
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Dennis. Aku ... menyukaimu!" ucap Cahya dengan nada yang lembut tepat di hadapan wajah Dennis.
Dennis benar-benar terkejut mendengar perkataan Cahya itu. Gadis cantik di depannya itu telah mengungkapkan perasaannya di waktu yang tidak tepat. Lebih tepatnya, di waktu sebelum ajal menjemputnya. Selagi ia masih bisa bicara, Cahya ingin berkata jujur pada Dennis termasuk isi hatinya.
"Hidupku sudah tidak akan lama lagi, Dennis. Aku senang kau bisa menerimanya. Tapi jika kau tidak menerimanya, tidak–"
CUP!
"Mmmph!"
Kali ini Cahya yang terkejut dengan pergerakan Dennis yang tiba-tiba. Lelaki di hadapannya itu telah memojokkan tubuhnya, lalu mendekatkan wajahnya dan langsung mencium bibir Cahya dengan cepat.
Dennis tidak melepaskan Cahya. Ia terus dengan posisi yang sama sampai Cahya jadi merasa tidak nyaman. Ia bergumam di dalam hati. "De–Dennis... apa yang kau... eh?"
Tapi saat membuka mata, Cahya melihat Dennis yang sangat dekat di depan wajahnya itu, merasa menikmati ciuman pertama dirinya. Mata Dennis terus terpejam, lalu tak lama air bening mengalir dari selah kelopak matanya yang tertutup. Dennis hanya menempel dan tidak memainkannya.
Mata Cahya juga mulai berkaca-kaca dan bergenang air mata. Ia sedikit menjauhkan wajahnya dari Dennis. Dennis kembali membuka matanya karena terkejut. Ia mengedipkan matanya beberapa kali karena merasa heran dengan tatapan Cahya.
Wajah yang memerah ditambah dengan mata yang berkaca-kaca membuat Cahya jadi terlihat imut di mata Dennis.
Dennis menyentakan tubuhnya. Dia sadar apa yang baru saja ia lakukan tadi. Dengan cepat, Dennis menutup wajahnya dan membuangnya dari Cahya, lalu bergumam, "Apa... apa yang aku lakukan tadi?! Sial! Cahya pasti merasa tidak nyaman padaku." Dia jadi salah tingkah.
Tapi Cahya tetap memasang wajah yang sama. Dennis sedikit melirik ke arah gadis di depannya. Kemudian, secara perlahan pula, Dennis menjauhkan tangannya dari wajahnya. Ia menatap Cahya dengan kasihan. Ia jadi merasa tidak enak pada Cahya.
Tapi saat hendak meminta maaf, tiba-tiba Cahya memejamkan matanya, lalu bergerak cepat memeluk Dennis sampai terjatuh ke belakang lalu merebut bibirnya.
Cahya menekannya. Dennis hanya terdiam. Ia juga membalas ciuman Cahya dan pelukannya, lalu memejamkan mata. Baru kali ini, Dennis menerima ciuman dari seseorang padanya. Karena ia tahu, Cahya adalah gadis terbaik untuknya.
Hanya berlangsung beberapa detik. Tak lama kemudian, Dennis melepaskan pelukannya dan Cahya mengangkat tubuhnya. Mereka berdua sadar kalau sekarang bukan waktunya untuk melakukan hal itu.
Mereka masih memiliki bahaya yang mengintai. Dan sekarang, bahaya itu harus ia hadapi terlebih dahulu.
Dennis sepertinya punya rencana lain.
Ia dan Cahya kembali bangun terduduk. Lalu Dennis mengeluarkan ponselnya dari saku, lalu membukanya. Ia berharap ponselnya masih bisa menyala. Karena sebelumnya telah terkena air hujan.
"Ah, syukurlah. Keberuntungan keduaku." Gumam Dennis dengan senangnya. Karena setelah ia menyalakan ponselnya, ternyata benda itu masih berfungsi dengan baik. Dan yang lebih bagusnya lagi, di tempat tertutup seperti saat ini, ponselnya masih memiliki sinyal agar bisa menelepon seseorang untuk meminta bantuan.
Sekarang begini rencananya. Ia akan memberitahu Cahya. Tapi sebelum itu, Dennis memberikan ponselnya pada Cahya terlebih dahulu. Setelah itu, ia baru akan menjelaskan.
"Eh? Kenapa kau memberikan ponselmu padaku, Dennis?" tanya Cahya heran.
"Aku punya rencana lain. Nih! Kau tetap di sini dan pegang ponselku, ya?"
__ADS_1
"Lalu kau mau ngapain?"
"Aku akan keluar untuk mengalihkan perhatian si ayahmu itu! Kalau bisa, aku akan melawan dia, walau nyawaku taruhannya."
Cahya terkejut mendengarnya. Ia menjatuhkan ponsel Dennis, lalu menarik kerah Dennis dengan cepat dan membentaknya. "Kau bodoh! Kau sendiri tidak akan bisa mengalahkannya. Jangan begitu, Dennis!"
"Aku akan baik-baik saja. Karena dari dulu, aku selalu memiliki kemampuan keberuntungan yang aku miliki." Dennis menyentuh tangan Cahya, lalu tersenyum padanya. "Kau jangan khawatir. Aku pasti bisa! Percaya saja pada keberuntunganku, hehe...."
"Ah, bodoh. Kau percaya dengan hal seperti itu?"
"Jika takdir berkata demikian, maka bisa saja aku mengalahkan ayahmu. Dan sekarang sebelum aku melakukannya, aku ingin minta izin padamu. Bolehkah aku membunuh ayahmu itu?" tanya Dennis. Wajahnya yang terluka itu menunjukan senyum manisnya pada Cahya.
"Kau boleh membunuhnya. Tapi–"
"Sekali lagi aku bilang padamu, jangan khawatir." Dengan jempolnya, Dennis mengelus tangan Cahya untuk menenangkannya. "Aku akan segera kembali!"
"Ah, tapi–"
"Tidak ada tapi." Dennis melepaskan tangan Cahya, lalu bergerak ke pintu keluar lubang. Tapi sebelum ia pergi, Dennis ingin meminta satu hal lagi pada Cahya.
Ia menoleh ke belakang dan berkata, "Cahya, aku mohon padamu. Dengan ponsel yang aku berikan padamu itu, kamu tolong hubungi Rei dan mintalah bantuan untuk dirimu."
"Aku juga akan memberikanmu bantuan, Dennis!"
"Tentu saja aku perlu, haha... Sekarang itu saja yang harus kau lakukan. Aku akan pergi dan kau jangan keluar, oke? Akan aku bawa ayahmu ke tempat yang jauh darimu agar dia tidak bisa menemukanmu. Kau juga jaga dirimu, ya?" Dennis mulai mengeluarkan kepalanya. Membuat air hujan di depan sana kembali membasahi rambutnya. "Aku akan kembali kalau aku bisa!! Akan aku lindungi semuanya!"
"Dennis!" Cahya memanggilnya lagi setelah Dennis pergi keluar meninggalkannya. Cahya akan melakukan apa yang Dennis minta.
Tapi ternyata tidak sulit. Di awal daftar, telah tertera nama Rei di sana. Langsung saja Cahya menekan nomor itu.
Telepon pada Rei telah tersambung. Sekarang hanya tinggal menunggu Rei menjawabnya. "Ayolah, Rei! Rei! Aku mohon jawab. Dennis akan dalam bahaya besar jika kau tidak pergi menyelamatkannya." Gerutu Cahya. Ia masih sabar menunggu Rei menjawab panggilannya itu.
Lalu pada detik ke 30, akhirnya telepon tersambung. Rei telah mengangkat teleponnya. Dengan cepat, Cahya mendekatkan ponsel Dennis itu ke telinganya. "Halo, Rei! Rei!"
[ Siapa kau? Di mana Dennis?! ] Nada bicara Rei juga terdengar cepat dan cemas.
"Aku Cahya. Dennis... Dia sudah pergi."
[ Apa maksudmu pergi?! ]
"Ini bisa dibilang salahku!" Cahya membentak. Ia terlihat panik saat ini. "Dennis pergi untuk melawan ayahku. Aku tidak boleh ikut membantu. Dia bilang, dia akan menyelamatkan semuanya. Tolonglah dia! Dia pergi sendirian!"
[ Baiklah, aku mengerti! Kau jangan pergi ke mana-mana! Tetaplah di tempatmu, oke? ]
"O–Oke Rei."
[ Aku juga akan kirim bantuan untukmu. Kau di mana sekarang? ]
"Aku... aku tidak tahu. Di sini gelap. Tadi aku dengan Dennis, pergi ke arah semakin masuk dalam hutan gitu. Kami pergi tidak tau arah, Rei!"
[ Kalau begitu, posisimu di tempat seperti apa? ]
__ADS_1
"Aku di balik pohon raksasa dalam hutan. Aku bersembunyi di sana, ah!"
[ Hei, kau baik-baik saja?! ]
"Ja–jangan khawatir. A–aku hanya terluka sedikit saja."
[ Jangan bilang sedikit. Nada bicaramu seperti orang yang sedang kesakitan. Tunggu saja! Aku akan menjemputmu. ]
"Tapi bagaimana dengan Dennis?!"
[ Ah, aku yang akan mencari Dennis saja! Nanti aku kirim orang lain untuk menjemputmu! ]
"Ah, iya... terima kasih... tolong... aduh!" Cahya kembali merintih kesakitan. Luka tusuk yang masih terbuka itu, kembali mengeluarkan rasa sakitnya. Sampai Cahya tidak bisa menahannya. "Tolong... segera temukan Dennis... saja...."
BRUK!
****
"Cahya! Cahya! Hei!" Rei berteriak. Tiba-tiba saja Cahya mematikan teleponnya. Rei jadi semakin cemas. Terakhir kali ia dengar, suara Cahya sudah seperti orang yang kesakitan.
"Mereka berdua sedang dalam bahaya! Kita harus cepat!" tegas Rei pada Ethan dan Adit yang ada di belakangnya.
"Mereka siapa?" tanya Ethan heran.
"Tentu saja Dennis dan Cahya! Aduh kau ini!" bentak Ethan setelah ia menyenggol tubuh Adit dengan sikunya.
"Tidak ada banyak bicara sekarang! Seharusnya aku kirim orang lain yang lebih banyak untuk pencarian ini." Ujar Rei sambil mengetik ponselnya. Ia kembali menyalakan lampu flash di ponselnya untuk melihat jalan. "Apalagi dengan suasana hutan yang gelap seperti ini."
"Ngomong-ngomong soal gelap, apakah Dennis bisa melihat di dalam hutan yang gelap seperti ini? Turun hujan pula!" tanya Ethan sambil menyorot lampu ponselnya ke depan jalan. Saat ini ponsel mereka bertiga telah dibungkus oleh plastik bening agar tidak kemasukan air hujan.
"Itu yang aku khawatirkan. Ah, ya ampun! Aku bahkan belum bertanya pada Cahya tentang keadaan Dennis saat ini." Rei jadi merasa semakin khawatir dengan Dennis. Ingin menghubungi orangnya langsung, tapi dia tahu kalau ponselnya Dennis sedang ada di tangan Cahya. Dennis tidak lagi memegang alat komunikasi apapun. "Akan sulit untuk mengetahui keadaan Dennis. Ya ampun! Andai aku menemaninya tadi!"
"Tidak ada waktu untuk menggerutu sekarang, Rei!" bentak Adit. "Kau bilang kita harus cepat, makanya sekarang ayo kita pergi!! Jangan buang banyak waktu!"
"Eh, tapi... hei! Apa kalian sadar kalau sedari tadi hujannya telah berhenti?" tanya Ethan sambil mengangkat tangan kanannya. "Sekarang sedang hujan gerimis kecil. Semoga tidak besar lagi."
"Iya. Tapi sekarang kita belum dapat kabar apapun dari Villa–"
TRIIING... TRIIING....
Ada telepon masuk dari ponsel Adit. Saat dilihat, ternyata Zainal yang telah meneleponnya. Kira-kira ada apa?
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1