiro terkejut. Di tempatnya, ia melihat sesuatu. Yaitu tangga menuju ke lantai duanya sudah tidak ada. Yang tersisah hanya kayu-kayu usang di sana.
"Itu berkas tangga kayu yang sudah rapuh dan hancur." Yuni berujar pelan.
"Oh iya!" Rei tersentak. "Dulu... saat kejadian Chika itu... tangga ini kan dihancurkan oleh Ibu Kepala sekolah. Si pembunuh Chika. Apa kalian tidak ingat kejadian itu?"
Semuanya terkejut kecuali Yuni yang masih memasang wajah datar yang sama. Mereka mengangguk. "Iya ya! Yang kata kita lompat dari atas sana untuk keluar dari sini..." Kata Adel.
__ADS_1
"Dan di sinilah kalian menimpa tubuhku, kan?" Akihiro menimpali.
Adel tertawa. "Iya, kan benar? Haha...."
"Eh? Kalau tangga menuju lantai dua saja sudah tidak ada, lalu... bagaimana si pelaku bisa membawa korbannya menuju lantai tiga?" Rei berpikir.
Semuanya terdiam. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. Kasus kali ini benar-benar membingungkan. Rei saja sampai pusing memikirkannya. Belum lagi, dia juga harus memecahkan misteri pembunuhan murid lain yang terjadi di depan kamarnya tadi pagi. Bagaimana ini?
TRRIIIING... TRIIIING....
"Eh? Ponsel siapa itu yang berbunyi?" tanya Rei. Matanya melirik ke wajah ke 3 temannya yang ada di belakang.
Akihiro tersentak. Lalu dengan cepat, ia langsung merogoh saku celananya. Setelah itu, ia mengeluarkan sesuatu di genggaman tangannya. "Oh, ini ponselku, hehe... Maaf. Ada yang menelponku. Kira-kira siapa?"
Akihiro melirik ke arah layar ponselnya yang sudah ia buka dari tadi. Ternyata yang menelponnya itu adalah si Mizuki Hanasita. Akihiro terlihat senang sekali. Ia pun mengangkat teleponnya.
"Ha, halo, Mizuki!" Akihiro terlihat kegirangan sendiri.
[ Ah, Hiro... hmmm... kamu ada di mana? Sebentar lagi aku sampai ke sekolah. ]
"Eh, benarkah? Wah! Aku sedang berada di suatu tempat lah. Aku sangat menunggu kamu. Sepertinya aku akan menjadi orang pertama yang menyambut kepulangan mu!" Akihiro terlihat bersemangat sekali.
[ Eh, sepertinya bukan, deh... Karena orang pertama yang sudah menyambutku adalah Dennis, loh! Haha.... ]
Seketika semuanya terkejut mendengar Mizuki berkata seperti itu. "Dennis katamu?!"
[ Iya. Dia sudah menungguku di depan jalan raya. Dan dia juga sudah membantuku membawakan barang-barangku. Dia baik sekali. ] Jelas Mizuki.
"Jadi selama ini Dennis ada di luar lingkungan sekolah?! Kenapa dia bisa keluar dari sekolah ini?" Batin Rei bingung.
Benarkah itu? Dennis yang dimaksud Mizuki adalah si Dennis Efendy, kakaknya Adel atau Dennis yang lain?
*
*
*
To be Continued-
___________
Bonus, ya?
Author ingin promosi novel baruku, nih :)
Novel horror lainnya, yang gak kalah sadis sama si Chika :v Baru up tadi...
Judulnya, "The Death Eye". Kalau tidak ketemu, silahkan lihat akun aku aja, ya?
Jangan pelit sama like nya 😂 dan jangan sungkan untuk memberikan pendapat kalian di kolom komentar, oke!
Satu like saja udh bermanfaat dan menjadi penambah semangat untuk melanjutkan novel ini :) Thank you... I love minna...
__ADS_1