
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
“Rencanaku adalah... Fotosintesis!”
Semuanya meneleng. Mereka tidak mengerti. Apa yang Dennis pikirkan? Rencana fotosintesis itu seperti apa?
“Fotosintesis? Seperti apa itu? Bagaimana caranya?” tanya Ethan. Semuanya juga bertanya dengan kata yang sama seperti Ethan.
Dennis tersenyum. Ia akan menjelaskan. Tapi sebelum itu, Dennis mengajak teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan terlebih dahulu agar bisa cepat sampai di depan terowongan. Itu juga jika mereka berhasil melewati bahaya yang ada di depan.
Sambil berjalan, Dennis baru memulai penjelasan tentang rencananya itu. “Kakak-kakak semua tahu, kan? Kalau tumbuhan menghasilkan makanan dari krolofil yang ada di daun. Proses dari pembuatan makanan itulah yang disebut dengan fotosintesis. Nah, rencanaku adalah... kita harus menghidupkan kembali tumbuhan dan bunga raksasa yang sudah mati di sini dengan cara memberikan mereka makanan.”
“Memberikan mereka makanan?” gumam Akihiro. “Gimana tuh?”
“Jangan bilang kalau makanannya itu adalah manusia!” seseorang menyela. Dennis tersentak. Ia menggeleng sambil tersenyum samar, lalu melanjutkan perkataannya.
“Aku tidak bilang makanannya adalah manusia, kok! Nih. Makanan yang kita berikan pada tumbuhan itu adalah cahaya. Kalian tahu? Tempat ini gelap dan kekurangan cahaya. Tapi... jika kita memberikan cahaya untuk tumbuhan yang sudah mati, maka tumbuhan itu akan hidup lagi.”
“Tumbuhan mana yang akan kita beri makan?” tanya Ethan.
Dennis menunjuk ke depannya. Sesuatu yang ia tunjuk adalah, beberapa bunga berwarna kuning dan merah yang terlihat sudah layu dan mati. Tapi kelopak bunganya itu masih utuh. Hanya saja, tumbuhan-tumbuhan itu terlihat tidak sehat. Entah karena kekurangan cahaya, atau karena tanah yang ada di tempatnya itu kurang cukup untuk mencari nutrisi yang tersimpan di dalam tanah karena banyaknya tanah di dalam terowongan itu juga dibagi rata untuk tempat hidupnya tumbuhan lain.
“Dengan bunga yang sudah mati itu, aku jadi mendapatkan ide.” Dennis menengok ke belakangnya. Matanya melirik ke arah tumbuhan Flytrap yang sudah mati itu. Semua orang mengira kalau tumbuhan yang paling besar dan ganas itu pasti sudah mati. Tapi Dennis melihat sesuatu yang telah membuat dirinya menganggap kalau tumbuhan itu masih hidup.
“Aku tidak boleh membuang banyak waktu lagi.” Batin Dennis. Tubuhnya gemetar sedikit karena ia merasa takut dengan sesuatu yang keluar dari tanah itu. Tapi Dennis berusaha untuk tenang dan ia mencoba agar dirinya tidak disangka buruk lagi oleh orang-orang disekitarnya.
“Ah, kita langsung ke intinya saja, ya?” Dennis kembali menghadap ke depan. Ia melanjutkan, “Tugas kita adalah memberikan bunga-bunga raksasa itu cahaya agar mereka bisa hidup kembali. Nah, ini tugas pertama. Kita harus bekerja sama. Tapi... aku memerlukan banyak bantuan dari kakak-kakak di kelas 3-A.”
Dennis menengok ke arah Davin. “Kak Davin. Aku harap, kau mau membantu kami semua.” Davin terkejut mendengarnya. Ia bertanya, “Kenapa hanya aku?”
__ADS_1
“Bukan hanya kakak. Tapi seluruh kelompok kakak yang telah membawa senjata untuk bertahan hidup di sini. Aku tahu senjata itu amatlah penting. Jadi... aku mau Kak Davin dengan kelompokmu yang menjadi petugas utama dalam rencanaku ini.” Jelas Dennis.
“Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan?” tanya Davin.
“Dengan senjata kalian. Aku ingin kalian menghancurkan dinding terowongan ini. Dengan begitu, setelah dindingnya hancur, otomatis cahaya dari depan terowongan ini akan masuk lewat lubang yang ada di dinding. Jika cahaya itu masuk dan mengenai tumbuhan-tumbuhan yang sudah mati itu, mereka pastinya bisa hidup kembali. Karena... Bunga-bunga itulah yang akan mengeluarkan kita dari tempat ini.” Jelas Dennis lagi.
Davin menanggapinya dengan mengangguk. Ia paham dengan rencana Dennis. Ia juga menyetujui rencana itu. “Baiklah! Sekarang, di mana kami harus menghancurkan dinding itu?” tanya Davin sambil menyiapkan senapannya.
“Tepat di samping bunga-bunga itu.” Jawab Dennis. Lalu setelah itu, ia menengok ke arah Rei. “Kak Rei, kita juga harus membantu mereka. Dan juga semuanya juga saling membantu agar pekerjaan kita cepat selesai!”
“Iya!” Semua orang mengangguk paham. Jadi sekarang, tugas mereka hanya menghancurkan atau membuat beberapa lubang di dinding terowongan agar cahaya bisa masuk dan menghidupkan kembali bunga-bunga yang sudah mati.
Tapi sebelum itu, Davin kembali bertanya pada Dennis. Ia menghentikan langkahnya Dennis dan mulai mengeluarkan suaranya. “Dennis! Kau tahu dinding ini terbuat dari apa? Ini... terowongan yang mungkin saja memiliki tembok yang kokoh.”
Dennis menggeleng. “Tidak susah, kok! Terowongan yang kita masuki ini adalah bagian dalam dari batang pohon raksasa yang sudah tumbang.”
Seketika semuanya terkejut. Mereka tidak percaya dengan perkataan Dennis itu. “Hah?! Ja–jadi... terowongan ini terbuat dari batang pohon?!”
“Berarti besar sekali, dong!”
Dennis mengangguk. “Iya. Karena terowongan ini adalah bagian dalam dari batang pohon yang ukurannya sangat besar, kita bisa saja menghancurkan dan melobangi dinding kayu ini dengan mudah.”
“Tapi kemungkinan besar, terowongan ini akan segera runtuh karena sudah tidak kokoh lagi.” Ujar Rei. Semuanya terkejut. Dennis juga memikirkan hal yang sama. “Kak Rei benar juga. Kita memang tidak punya banyak waktu lagi. Belum juga... tumbuhan yang mulai tumbuh di belakang kami. Mungkin saja, tumbuhan itu tidak akan melepaskan kita semua nanti jika dia hidup kembali. Tumbuhan itu saja yang harus kita waspadai.” Pikir Dennis dalam hati.
“Sekarang, ayo cepat! Kita harus mengikuti apa yang dikatakan Dennis!” perintah Ethan pada semuanya. Mereka berteriak “iya!” dan ada juga yang menjawab hanya dengan menganggukkan kepala. Lalu setelah itu, semua orang pun berlari menghampiri bunga-bunga raksasa itu.
Begitu juga dengan Dennis dan kelompoknya. Sambil berlari, Dennis berujar pelan pada Rei yang ada di sampingnya. “Kak Rei! Kita harus hati-hati dengan tumbuhan yang ada di belakang kita itu.”
“Eh, apa maksudmu Dennis?”
“Tumbuhan Flytrap yang kita bunuh tadi sebenarnya belum mati. Dia masih hidup. Kita hanya membunuh tubuhnya saja. Tapi kita tidak menghancurkan inti tumbuhannya. Dan itulah masalah kita! Sekarang... banyak tunas yang numbuh dari inti yang masih hidup itu. Tunas itu akan membentuk tanaman baru yang mungkin saja lebih besar, lebih banyak dan lebih ganas dari sebelumnya.” Jelas Dennis. Rei tidak terkejut. Tampangnya biasa saja. Ia hanya menjawab, “Kalau begitu, kita harus cepat pergi dari tempat ini.”
Dennis mengangguk. Rei melirik ke jalannya lagi. Begitu juga dengan Dennis. Saat sampai di depan beberapa bunga raksasa itu, semuanya langsung menghentikan langkah mereka. Mengatur nafas sebentar lalu setelah itu kembali berdiri tegak.
“Sekarang... Hah hah... sekarang juga kita harus menghancurkan dinding yang ada di samping bunga-bunga itu, kan, Dennis?” tanya Ethan. Dennis mengangguk untuk mengiyakan. Lalu dengan cepat, Dennis dan teman-temannya langsung saja pergi menghampiri dinding.
__ADS_1
Setelah Dennis, semua anak laki-laki langsung pergi ke dinding yang satunya. Sedangkan anak perempuan yang tersisah tetap berdiri di tempat mereka untuk mengawasi keadaan. Dengan tangan kosong, mereka mengelupas, dan memukul-mukul di dinding kayu lapuk itu sebisa mereka.
Dari kelompok Davin, mereka semua menembaki, menusuk dan menebas dinding kayu. Dari beberapa peluru yang dilontarkan, mereka bisa membuat lubang kecil di dinding. Semuanya tersenyum senang saat melihat ada cahaya yang masuk lewat lubang-lubang itu.
“Semangat teman-teman! Sedikit lagi dan kita bisa keluar dari tempat ini!” Dennis berteriak untuk menyemangati teman-temannya yang sedang berusaha dan bekerja sama untuk keluar dari tempat itu.
Dari banyaknya anak yang berusaha untuk menghancurkan dinding, hanya kelompok bersenjata saja yang bisa menghancurkan dinding kayu. Kelompok dari kelas 3-A itu memang anak-anak yang bisa diandalkan! Mereka hebat dalam menggunakan senjata yang mereka dapatkan itu.
Sudah banyak lubang yang dihasilkan dan cahaya yang masuk juga semakin banyak. Setelah lubang-lubang kecil berkumpul, saatnya kedua anak yang memegang pedang itu mulai melontarkan aksi mereka.
Mereka berdua menusuk dan menebas lubang-lubang kecil itu sampai akhirnya menjadi lubang dengan ukuran yang besar. Setelah dua lubang besar terbentuk, seketika cahaya yang masuk langsung menerangi seluruh terowongan.
Mereka mematikan ponselnya masing-masing karena sudah tidak membutuhkan cahaya flash itu lagi. Cahaya alam lebih baik dan lebih terang. Sekarang semuanya bisa melihat apapun yang ada di sekitar mereka.
Kelompok Dennis kembali menghampiri beberapa anak perempuan yang tidak ikut mengaburkan dinding. Lalu semuanya juga ikut. Mereka kembali berkumpul lagi.
“Nah, Dennis! Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Davin setelah ia puas menembaki dinding terowongan.
“Kita langsung saja pergi melewati celah-celah di bunga raksasa itu sebelum beberapa bunga ini bangun dan hidup kembali. Karena... Setelah bunga ini hidup dan tumbuh kembali, maka jalan keluar kita akan tertutup oleh mahkota bunga yang sangat mengganggu.” Jelas Dennis.
Semua orang mengangguk paham. Lalu beberapa mulai berlari mendekati bunga raksasa itu lebih dekat dan mencari lubang atau celah untuk mereka lewati sebagai jalan keluar. Diikuti juga dengan semua murid lainnya.
Yang tersisah hanya kelompoknya Dennis dan Davin. Mereka juga akan mengikuti anak lainnya untuk melarikan diri dan mencari kebebasan. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja mereka mendengar suara Mizuki yang berteriak ketakutan.
“Mizuki! Kau kenapa?” tanya Rei. Mizuki terlihat ketakutan akan sesuatu. Ia menunjuk dan menjawab, “I–itu... tumbuhan itu lagi!”
Dennis juga terkejut melihatnya. Ternyata dugaannya benar. Tumbuhan Flytrap itu masih belum mati. Beberapa tunas baru tumbuh dengan cepat dan menjadi semakin besar. “Ini bencana! Kita harus cepat pergi dari sini!”
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8