
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Jadi Kak Rei akan pulang ke rumah?" tanya Dennis dengan raut wajah sedih.
"Iya. Aku rindu orang tuaku," Rei mengangguk dan mengeluarkan senyumnya. Saat ini, Dennis dan teman-temannya sedang berdiri di depan halte. Yang akan ikut dengan Dennis kembali ke kota hanya Akihiro, Mizuki dan Yuni saja. Sementara Rashino dan Nashira akan ikut bersama Rei kembali ke rumah mereka yang ada di Desa.
"Aku sudah berjanji akan kembali pada mereka." Rei melanjutkan. "Mereka pasti rindu padaku juga."
Dennis mengangguk. Ia mengerti dengan perasaan Rei. "Baiklah kalau begitu, kak. Aku akan kembali ke kota."
"Iya. Kau jaga diri di sana baik-baik, ya?" Rei menepuk pelan pundak Dennis, lalu memudarkan senyumannya. Dennis mengangguk lagi, lalu menggenggam tangan kanan Rei dan mengangkatnya sampai ke depan dada. "Kak Rei juga! Kita akan ketemu lagi hari Senin di sekolah."
"Iya, pasti!" Rei juga mengangguk. Lalu tak lama, mobil Bus pun datang menghampiri halte untuk menarik penumpangnya yang sudah menunggu di halte itu.
Tanpa membuang banyak waktu lagi, Dennis melepaskan genggaman tangan Rei, lalu berjalan memasuki mobil Bus. Bersama dengan Adel, Yuni, Akihiro dan Mizuki. Sementara Rei, Rashino dan Nashira masih berdiri di depan halte dan melambai.
Kalau di dalam Bus, Dennis tidak bisa membuka jendela mobil untuk mengeluarkan kepalanya. Tapi dari balik jendela, ia bisa melihat Rei dan si kembar. Dennis menempelkan tangannya ke jendela, lalu menggeser pelan ke kanan dan kiri untuk melambai juga agar Rei bisa melihatnya.
Tapi dari luar Bus, bukan hanya tangan Dennis saja yang dapat terlihat, tapi wajah Dennis dan setengah tubuhnya juga dapat terlihat. Dengan tampang biasa, Rei menatap Dennis dengan tangan yang masih terangkat untuk melambai.
Setelah mobil Bus berjalan kembali dan meninggalkan halte, Rei baru menurunkan tangannya. Wajah teman-temannya yang muncul di jendela juga sudah tidak terlihat. Saat itulah, Rei dan si kembar mulai melangkahkan kaki mereka meninggalkan halte dan jalan yang sepi. Mereka bertiga menuju ke rumahnya masing-masing. Mungkin saat di rumah, Rei dan Dennis bisa berbincang bersama lewat telepon di ponsel.
"Ibu, aku pulang. Aku menepati janjiku. Seperti yang Ibu minta, sebelum ibu pergi meninggalkan aku, aku akan selalu ada di dekatmu untuk menemani ibu." Batin Rei. Ia menggigit bibir dalamnya sambil membayangkan bagaimana jika ibunya benar-benar meninggalkannya. Seharusnya Rei jangan berpikir seperti itu. Tapi entah kenapa, tiba-tiba bayangan ibunya yang ia takuti muncul begitu saja di kepalanya.
"Rei? Kau baik-baik saja, kan?" tanya Rashino yang merasa cemas dengan Rei. Karena selama di perjalanan, Rashino selalu memperhatikan ekspresi Rei yang terlihat... entah bagaimana cara mendeskripsikannya. Intinya, Rei terlihat murung dan gelisah.
Saat ditanya juga, Rei malah diam saja. Rashino dan Nashira memiliki perasaan tidak enak tentang Rei. Dan begitu juga dengan Rei. Ia memiliki perasaan yang tidak enak saat memikirkan ibunya.
Akhirnya sampai di jalan sepetak menuju rumah Rei. Saat di depan jalan itu, Rei hanya berujar pelan tanpa menengok ke arah Rashino dan Nashira. "Sampai ketemu lagi."
Rashino dan Nashira terheran dengan sikap Rei. Mereka menganggap kalau Rei merasa sedih karena Dennis tidak ada di dekatnya. Karena menurut si kembar, Dennis dan Rei itu benar-benar sudah menjadi sahabat yang dekat sekali. Mereka tidak bisa dipisahkan. Dan saat dipisahkan, rasanya pasti akan sakit sekali. Semenit sekali pasti akan ada rasa rindu diantara kedua sahabat tersebut.
__ADS_1
Rashino dan Nashira membiarkan Rei untuk menenangkan dirinya sendiri. Mereka berdua tidak ingin menghibur dia karena bisa membuat Rei terasa terganggu. Mungkin Rei membutuhkan waktu untuk sendiri.
Saat sampai di rumah, Rashino dan Nashira langsung mencari ibu mereka. Ternyata ibunya ada di dapur dan sedang memasak seperti biasa. Pertemuan si kembar dengan ibunya itu adalah momen paling membahagiakan untuk si kembar dan ibunya juga. Rashino dan Nashira senang sekali bisa memeluk ibunya lagi setelah seminggu lebih tidak bertemu.
Tapi... saat Rei sampai di rumahnya, ia diperlihatkan pemandangan yang tidak enak. Perasaan cemas dan gelisah semakin memuncak dan pikiran Rei jadi semakin kacau karena ia selalu memikirkan keadaan Ibunya.
Saat menginjak teras rumahnya, Rei terkejut melihat ada sendal milik ayahnya yang tergeletak di depan pintu. Rei tahu kalau ayahnya tidak bekerja dan ada di rumah, berarti sesuatu yang buruk telah terjadi di dalam rumahnya.
Secara perlahan, Rei memutar kenop pintu lalu membukanya. Ia mengucap salam, memasukan setengah tubuhnya ke celah pintu yang terbuka. Tak lama, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki dan seketika adik kecilnya datang dan langsung memeluk Rei dengan erat. Rei mendengar suara isakan dari adiknya itu. Lino... menangis di pelukan kakaknya. Ada apa dengannya?
"Kau kenapa?" tanya Rei cemas sambil melepaskan pelukan adiknya. Ia sedikit berjongkok di depan adiknya, lalu mengelap air mata Lino dengan jari-jarinya.
"I–ibu... Kakak! Ayo lihat!" Belum selesai menjawab, Lino menarik tangan kakaknya dan langsung membawa masuk Rei ke dalam kamar yang ada di dekat dapur.
Setelah Rei memasuki ruangan kecil yang ia sebut dengan kamar orang tuanya itu, ia terbelalak kaget melihat keadaan ibunya yang sudah terbaring lemah di tempat tidur. Perasaan Rei dan kecemasan yang selalu ia pikirkan sedari tadi ternyata benar terjadi.
Secara perlahan, Rei pun melangkah maju mendekati ibunya. Di dalam sana juga sudah ada ayahnya yang duduk di samping Ibunya sambil terus menggenggam lembut tangan ibunya yang terlihat keriput.
Setelah berdiri di hadapan ibunya, tanpa sadar, air mata menggenang di sela-sela mata Rei. Lalu secara perlahan, Rei memanggil ibunya dengan lirih. Sang Ibu membuka mata, melirik ke arah anaknya yang sudah lama ia tunggu-tunggu kepulangannya, akhirnya muncul juga dihadapannya.
"Ibu..." Panggil Rei lagi. Rei menyipitkan mata dan seketika air matanya yang sudah mengumpul itu pun mengalir melewati pipinya.
"Ti–tidak... Ibu aku sudah ada di sini sekarang. Aku rindu Ibu!" Rei berujar dengan nada yang lebih keras. Wajahnya memerah dan matanya terus mengeluarkan air bening yang semakin deras. "Ibu sakit? Ibu sakit apa? Rei bisa sembuhkan ibu, kok!"
"Tidak... Rhino." Nada suara ibunya semakin melemah. "Sudah nasib ibu yang seperti ini. Dan ibu... ibu juga senang... kau bisa menepati janjimu untuk kembali pada ibu sebelum... Uhuk! Sebelum ibu pergi...."
"I–iya, Bu! Aku memang sudah kembali. Dan sekarang, Ibu jangan pergi meninggalkan aku! Rei sudah ada di sini. Rei akan menemani ibu terus. Rei janji!"
Ibu Rei menggeleng. "Kamu tidak usah berjanji lagi." Lalu beliau mengangkat tangannya. Rei mendekatkan wajahnya ke Ibunya agar ibunya itu bisa memegang wajah Rei dan mengelus pipinya yang sudah basah oleh air mata.
"Sudah cukup... menangisnya. Ibu tidak mau kau... menangis seperti ini." Ibunya bisa memegang pundak Rei dan merasakan tubuh Rei yang gemetar serta suara isakannya. Tangisan Rei tidak mengeluarkan suara yang keras, tapi air matanya yang terus mengalir itu seperti beban hidupnya yang perlahan keluar lewat tangisannya.
"Ya?" Ibu Rei mengangkat tengkuk Rei untuk menghadapkan wajah Rei ke wajah Ibunya. Dengan mata yang masih berkaca-kaca, Rei menatap wajah Ibunya yang mulai pucat dan terasa dingin. Rei menggertakkan giginya untuk menahan dirinya agar tidak menangis lagi. Tapi ternyata sangat sulit. Rei benar-benar telah mengeluarkan semua beban yang ia pendam selama hidupnya dengan cara menangis tepat di hadapan Ibunya.
"... Ehiks! Ah..." Suara Rei terdengar keras dengan tangisannya. Ibu Rei tersenyum dan berkata, "Jika memang itu yang kamu mau, kamu bisa keluarkan semuanya, sayang." Ibu Rei menepuk-nepuk punggung Rei lirih. Setelah tepukan itu, tiba-tiba saja suara Rei menangis semakin keras.
"Keluarkan... keluarkan saja..." Terus mengelus kepala Rei dan membiarkan Rei menangis di pelukan ibunya. Sampai akhirnya....
__ADS_1
"Ah..." Suara erangan Ibu Rei terdengar dan menutup mata. Rei mengehentikan suara tangisnya, lalu dengan cepat langsung mengangkat kepala dan melihat ibunya. Wajah beliau memucat dan tangannya terasa dingin saat Rei menggenggam pergelangan tangan ibunya itu.
"I–ibu?" Rei memanggilnya lirih. "Ibu!" Sekali lagi dengan nada yang keras. Terus menerus memanggil sampai ibunya ingin menjawab panggilan dari Rei itu. Lalu belum saja menjawab, tiba-tiba saja tangan ibunya yang ada di atas kepalanya itu pun terjatuh ke atas kasur. Rei terkejut setelah ia melihat tangan ibunya yang melepaskan elusan di kepalanya, dan....
Saat Rei memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan ibunya, Rei langsung melebarkan matanya dan sekali lagi ia memanggil ibunya dengan suara yang keras seperti sedang membentak. "Ibu! Ibu bangun! Ibuuu!!"
Mau dipanggil sampai beberapa kali pun, ibunya tidak akan tetap bangun. Karena beliau telah meninggal dunia. Nyawanya telah tiada. Hidupnya telah berakhir. Wajahnya memucat dan tidak ada darah yang mengalir lagi. Jantung berhenti memompa darah dan seketika seluruh tubuh ibunya menjadi dingin tanpa darah yang mengalir. Serta nafasnya pun juga telah tiada.
Setelah mengetahui kondisi ibunya yang benar-benar telah meninggal itu, Rei menggenggam erat tangan kanan Ibunya, lalu menundukkan kepala untuk berduka. Ia menahan tangis dan tiba-tiba saja berteriak keras. Sangat keras! Memanggil ibunya lagi dengan nada yang sangat keras.
Ayahnya menangis sambil menundukkan kepala. Begitu juga dengan Lino yang terus menggoyangkan tubuh ibunya untuk membangunkannya. Tapi... takdir tidak dapat diubah. Beliau telah tiada di dunia. Pergi meninggalkan keluarganya untuk selama-lamanya.
Rei masih belum kuat untuk menerima kepergian ibunya. Setelah berteriak, Rei terdiam sejenak, berhenti menangis dan bersuara, lalu secara perlahan tubuhnya melemah dan tumbang di atas tubuh ibunya yang sudah tidak bergerak lagi.
****
Ibu sudah bilang sebelumnya. Ia akan pergi untuk selamanya. Seakan, dari dulu, Ibu sudah mengetahui waktu kematiannya yang semakin dekat.
Mungkin karena pertanda. Ibuku mungkin tahu tanda-tanda kematian yang muncul pada dirinya.
Dan untung saja... aku tepat waktu. Ibu bisa melihat diriku sebelum beliau pergi meninggalkan kami. Entah kenapa cepat sekali. Aku baru saja bertemu dengan ibu kandungku. Belum sempat untuk membahagiakannya, tapi kenapa Tuhan sudah memanggil dirinya untuk pergi?
Apa memang sudah waktunya? Memang sudah takdir yang ditetapkan? Dan memang sudah ajal ibuku?
Entahlah... tapi sekarang... demi ibuku bisa tenang di sana, aku... aku akan mengikhlaskan kepergian beliau. Jangan bersedih lagi dan menjadi anak cengeng. Karena ibuku tidak akan suka jika aku menangis dihadapannya.
Ibu... semoga tenang di alam sana....
Rei~
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8