
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
"Sepertinya... ada yang sedang mengawasi ku." Rei menengok. Ia menatap kamera pengintai yang terpasang di batang pohon kelapa. "Kamera? Apakah itu... CCTV?" gumam Rei.
Dennis menengok ke arah Rei. Lalu ia menyentuh pundak Rei dan bertanya, "Kak Rei sedang apa?"
Rei tersentak kaget. Lalu dengan cepat, ia langsung menoleh ke Dennis. "E–eh! Tidak ada apa-apa. Itu... emm... apakah kau tahu kalau sekolah kita yang sekarang ini memiliki kamera CCTV?" tanya Rei.
"Emm... entahlah. Memangnya ada kamera CCTV di sini? Di mana?" Dennis balik bertanya.
"Emm... intinya ada. Ah, sudahlah! Sekarang ayo kita pergi ke kamar kita." Rei tidak ingin memberitahu letaknya kamera CCTV itu. Lalu ia menarik lengan baju Dennis dan mengajaknya untuk pergi dari tempat mereka berdiri.
****
Seperti biasa. Dennis dan Rei menaiki tangga menuju lantai dua. Karena di sanalah kamar mereka berada. Setelah mereka berdua melewati tangga, Dennis dan Rei melihat kamar tidur mereka.
Lorongnya tidak berubah. Tapi semuanya terlihat bersih dan rapih. Ada beberapa anak lain juga yang sempat lewat di lorong itu. Saat sampai di depan kamar, Dennis langsung membuka pintu kamarnya. Ia berharap, kamarnya yang sekarang ini sudah berubah menjadi lebih besar dan bagus.
JENG! JENG!
"Hah?! A–apa-apaan ini?!" Dennis terkejut begitu juga dengan Rei. Mereka benar-benar tidak percaya dengan apa yang mereka lihat itu. Di dalam kamar, mereka melihat satu ruangan yang sangat berantakan. Ruangan itu adalah kamarnya Dennis dan Rei sendiri.
"Kenapa jadi seperti ini? Dennis... kenapa kau tidak membersihkan kamarnya dulu sebelum kau pergi?" tanya Rei sambil menaruh bantalnya yang jatuh ke atas tempat tidurnya.
Dennis menggeleng sambil mengibaskan tangannya. "Ti–tidak, Kak Rei! Sebelumnya tidak seperti ini. A–aku juga kaget."
"Ya sudah kalau begitu, kita bersihkan saja semuanya. Ayo ambil alat pembersihnya!" ajak Rei setelah ia merapihkan tempat tidurnya. Lalu Rei melirik ke arah jam tangannya, lalu bergumam, "Kelas masuk jam setengah sembilan nanti. Kita masih ada waktu setengah jam lagi untuk membereskan ini semua."
"Ya! Baiklah. Ayo kita kerjakan!" Dennis merasa sangat bersemangat hari ini. Ia siap untuk membersihkan kekacauan di kamarnya itu.
"Oke. Sekarang coba kau pergi ke gudang belakang untuk mengambil peralatan pembersih. Ambil sapu sama kemocengnya saja, ya? Karena kita hanya membersihkan debu yang berserakan saja dulu."
Dennis mengangguk. Lalu ia pun langsung bergegas pergi ke luar kamarnya. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja Dennis mendengar suara teriakan. Suara teriakan seorang gadis kecil yang ia kenal. "A–adel?!"
Dennis berbalik badan, lalu ia langsung menghampiri kamar adiknya yang ada di sebelah kamarnya itu. Rei keluar dari kamar dan bertanya pada Dennis, "Apa yang terjadi?"
"Ini! Ada yang ter–"
CKLEK!
"KYAAAA!"
BRUK!
Rei terkejut. Begitu juga dengan Dennis saat ia melihat adiknya yang tiba-tiba saja membuka pintu dan langsung berlari ke luar. Karena Adel tidak melihat ada kakaknya yang sudah di depan pintu kamar, Adel pun menabrak kakaknya sampai mereka berdua terjatuh.
Dennis juga tidak bisa menahan keseimbangannya karena sangat mendadak sekali. Tiba-tiba saja Adel keluar dari kamar daln langsung menabrak dirinya itu.
"Aduh...."
"Ah, Kak Dennis? Maaf!" Adel langsung bangun dari atas tubuh kakaknya. Ia terlihat cemas karena sudah menjatuhkan tubuh kakaknya dengan tubuhnya itu. "Ka–Kak Dennis baik-baik saja?"
__ADS_1
Dennis bangun terduduk lalu mengangguk pelan sambil mengelus-elus kepala belakangnya yang sakit karena terbentur tembok. "I–iya. Hanya pusing sedikit."
"Oh tidak! Aku minta maaf, kak! Mana yang sakit? Sini Adel usap-usap!"
"Ah, apa-apa. Sudah tidak sakit lagi, kok!" Dennis tersenyum sambil menggeleng. "Tadi kau kenapa? Kenapa berteriak gitu? Apa ada yang sudah menakutimu?" tanya Dennis.
"Ini sudah ku tangkap."
Adel terkejut. Lalu dengan cepat, ia langsung bersembunyi di balik tubuh kakaknya. "E–eh? Adel? Ada apa? Kau kenapa?" tanya Dennis sambil berusaha untuk melepaskan dirinya dari genggaman Adel. Bukannya dia ingin menjauh dari adiknya, tapi ada satu masalah. Adel bersembunyi di belakang tubuh Dennis sambil menyentuh pinggang Dennis. Hal itu membuat tubuhnya jadi geli dan tidak nyaman.
"Itu si Yuni nakal!" jawab Adel. Lalu ia menyentuh pinggang Dennis dengan kepalanya dan menggeleng cepat. Dennis semakin tidak nyaman dengan adanya Adel yang memberontak ketakutan di dekatnya.
"Eh? Yuni! Apa yang kau perbuat pada adikku?" tanya Dennis dengan nada tegas.
Yuni melebarkan matanya sedikit, tanpa berekspresi. Lalu ia mengangkat tangannya dan menghadapkannya pada Dennis. Yuni ingin menunjukan sesuatu yang ia pegang itu. "Ini."
Ternyata seekor kecoak! Yuni memegang antena kecoak yang masih bergerak itu dengan tangan kosong!
"Tadi hewan ini merayap di tubuhnya Adel. Lalu ia berteriak dan langsung berlari ke luar. Untungnya aku berhasil menangkap kecoak ini." Jelas Adel.
"E–eh? Jadi hanya kecoak saja? Kau terlalu penakut, Adel!"
"Eeeeh?! Kakak tidak tahu, apa?! Kecoak itu makhluk yang sangat menjijikan tahu!"
"Masa, sih? Haduh... itu kan hanya binatang kecil. Coba lihat Kak Rei. Dia... eh?!" Dennis tersentak setelah matanya melirik ke arah Rei. Karena Dennis telah melihat ekspresi baru dari Rei yang belum pernah ia lihat.
"Kak Rei? Kau kenapa?"
Rei terlihat di pojok pintu kamarnya. Tubuhnya gemetar dan ekspresi wajahnya itu... seperti orang yang habis melihat hantu. "Ke–kecoak itu... jauhkan makhluk itu dariku!" Rei membentak. Seketika Dennis dan Adel terkejut.
Katanya, 'Jauhkan kecoak itu'? Apa jangan-jangan... Rei itu....
"Eh? Fobia?" tanya Dennis heran.
Yuni mengangguk pelan. "Iya. Kak Rei memiliki fobia terhadap kecoak. Itu gara-gara kejadian beberapa tahun yang lalu. Dimana tubuh Rei pernah dikerumuni oleh beberapa kecoak yang merayap di tubuhnya."
Mendengar perkataan Yuni tadi telah membuat Dennis dan Adel jadi merinding. Begitu juga dengan Rei. "Iiiih! Jangan kau ceritakan tentang itu lagi di hadapanku, Yuni!" bentak Rei sambil melangkahkan kakinya ke belakang secara perlahan. Ia takut kalau tiba-tiba saja kecoak itu lepas dari Yuni dan malah terbang mendekat ke arahnya.
"Maaf, Kak Rei. Tapi... memangnya sekarang ini Kak Rei masih takut pada kecoak?" tanya Yuni pelan.
"Bukan takut! Aku... hanya tidak ingin menyentuhnya. Itu saja!"
"Oh. Tapi... kalau aku berikan kecoak ini pada Kak Rei bagaimana?" Yuni melangkah maju ke arah Rei secara perlahan sambil menunjukan kecoak yang ia pegang di tangannya itu.
Rei jadi terlihat semakin panik. "Ka–kau! Jangan mendekat ke arahku. Kumohon!"
"Ayolah. Elus kepala kecoak ini saja, kak! Aku... akan membantu menyembuhkan fobia kakak itu."
"Yuni! Berhenti kau di sana! Jangan mendekat!"
"Ooh... jadi Rei yang sekarang masih takut dengan kecoak, ya? Hehe... ini aku baru tangkap satu dari kamarku juga, loh~"
Rei terkejut. Tiba-tiba saja dari belakang ada yang membisiki dirinya. Perkataan orang yang di belakang Rei itu telah membuat Rei semakin takut. Lalu tak lama kemudian, Rei merasakan ada sesuatu yang merayap di tubuh bagian belakangnya. Ia berpikir itu kecoak, jadi dengan cepat Rei pun langsung menjauh dari orang di belakangnya itu dengan cara berlari cepat ke depan.
Rei berteriak ketakutan. Dennis terkejut mendengarnya. Baru pertama kali ia mendengar suara Rei yang berteriak hanya karena seekor kecoak.
Setelah Rei berhasil menjauhi orang yang ada di belakangnya itu, Rei langsung berbalik badan untuk mengetahui siapa orang yang telah muncul di belakangnya secara tiba-tiba itu.
__ADS_1
"Huuu... ternyata Rei masih takut dengan kecoak, ya? Hehe... sepertinya pengobatan terapi ku masih belum mempan, nih!" Itu Akihiro. Ternyata orang yang muncul di belakang Rei itu adalah si Akihiro. Tak lupa, Mizuki juga datang. Ia ada di samping Akihiro.
Soal kecoak yang Akihiro pegang itu hanya bercanda saja. Dan... sesuatu yang merayap di tubuh Rei itu sebenarnya adalah jari-jari Akihiro yang bergerak menyentuh tubuh Rei untuk mempermainkannya.
"Terapi apanya?! Itu penyiksaan namanya, tahu!" Rei membentak ke arah Akihiro.
"Ah tidak mungkin. Aku baca di internet, katanya kalau orang yang sedang memiliki fobia kecoak sepertimu, maka kau harus berani untuk memegang kecoak itu agar kau sembuh dari fobiamu."
"Tapi... tidak seperti caramu yang dulu, dong!"
"Eh? Cara yang dulu? Memangnya ada apa?" tanya Dennis bingung.
"Ahaha... tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Rei hanya aku tahan sebentar supaya dia bisa tenang dan tidak banyak bergerak sementara aku akan mendekatkan seekor kecoak padanya agar Rei tidak takut pada kecoak lagi. Tapi setelah aku menaruh kecoak itu di atas kepalanya, tiba-tiba Rei malah jadi tidak bergerak sama sekali."
"Eh, maksudnya?"
"Ya... dia malah pingsan setelah aku memberikan kecoak itu untuknya. Pengobatanku jadi gagal, deh!"
"Itu bukan pengobatan kalau seperti itu caranya, bodoh!" bentak Mizuki pada Akihiro.
"Hiiih!" Rei semakin merinding mendengarnya. "Jika kau memaksaku seperti itu malah membuatku semakin geli, tahu!" bentak Rei lagi.
"Ya! Bagaimana kalau kita lakukan seperti dulu lagi?"
"Tidak! Aku tidak mau!" Rei menolak. Ia benar-benar membenci hewan atau makhluk yang namanya Kecoak itu. "Ah, sudahlah! Tolong jangan seperti ini padaku! Aku tidak ingin melihat kecoak itu lagi!" bentak Rei pada semuanya. Lalu matanya melirik ke arah Yuni dan berkata dengan nada tegas. "Yuni! Kumohon buang kecoak itu sekarang juga!"
Yuni mengangguk. Lalu ia akan membawa kecoak itu pergi menjauh dari kamarnya. Yuni akan melepaskan kecoak itu di taman sekolah. Makanya ia pergi menuruni tangga. Adel juga ingin ikut. Tapi ia menjaga jarak dari Yuni yang masih memegang kecoak itu.
"Hiiih! Benar-benar." Rei bergumam sambil menggeleng cepat. Lalu ia melirik ke arah Dennis dan berkata, "Den, sekarang cepat kau pergi ke gudang untuk mengambil sapu. Aku akan membersihkan sebagian yang di kamar."
Dennis mengangguk cepat. Lalu setelah itu, ia langsung bergegas menuruni tangga untuk pergi ke gudang yang ada di belakang sekolah. Tak lama setelah Dennis pergi, Akihiro juga pergi. Ia ingin pergi ke tempat Dennis juga. Karena dirinya juga sedang membersihkan kamarnya. Jadi... Akihiro juga pergi ke gudang itu untuk mengambil peralatan pembersih.
Sementara Rei akan membersihkan kamarnya. Dan kebetulan juga ada Mizuki di sana. Jadi Mizuki juga ingin membantu Rei.
****
Saat sampai di depan pintu gudang, Dennis pun membuka pintunya yang tertutup. Tapi ternyata tidak bisa karena pintu gudangnya terkunci dari dalam.
Lalu Dennis pun menghampiri jendela untuk mengintip ke dalam gudang itu dan melihat ada apa di dalam. Kenapa gudangnya bisa terkunci dari dalam.
Saat Dennis bisa melihat dalaman gudang itu lewat kaca jendela, ia pun terkejut. Karena... di dalam sana ada seseorang dengan tubuh besar yang sedang menghajar seorang murid lain.
Orang berbadan besar itu melihat bayangan Dennis dari pantulan cahaya yang masuk lewat jendela. Karena ia mengetahui ada orang yang sedang melihat perilakunya, orang itu pun menengok ke arah belakang dan langsung melirik ke arah Dennis.
Dennis terkejut saat orang besar itu menengok dan menatap tajam ke arahnya. Dennis membesarkan matanya dan seketika ia jadi ingat sesuatu. Wajah orang besar itu sepertinya pernah Dennis lihat di dalam absen kelas 3-C.
"Eh? I–itu bukannya... si Adit?!"
"Dennis. Akhirnya aku bertemu denganmu juga di sini." Orang bertubuh besar itu ternyata adalah Adit. Dan sekarang, apa yang akan Adit lakukan pada Dennis?!
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @Pipit_otosaka8