Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 65– Dian Syahputra, part 2


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


7 tahun yang lalu....


"Dian... Dian udah baikan, kah, sekarang?"


"Iya! Jauh lebih baik. Terima kasih."


"Umm... aku sangat khawatir saat melihatmu tidak pernah bangun lagi semenjak kamu jatuh dari atas jembatan itu."


"Ah, sudah aku bilang, aku baik-baik saja. Jadi jangan khawatir, hehe...."


Akihiro diumur yang kesembilan tahun. Memiliki wajah yang imut dan tubuh yang masih terbilang pendek untuk anak kelas 4 Sekolah Dasar.


Dan yang sekarang ini sedang berada di sampingnya itu adalah seorang gadis yang seumuran dengannya. Gadis yang kerap disapa Dinda ( oleh Akihiro ) itu selalu dekat dengan Akihiro. Karena mereka memang satu sekolah, rumah bersebelahan dan pastinya mereka bersahabat.


"Hei, Dian! Mau ke jembatan itu lagi, tidak?" tanya Dinda mengejutkan Akihiro yang sedang melamun.


"Ah, baiklah."


****


Saat sampai di tujuan mereka, Akihiro dan Dinda berjalan pelan di pinggir jembatan. Mereka berdua tidak ingin jalan di atas kayu pembatas jembatan itu lagi.


Lalu saat sampai di pertengahan, mereka berdua berhenti dan memandang sungai yang ada di bawah jembatan itu.


"Hei, apa kau ingat dengan kejadian yang waktu itu?" tanya Akihiro pelan. Dinda menengok ke arahnya dengan mata besarnya itu. "Kejadian?"


"Iya." Akihiro mengangguk. "Kejadian saat aku terjatuh ke dalam sana."


"Aaahh... Dian! Jangan bicarakan itu lagi. Huweee..." Dinda mengeluarkan air matanya dan sesekali memukul teman di sebelahnya itu karena merasa kesal dengan ucapannya. Entah kenapa gadis itu tiba-tiba saja menangis.


"Tolong... itu semua salahku, jadi... aku tidak ingin mengingatnya, hiks hiks..." Dinda mengangkat tangannya untuk menutupi mata dan setengah wajahnya. Sesekali ia juga mengelap air matanya yang ingin menetes ke tanah.


Akihiro menyesal dengan perkataanya tadi. Ia tidak tega saat melihat seorang gadis kecil yang menangis di hadapannya. Apalagi seorang gadis itu adalah sahabatnya sendiri.


Untuk menenangkan temannya, Akihiro memeluk Dinda dengan erat sambil menepuk-nepuk punggungnya pelan. "Sudah... cup~ cup~ Aku minta maaf. Aku... tidak akan membuatmu mengingat kejadian itu lagi. Dan sekarang tenanglah, ya? Tenang...."


Dinda hanya mengangguk. Lalu ia mempererat pelukannya pada Akihiro. Setelah itu, ia melanjutkan tangisannya di pelukan Akihiro.


****


Sore harinya–


Setelah lama bermain seharian, Akihiro dan Dinda berjalan pulang bersama-sama untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Lalu saat di tengah perjalanan pulang, tepatnya saat mereka keluar dari taman bermain, mereka berdiri di pinggir jalan raya.

__ADS_1


Tapi karena waktu menjelang malam, untum sesaat jalan raya itu sepi dan tidak dilewati oleh satu kendaraan yang melintas. Kan biasanya, Akihiro dan Dinda suka menunggu di sana untuk mendapatkan tumpangan dari kendaraan yang lewat.


"Di mana mobil ini? Kenapa lama sekali?" gumam Akihiro. Dinda yang duduk di samping Akihiro menjawab, "Entahlah. Aku lapar."


"Hmm... mungkin tidak akan lama lagi. Nanti setelah pulang ke rumah, kau bisa makan sepuasnya!"


"Oke." Dinda tersenyum samar, lalu secara tak sengaja matanya melirik ke samping kirinya. Ia membuka lebar matanya dan tersenyum senang. Lalu dengan cepat, Dinda kembali berdiri dan langsung menggenggam tangan kiri Akihiro. "Dian! Lihat. Itu ada mobil yang lewat." Bisik Dinda.


Akihiro mengangguk, lalu melangkah sekali dengan kaki kirinya untuk bersiap-siap. Begitu juga dengan Dinda. "Din, kau siap, ya? Seperti biasa, oke?"


"Iya!"


BRRMMM....


Mobilnya lewat. Lalu setelah itu, Akihiro dan Dinda langsung berlari mengejar mobil tersebut. Sebuah mobil truk yang membawa beberapa kardus, melaju dengan perlahan. Maksudnya tidak cepat-cepat amat.


Karena jalannya truk itu yang masih dibilang pelan, Akihiro dan Dinda masih bisa mengejarnya. Sampai akhirnya, mereka bisa menyentuh bemper belakang mobil dan menginjaknya. Lalu setelah itu, mereka berusaha menaiki bak belakang mobil yang masih tersisah cukup ruang. Itulah cara mereka untuk menumpang di mobil seseorang saat ingin pulang ke rumah. Mereka berdua selalu mengincar mobil-mobil truk kecil seperti itu.


Setelah Akihiro dan Dinda berhasil naik, mereka hanya tinggal menunggu mobil itu melewati rumah mereka. Nanti saat di pertigaan, mereka akan memperhatikan. Apakah mobil yang mereka tumpangi itu akan berbelok ke kanan atau ke kiri.


Kalau ke kiri maka baguslah, karena rumah Akihiro dan Dinda berada di dalam sana. Tapi jika mobilnya akan berbelok ke kanan, maka Akihiro dan Dinda langsung saja melompat dari bak mobil walau mobil tersebut masih bergerak di jalanan.


Mereka sudah terbiasa melakukan hal seperti itu. Tapi saat pertama kali mereka mencobanya, kaki Dinda langsung terasa sakit karena terkilir saat melompat dari atas bak truk yang masih melaju. Tapi... untuk kedepannya, mereka berdua sudah terbiasa dan menjadi pemberani. Tidak takut untuk melompat. Karena jika mereka diam saja, ya... maka mobil yang mereka taiki itu akan terus membawa mereka, karena sang pengemudi terkadang tidak mungkin tahu kalau dia sedang membawa kedua anak kecil yang sedang menumpang di bak belakang mobilnya.


Tapi... Akihiro dan Dinda pernah tercyduk sekali oleh pemilik mobil saat mereka menaiki mobil truk lainnya. Jadi untuk hari itu, mereka tidak bisa menaiki mobil yang mereka temukan kalau sudah ketahuan begitu. Jadi... setelah si sopir truknya menegur Akihiro dan Dinda, mereka langsung berlari menjauh sambil tertawa karena menurut mereka hal seperti itu terasa menyenangkan.


"Dian... berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya Dinda tidak sabaran karena perutnya terus berbunyi. Bertanda kalau dirinya sedang kelaparan.


GDUBUK!!


Mobil tiba-tiba saja oleng. Akihiro nyaris saja kehilangan keseimbangan dalam berdiri dan untugnya ia masih menahan dirinya tetap berdiri tegak dan tidak terjatuh ke jalan.


Tapi walaupun begitu, tetap saja Akihiro dan Dinda merasakan goyangan dan getaran yang hebat pada mobil yang mereka taiki. Apa yang terjadi?!


Dinda berteriak panik dan Akihiro tetap berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya sambil mencari penyebab mob yang mereka tumpangi itu tiba-tiba saja oleng dan bergerak dengan kecepatan penuh, ditambah dengan kendaraan yang jadi lepas kendali.


Akihiro melihat ke jendela kecil belakang mobil. Di sana, ia bisa melihat keadaan si pengemudinya. Dan saat dilihat, ternyata pengemudinya malah tertidur dan ia tidak sadar kalau kakinya sendiri telah menginjak gas mobil yang menyebabkan mobil tersebut dai lepas kendali dan kecepatannya mencapai lebih dari kecepatan mobil pada umumnya.


Akihiro kembali berjongkok. Ia mengajak Dinda untuk segera pergi dari mobil yang mereka tempati. "Dinda, tidak usah takut. Kau bersamaku. Sekarang juga, ayo kita lompat dari mobil ini. Kita harus menyelamatkan diri kita, Din!" ajak Akihiro sambil mengulurkan tangannya. Ia sudah berdiri di pinggir bak mobil. Sementara Dinda masih terduduk diam sambil menekuk kedua lututnya karena ia merasa ketakutan.


"Aku tidak mau, Dian!" Dinda menggeleng cepat. Matanya mengeluarkan air bening dan wajahnya sedikit memerah. "Bagaimana kalau kita terluka jika kita melompat?"


"Kita akan aman! Kita harus segera pergi dari sini. Ingat Dinda! Nyawa lebih penting dibanting dengan fisik kita. Dengan arti, lebih baik kita terluka, daripada harus mati sekarang juga!" Tegas Akihiro.


"Ah, baiklah!" Dinda akhirnya menurut. Ia ingin meraih tangan Akihiro. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja mobil berbelok tajam ke arah kanan. Seketika, tubuh Akihiro langsung terlempar keluar dari dalam bak mobil karena tidak kuat menahan keseimbangannya. Sementara Dinda masih terduduk di dalam mobil sendirian.


Setelah Akihiro jatuh ke tanah, ia mengerang dan mengeluh punggung dan lengan atasnya sakit. Lalu setelah itu, Akihiro kembali membuka matanya karena terkejut saat ia mendengar suara hantaman yang keras dan....


BOM!!!


Akihiro kembali dibuat terkejut oleh suara ledakan yang ia dengar. Saat Akihiro kembali menengok ke arah mobil yang ia tumpangi tadi, ternyata keadaan mobil itu telah hancur pada bagian depannya karena tertabrak pohon besar. Dan yang lebih parahnya lagi, Akihiro melihat banyaknya api yang berkerumun di dekat mobil itu.

__ADS_1


"Dinda!" Akihiro berteriak memanggil sahabatnya. Dengan berani, Ia berlari mendekati mobil itu untuk mencari temannya. Tapi langkahnya sempat terhenti saat ia melihat ada sebuah gas elpiji yang terjatuh dari atas bak mobil. "Oh tidak! Isi dari kardus-kardus itu ternyata adalah...."


BOM!!!


Ledakannya semakin keras dan seketika tubuh Akihiro pun terlempar karena terdorong oleh angin yang kuat dari ledakan besar itu. Akihiro tidak bisa mendekati mobilnya, apalagi menyelamatkan temannya yang ada di dalam kobaran api itu.


"Dinda..." Akihiro hanya bisa terduduk sambil melihat kobaran api yang berkerumun di hadapannya. Rasa panas dari api itu langsung menusuk masuk ke dalam hatinya. Ia tidak mempedulikan rasa panas itu, tapi... yang telah membuat hatinya sakit adalah... kematian sahabat terbaiknya!


****


BYUR!


Akihiro kembali membuka matanya. Ia terkejut karena tiba-tiba saja banyaknya air bening terjatuh tepat di depan wajahnya. Lalu setelah itu, Akihiro mendengar suara bentakan seseorang yang ia kenal.


"I–ibu?!" Akihiro menengok. Ia melihat ibunya berdiri di hadapannya dengan tampang wajah marah. Dengan ember yang ia genggam di tangan kirinya, lalu tangan yang satunya lagi ia arahkan ke Akihiro untuk menjambak rambutnya.


"Kau dari mana saja dari tadi?! Ibu mencarimu tahu!!" bentak Ibunya.


Akihiro tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba saja dia bisa ada di dalam kamar mandinya sendiri. Terakhir ia ingat, kalau dirinya berada di jalan, tempat ia melihat kecelakaan dan kematian temannya. Tapi... Akihiro masih belum mempercayai kalau Dinda benar-benar meninggal!


"Kenapa... aku bisa ada di sini, Bu?" tanya Akihiro dengan wajah polos nan imutnya.


"Kau tau gak, sih? Kau ini sudah bikin ibu susah saja! Tetangga menemukan kamu pingsan di tengah jalan. Kata mereka, kau terlibat dalam kecelakaan di jalan Pisang itu!"


"Eh? Oh iya!" Akihiro kembali mengingatnya kejadian kecelakaan itu. "Ibu! Dinda, Bu! Dinda dalam bahaya. Kita harus menyelamatkannya, Bu!" pinta Akihiro sambil memohon.


"Eh, apaan sih?! Kau tau, tidak?! Anak itu sudah mati! Tidak perlu kita selamatkan!" bentak Ibunya lagi.


"Tidak, Ibu! Dinda belum mati. Dian liat sendiri. Dia belum mati, Bu! Dia pasti masih hidup!"


DUAK!


"Berisik banget sih!! Sudah Ibu bilang, kalau temanmu itu sudah mati." Dengan tega, ibunya itu memukul anaknya dengan ember yang ia pegang. "Orang mati tidak mungkin bisa hidup lagi!"


Setelah melihat Akihiro sudah tidak bergerak lagi di lantai kamar mandi, ia pun menghentikan perbuatannya. Untuk yang terakhir, Ibunya melempar ember itu ke atas kepala anaknya, lalu pergi meninggalkan Akihiro begitu saja.


"Dinda... tidak mungkin. Dia tidak mungkin mati, kan?" gumam Akihiro sambil menangis di dalam kamar mandi. Untuk sekarang ini, ia masih belum percaya dengan pernyataan itu yang mengatakan kalau teman terbaiknya telah meninggal akibat dari kecelakaan mobil truk yang ia tumpangi.


Untuk mencari tahu, Akihiro ingin pergi ke rumah temannya untuk memeriksa keadaan temannya itu. Tapi saat Akihiro berlari keluar kamar mandi, tiba-tiba saja ia dibuat kaget oleh kehadiran kakak tertuanya yang berdiri di hadapannya itu.


"Ka–kak Tias?!"


"Di sini lu rupanya? Eh, ayo sini!" Kakaknya menggenggam lengan Akihiro dengan kuat lalu menariknya. Ia menunjukan senyum menyeramkannya dan bergumam, "Aku butuh kau untuk bersenang-senang."


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2