Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 61– Ujian IPS, part 3


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


BUM! BUM!


"Spino itu mendekat. Kita sepertinya tepat waktu." Bisik Nadya. Semuanya menghembuskan nafas lega. Tapi setengahnya mereka juga masih merasa sedikit tegang dan takut pada seekor monster raksasa yang datang itu.


Akhirnya Monster raksasa itu menunjukan wujudnya. Dia... berdiri tepat di depan pohon besar yang sedang dijadikan tempat bersembunyi. Rei dan Mizuki berusaha untuk tidak sampai terkena cahaya matahari. Karena mereka juga tidak ingin terlihat oleh si monster.


"Nadya. Apa yang kau ketahui tentang monster ini?" bisik Rei bertanya.


Nadya menjawab, "Lebih tepatnya, makhluk ini adalah Dinosaurus yang sebenarnya sudah punah jika di dunia kita. Dinosaurus ini bernama Spinosaurus, yang dikenal sebagai si predator ahli dalam berburu. Matanya sangat bagus sekali dan... Indra penciumannya sangat tajam. Intinya, dia tidak boleh mencium darah. Karena... dari Indra penciumannya itulah dia bisa menangkap dan menemukan kita semua. Makanya, jika kita ada di dekat dia, usahakan untuk tidak boleh ada yang terluka." Jelas Nadya dengan nada suara pelan.


Semuanya mengangguk pelan. Lalu Rei kembali bertanya, "Lalu bagaimana dengan indra pendengarannya?"


"Cukup buruk. Dia... memiliki lubang telinga yang kecil. Kemungkinan besar, dia tidak bisa mendengar apapun kecuali dalam jarak dekat dengannya. Katanya, langkah kakinya sendiri saja dia tidak mendengarnya."


"Tapi... ada satu jenis dinosaurus yang dijuluki kecil-kecil cabai rawit. Yang artinya, mereka jenis dinosaurus kecil tapi jago dalam berburu. Para dinosaurus itulah yang harus kita waspadai."


Semuanya terkejut. Tapi mereka berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sama sekali. Dennis bertanya, "Dinosaurus apa itu? Dan... apakah si Spino ini bisa berbahaya juga untuk kita?"


"Nama dinosaurus itu adalah Raptor. Mereka berburu dengan cara berkelompok. Mengejar mangsanya dengan berlari sangat cepat. Dan bisa dibilang si pemburu ahli karena dirinya tidak akan melepaskan mangsanya jika dia sudah mendapatkannya." Jelas Nadya lagi.


Lalu setelah itu, langsung saja Nadya kembali menjelaskan untuk menjawab pertanyaan Dennis yang kedua itu. "Kalau untuk si Spino ini, dia tidak bergerak cukup cepat karena ukuran dan berat tubuhnya yang besar. Tapi jika seperti itu, si Spino juga tidak bisa dianggap enteng. Yah... kalian tahu, lah! Jika kalian berhasil tertangkap, maka si Spino tidak segan-segan akan langsung mencabik tubuh kalian."


"Kau pasti bercanda." Dennis bergumam. Ia tidak percaya dengan penjelasan Nadya itu. Ternyata setiap jenis dinosaurus yang ia tahu ternyata memiliki sifat jahat, rakus, berbahaya dan pastinya sangat mematikan.


Setelah lama berdiri di depan sana, akhirnya si Spino pun kembali berjalan maju ke depan lagi. Semuanya menghembuskan nafas lega setelah si Spino itu pergi.


Tadinya Rei ingin memeriksa keadaan, tapi sebelum itu, ia sempat mendengar suara si Spino mengaum keras, lalu setelah itu suara aneh muncul dari dinosaurus itu. Suara seperti cairan yang terjatuh ke tanah dan suara beberapa ranting yang patah.


Semuanya penasaran dengan suara yang dikeluarkan oleh Spino. Mereka ingin mengeluarkan kepala untuk keluar, tapi mereka belum memiliki keberanian karena Spino itu masih dekat dengan tempat persembunyian mereka. Kan kalau ketahuan bisa berbahaya!


BUM! BUM!


Suara langkah kakinya kembali terdengar. Tak lama, suara itu pun menghilang. Setelah suasananya hening kembali, Rei akhirnya bisa mengeluarkan kepalanya untuk melihat keadaan luar.

__ADS_1


"Semuanya aman." Gumam Rei. "Dino itu sudah tidak kelihatan lagi." Mata Rei masih melirik ke sekitar. Lalu, saat ia menengok ke arah kirinya, Rei sedikit terkejut. Ia melihat ada cairan kental berwarna merah dengan beberapa benda padat berwarna putih kecoklatan.


"A–apa itu?" Mizuki juga melihatnya. Rei mengerutkan keningnya untuk melihat lebih jelas sesuatu yang berwarna merah itu. Tapi tetap saja pandangannya tidak jelas. Apalagi Mizuki. Jadi... mereka berdua memutuskan keluar sebentar untuk memeriksa sesuatu yang mereka temukan itu.


Secara perlahan dan hati-hati, Rei dan Mizuki mendekati benda putih dengan cairan merah itu. Setelah jelas terlihat, Mizuki terlihat terkejut dan takut. Tapi ekspresi Rei hanya biasa saja. Mizuki sudah tidak tahan melihatnya. Jadi ia memutuskan untuk menghentikan langkahnya, sementara Rei masih terus lanjut untuk mendekati cairan merah itu.


Saat ia berdiri di dekat cairan merah itu, ia sedikit membungkuk dan mendekatkan kedua jarinya untuk menyentuh cairan merah agar ia bisa memeriksa.


Setelah setetes cairan merah itu tertempel di kedua jari Rei, secara perlahan, Rei akan mencoba untuk menciumnya. Lalu setelah itu, ia kembali berdiri dan menunjukan bercak merah di tangannya. "Ini ternyata darah." Ujar Rei memberitahu Mizuki tentang apa yang ia sentuh itu. Lalu setelah itu, Rei menunjuk ke arah beberapa benda padat putih kecoklatan. "Dan itu adalah tulang belulang manusia."


"Rei! Kau jorok amat, sih!" bentak Mizuki. "Cepat cuci tanganmu!"


"Ah, tenang saja. Darah tidak berbahaya, kok." Ucap Rei santai. Lalu setelah itu, ia menggosok kedua jarinya yang terkena darah ke selipan bajunya. Setelah darah itu menghilang, Rei menepuk tangannya untuk menghilangkan debu di tangannya. Lalu setelah itu, ia berjalan kembali mendekati Mizuki.


"Dasar jorok!" gerutu Mizuki yang ada di belakang Rei.


"Berisik."


Semua orang keluar dari tempat persembunyiannya. Yang terakhir adalah Adit. Ia akan membawa tubuh Akihiro. Tapi, saat Adit berbalik badan, ia terkejut karena di dalam lubang besar di pohon, ia tidak menemukan Akihiro di sana.


"Eh! Oh tidak!" Adit panik. Ia kembali masuk ke dalam lubang untuk mencari tubuh Akihiro. Rei terheran, ia bertanya, "Ada apa denganmu?"


"Rei! Ini gawat! Si... si Dian tidak ada! Dia menghilang!" jawab Adit tanpa menengok ke arah lawan bicaranya. Ia tetap sibuk mencari dan mencari temanya yang hilang itu. Tapi... karena di dalam sana ia tidak menemukan Akihiro, Adit pun kembali keluar dari dalam lubang. Ia menatap serius ke Rei.


Semua terkejut saat mendengar perkataan Adit. Jadi ternyata Akihiro menghilang begitu saja tanpa jejak? Dia ke mana?


"Adit. Apa kau tidak memperhatikan si Dian dari tadi?" tanya Rei.


Adit menggeleng cepat. "Tidak. Maaf, Rei! Aku tidak terlalu menjaga dirinya. Tapi... saat kalian berdua keluar, aku masih melihat si Dian tidur bersandar sambil duduk. Tapi setelah aku ikut dengan kalian untuk melihat keluar lubang, tiba-tiba saja si Dian sudah menghilang begitu saja."


"Lalu sekarang Kak Dian ada di mana?" tanya Dennis dengan ekspresi cemas. Dari awal si Dennis memang sudah mencemaskan keadaan Akihiro. Apalagi saat ini, dia mendengar kabar kalau Akihiro telah menghilang entah ke mana. Pasti dirinya jadi lebih khawatir.


"Tenang, Dennis! Sekarang... kita akan mencari si Dian. Kita juga tidak ingin menetap di sini terlalu lama, kan? Dan kita juga harus mencari pintu biru itu." Ujar Rei untuk menenangkan semua temannya. Semuanya terdiam. Mereka mengangguk pelan dan akan menuruti perkataan Rei.


"Sekarang, jalan pertama kita adalah... kita harus mencari jalan keluar dari hutan ini terlebih dahulu." Ujar Rei lagi. Lalu ia berjongkok dan mengambil sebatang ranting yang kuat. Setelah itu, Rei menggoreskan ranting kayu yang ia pegang ke tanah untuk membentuk suatu pola dan gambar.


Rei menggambar bulatan besar dengan bulatan kecil di tengahnya. Setah itu, ia mencabut beberapa rumput dan meletakkannya di atas bulatan kecil. Setelah itu, Rei menunjuk ke arah bulatan kecil itu dan berkata, "Anggap saja ini pulau yang sekarang ini sedang kita tempati. Dan... di pertengahan ini adalah hutan. Kalian tahu kan? Jika pulau kecil, pasti otomatis di pertengahannya adalah hutan?"


Semuanya mengangguk.


Rei melanjutkan, "Nah! Hutan ini tidak mungkin luas dan di mana-mana terdapat jalan keluarnya. Lalu..." Rei mengarahkan ujung ranting kayunya ke bagian luar bulatan kecil. "Ini anggaplah sebagai pasir pantai. Setelah kita berhasil keluar dari hutannya, pasti kita akan bertemu dengan pasir pantai dan lautannya. Lalu... tadi yang dikatakan orang sialan itu apa?"

__ADS_1


"Eh, orang sialan?" Adit meneleng. Rei memejamkan mata dan menjawab, "Iya, si pembuat ujian bodoh ini."


"Ooh... si Bob." Adit bergumam dan mengangguk.


"Apa yang dikatakannya? Pintu biru itu ada di mana?" tanya Rei pada semuanya. Dennis menjawab, "Ada di... tengah lautan."


Rei mengangguk. "Oke... berarti tujuan kita hanya ada dua. Pertama, kita akan mencari jalan keluar dari hutan ini. Dan yang kedua, setelah kita keluar, kita harus cepat mencari sebuah kapal kecil untuk menyebrangi lautan dan menemukan pintu keluar itu!"


"Baik! Rencana telah diputuskan. Apa semuanya setuju dengan kedua tujuan kita itu?" tanya Rei lagi. Semuanya mengangguk. Mereka ingin mengikuti rencana yang dibuat oleh Rei itu.


Rei kembali berdiri. Ia membuang ranting yang ia pegang, lalu menginjak gambar pulau yang ia gambar di tanah. "Baiklah kalau begitu, sekarang ayo kita mulai bergerak! Dan ingat ini, tetaplah bersama, saling melindungi dan menjaga. Aku akan mengawas dari depan dan kau Adit, kau pengawas belakang kami. Tidak masalah, kan?"


Adit mengangguk. "Iya baiklah! Aku akan membuat diriku berguna untuk kalian!"


"Tapi Kak Rei... bagaimana dengan Kak Dian?" tanya Dennis ragu. Rei tersentak. Ia menjawab, "Kita juga akan mencarinya dalam perjalanan. Sekarang semuanya jangan cemas! Kita pasti akan menemukan Akihiro dalam keadaan selamat."


****


"Ugh," Akihiro membuka mata, lalu segera bangun dengan cepat. Ia terkejut dengan lingkungan sekitarnya. "Eh?! A–aku sudah kembali ke kelas? Tapi... kenapa?"


Akihiro mengusap wajahnya, lalu mencengkram kepalanya yang sedikit sakit. Setelah itu, ia mencoba untuk berdiri secara perlahan dengan bentukan dari meja yang ada di sampingnya. Akihiro melirik ke sekitar. Ia melihat semua teman-temannya masih dalam keadaan tak sadar. Tapi... ia terheran. Kenapa hanya dirinya saja yang kembali ke kelas?


"Ke–kenapa hanya aku? Dan... apakah mereka semua ini tidak selamat?" gumam Akihiro. "Tapi... jika mereka tidak selamat, maka akan ada pertumpahan darah. Tapi... ini masih belum."


Akihiro melangkah 2 kali ke depan dan kembali bergumam. "Apa jangan-jangan... hanya aku saja yang bisa keluar dari dunia itu dan kembali ke kelas? Tapi bingungnya, kenapa hanya aku seorang diri?"


DRRRRKKK....


Akihiro mendengar suara pintu kelas yang bergeser. Sontak ia terkejut dan langsung menengok ke arah pintu kelas. Akihiro melebarkan matanya dan kembali dibuat terkejut oleh seseorang yang datang dan berdiri di depan pintu.


"Ah~ Akhirnya kami bisa menemukanmu juga, Dian."


"Ka–Kakak dan I–Ibu...?!" Akihiro mundur ke belakang. Ia tidak berani mendekati kedua orang yang berdiri menghalangi jalan keluar dari kelasnya itu.


"Kenapa mereka berdua bisa datang ke sini?!!"


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2