Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 12–Kasus Terselesaikan (?)


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Haduh... Rei sialan! Kenapa dia bisa ada di sana? Apa yang dia lakukan? Apa aku salah rumah?" gerutu Adit sambil melangkah cepat kembali mendekati mobil polisi milik ayahnya itu.


Saat sampai di sana, Adit memutuskan untuk mengintip lewat kaca mobil yang dibelakang untuk melihat keadaan kedua anak kembar Rashino dan Nashira yang masih berada di dalam mobil.


"Mereka baik-baik saja, kan? Lagipula aku hanya mengunci pintu mobilnya sebentar saja, kok!" gumam Adit. Ia mendekatkan kepalanya, lalu mengintip di kaca jendela pintu mobil.


Seketika Adit membesarkan matanya karena terkejut. Karena ia melihat keadaan Rashino dan Nashira yang sudah tergeletak lemas di atas kursi mobil di dalam sana.


"Oh tidak! Tidak mungkin mereka... ah tidak! Tidak mungkin! Ini baru sebentar. Mereka tidak mungkin mati begitu saja karena kehabisan nafas di dalam mobil itu, kan?" Adit terlihat panik. Lalu dengan cepat, ia pun mengarahkan kunci mobil dan remote-nya ke arah mobil milik ayahnya itu.


Setelah ia menekan tombol di remote kunci mobil, seketika mobil polisi itu langsung berbunyi "Tut! Tut!", lalu kunci pintunya pun terbuka. Setelah pintu mobil sudah bisa dibuka, dengan cepat Adit pun langsung membuka pintu mobil belakang terlebih dahulu.


Setelah pintu terbuka, Adit langsung memasukan setengah tubuhnya ke dalam mobil untuk mengecek keadaan Rashino dan Nashira yang terlihat tidak sadarkan diri di kursi duduk mereka.


"He–hei! Kalian, kalian berdua bangunlah! Tidak mu–"


BUK!


Tiba-tiba saja Adit terlempar keluar dari dalam mobil dan terjatuh ke tanah. Ia terkejut. Karena tiba-tiba saja, Nashira terbangun dan langsung menonjok wajah Adit dengan keras. Hidungnya sedikit mengeluarkan darah, dan pipinya langsung terlihat membengkak.


Adit kembali terbangun sambil memegang hidungnya yang sakit. Sesekali ia mengelap darah yang keluar dari hidungnya itu. "A–apa yang kau lakukan?!" bentak Adit.


"'Apa yang kau lakukan?'. Seharunya aku yang bilang seperti itu! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau sengaja mengunci kami di dalam mobil?! Apa kau ingin membunuh kami, hah?!" Nashira turun dari mobil dengan hati-hati dan langsung balas membentak Adit.


Tak lama setelah Nashira, Rashino juga ikut turun. Ia menatap tajam pada Adit.


"A–aku tidak ada maksud untuk–"


"Jangan bohong! Kau sengaja, kan? Buktinya saja kau telah membawa pergi kunci mobil itu lalu meninggalkan kami!" Nashira menyela dan membentak Adit habis-habisan. "Seharusnya kami tidak seharusnya percaya padamu! Ternyata, kau itu diam-diam adalah seorang pembunuh, ya?! Aku sudah mencurigai mu dari awal tahu!"


"Tunggu! Dengarkan dulu penjelasanku!" Adit mengibaskan tangannya ke depan sambil menggeleng. Ia sedikit mengeluarkan air mata di sela-sela matanya, karena ia berusaha untuk menahan rasa sakit dari pukulan Nashira tadi.

__ADS_1


Rashino menundukkan kepalanya dan berkata, "Tidak ada yang perlu dijelaskan." Lalu ia kembali mengangkat kepalanya. Menatap tajam ke arah Adit. "Sekarang juga, kau yang harus merasakan apa yang kami rasakan!"


"Eh, tu–tunggu dulu!"


GREP!


Rashino sudah tidak sabar lagi. Dengan cepat, ia menarik kerah baju Adit dengan cepat, lalu menghadapkan wajahnya pada Rashino. "Sekarang, kau masuk! Aku... akan mengurungmu di dalam mobil ini. Sama seperti yang kau lakukan pada kami!"


"Ti–tidak! Jangan dulu. Jika kalian jadi seperti ini, kalian bisa–"


"Ah! Ada masalah apa ini?!"


Serontak Rashino, Nashira dan Adit langsung terkejut. Dengan cepat, mereka bertiga menengok ke samping kanan mereka. Karena di sana, mereka melihat ada manusia berseragam polisi yang sedang berdiri di sana.


Pak polisi itu adalah Ayahnya Adit. Ia sudah kembali setelah mendapatkan beberapa informasi dari rumah si pelaku tabrak lari. Beliau sempat melihat Rashino dan Nashira yang sudah memperlakukan anaknya dengan kasar.


Pak Polisi itu mengerutkan keningnya. "Ada apa di sini?!" ia membentak.


Lalu secara perlahan, Rashino melepaskan Adit, lalu melipat tangannya ke belakang sambil menundukkan kepalanya. Adit kembali merapihkan bajunya dan juga ia berusaha untuk menyembunyikan setengah wajahnya yang sedikit memiliki luka memar itu dengan lengannya.


"Kami mohon izin untuk pulang sekarang." Ujar Rashino ragu. Ia tidak terlihat tegang dan ketakutan.


Nashira menghembuskan nafas berat. Ia akan bicara jujur. "Huh, kami ingin memberikan pelajaran pada anak bapak ini. Karena apa bapak tahu? Tadi anak bapak ini mencoba untuk membunuh kami!"


Seketika Adit dan ayahnya itu terkejut mendengarnya. Adit menggeleng cepat dan berkata, "Tidak, ayah! Ini tidak seperti yang ayah pikirkan. Aku tidak ada niat seperti itu. Tidak! Aku hanya–"


"Adit, masuk mobil sekarang." Ayahnya menyela.


"Tapi ayah–"


"MASUK MOBIL SEKARANG!" Ayahnya Adit membentak. Adit tersentak kaget karena tiba-tiba ayahnya berteriak keras pada dirinya itu.


Adit menundukkan kepalanya. Lalu secara perlahan, ia berjalan mendekati pintu depan mobil. Ia membuka pintu mobilnya, lalu masuk ke dalam dan kembali menutup pintu mobil dengan keras.


Setelah Adit masuk ke dalam mobil. Ayah Adit langsung melirik tajam ke arah Rashino dan Nashira. Lalu tak lama kemudian, beliau tersenyum pada si kembar. "Saya minta maaf untuk kelakuan anak saya, ya? Saya akan memberinya pelajaran nanti!"


Rashino dan Nashira tersentak. Karena semenjak ayahnya Adit membentak anaknya tadi, si kembar langsung terdiam sambil bengong. Mereka terlihat ketakutan dengan ayahnya Adit yang menyeramkan itu jika sedang marah.


"I–iya. Kami juga begitu..." Rashino mengangguk kaku, lalu tersenyum samar tanpa melirik ke arah Ayahnya Adit yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


"Ya. Sekali lagi saya minta maaf! Oh iya, saya sudah terlambat untuk pergi ke kantor." Ayahnya Adit merogoh saku yang ada di baju seragam polisinya, lalu mengeluarkan sesuatu. Sebuah kertas kecil.


"Ini!" Ayahnya Adit memberikan kertas kecil itu pada Rashino dan Nashira. Rashino mengambi kertas itu dari tangan Pak Polisi. "Itu nomor saya. Jika kalian butuh bantuan, segera lapor pada saya saja, ya?"


Belum selesai sampai di situ, Pak Polisi pun melanjutkan perkataanya. "Dan oh iya! Soal kasus kecelakaan itu telah ditutup. Karena setelah saya bertanya pada istri si pelaku, ia bilang kalau ia telah memperhatikan keadaan suaminya setelah pulang kerja malam itu. Suaminya terlihat ketakutan. Tapi saat diajak untuk tidur bersama oleh sang istri, pria itu ingin pergi ke kamar mandi dahulu. Lalu karena istrinya telah menunggu lama karena suaminya belum keluar dari kamar mandi dari tadi, akhirnya si istrinya itu pun tertidur. Nah, saat keesokan harinya, ia baru melihat keadaan si suaminya itu sudah meninggal begitu saja di langit-langit kamar mandi karena gantung diri di sana." Jelas Pak Polisi pada Rashino dan Nashira.


Rashino dan Nashira sedikit terkejut mendengar penjelasan dari Pak Polisi itu. Mereka hanya bisa mengangguk untuk menjawab semua penjelasan dari Pak Polisi.


Lalu tak lama kemudian, Pak polisi itu berjalan memasuki mobilnya. Ia menyalakan mesin mobil, lalu menjalankan mobilnya pergi meninggalkan Rashino dan Nashira yang masih berdiri di tempatnya.


"Katanya... sang istri tidak tahu apa-apa tentang kematian suaminya itu. Ia hanya sekedar melihat si suami sudah meninggal begitu saja di dalam kamar mandi rumahnya." Ujar Rashino pada Nashira.


"Iya. Jadi... percuma menanyakan hal itu pada Istrinya. Karena saksi pertama yang telah menemukan mayat si korban yang gantung diri itu juga tidak mengetahui apapun tentang kematian suaminya. Lalu... dugaan kita selama ini benar." Pikir Nashira.


"Iya. Mungkin, dia (pria yang gantung diri) itu mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di kamar mandi, karena ia merasa takut kalau perbuatannya itu akan diketahui oleh banyak orang. Ia juga takut kalau dirinya ditangkap dan masuk penjara karena telah membunuh orang lain." Jelas Rashino.


"Ia juga tidak hanya membunuh dengan cara menabrak korbannya, tetapi dia juga telah mengubur korbannya begitu saja untuk menghilangkan jejak." Timpal Nashira.


"Itu kan perbuatan yang tidak baik. Seharusnya dia menyerahkan diri dan menjelaskan semua perbuatannya saja. Dia juga harus bertanggung jawab. Jika dirinya memang tidak sengaja menabrak si korban, dia bisa menjelaskannya dengan baik-baik. Dengan begitu, dirinya juga tidak akan terancam masuk penjara, loh!" Lanjut Nashira.


Rashino mengangguk. Lalu ia menghembuskan nafas lega karena kasus itu telah selesai (mungkin). "Hah, akhirnya... sekarang ayo kita pulang!" ajak Rashino.


"Tapi kan kita harus memberitahu pada Akihiro dengan yang lainnya kalau kita berhasil memecahkan kasus ini, kak!"


"Haduh... aku sudah lelah, Nash! Besok saja, ya?"


"Umm... baiklah!"


Rashino dan Nashira akhirnya beranjak dari tempat mereka berdiri. Si kembar akan kembali ke rumah mereka untuk beristirahat. Tapi... apakah dugaan tentang kematian orang yang meninggal karena gantung diri itu memang benar? Atau ada penyebab lainnya?


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2