
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Adel dan Mizuki terlihat senang sekali karena mereka bisa menemukan Kotak Kunang-kunang itu. Tapi sebenarnya bukan mereka berdua. Yuni yang menemukannya. Ah, walau begitu, tetap saja kelompok Mizuki, Adel dan Yuni akhirnya bisa menyelesaikan misi.
Mereka bertiga berlari menghampiri Kotak Kunang-kunang yang menggantung di dahan pohon yang tidak tinggi. Bersinar terang karena dalam kotak kecil itu berisi 3 ekor kunang-kunang yang bersinar terang pada bagian ujung ekornya.
Mizuki mengambil Kotak itu dari atas pohon, lalu setelah itu Mizuki memperlihatkan Kotak Kunang-kunang pada Adel dan Yuni. "Indah sekali... Kotak ini seperti lampion di festival musim panas di Jepang." Ujar Mizuki lembut pada Kotak yang ia tadah itu.
Adel mengangguk cepat. "Iya! memang indah. Aku ingin memegang Kunang-kunang itu. Menggemaskan sekali."
"Sekarang. Dengan ini, kita sudah berhasil. Sekarang ayo kembali." Ajak Yuni. Mizuki dan Adel mengangguk. Mereka akan segera pergi dari dalam hutan. Kembali ke pintu luar untuk memberikan Kotak Kunang-kunang yang berhasil mereka temukan itu pada Bu Mia dan Pak Wija yang sudah menunggu di lapangan berumput.
Tapi sebelum mereka pergi, tiba-tiba saja dari belakang ada seseorang yang mengejutkan mereka dengan pakaian serba putih. Mizuki dan Adel berteriak ketakutan setelah mereka berdua menoleh ke belakang. Karena ada sosok seram yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"KUNTILANAK!"
"SA–SADAKOOOO!!"
Adel dan Mizuki berteriak ketakutan. Tadinya mereka ingin kabur dan menjauh dari sosok yang mereka anggap hantu itu. Tapi Yuni sempat menghentikan langkah kedua temannya dengan cara menarik bagian belakang baju mereka sampai langkah mereka berdua kembali terhenti.
"Yuni lari! Itu hantu!"
"Dia bukan hantu." Ujar Yuni dingin. Lalu matanya melirik ke arah sosok berbaju serba putih dengan rambut panjang yang menjuntai ke bawah. Sosoknya memang seperti kuntilanak. Tapi saat sosok itu menarik rambutnya, akhirnya Mizuki dan Adel bisa tenang. Mereka percaya kalau sosok itu bukanlah hantu, melainkan pengawas orang dewasa yang sedang menunggu di tempatnya untuk berjaga dengan menggunakan pakaian hantu. Dia seorang laki-laki. Rambut panjang itu hanya wig saja.
Setelah tahu kalau sosok yang mereka anggap sebagai hantu itu, Adel dan Mizuki pun menghembuskan nafas lega. Lalu mereka kembali mendekati Yuni.
"Bapak ini bikin saya kaget saja!" bentak Mizuki.
Bapak-bapak itu pun tertawa, "Haha... tugas saya memang seperti ini. Setiap pengawas memakai baju hantu dan menunggu di tempat Kotak Kunang-kunang itu diletakan. Jadi... jika ada orang yang sudah mendapatkan kotaknya, mereka akan langsung berhadapan dengan kami si hantunya dan menakuti mereka semua." Jelas Bapak itu sambil mengelus dan merapihkan kembali rambut aslinya.
Adel dan Mizuki mengangguk paham. Lalu mereka tertawa kecil. Di dalam hati, Mizuki bergumam, "Heh? Kalau kelompoknya Rei menemukan Kotak Kunang-kunang ini, pasti akan ada hantu lainnya yang menakuti mereka. Aku penasaran dengan ekspresi Rei saat ia sedang ketakutan."
__ADS_1
Mizuki membayangkannya. Di pikirannya, ia melihat Dennis, Rei dan Akihiro yang sudah berdiri di depan Kotak Kunang-kunang yang sudah mereka temukan. Tapi saat mereka mengambil Kotak itu, tiba-tiba saja ada hantu yang mengejutkan mereka bertiga.
Rei dan Dennis sangat terkejut, lalu mereka berdua berlari ketakutan dan meninggalkan Akihiro yang sudah pingsan duluan di belakang. Sedangkan hantunya... hanya bisa meneleng dengan bingung. Sesekali ia juga panik karena ia tidak tahu Akihiro harus diapakan.
"Hi hi... pasti lucu." Mizuki bergumam sambil tertawa kecil.
"Kak Zuki kenapa?" tanya Adel bingung yang melihat Mizuki tertawa sendiri.
"Ah, tidak apa-apa." Mizuki menggeleng cepat. Lalu matanya melirik ke arah Bapak hantu yang telah mengejutkannya tadi. "Anu... selain untuk menakuti kita semua, tugas pengawas yang lainnya itu apa?"
"Ya... tugas kami sekarang ini yang terakhir. Saya akan hantar kalian semua kembali ke lapangan." Jawabnya.
"Yes! Kita keluar dengan aman dan selamat. Ditemani orang dewasa, horeee!" Adel kegirangan. Ia tidak merasa takut lagi setelah ada orang dekat tambahan yang datang untuk menemani dirinya.
"Baiklah, sekarang kita pergi dan buat laporan kalian."
"Iya!"
"UWAAAA! TOLOOONG!"
Mizuki dengan yang lainnya terkejut saat mendengar suara teriakan dari seorang yang mereka kenal. "I–itu... itu kan suaranya–"
Tubuh Mizuki tiba-tiba saja terasa terdorong sangat kuat dari hadapannya sampai dirinya terjatuh ke tanah. Setelah jatuh, rasanya Mizuki tidak bisa berdiri kembali karena ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya.
Saat Mizuki kembali membuka mata dan mengangkat kepalanya, Mizuki melihat ada Akihiro yang ada di atas tubuhnya itu. Dan pada bagian wajah Akihiro mengenai... dadanya Mizuki. Bukannya cepat bangun, tapi Akihiro malah terus berdiam diri sambil bergumam, "Bantal yang lembut."
Setelah mendengar gumamannya itu, seketika Mizuki langsung merasa jijik dengan Akihiro. Wajahnya memerah seperti tomat, lalu dengan cepat ia menonjok wajah Akihiro sampai tubuh cowok yang ada di depannya itu terhempas dari atas tubuhnya.
"Mi–Mizuki bodoh! Apa yang kau lakukan?!" tanya Akihiro sambil terduduk di tanah dan memegangi pipi dan hidungnya yang sakit.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu! Apa yang kau lakukan, Dian?! Kau yang bodoh tahu!" Mizuki membalas bentakan Akihiro, lalu menendang tubuhnya. Kekesalan Mizuki sudah bergejolak. Sampai-sampai Adel dan Yuni harus berusaha untuk menenangkan Mizuki.
"DIAAAAN!" teriakan lainnya muncul. Ternyata itu Rei. Ia berlari dengan nafas yang terengah-engah. Ia ternyata sedang mengejar Akihiro yang berlari seperti orang ketakutan.
"Rei datang? Apa dia habis berlari karena dia sudah melihat hantu itu?" batin Mizuki sambil menatap Rei. Ia tertawa kecil. "Heh, pasti Rei juga merasa takut pada hantu bohongan yang muncul itu."
"Hei! Kau main lari saja, hah... hah...." Rei menghentikan langkahnya di dekat Mizuki. Lalu ia menyandarkan tubuhnya di pohon yang ada di sampingnya. "Kau... kau ini sangat penakut, Dian. Aku lelah mengajarimu terus, loh!"
__ADS_1
"Hah... habisnya hantu kepala buntung itu mengejutkan sekali." Akihiro menyela nafas berat, lalu menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Ia membiarkan tubuhnya terlentang di atas tanah karena kelelahan.
"Ah, Dian... awas saja kalau kau main lari meninggalkan kelompok begitu saja." Gerutu Rei lagi.
Adel celingak-celinguk mencari sesuatu. Lalu karena sesuatu yang ia cari itu tidak dapat ia temukan, maka Adel bertanya, "Kak Rei? Di mana Kak Dennis?"
"Oh iya, Dennis!" Rei dan Akihiro terkejut. Mereka melupakan temannya yang satu itu. Sekarang... di mana Dennis pergi?
****
SRAK... SRAK....
Di suatu tempat, Dennis berjalan secara perlahan. Sendirian dan kesepian. Dia sedikit takut. Bukan sedikit lagi. Tapi benar-benar takut karena di dalam hutan yang gelap, ia malah berjalan sendirian di sana.
Dengan berbekal cahaya dari ponselnya dan cahaya dari dalam Kotak Kunang-kunang yang ia pegang itu, Dennis berjalan dengan tenang untuk mencari teman-temannya yang sudah duluan berlari.
"Kak Reeei? Kak Diaaan!" Dennis terus berteriak memanggil nama teman sekelompoknya. Tapi tidak ada seorang pun yang menyahut Dennis. Ia semakin takut. Apalagi sekarang ini... waktu telah menunjukan pukul 2. Hampir mau jam setengah tiga pagi.
Dennis tidak tahu harus bagaimana. Tapi sepertinya ia tersesat, tidak ada yang menemani, dan sendirian di dalam hutan yang gelap. Dennis tidak bisa menemukan jalan keluar dari hutan itu. Bahkan, satu lampu minyak yang Bu Mia katakan saja, Dennis tidak bisa melihatnya. Tidak ada penerangan selain dari ponsel dan Kotak Kunang-kunang.
"Kalian... kalian semua di mana? Di mana... hah...."
Tapi walau sendirian di dalam hutan yang gelap, Dennis tidak akan menyerah. Ia akan berpikir untuk mencari cara agar orang lain bisa tahu keberadaanya. Selain meminta tolong, pasti ada cara lain untuk membuat orang lain bisa menemukan dirinya.
Saat ini, Dennis duduk di bawah pohon. Ia sedang memikirkan caranya untuk memunculkan sinyal tentang keberadaanya di dalam hutan. Ingin menghubungi temannya dengan ponsel, tapi sayang tidak ada sinyal sedikitpun.
"Hah..." Dennis sudah merasa lelah. Kaki dan tubuhnya terasa pegal dan tidak berenergi lagi. Ia menyandarkan kepalanya ke pohon sambil memejamkan mata. Tapi otaknya tetap bekerja untuk berpikir.
"Kalau aku menyorotkan cahaya ponsel ke langit tidak mungkin juga. Eh? Tunggu dulu!" Dennis tahu sesuatu. Ia kembali membuka mata, lalu melirik ke arah Kotak Kunang-kunang yang ada di depannya itu. "Aku tahu caranya untuk membuat orang lain tahu posisiku saat ini! Aku akan segera ditemukan!"
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8