
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Setelah keluar dari kamar, keempat laki-laki yang akan ditugaskan untuk mengambil dan menyembunyikan mayat yang baru mereka bunuh, Zainal mengajak satu temannya yang kebetulan ada di dekat kamar. Orang itu adalah Ethan.
Lalu kalau Akihiro, ia mengajak Davin untuk bergabung. Saat Gavin sedang berkumpul dengan para teman wanitanya, tiba-tiba saja Akihiro datang dan langsung menarik tangannya. Davin sangat terkejut.
Ia berusaha untuk melepaskan tarikan tangannya dari Akihiro, tapi tidak bisa karena Akihiro ingin Davin ikut dengannya. Ia bahkan sampai mengancam jika Davin tidak ingin ikut dengannya.
"Woy! Apaan sih tarik-tarik?!" Davin membentak.
Akihiro tidak peduli dengan bentakannya. Tapi ia akan membalasnya. "Kau diam saja dulu. Ikut aku aja yuk! Kalau tidak, aku sumpahin kau jomblo seumur hidup sampai tua. ****** lu!"
"Eh, jangan dong!" Davin kembali membentaknya. Tapi pada akhirnya, ia ingin ikut juga dengan Akihiro tanpa tangannya ditarik. Ia akan mengikuti Akihiro dari belakang.
Sekarang jumlah keempat lelaki itu menjadi enam orang karena bertambah dua orang lagi. Yaitu, Ethan dan Davin yang ingin ikut karena paksaan dari Akihiro.
"Hei, tunggu. Sebenarnya kita mau ke mana, sih?" Ethan bertanya. Ia menghentikan langkahnya saat hendak ingin memasuki bangunan Villa.
Semuanya berbalik badan, menoleh ke Ethan. Akihiro yang akan menjawabnya. "Kami ingin pergi memeriksa mayat kedua orang dari keluarga Villa ini."
"Oooh, baiklah kalau begitu aku ikut. Sedari tadi, aku tidak ada tugas. Jadi membosankan."
"Eh? Eh? Apa kita ini sekarang ingin jadi pengurus jenazah, hah?!" tanya Davin dengan suara keras.
Karena suaranya itu, seketika Akihiro langsung menutup mulutnya karena terlalu berisik. Yang mereka waspadai saat ini hanya si Bapak Tertua itu saja.
Tapi kan untuk saat ini, tidak ada si Bapak Tertua itu. Namun tetap saja mereka tidak boleh berteriak keras tentang kematian kedua orang Villa itu. Karena mereka takut kalau Bapak Tertua itu akan mendengarnya. Mereka tahu kalau Bapak Tertua sudah berada di jalan turunan. Siapa tahu saja pendengarnya masih bagus.
"Ah, sekarang ayo cepatlah!" Akihiro mengajak. Lalu mereka berenam langsung bergerak memasuki Villa. Mereka langsung pergi ke lorong yang tersembunyi di sudut ruangan. Lorong itu terdapat empat kamar dan salah satu kamar, ada mayat Ibu Villa yang sudah Zainal bunuh.
Sambil berjalan, Rashino bertanya, "Nanti kedua mayat itu, kita sembunyikan di mana, nih?"
__ADS_1
"Hehe... serahkan padaku! Aku tahu di mana harus meletakan tubuh mereka. Karena aku punya tempat persembunyian, haha..." Akihiro tertawa kecil. Semuanya jadi penasaran dengan tempat persembunyian yang dikatakan Akihiro itu.
****
Tak lama kemudian, akhirnya merek sampai di lorong tersembunyi itu. Zainal berjalan di depan karena ia ingin memberitahu kamar yang terdapat mayat Ibu Villa itu. Diikuti oleh Ethan dan Davin untuk menemaninya.
Sementara Akihiro, Rashino dan Adit akan pergi ke lapangan belakang Villa untuk mengambil mayat Kakak Tertua si Kai di sana. Mereka keluar dari Villa lewat pintu belakang dekat dengan lorong tersebut.
"Di sini." Zainal masih mengingat kamarnya. Tapi ada satu hal yang tidak ia ingat. Mengenai pintu kamar itu.
"Eh? sepertinya sebelum aku meninggalkan tempat ini, aku sempat menutup pintunya. Tapi... kenapa malah terbuka?" batin Zainal. Ia sedikit terkejut setelah melihat pintu kamar yang terbuka sedikit. Bagian dalam kamar dapat terlihat lewat celah yang terbuka itu.
Secara perlahan, Zainal mendorong pintunya. Semakin lebar dan semakin lebar. Sampai akhirnya mereka melihat kursi yang sebelumnya ditempati oleh Ibu Villa. Kursi yang penuh dengan bercak darah.
Tapi saat dilihat, ke dalam kamar, Zainal langsung melebarkan matanya. Ia terlihat terkejut. Begitu juga dengan Ethan dan Davin. Karena... mereka tidak menemukan mayat Ibu Villa di dalam sana!
"Ke–ke mana dia?!"
"Zain, apa kau yakin kalau mayat itu ada di kamar ini?" tanya Davin tidak percaya. Ia melipat tangannya di depan sambil menyenderkan tubuhnya di tembok samping kamar.
"Iya benar!" Zainal menjawab. Lalu ia menunjuk ke arah kursi berdarah itu. "Kau lihat sendiri! Itu kursi tempat dia dieksekusi dan dibunuh!"
Tapi saat Ethan memeriksa kedua tempat itu, si Ibu Villa tidak ada di sana. Ia masih berpikir tentang hilangnya mayat Ibu Villa.
Setelah Ethan keluar dari kamar mandi, ia berjalan kembali mendekati Zainal. Ia berdiri di depan pintu, lalu bertanya, "Apa kau yakin kalau kau sudah benar-benar membunuhnya?"
"Eh? Apa kau pikir dia masih hidup?" Zainal bertanya balik.
"Hmm... entahlah." Ethan menggeleng. "Tapi sepertinya mayat Ibu Villa itu masih hidup!"
"Eh?! Ba–bagaimana kau bisa menduga seperti itu?"
"Karena... coba lihat ini." Ethan menunjuk ke bawah kakinya. Zainal dan Davin melirik dan terkejut. Mereka menemukan beberapa bercak darah di depan pintu.
Tidak hanya di sana. Bercak darah itu juga ada di pintu belakang Villa. Sampai ke tanah yang ada di depan pintu dan halaman belakang. Seketika setelah melihat bercak darah itu, Ethan langsung menduga kalau Ibu Villa ternyata masih hidup dan dia berjalan keluar lewat pintu belakang itu.
"Kau tidak benar-benar membunuhnya, Zain." Ethan bergumam. Lalu ia mengeluarkan kepalanya lewat pintu belakang yang terbuka. Matanya melirik ke samping kanan, objek yang ia lihat adalah jalan kec menuju ke lapangan berumput dekat hutan.
__ADS_1
Di jalan kecil itu, Ethan menemukan bercak darah lainnya. "Ibu itu benar-benar masih hidup." Ia kembali bergumam, lalu mengangkat kepalanya dan berbalik badan. Ia menatap Zainal. "Ibu itu berada di lapangan berumput!"
"Eh?!"
"Kita harus cepat! Akihiro dan yang lainnya dalam bahaya!"
****
"Apa ini?" Akihiro membuka ponselnya setelah ia mendengar suara nada deringnya yang berbunyi dalam satu detik.
Saat Akihiro membuka ponselnya, ia melihat ada satu notifikasi message yang muncul di layar. Saat Akihiro membukanya, ia bisa melihat kalau pesan Message itu dikirim dari Rei. Langsung saja Akihiro juga membuka isi pesan itu dan membacanya.
[ Kalian berhati-hatilah dengan Ibu Villa! Dia masih hidup! ]
"Eh? Ibu Villa masih hidup?" Akihiro bergumam. Lalu tak lama, ada orang lain yang menepuk pundaknya dengan cepat.
Orang itu adalah Rashino. Ia ingin memanggil Akihiro tanpa harus mengeluarkan suaranya.
"Apa?" Akihiro menyahut, lalu melirik ke arah Rashino yang ada di sampingnya.
"I–itu..." Rashino menunjuk ke arah depannya dengan tangan gemetar. Karena penasaran, Akihiro juga melirik ke jalan di depannya.
Mereka sudah melewati jalan kecil dan saat ini, kaki mereka telah menginjak rumput hijau yang banyak di lapangan yang luas.
Di tengah lapangan itu terdapat mayat Kai yang sudah tergeletak bersimbah darah yang banyak. Tapi di sana, matyat Kai tidak sendirian.
Ada orang lain yang berdiri di sampingnya, membelakangi Akihiro sambil memegang senapan Laras panjang milik Kai.
Seorang wanita gemuk dengan rambut sebahu. Tubuhnya dipenuhi darah yang mengalir dari luka berlubang di kaki dan tangannya.
"Eh?" Akihiro mengenal wanita itu. Sebelumnya ia pernah melihatnya di dalam Villa. Ia juga menunjuk ketakutan ke arah wanita yang berdiri itu. "Bu–bukannya dia itu... Ibu Villa yang katanya sudah mati?!"
*
*
*
__ADS_1
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8