Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 67– Pertemuan yang Bahagia (Tamat)


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


Di dalam kamar rawat Dennis–


Setelah makan, tentu saja perutnya merasa kenyang. Dennis ingin menidurkan kembali kepalanya di atas bantal karena masih pusing. Tapi Cahya melarangnya karena kalau habis makan itu tidak boleh tiduran.


Dennis pun menurut. Ia tertawa kecil dan mengangguk. Lalu membiarkan tubuhnya tetap duduk bersandar saja di bantal empuknya.


Saat ini yang ada di dalam ruangan itu hanya ada Dennis dan Cahya saja. Kalau Adel sama Yuni sedang keluar sebentar untuk mencari orangtuanya Adel. Sama saja dengan orangtuanya Dennis juga.


Kalau Mizuki sedang ke toilet sebentar. Sementara Rei dan Akihiro masih belum kembali. Entah mereka berdua sedang apa di luar sana.


Sekarang suasananya jadi agak canggung jika hanya ada mereka berdua saja. Mereka hanya diam-diam saja. Mereka benar-benar tidak ada topik perbincangan untuk saat ini mereka bicarakan.


Sebelumnya Dennis ingin bertanya, "Apa yang terjadi setelah Bapak Tertua meninggal?" Tapi Dennis tidak bisa membuka mulutnya. Ia tahu Cahya pasti tidak mengetahuinya. Dia sendiri juga memiliki masalah yang sama.


Tapi untungnya, Cahya bisa selamat. Gadis itu dapat bertahan dengan luka di perutnya yang dalam itu. Dia benar-benar gadis yang kuat kalau menurut Dennis. Ia juga mensyukuri kesembuhan Cahya.


Lalu tak lama, setelah lama diam, Cahya akhirnya membuka mulut. Ia yang akan menjadi pembuka untuk obrolan kali ini.


"Anu... Dennis? Apa kau sudah merasa baikan?" Cahya bertanya.


Dennis sedikit tersentak mendengarnya. Kemudian ia tersenyum, lalu menjawab, "Oh, aku baik-baik saja. Sekarang sudah tidak ada yang sakit, kok! Kalau kau bagaimana?"


"Emm... aku juga sudah tidak merasa sakit lagi!" jawab Cahya cepat.


"Apa kau dirawat di rumah sakit yang sama denganku?"


"Eh, bukan sama lagi." Wajah Cahya sedikit memerah saat mengatakannya. Ia memasang wajah imut yang membuat Dennis tidak tahan dengannya. Kemudian ia mengetuk kedua jari telunjuknya ke depan. "Aku... aku juga sempat sekamar denganmu."


"Eh?!"


"Tapi sekarang kalau aku sudah baikan dari 2 Minggu yang lalu."


"Eh?!"


"Bahkan sekarang saja, selang infusnya saja sudah dilepas dari tanganku. Aku baik-baik saja kok sekarang!" Cahya kembali melirik Dennis lalu tersenyum lebar dengan manisnya.


"Ja–jadi kau sekamar denganku?!" Dennis masih dengan ekspresi wajah terkejut.


"Iya!" Cahya mengangguk cepat, lalu menunjuk ke belakangnya. Di sana terdapat tirai penutup yang dibaliknya ada sebuah ranjang kosong. "Ranjang itu adalah tempatku. Jadi setelah tubuhku sehat kembali, aku memutuskan untuk tetap diam di sini dan menunggumu sadar kembali, hehe...."


"Jadi... kau yang telah menjagaku?" tanya Dennis ragu. Ia juga terlibat malu-malu.


"Bukan hanya aku, kok! Teman-teman Dennis yang lainnya juga ikut berjaga di sini. Mereka hanya keluar klo ingin membeli makanan saja."


"Oh begitu." Dennis mengangguk pelan. "Aku sangat berterima kasih pada kalian."


"Ah, aku sangat menghargainya. Tapi terima kasih juga karena sudah menyelamatkanku saat itu, Dennis!" ucap Cahya dengan senangnya. Kemudian ia menarik kursinya lebih dekat dengan Dennis.


Seketika saat ucapan terimakasih dari Cahya itu telah membuat Dennis mengingat kejadiannya dengan Cahya. Apalagi saat di tempat persembunyian mereka.


Karena tidak ingin memikirkan hal itu lagi, Dennis pun menggeleng cepat. Ia benar-benar malu saat ini. Tapi tak lama, Dennis kembali ingat kalau ia belum menjawab ucapan Cahya saat di dalam hutan yang lalu.


"Dennis. Aku ... menyukaimu!"


"Saat itu aku main cium saja dia. Ah, kau bodoh, Dennis. Bahkan sampai sekarang... aku belum menjawabnya. Apakah dia masih mengingat soal itu?" batin Dennis dalam hati. Matanya melirik ke arah bunga Tabebuya yang mekar di depan jendela.


Lalu setelah itu, Dennis kembali melirik ke arah Cahya yang sedang terdiam. "Sepertinya dia juga sedang memikirkan sesuatu. Haruskah aku bilang sekarang padanya? Tentang kejadian itu."


Dennis dan Cahya tetap terdiam. Tapi tak lama kemudian, Cahya kembali melirik ke arah Dennis karena ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi ternyata sebelum dirinya, Dennis juga hendak mengatakan sesuatu yang ia pikirkan sebelumnya.


"Ah, kau duluan saja."


"Tidak apa, Dennis. Kau saja yang duluan."


Sekarang mereka berdua malah jadi canggung. Mereka kembali terdiam dan mengurunkan niatnya untuk mengatakan sesuatu yang ingin mereka beritahu.


Lalu tak lama kemudian, keributan kembali mengisi ruang kesunyian. Dennis dan Cahya dikejutkan dengan suara tapak kaki yang dihentakkan dengan cepat. Sepertinya beberapa tapak kaki orang-orang yang sedang berlari menghampiri kamar Dennis.


GRRRRKKK....

__ADS_1


Pintu ruang rawat Dennis pun terbuka. Dennis dan Cahya langsung melirik ke arah pintu tersebut. Dari sana muncul sosok Rei dan Akihiro.


Mereka berdua masuk dengan tergesa-gesa mendekati Dennis. Lalu tak lama kemudian, Mizuki juga muncul. Begitu juga dengan Adel dan Yuni. Mereka semua telah kembali.


Tapi... kenapa wajah mereka terlihat masam?


"Dennis! Aku mohon! Kau jangan tinggalkan kami!" Akihiro menghampiri Dennis dengan cepat, lalu menundukkan kepalanya di atas dada Dennis dan merengek.


Karena heran sekaligus terkejut, Dennis pun bertanya, "Eh? Eh! Ada apa ini sebenarnya?"


"Kakak...."


"Eh, Adel? Kau kenapa?!" Saat melirik ke Adel, Dennis kembali dikejutkan dengan ekspresi adiknya itu. Adel menangis tanpa Dennis ketahui sebabnya.


"Kak... ibu bilang, kita mau pindah sekolah! Aku tidak mau, Kakak! Kak Dennis, lakukan sesuatu, dong! Agar kita tidak dipindahkan ke sekolah lain!" Adel juga ikut merengek. Sisah temannya yang lain juga ikut menangis. Bahkan Yuni sendiri juga!


Tapi Rei tidak. Ia hanya menundukkan kepalanya dan memasang wajah kecewa. Lelaki itu tidak berani menatap Dennis seperti biasanya.


Setelah mendengar berita tersebut, hati Dennis langsung terasa sakit. Ia tidak mengerti. Kenapa orangtuanya ingin memindahkan anaknya ke tempat lain, sementara dirinya telah nyaman di sekolahnya saat ini.


Dennis juga ingin tetap bersekolah dengan semua sahabatnya. Ia tidak ingin berpisah. Walau Dennis mendapatkan sekolah yang lebih mewah lagi dari Beautiful Death High School... dia tetap tidak menerimanya. Dia lebih suka sekolah dengan banyak tantangan daripada sekolah yang nyaman.


Dennis menggertakkan giginya untuk menahan tangis. Dahulu, ia selalu mengeluh dengan sekolah barunya. Tapi sekarang, entah mengapa setelah ia ingin pergi meninggalkan sekolah yang ia anggap membosankan itu, malah membuat hati Dennis terasa tertusuk. Sakit sekali.


Ia tidak menyukai berita tersebut. Saat ini, ia akan memikirkan cara lain agar orangtuanya tidak memindahkan dirinya dan adiknya ke sekolah lain. Dan baru kali ini, Dennis berpikir tanpa menyentuh rambutnya....


****


1 Minggu kemudian–


Semua kehidupan kembali seperti semula. Sekolah kembali di mulai. Murid-murid baru yang berdatangan, mulai berkenalan dengan yang lain dan membiasakan diri di dalam lingkungan sekolah yang baru.


Hanya saja untuk kelas 3, mereka mengulang kelas karena ujian kelulusan mereka tertunda dan mendapat masalah besar. Makanya kelas 3-C kembali dimulai.


Saat ini, pelajaran kembali dimulai seperti biasa. Semuanya kembali bertemu dan berkenalan serta berteman baik. Hanya saja, di hari pertama kembali ke sekolah terasa sangat sepi dan tidak menyenangkan untuk Rei dan yang lainnya.


Karena... tanpa Dennis di kelas 3-C, tidak ada yang seru dan asik. Kelas terasa hampa dan membosankan. Benar-benar membosankan.


Bahkan saat di hari kedua, Rei, Akihiro dan Mizuki masih duduk mengelilingi tempat duduk Dennis yang kosong. Tidak hanya mereka bertiga, tapi teman-teman Dennis yang lainnya juga merasakan hal yang sama. Mereka juga masih merasa sedih setelah mendengar berita kalau Dennis benar-benar sudah pindah sekolah dan akan jauh dari teman-teman sekelasnya.


Di kelas Yuni, dia juga memutuskan untuk duduk diam di kursi kosong milik Adel. Setelah Adel tidak lagi di sampingnya, Yuni jadi merasa kesepian. Dia menjadi murid yang menyendiri lagi tanpa ada teman sebangkunya itu.


Tapi di hari ketiga ini, Akihiro memutuskan untuk menyendiri di atap. Dia akan merenung di sana.


Tak lama, Bel masuk pun berbunyi. Semua murid langsung kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Tapi sesekali, pandangan mereka selalu mengarah ke kursi kosong milik Dennis. Mereka semua berharap, Dennis bisa kembali.


GRRRRKKKK....


Pintu kelas bergeser. Mereka pikir itu guru mereka yang datang. Tapi saat mereka semua melirik ke arah pintu, mereka langsung terbelalak kaget dengan kehadiran orang yang datang tersebut.


"Hah... hah... maaf! Maaf! Aku terlambat! Ya ampuuunnn...."


"Eh?!" Sontak semua anak di dalam kelas 3-C langsung berdiri. Kemudian mereka semua menyeru orang yang berdiri di depan pintu itu. "Dennis!!?"


"E–Eh?! Ada apa ini?" Dennis jadi kaget saat semua orang di dalam kelas menegur dirinya. Semuanya pun pergi beranjak dari kursi mereka, lalu berlari menghampiri Dennis.


"Dennis! Katanya kamu mau pindah?" tanya Ethan dengan nada tak percaya.


Dennis berpikir sejenak. "Aku..." Kemudian ia tertawa kecil sambil menggaruk rambutnya. "Aku tidak jadi pindah. Karena aku berhasil membujuk orangtuaku untuk tetap membiarkan aku tinggal di sini bersama dengan kalian."


"Oh, akhirnya!!"


"Haha... syukurlah!"


"Ya ampun, ini berita bagus!"


"Dennis, selamat datang kembali!!"


Semuanya bersorak untuk Dennis. Tentu saja Dennis terlihat senang. Ia jadi terharu dan hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih pada teman-temannya. Ia benar-benar bersyukur karena bisa mendapat teman kelas yang terbaik.


Sementara di kelas sebelah, Adel masuk ke dalam kelas. Di sana sudah ada guru yang mengajar. Dengan malu, Adel menghampiri gurunya lalu meminta maaf atas keterlambatannya. Setelah itu, Adel kembali ke tempat duduknya.


Sementara Yuni yang duduk di tempat duduknya Adel itu merasa terkejut dengan kehadiran Adel. Ia merasa senang karena Adel tidak jadi pindah. Untuk sekarang ini, dan pertama kalinya, Yuni tersenyum lebar pada Adel karena ia merasa bahagia.


Adel juga senang karena ia bisa bertemu sahabat terbaiknya lagi.


****

__ADS_1


"Woy, woy! Ada guru! Ada guru! Ayo kembali ke–"


BRUK!


Dari luar kelas, terdengar suara Akihiro yang berteriak panik. Lalu tak lama kemudian, ada seseorang yang mendorong tubuh Dennis dengan kuat dari belakang. Ternyata orang itu adalah Akihiro.


Ia menghentikan langkahnya di depan kelas kerena terkejut dengan kehadiran Dennis yang masih berdiri di depan pintu. "De–Dennis! Ini kamu? Ini beneran kamu?"


Mendengarnya, Dennis hanya tertawa kecil lalu mengangguk. "Hehe... iya, Kak Dian. Halo!"


"Wah! Aku senang kau tidak jadi pindah!" Akihiro memeluk Dennis dengan senangnya. Lalu ia kembali melepaskan pelukannya dan bergumam pada Dennis. "Hei, apa jangan-jangan kau ke sini hanya untuk mengunjungi kami?"


"Bodoh! Dia benar-benar kembali, Dian!" Mizuki membentak geram.


"Oh, keren sekali dirimu ini, Nak!" Akihiro menepuk punggung Dennis, lalu menjitak kepalanya. "Aku pikir kau benar-benar ingin pindah, haha...."


"Hehe... untung saja tidak, ya?" Dennis hanya bisa tertawa kecil.


Lalu setelah itu, sebelum guru yang mengajar masuk ke kelas 3-C, ada satu hal yang ingin Akihiro beritahu. Ia pun mendekat pada Dennis lalu berbisik di telinga kirinya.


"Dennis. Apa kau tahu? Tadi aku habis dari atap. Dan kau tahu siapa yang aku temui di atap?" bisik Akihiro.


Karena tidak tahu jawabannya, Dennis pun menggeleng pelan. "Tidak. Kan kakak belum memberitahukannya."


"Tadi... aku... bertemu... si... Dia milikmu, loh~"


"Eh?" Kali ini Dennis yang terbelalak kaget saat mendengarnya. "Jangan-jangan...."


Dennis pun kembali bergerak. Ia berlari keluar dari kelasnya untuk menemui seseorang yang dikatakan Akihiro itu. Ia akan pergi ke atap sekolah sekarang juga.


Saat ini, ia hanya harus menaiki dua tangga lagi. Saat di tangga keempat, ia sempat bergumam dalam hati. "Kalau benar-benar dia... aku akan mengatakannya langsung! Akan aku beritahu! Karena terakhir kita bertemu, dia juga berniat untuk meninggalkanku."


"*Dennis. Jangan sedih, ya? Aku akan tinggal bersama kakekku di suatu tempat yang jauh."


"Ada kemungkinan, kita tidak bisa bertemu. Ini perpisahan kita."


"Tolong ingat aku, ya?"


"Aku juga akan... selalu mengingatmu dengan benda yang kau berikan padaku*...."


"Tenang saja. Sepertinya waktu itu bukanlah hari terakhir pertemuan kita!"


"Sekarang ini, aku juga bisa bertemu dengannya!"


Langkah Dennis dipercepat. Dia hampir saja tersandung anak tangga, tapi untung saja tidak terjatuh. Dan sampai akhirnya, ia tiba di depan pintu atap.


Secara perlahan, Dennis membuka pintu itu dan seketika, angin sejuk yang berhembus dari lingkungan luar yang luas langsung mengenai Dennis dan mengibaskan rambutnya yang selalu acak-acakan.


Tepat di depan matanya, Dennis melihat ada seorang gadis berambut jingga pendek sedang berdiri di pinggir pembatas besi. Rambut gadis itu juga terlihat bergoyang karena tertiup angin.


Dennis juga melihat gadis itu memegang sebuah ponsel di genggaman tangan kanannya. Dennis juga mengenal ponsel itu.


Tentu saja dia mengenalnya. Karena ponsel berwarna biru muda itu adalah ponsel miliknya.


Secara perlahan, Dennis melangkah menghampiri gadis tersebut. Lalu secara perlahan pula, ia mengeluarkan suaranya untuk memanggil si gadis.


"A–anu... apa kau...."


Gadis itu terkejut mendengar suara Dennis. Kepalanya pun bergerak dan menoleh ke belakang. Dapat terlihat wajah cantiknya dan mata besarnya yang indah itu melirik ke arah Dennis.


"Apakah kau... Cahya?" Dennis bertanya dengan nada tegas.


Gadis yang Dennis panggil dengan nama Cahya itu tidak menjawab. Ia hanya berbalik badan, lalu melipat tangannya ke belakang. Ia tersenyum haru menatap Dennis. Matanya mulai berkaca-kaca karena senangnya dengan kehadiran Dennis.


Ia memejamkan matanya dengan cepat dan seketika air matanya melompat dari kelopaknya. Cahya mengangguk dengan wajah manisnya, lalu menjawab, "Iya, Dennis! Ini aku!"


Dennis benar-benar sangat senang. Karena ia telah bertemu kembali dengan gadis yang ia cintai, Dennis pun berlari menghampiri gadis tersebut lalu memeluknya dengan erat.


"Cahya, aku mencintaimu!"


*


*


*


*

__ADS_1


*


Tamat~  つづく


__ADS_2