Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 40– Ujian Matematika, part 2


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Dennis dan teman-temannya langsung saja pergi memasuki gua yang ada di sebelah kiri. Ternyata tidak hanya mereka saja, tapi ada juga beberapa murid lainnya yang memutuskan untuk pergi ke gua kiri.


"Rei... apa kau tidak salah pilih gua?" bisik Mizuki yang ada di belakang Rei.


"Entahlah. Coba kita lihat saja dulu." Jawab Rei ragu.


"Ta–tapi kan... tempat ini agak gelap dan menyeramkan. Nanti kalau kita salah pilih gua, apa yang akan terjadi pada kita? Katanya soal yang diberikan di gua tersulit itu adalah soalnya para ilmuan, loh!" jelas Mizuki. Seketika semuanya tersentak dan tiba-tiba saja tubuh mereka jadi merinding mendengarnya.


"Tenang saja. Kita bisa melakukannya. Kan kita semua sudah belajar di buku. Dan katanya juga, soalnya ada di buku yang kita pelajari." Ucap Rei.


"Lalu... jika kita salah menjawab soal, apa yang akan terjadi?" gumam Dennis.


"Kita yang akan dibunuh." Yuni menjawab dengan nada dingin. Kata "membunuh" itu ia ucapkan dengan santai tanpa ekspresi sedikitpun.


Semuanya terkejut kecuali Rei. Mereka jadi merasa semakin takut. "I–ini bukanlah Ujian untuk kita. Ke–kenapa orang itu mau membunuh kita semua dengan cara seperti ini?!" panik Mizuki.


"Aku juga masih belum tahu." Rei menggeleng. "Tapi korbannya bukan hanya kita saja. Kan ada juga dari sekolah lainnya yang mengalami tragedi seperti ini juga." Lanjutnya.


Rashino dan Nashira melajukan langkah mereka sampai mereka berada di samping Rei. Nashira menunjukan ponselnya lagi dan ia mulai menjelaskan tentang apa yang ia baca di situs web yang ada di ponselnya itu.


"Tapi yang kulihat dari internet, katanya korban-korban yang telah terperangkap di dalam dunia ini saat mereka sedang mengikuti Ujian, semuanya tidak ada yang selamat. Walau ada beberapa orang. Tapi... kata murid yang selamat, orang jahat yang membuat dunia ini tidak akan melepaskan kita, loh! Anak yang selamat itu juga bilang, ada banyak ujian dan rintangan yang sangat berbahaya. Bahkan katanya, ada beberapa hantu dan monster raksasa yang siap untuk melahap kita semua sekali gigit." Seketika penjelasan Nashira itu langsung membuat bulu kuduk Dennis dan yang lainnya merinding. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana sosok menyeramkan dari hantu dan monster-monster itu!


"Hah, sebaiknya kita berjuang di sini!" Rei berujar. "Kita semua harus keluar dari dunia ini dengan selamat. Dan kalian semua jangan takut. Karena ada aku yang siap akan melindungi kalian."


"Ka–kak Rei jangan begitu. Kami bisa berjuang sendiri, kok!" Dennis menggelengkan kepalanya pelan.


"Baik, kalau gitu kita berjuang bersama saja, saling melindungi dan membantu!" Akihiro merangkul tubuh Dennis dan Rei sambil tertawa. Dennis tersenyum dan Rei tetap dengan ekspresi biasanya.


"Hei, lihat!" Mizuki menunjuk. Ia melihat sesuatu yang ada di depannya. "Ada cahaya dari sana!"


"Ah iya benar! Ayo kita lihat ada apa di depan sana!" Akihiro berlari melewati Dennis dan Rei. "Mungkin saja itu jalan keluarnya!"


"Eh?" Dennis meneleng. "Tapi kan dari tadi kita belum ngapain-ngapain selain berjalan di dalam gua ini."


"Mungkin di sanalah kita akan memulai Ujiannya." Gumam Rei.


Semuanya memperlaju langkah mereka dan menghampiri cahaya yang ada di depan mereka itu. Semakin dekat dengan cahaya, maka cahaya itu semakin menyilaukan saja. Sampai akhirnya, mereka pun bisa melewati cahaya itu dan kembali melihat dengan jelas.


Saat ini, mereka telah masuk ke dalam sebuah ruangan berbatu warna biru dengan... bercak darah di mana-mana!


Semuanya terkejut saat mereka sampai di tempat yang penuh darah itu. Benar-benar mengerikan. Banyak potongan daging juga di setiap tempat dan sudut ruangan itu.

__ADS_1


Tapi untuk sekarang ini, mereka harus tenang. Dan sekarang apa yang harus mereka lakukan?


"Ugh! Aku tidak tahan." Gumam Mizuki ketakutan sambil bersembunyi dibalik pundak Akihiro.


"Sebenarnya ini tempat apa?" tanya Rei. "Kenapa... tempatnya sangat mengerikan seperti ini?!"


"Mungkin semua darah dan potongan daging di sini adalah anak-anak dari sekolah lain yang sudah meninggal saat mereka mengikuti Ujian ini juga." Jelas Yuni pelan.


Dennis terkejut. "Ja–jadi mereka semua ini adalah...."


"Semua anak-anak yang dilaporkan telah meninggal dalam Ujian Kematian ini." Timpal Rei.


"I–iya. Jadi... mereka meninggal dengan cara seperti ini?! Sadis sekali. A–aku tidak ingin berakhir menjadi potongan daging cincang!"


"Ya makanya, kita harus bisa menyelesaikan permainan ini dengan cepat."


[ Semuanya sudah datang! Jadi... sekarang... GAME START! ]


Semuanya terkejut saat mendengar suara Pak Bob itu kembali. Ditambah lagi dengan suara bunyi lonceng yang keras dan mengganggu pendengaran. Katanya game sudah dimulai? Tapi... apa yang akan mereka lakukan di sana?


TAP... tap... tap....


Semua melirik ke arah pintu biru yang ada jauh di depan mereka. Para murid melebarkan mata mereka karena terkejut melihat ada sosok aneh yang tiba-tiba datang dari pintu biru itu.


Sosok manusia berwarna kulit pink muda, tubuhnya kecil, memiliki 3 ekor yang lebat dan dua telinga kucing di atas kepalanya. Memiliki rambut pendek dan hidung bulat kecil yang mungil, serta mata besar berwarna merah yang imut. Lebih tepatnya, sosok itu mirip seperti manusia rubah!


"Makhluk apa itu?"


"Di–dia mau apa di sini?"


"Tubuhnya agak imut juga, ya?"


Berbagai pertanyaan dan bisikan mulai muncul dan dilontarkan dari mulut ke mulut. Mereka semua kebingungan dengan sosok kecil uang datang itu.


"Apakah aku imut?" Sosok kecil itu berbicara. Semuanya tersentak saat mendengar rubah kecil itu mengeluarkan suara layaknya seperti manusia.


"Ka–kau bisa bicara?!" seseorang berteriak padanya karena terkejut setelah mendengar suara dari rubah kecil itu.


ZRRAAASHHH!!!


"UWAAAAA!!"


"Eh?! A–apa-apaan itu?!" Dennis melebarkan mata dan mengecilkan pupil matanya karena terkejut. Lalu dengan cepat, ia mundur ke belakang. Semua orang berteriak ketakutan. Karena satu orang yang baru saja berteriak tadi tiba-tiba saja kehilangan kepalanya!


Darah bermuncratan ke mana-mana dan seketika tubuh anak yang telah kehilangan kepalanya itu pun terjatuh dan mati di tempat!


"Apa yang terjadi?!" Dennis jadi panik setelah melihat kejadian itu. Lalu matanya melirik ke arah rubah kecil yang tubuhnya sudah dipenuhi oleh darah. Dan dari ketiga ekornya itu menggeliat dan menjadi besar.


Semuanya takut pada rubah kecil itu karena mereka juga tidak ingin bernasib sama seperti anak yang baru saja mati tadi. Mereka semua ingin lari dan keluar dari dalam ruangan itu. Tapi ternyata pintu gua sudah tertutup dengan pintu biru! Sejak kapan pintu itu tertutup?! Sekarang mereka semua tidak bisa ke mana-mana, dong!

__ADS_1


"Jangan berteriak." Ujar rubah kecil itu. Lalu secara perlahan, ia menghampiri anak yang sudah ia bunuh baru saja. Lalu dengan cepat, mulutnya terbuka sangat lebar dan besar. Setelah itu, rubah kecil melahap habis tubuh anak itu yang baru saja ia bunuh. Mengoyak tubuhnya dan terus menggigit. Suara tulang-tulang yang patah dan kunyahan daging pun terdengar dari mulut rubah yang besar itu.


Tak lama, hanya memakan waktu beberapa detik saja, rubah itu bisa menghabiskan makanannya dengan cepat. Lalu setelah itu, ia memuntahkan kembali daging manusia yang sudah ia makan. Keluarlah darah yang banyak dari dalam mulutnya dan potongan daging serta organnya itu pun keluar dari dalam mulut si rubah.


Seketika semuanya kembali berteriak dan merasa takut karena melihat rubah dengan mulut besar itu melahap satu anak murid dengan cepatnya.


Setelah si rubah menyelesaikan makanannya, ia pun kembali menjadi kecil lagi dan sosoknya menjadi imut kembali. Setelah itu, si rubah kembali berbicara, "Jangan berteriak. Aku tidak suka mendengarnya."


Semuanya terdiam. Para anak perempuan menutup mulut mereka sambil gemetar dan keringat dingin pun keluar dari tubuh mereka. Tegang dan penuh dengan ketakutan. Mereka berusaha untuk tidak bersuara dan tidak akan membuat rubah kecil itu marah lagi.


"Apakah aku imut?" tanya si rubah kecil itu.


Semuanya tidak berani menjawab. Mereka sangat takut. Jika mereka menjawab dan mengeluarkan suara, maka si rubah akan langsung menyerang dan membunuh semuanya.


Tapi ternyata ada satu anak yang berani menjawab. Seorang anak laki-laki dari kelas 3-B, tiba-tiba saja maju beberapa langkah ke depan dari kelompoknya dan mendekati rubah itu. Ia menjawab, "Kau imut sekali." Nada suaranya agak ragu.


Si rubah terdiam. Lalu ia melebarkan matanya secara perlahan. Suara erangan keluar dari si rubah itu. "Makasih sudah bilang aku imut." Jawab si rubah. Lalu setelah itu, ia langsung pergi dengan cara melompat dan menempel di bebatuan yang ada di pojokan ruangan itu.


"Selamat mengerjakan Ujian kalian, ya?" ucap si Rubah. Lalu tiba-tiba saja rubah itu menghilang dan lenyap dari tempatnya. Tapi sebelum itu, ia sempat bergumam, "Aku menunggu daging kalian lagi."


[ Ruangan pertama! Di ruang Matematika! Kalian sudah bertemu dengan penghuni di ruangan ini, kan? ]


Suara Bob tiba-tiba datang lagi. Tapi untuk kali ini, semuanya tidak mencari asal suara itu. Mereka hanya terdiam dengan tampang yang masih terlihat seperti orang yang sedang ketakutan. Tapi dari ratusan murid di sana, hanya Yuni dan Rei saja yang masih terlihat tenang.


[ Sekarang kita mulai di soal pertama! Jawab dengan benar. Kalian tidak ingin bertemu dengan rubah itu lagi, kan? ]


[ Nah! Peraturan baru. Jika kalian berhasil menjawab 3 soal matematika ini, maka kalian akan bisa membuka pintu biru yang ada di depan sana. Tapi... ketiga soal ini hanya bisa dijawab dengan waktu 30 menit saja! ]


[ Jika ada satu orang yang berani menjawab benar, maka akan dapat poin untuk membuka pintu biru itu. Tapi jika salah jawab, maka si rubah akan mengincar orang yang telah menjawab dengan salah. Dan jika kalian tidak bisa menjawabnya karena waktunya habis, maka kalian semua yang ada di ruangan ini akan menjadi makan siang di rubah itu, loh~ Jadi... berhati-hatilah, dan gunakan waktu kalian sebaik mungkin! ]


[ Selamat mengerjakan soalnya! ]


PATS!


Lagi-lagi ada sebuah layar besar yang muncul di hadapan mereka. Sebuah layar besar itu menunjukan satu soal matematika. Semuanya mendekat dan melihat isi soal itu. Dan ternyata saat dilihat secara detail... ternyata isi soalnya sangat mudah!


[ 1+1\= ? ]


"Heh! Soal seperti ini aku pasti bisa mengerjakannya." Ujar Dennis. Ia yang akan menjawabnya. Apakah Dennis bisa menjawab dengan benar untuk soal pertama itu?


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2