Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 60– Ujian IPS, part 2


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Spi–spi–Spino!" Gadis itu berujar pelan. "Itu... Spinosaurus!!" Di akhir kata, ia berteriak. Teriakannya itu telah membuat semuanya terkejut dan tak lama tanah bergetar semakin kuat.


"Hei kau! Bisa diam, tidak? Jangan berisik!" bentak Rei pada gadis yang sedang ketakutan itu.


"Ka–Kak Rei... kita harus cepat pergi dari sini." Dennis menarik bagian belakang baju Rei dengan tangannya yang gemetar ketakutan. "A–ada bahaya yang berada dekat dengan kita."


"Hah? Apa yang terjadi?"


"Ini." Dennis menunjukan jam tangannya. Ia memberitahu kalau waktu mereka telah habis dan bahaya yang mereka khawatirkan itu akan segera muncul.


"Waktunya telah habis. Lalu sekarang... bahaya apa yang akan muncul? Gempa bumi? Karena tanahnya bergetar terus dari tadi."


Dennis menggeleng. Lalu matanya melirik ke arah gadis yang belum dikenalnya itu, lalu melirik menatap Rei kembali. Ia menjawab, "A–anak itu tahu sesuatu. Sekarang kita harus pergi dari sini sebelum bahaya itu semakin mendekat. Aku mohon. Kak Rei aku sangat takut!"


"Iya... sekarang kita harus pergi." Itu suara Akihiro. Semua menengok ke arahnya dan tersenyum senang. Karena Akihiro masih bisa berdiri dengan tenaganya sendiri. "Ayo kita berlari saja."


"Kalau kau sudah merasa tidak kuat lagi, maka aku akan membantumu, Dian." Ujar Rei. "Jadi, janganlah menolak bantuan dari teman jika dirimu sedang dalam kesulitan! Karena itulah tugasnya seorang teman!" lanjut Rei dengan nada yang agak ditegaskan.


Akihiro mengangguk pelan untuk mengiyakan. Lalu setelah itu, ia berjalan pelan menghampiri Rei. Tak lama setelah Akihiro berdiri di samping Rei, Adit sempat datang dan berkata dengan kalimat yang sama. "Aku juga akan membantumu, Dian! Karena dalam kelompok ini, aku juga ingin membuat diriku berguna!"


Semuanya mengangguk. Lalu tanpa membuang banyak waktu lagi, kelompok Dennis kembali bergerak. Mereka berlari menjauh dari tempat berdiri mereka tadi. Tak lama setelah kelompoknya Dennis pergi, tiba-tiba saja muncul sebuah kaki raksasa dengan cakar yang tajam jatuh membuat jejak di tempatnya Dennis berdiri tadi. Seekor makhluk besar menyeramkan muncul untuk mencari mangsanya.


Apakah makhluk itulah yang dimaksud Bob dalam bahaya pertama?


****


"Hei, kau!" Rei menegur si gadis baru yang berlari di sampingnya itu. Sontak gadis itu terkejut dan langsung menengok ke arah Rei.


"Siapa namamu?" tanya Rei pada gadis itu.

__ADS_1


"A–Aku Nadya, dari kelas 3–B." Jawab anak itu. Jadi namanya Nadya. Seorang gadis berambut hitam lurus yang memakai sweater biru dan rok sedengkul. Pakaiannya agak kurang cocok untuknya dan Sweater yang ia kenakan itu juga sedikit agak besar dari ukuran tubuhnya.


"Kau tahu tentang bahaya yang kau lihat tadi?" tanya Rei lagi.


"Bahaya?" gadis itu meneleng. Sesekali ia melihat jalan di depannya dan kembali menengok ke arah Rei. "Ah, iya! Bahaya yang sebenarnya datang adalah seekor makhluk purba raksasa yang sudah legendaris!"


"Makhluk purba? Dinosaurus?"


Nadya mengangguk. "Iya itu. Jenis Dinosaurus yang memiliki nama Spinosaurus. Dia makhluk yang berukuran besar dengan dua tangan bercakarnya untuk mencengkram mangsa. Tak lupa dengan giginya yang beruncing dan ia juga dikenal hebat dalam memburu."


Setelah mendengar deskripsi yang diberikan Nadya soal makhluk itu, Rei jadi kagum mendengarnya. "Wow, kau tahu banyak ternyata. Ahli bidang apa kau ini jika di kelas?" tanya Rei.


"Aku menyukai pelajaran sejarah. Yang tentunya masuk dalam mapel IPS, kan? Aku suka IPS. Tapi... jika IPS yang seperti ini, aku tidak mungkin menyukainya."


"Ya... semua orang juga tidak bakal menyukainya, kali." Gumam Dennis.


"Rei!" Nashira memanggil Rei, lalu menunjuk. "Di depan sana ada sebuah pohon besar dengan lubang di bagian bawah batangnya. Kita bisa memeriksa pohon itu dan jika terdapat ruang kosong, maka bisa kita gunakan sebagai tempat perlindungan."


"Pohon?" Rei menghentikan langkah. Begitu juga dengan yang lainnya. "Di mana?"


"Pohon ini!" Nashira menunjukannya. Semua terkejut dengan besar, luas dan tingginya pohon itu. Pada bagian bawah batang pohon terlihat lebih besar daripada bagian atas batang yang menjulang tinggi.


"Pohon apa ini?" tanya Dennis heran.


Nashira menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi yang terpenting sekarang, kita bisa menggunakan pohon ini sebagai tempat persembunyian." Ia berdiri dengan tongkatnya, lalu menengok ke arah Rashino yang sedang memeriksa bagian bawah pohon yang berlubang besar itu.


"Bagaimana, No? Apakah kita bisa menempati pohon itu?" tanya Nashira. Rashino tidak menjawab. Ia masih sibuk memeriksa. Lalu kepalanya ia masukan ke dalam lubang besar di pohon itu untuk melihat keadaan dalamnya.


Tak lama, Rashino kembali keluar. Ia mengangguk lalu mengacungkan jempol pada semua teman-temannya. "Keadaannya bagus, dan... bagian dalamnya masih muat untuk kita tempati."


Semua kelompok Dennis terlihat senang. "Wah, benarkah?"


"Iya! Sekarang ayo masuk! Berdempetan saja tidak apa-apa. Ini hanya untuk sementara." Ujar Rashino. Ia mendekati adik kembarnya untuk membantu Nashira berjalan mendekati pohon berlubang besar. Setelah itu, semua orang pun mengikuti Rashino dan Nashira.


"Tapi yang penting sekarang, kita harus menyisakan tempat yang luas untuk si Dian terlebih dahulu." Ujar Adit yang ada di belakang Dennis. Semua menengok ke arah Adit dan terkejut dengan seseorang yang ia gendong.


"Ka–Kak Dian? Eh! Dia kenapa?" tanya Dennis cemas setah ia melihat keadaan Akihiro yang sedang digendong oleh Adit di punggungnya. Akihiro tertidur di punggung Adit. Seluruh wajahnya terlihat memerah dan mengeluarkan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.

__ADS_1


"Entah. Tiba-tiba saja saat aku menengok ke belakang, aku sudah menemukan si Dian terjatuh di tanah. Tidak mungkin aku meninggalkannya. Jadi kubawa saja dia." Jelas Adit. Semuanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Adit karena sudah membantu Akihiro. Lalu setelah itu, mereka membiarkan Adit untuk jalan duluan dan agar Adit bisa meletakan tubuh Akihiro di dalam lubang pohon.


Setelah Adit selesai dengan Akihiro, semuanya pun juga ikut masuk ke dalam lubang itu. Saat di dalam lubang, Dennis sedikit takjub dengan keadaan dalam lubang itu. "Luas dan besar sekali. Pantas saja pohonnya juga terlihat besar. Sebenarnya pohon apa ini?" tanya Dennis pada semua.


Karena tidak ada yang tahu, jadi mereka hanya menggeleng saja. Lalu setelah itu, yang duduk di dekat pintu keluar adalah Rei dan di depannya itu ada Mizuki. Mereka berdua sengaja duduk di paling depan untuk melihat keadaan luar.


Samping Mizuki ada Akihiro yang sedang tidur. Kepalanya menyandar pada pundak Mizuki. Membuat Mizuki jadi tidak nyaman, tapi ia berusaha untuk tidak mempedulikan kepala Akihiro itu. Di samping Rei ada Dennis. Samping Dennis ada Adel. Depannya Adel adalah Yuni. Dan di tengah-tengah itu ada Rashino dan Nashira. Di paling belakang, ada Adit dan Nadya yang duduk bersampingan.


Sekarang, yang mereka lakukan adalah menunggu. Menunggu untuk melihat wujud dari bahaya yang akan mengancam nyawa mereka itu.


****


"Wah~ Jadi kelompoknya Rei sudah menemukan tempat persembunyian yang bagus." Bob berujar sambil melihat ke layar yang menyorot pohon yang ditempati oleh kelompok Dennis. "Semoga kalian tidak ketahuan oleh tuan Spino, ya? Haha~"


Bob melirik ke arah lain. Ia tersentak karena di layar yang menyorot bagian luar lingkungan sekolah, ia melihat ada dua orang yang datang di depan gerbang sekolah. Kedua penjaga gerbang tidak menyadari kedatangan mereka.


"Eh, siapa itu?" gumam Bob sambil memperhatikan secara detail orang yang datang ke sekolahnya. Saat di zoom, ternyata ia melihat ada seorang wanita paruh baya dengan seorang remaja laki-laki yang mungkin berumur 20 tahun.


"Hmm... mereka itu siapa dan mau apa, ya?" pikir Bob. Tanpa membuang banyak waktu, ia ingin memeriksa kedua orang itu. Pertama, ia menarik mikrofon dan berkata, "Kalian berdua ini siapa, ya?"


Suara Bob terdengar sampai luar gerbang. Kedua orang yang ada di depan gerbang sekolah itu terkejut dan mencari asal suara itu.


"Kalian tidak usah mencari asal suaraku. Apa tujuan kalian datang ke sekolah ini?" tanya Bob lagi.


Tak lama, suara dari si remaja lelaki itu pun terdengar. Ia menjawab, "Kami dari keluarganya Dian Syahputra. Aku kakak kandungnya sendiri. Dan di sampingku ini adalah Ibundanya. Kami datang untuk menjemput adikku!" Pada akhir kalimat, nada bicaranya agak dikeraskan. Tampang dari lelaki itu juga terlihat dingin dan ibunya tetap cuek saja sambil melipat tangannya ke depan.


"Oh~ Dian Syahputra, ya? Hmm... ini menarik." Bob bergumam. Ia menarik mikrofon itu sampai dekat dengan mulutnya dan kembali bicara. "Orang yang kalian cari itu... akan aku bawa ke hadapan kalian."


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2