
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
"Tidak. Aku ingin tetap mengikutinya. Agar... Kakak dan Ibuku tidak bisa menemukan aku di sini."
Rei dan Dennis terdiam. Lalu mereka mengangguk untuk mengiyakan dan memperbolehkan Akihiro untuk mengikuti ujian di hari ketiga ini.
Mereka berdua tidak tahu harus berbuat apa pada Akihiro. Jika dalam keadaanya yang seperti itu, tentu Akihiro tidak boleh ikut Ujian. Tapi jika dia tetap tinggal di lingkungan sekolah, maka bisa bahaya juga jika keluarganya menemukannya dan membawanya pulang.
"Sekarang aku ingin bersiap-siap. Kalian duluan saja." Ujar Akihiro pelan sambil berusaha untuk bergerak turun dari tempat tidurnya. Dennis akan membantunya untuk berdiri. Tapi Akihiro menolaknya. Ia selalu berkata bahwa dirinya itu baik-baik saja. Akihiro selalu mengeluarkan senyumnya agar tidak mencemaskan keadaanya.
"Aku bisa sendiri Dennis. Makasih udah mau bantu aku. Tapi sekarang... bisakah kalian keluar dulu? Aku ingin ganti baju." Akihiro berbalik badan membelakangi Dennis dan Rei sambil membuka kancing bajunya satu per satu.
Rei dan Dennis mengangguk. Tapi sebelum mereka pergi meninggalkan kamar Akihiro, tiba-tiba saja Akihiro mengeluarkan satu pertanyaan pada mereka. "Kalian... tidak siap-siap?"
"Eh, apa maksudmu?"
"Kenapa kalian memakai baju bebas hari ini? Bukannya pakai kemeja putih sama celana kotak biru?"
Setelah bertanya, Akihiro menengok ke belakang dengan memasang wajah polosnya. "Kau belum memeriksa ponselmu lagi, ya?" Rei bertanya balik. Akihiro berbalik badan. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Melihat layarnya, terdapat notifikasi message.
[ Untuk hari ini dan kedepannya, semua murid memakai baju bebas. Untuk memudahkan kalian dalam bergerak, diharapkan memakai pakaian yang ringan– Terror Internet. ] itulah kata-kata yang tertulis di dalam message ponsel Akihiro.
"Baju yang ringan, ya? Ah, oke deh." Akihiro bergumam. Ia kembali berbalik badan, melempar ponselnya ke atas tempat tidur, lalu membungkuk untuk membuka lemari pakaiannya. "Sekarang kalian... pergi dulu, oke? Aku mau ganti baju, hehe...."
"Oke. Tapi cepat, ya?"
****
"Kalian tepat waktu!"
Saat Dennis, Rei dan Akihiro sampai di kelas, tiba-tiba saja Mizuki muncul dan mengejutkan mereka. "Untung saja pintu kelas belum ditutup!" ia membentak dan memarahi ketiga teman laki-lakinya karena keterlambatan mereka.
"Maaf! Haha... tadi aku yang telat. Aku bangun kesiangan karena semalam aku habis begadang." Akihiro menjawab. Setelah itu ia tertawa sambil menggaruk kepalanya.
Akihiro kembali menurunkan tangannya, lalu membuka mata dan melirik ke arah Mizuki. Ia sedikit terkejut dengan penampilan Mizuki. Seketika wajahnya sedikit memerah dan pandangan matanya selalu melihat bagian tubuh Mizuki yang indah di mata Akihiro.
Mizuki menyadari lirikan mata Akihiro. Ia sedikit mengerutkan kening dan bergumam di dalam hatinya. "Wah, lirikan mata si Dian akan berbahaya, nih!"
__ADS_1
"Mi–Mizuki!" Akihiro memanggil namanya. Membuat Mizuki jadi tersentak kaget. "I–iya?!"
"Tampilan mu... terlalu mencolok di mata laki-laki. Tapi aku menyukainya karena... pakaianmu terlalu minim, hehe..." Wajah polos Akihiro memerah. Seketika perkataan Akihiro telah memancing emosi Mizuki.
"A–apanya yang terlalu minim?! Kau itu, ya!" bentak Mizuki. Tadinya ia ingin memukul Akihiro. Tapi tidak jadi karena tiba-tiba saja Rei mengeluarkan komentarnya juga tentang penampilan Mizuki hari ini.
"Yang dikatakan Dian memang benar. Bajumu terlalu pendek dan seharusnya kau jangan menggunakan rok mini seperti itu, dong. Jaga kondisi tubuhmu, Mizuki."
Pipi Mizuki memerah dan memanas setelah ia mendengar komentar dari Rei itu. Ia juga sedikit malu. Mizuki menundukkan kepalanya dan menjawab pelan, "Baiklah... besok... aku tidak akan memakai pakaian ini lagi."
"Iya. Tidak apa untuk sekarang. Tapi keesokan hari, usahakan untuk tidak mencari pandangan para laki-laki dengan tampilanmu itu, ya?" Rei tersenyum lalu menepuk-nepuk kepala Mizuki. Setelah itu, ia pergi ke tempat duduknya.
Dennis tertawa kecil. Setelah itu, ia juga pergi ke tempat duduknya. Begitu juga dengan anak yang lainnya.
Lalu tak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi sebanyak 2x. Dan setelah bunyi bel itu, suara Bob pun kembali terdengar. [ Seperti biasa! Silahkan masukan nama kalian. Jika tidak mau ya tidak apa. Kalian tidak akan bisa pergi dari kelas ini. ]
[ Sekarang... tanpa membuang banyak waktu lagi, ayo kita mulai ujian di hari ketiga ini! Mata pelajaran IPS, berada di dunia ketiga. Selamat berjuang dan kembalilah hidup-hidup jika kalian bisa. Khu~ khu~ ]
Bob menekan tombol biru di meja pribadinya. Setelah itu, semua komputer yang ada di setiap ruang kelas mengeluarkan cahaya berwarna merah yang menyilaukan. Cahaya itulah yang akan membawa masuk jiwa-jiwa peserta ujian ke dalam dunia yang akan digunakan sebagai tempat belajar mereka sekaligus tempat untuk mereka bertahan hidup!
****
[ Sekarang semuanya selamat datang! ]
"Ugh! Ujian di hari ketiga. Akhirnya dimulai." Batin Dennis sambil melirik ke sekitarnya. "Tempat yang aneh. Seperti biasa. Kami semua selalu datang di dalam hutan belantara seperti ini. Dan sekarang... apa tugas kami selanjutnya?"
Untuk kali ini, semua murid berkumpul di sana. Mereka tidak terpisah. Mereka juga tidak ingin memisahkan diri dari kelompok, apalagi pergi begitu saja dari kerumunan. Karena itu dunia baru mereka, jadi agak menakutkan juga jika dengan cerobohnya mereka pergi begitu saja.
Dennis masih dekat dengan Rei dan Akihiro. Di samping Akihiro juga ada Mizuki dan di depan Dennis berdirilah Adel dan Yuni. Dennis selalu memegang tangan adiknya untuk berjaga-jaga saja. Sementara tangan Adel yang satunya lagi sedang bergandeng dengan Yuni.
Tak lama, Rashino datang. Tak lupa ia juga membawa adik kembarnya. Mereka masih satu tim dengan kelompok Dennis. Jadi sekarang, karena semuanya sudah berkumpul, Bob akan memulai Ujiannya. Tapi sebelum itu, seperti biasa, ia akan mengumumkan peraturan dan tata cara di Ujian IPS ini.
[ Kalian semua dengarkan ini! Di Ujian IPS ini peraturannya sangat mudah, loh~ ]
[ Kalian hanya harus pergi mencari pintu berwarna biru. Karena pintu itulah yang akan membawa kebebasan untuk kalian keluar dari dunia ini. ]
[ Tapi sebelum itu, ada syarat lainnya loh~ ]
"Syarat apa lagi?!"
"Cepat beritahu kami!"
[ Sebelum memulai, kalian harus membentuk kelompok dengan jumlah 10 anggota. Dalam 30 detik, kalian harus cepat berkumpul dengan kelompok buatan kalian! Dan sekarang... mulai! ]
__ADS_1
Dennis terkejut. "A–apa?! Hanya 30 detik saja?!" Ia celingak-celinguk untuk mencari beberapa orang lagi. Karena di kelompoknya itu berkurang 2 orang lagi yang harus ia cari.
"Hei, kau! Ayo kemarilah! Ikut dengan kelompok kami!" Rei berteriak. Ia memanggil seorang anak laki-laki dari kelas 3–B. Tapi ternyata anak itu sudah memiliki kelompoknya sendiri. Semuanya masih sibuk mencari dan berusaha untuk membentuk kelompok. Dengan siapa saja boleh! Yang penting, tetap ingat dengan waktunya!
[ Ayo~ Ayo~ 20 detik lagi, loh. Jika ada yang tidak mendapat kelompok, maka orang itu akan mati. Kalian tidak ingin mati, kan? Dan jika satu kelompok masih kurang anggota, maka satu kelompok itu juga akan mati, loh~ Haha... ]
Semuanya terkejut. Mereka semakin panik saja. Sebagian besar telah membentuk dan berkumpul dengan kelompok mereka. Tapi di kelompoknya Dennis masih berkurang 2 orang lagi.
"Kak Rei! Bagaimana kalau dia saja?" Dennis menepuk pundak Rei. Setelah Rei menengok, ia menunjuk ke arah seorang gadis yang sedang menangis sambil berdiri di tengah-tengah. "Dia kasihan! Anak itu dari tadi tidak mendapat kelompok. Dia ditolak terus oleh kelompok yang lain."
"Anak... perempuan, ya?" Rei bergumam. Ia tidak ingin mengajak anak perempuan untuk masuk ke dalam kelompoknya. Karena menurut Rei, anak perempuan itu terlalu merepotkan.
"Kasihan dia, kak Rei! Masukan saja dia ke kelompok kita. Daripada kita tidak punya kelompok lagi!" Dennis memohon. Ia benar-benar ingin mengajak gadis malang itu untuk masuk ke dalam kelompoknya.
Pada awalnya Rei tidak ingin memasukan gadis itu, tapi Rei mengangguk untuk mengiyakan karena terpaksa. Dennis sudah merengek padanya. Rei malah tidak tega dengan rengekan Dennis daripada sama si gadis malang itu.
Setelah Rei mengangguk, Dennis tersenyum lebar. Dan langsung saja ia berlari menghampiri gadis malang itu. "Hei, kau baik-baik saja?"
Si gadis kecil dengan rambut panjang berwarna hitam itu menghentikan tangisnya setelah ia mendengar suara Dennis. Dia mendongak dan menjawab, "I–iya. Ada apa?"
Dennis tertawa kecil dan tersenyum. "Oh, baguslah! Hei, kau belum punya kelompok, kan? Sekarang kau ikut dengan kami saja." Ajak Dennis.
Gadis itu terlihat senang sekali saat Dennis mengajaknya. "Be–benarkah?" tanyanya ragu. Dennis mengangguk. Lalu menarik tangan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam kelompoknya.
"Te–terima kasih banyak! Aku senang sekali." Ucap Gadis itu sambil tersenyum.
"Nah, sekarang tinggal 1 orang lagi."
[ 10 detik! 9... 8... 7.... ]
"O–oh tidak! Waktunya sedikit lagi! Cepat Kak Rei!" Dennis jadi panik karena ia kekurangan satu orang dalam kelompoknya. Rei juga jadi kebingungan sendiri. Semuanya tidak menemukan anak lain yang masih belum punya kelompok.
Sampai akhirnya... seseorang datang dan mengejutkan mereka. "Hei, boleh aku masuk ke dalam kelompok kalian?"
Tampang wajah anak yang datang itu tidak asing. Mereka mengenal orang itu. Si lelaki bertubuh besar yang dikenal sebagai anak paling pintar di kelas 3–C.
Siapa lagi kalau bukan Maulan Aditia!
*
*
*
__ADS_1
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8