Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 55– Kakek Tua, Pak Raden


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


Ada seorang kakek tua yang berdiri di depan gua. Menatap tajam ke arah Dennis dan di tangannya itu, dia membawa sebuah golok!


"Eh, apa yang sedang kau lakukan di sini, Nak?" teriak kakek itu dari depan gua. Sepertinya dia berbicara dengan Dennis.


Dengan sopan, Dennis menyahut karena dia seorang kakek tua. "I–iya? Ah, saya sedang...."


Dennis tidak bisa menjawabnya. Ia juga merasa takut kalau kakek itu mengetahui perbuatanya yang sudah membunuh Rina. Kakek itu pasti terkejut dan bisa saja dia merasa ketakutan dengan mayat Rina.


Dennis ingin menutupinya juga percuma saja. Karena kakek itu sudah melihat Rina setelah lirikan matanya mengarah ke mayat Rina.


Kakek itu tidak terlihat ketakutan. Tapi Dennis mengetahui ada perasaan kaget pada kakek itu karena bisa dilihat dari ekspresinya. Sebelum kakek itu menuduh Dennis yang tidak-tidak. Jadi untuk mencegah hal itu, Dennis akan memberitahu kejadian yang sebenarnya.


"Ah, maaf! A–aku... itu... itu hanya... eh! Tidak!" Nada bicara Dennis sedikit kaku. Ia tidak bisa menceritakannya. Tapi Dennis akan mencoba untuk memberanikan diri. "Kakek, ah... sebenarnya dia–"


ZLEB! ZRAAASSHH....


"Eh! Kakek...?" Dennis terkejut. Kakek tua itu tiba-tiba berlari kecil mendekati Rina, dan langsung menebas leher Rina dengan golok yang ia bawa. Seketika kepala Rina akhirnya bisa terpisah dari tubuhnya. Darah semakin bermuncratan ke mana-mana. Keluar dengan paksa dari saluran arterinya yang sudah terpotong.


Setelah memotong leher Rina, Kakek itu terdiam sejenak. Membuat Dennis jadi membatu dan tidak ingin mengeluarkan kata-katanya lagi.


Lalu tak lama kemudian, kakek itu menoleh ke arah Dennis. Sontak Dennis langsung terkejut dengan kepala kakek itu yang tiba-tiba menengok dan menatapnya dengan mata sipit yang hampir tertutup oleh alis matanya yang tebal dan beruban. Hanya saja kakek itu tidak memiliki jenggot. Cuma memiliki kumis tipis saja. Mungkin dia rajin bercukur.


Kakek itu melangkah secara perlahan mendekati Dennis dengan golok berlumuran darah di tangannya. Dennis takut kakek itu juga berniat ingin membunuhnya.


Tapi ternyata tidak seperti yang Dennis duga.


Saat dekat di hadapannya, kakek itu menjatuhkan goloknya, lalu menggenggam tangan kanan Dennis dan menggoyangkannya dengan perasaan senang. Dia juga terlihat tersenyum.

__ADS_1


"Terima... kasih banyak! Ah, a–apa... apa kamu yang sudah membunuh... orang itu?" tanya kakek tua dengan nada berat yang sedikit terbata-bata.


Dengan ragu, Dennis hanya mengangguk dan menjawab singkat. "Iya."


"Wa–wah... kau hebat sekali... Nak muda...."


"Emm... me–memangnya... kenapa, ya? Apa anda mengenal dia?" tanya Dennis.


"Tentu saja. Dia anak dari keluarga pemilik Villa... yang aneh itu."


"Eh? Jadi anda benar-benar mengetahuinya?!"


"Saya kan tinggal di dekat sini. Penduduk yang tersisah hanya tinggal saya yang masih bisa bertahan hidup. Sedangkan... penduduk lainnya yang tinggal di dekat Villa itu... telah menjadi ternak oleh keluarga pemilik Villa yang kejam." Jelas Kakek itu.


"Emm... ngomong-ngomong... kenapa kakek datang ke sini?" Dennis bertanya lagi.


"Onhoho... saya ingin mengambil air di dalam gua untuk kebutuhan hidup. Seperti biasa. Tapi saat sampai di sini, saya malah bertemu dengan kamu anak hebat yang sudah membunuh salah satu keluarga pemilik Villa itu." Si Kakek menoleh ke belakang. Ia menatap mayat Risa tanpa kepala, lalu kembali melirik ke Dennis.


"Sebenarnya... orang itu belum mati. Makanya saya memotong kepalanya saja. Saya membawa senjata ini untuk bela diri. Takut diserang oleh salah satu dari mereka." Jelas Kakek itu.


Dennis hanya bisa mengangguk saja. Sekarang ia ingin menghubungi teman-temannya untuk melaksanakan rencananya yang lain.


"Eh?! Apa kau kenal si kakek tua itu?!"


Dennis menghentikan ketikannya. Ia menutup ponselnya dengan perlahan karena terkejut saat kakek di hadapannya itu tiba-tiba saja berbicara padanya.


Dengan cepat, Dennis menjawab jujur. "Sa–saya tidak kenal jelas dengan orang itu. Tapi saya hanya mengetahuinya. Dan saya berniat ingin membunuhnya bersama dengan teman-teman saya!"


"Kau punya teman? Jadi kau bukan orang asing yang datang ke sini sendirian, ya?"


"I–iya. Sebelumnya kami pergi berlibur ke Villa itu bersama dengan teman sekelasku. Tapi karena kejadian kejam yang dilakukan pemilik Villa itu telah membuat kami semua trauma dan ketakutan." Jelas Dennis sambil menundukkan kepalanya. "Sudah ada korbannya. Termasuk aku juga yang nyaris mati. Tapi untungnya sekarang, kami bisa bersatu dan saling bekerja sama untuk membunuh keluarga pemilik Villa itu."


"Jadi kau juga anak-anak dari kelompok Study Tour itu, ya?!"


Dennis tersentak. "Eh? Bagaimana anda bisa tahu?!"

__ADS_1


"Karena saya–"


"DENNIS!!"


Dennis tersentak kaget saat ia mendengar suara seseorang yang berteriak memanggil namanya. Kakek tua itu tidak bisa melanjutkan perkataannya karena Dennis berjalan melewatinya untuk pergi mengecek keadaan luar gua.


Tapi sebelum ia menginjak kaki di mulut gua, tiba-tiba saja ada Rei dan Mizuki yang tiba-tiba muncul dengan tergesa-gesa. Pada awalnya, Rei ingin memukul Dennis dengan tongkat yang ia bawa. Karena Rei pikir, Dennis itu adalah penjahat.


Tapi saat Dennis berteriak "Berhenti!", Rei tidak jadi memukul Dennis. Ia menurunkan tongkat kayunya, lalu memeluk Dennis. Begitu juga dengan Mizuki. Mereka berdua itu terlihat senang sekali saat melihat Dennis baik-baik saja. Kecemasan mereka perlahan mulai mereda.


"Ka–Kak Rei dan Kak Mizuki... ada apa ini?" tanya Dennis ragu. Ia agak bingung dengan sikap kedua temannya itu. Bahkan kalau Dennis tidak menahan tubuhnya, mungkin dia sudah terjatuh karena dorongan kuat dari Rei dan Mizuki yang sedang memeluknya.


Rei kembali melepaskan Dennis. Begitu juga dengan Mizuki. Rei menjawab, "Kami datang ke sini karena kami khawatir denganmu! Terakhir kali, kau tidak membalas pesan Messageku tahu!" Pada akhir kata, Rei membentak Dennis, lalu meninju pelan dadanya.


Dennis hanya tertawa kecil sambil mengelus dadanya itu. "Hehe... sebenarnya tadi mendadak aku ada masalah dengan Rina."


"Apa ada yang terluka?! Aku bisa menyembuhkanmu!" Mizuki sudah bersiap dengan tas yang berisi obat-obatan miliknya. Tas serba guna yang bisa menolong orang yang sedang terluka.


Dennis menggeleng pelan sambil mengibaskan tangannya ke depan. "Ah, tidak usah Kak Mizuki. Aku baik-baik saja. Aku... telah berhasil membunuh Rina."


"Kalau begitu, kenapa kau lama sekali tadi? Kenapa kau tidak menghubungi kami lagi, sih?!" Rei membentak lagi karena ia masih merasa khawatir dengan Dennis.


"Emm... kalau soal itu... sebenarnya aku..." Dennis menoleh ke belakangnya. Matanya menatap ke arah kakek tua di belakangnya itu. Begitu juga dengan Rei dan Mizuki yang merasa penasaran dengan orang lain yang ada di dekat Dennis.


Tapi saat Rei melihat ke arah kakek tua itu, tiba-tiba saja Rei menyentakan matanya, lalu berjalan cepat melewati Dennis dan menghampiri kakek tua itu.


"Eh, eh! A–apakah anda... Anda kan... kakek Raden!"


"Rei, ya?" Kakek itu tersenyum. Pertemuan Rei dengan Pak Raden kembali telah membuat Mizuki dan Dennis jadi bingung.


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2