
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Pagi harinya–
[ Ohayou, Onii-chan! Ohayo.... ]
Dennis membuka matanya setelah ia mendengar suara alarm di ponselnya yang berisik itu. Ponselnya terletak di dekat bantal Dennis. Pagi hari ini, setelah bangun tidur, benda yang ia lihat paling pertama adalah langit-langit rumahnya.
Dennis menoleh ke samping kirinya. Seperti biasa, ada Rei yang tertidur di sampingnya. Lalu menoleh ke arah sebaliknya. Seharusnya tidak ada orang di samping kanannya itu. Tapi setelah menoleh, Dennis terkejut karena di samping kanannya ada Nashira yang tertidur dekat dengannya. Karena terkejut, tidak sengaja Dennis mendorong Nashira sampai terjatuh dari atas tempat tidur. Tubuh Nashira yang terjatuh langsung menimpa tubuhnnya Akihiro dan Rashino yang sedang tertidur di kasur kecil mereka di lantai.
Karena merasa ada benda berat yang tiba-tiba jatuh menindih tubuh mereka berdua, sontak Rashino dan Akihiro langsung terbangun. Begitu juga dengan Nashira. Ia terbangun setelah Dennis mendorongnya.
Mendengar suara ribut di bawah tempat tidurnya, Dennis memeriksa keadaan di bawahnya itu dengan hati-hati. Karena takut beberapa temannya akan marah. "Ka–kalian kenapa bisa ada di sini semua?" tanya Dennis ketakutan. "Rashino dan Nashira, bukannya kalian ada di kamar sebelah, ya?"
Nashira mengangkat tubuhnya secara perlahan untuk bangun. Rashino membantu adiknya berdiri, lalu Nashira duduk di pinggir tempat tidur. Ia menjawab, "Malam tadi, ada orang asing yang datang ke kamar. Dia seorang laki-laki juga. Dan dia menggunakan bahasa yang aneh. Aku jadi bingung."
"Orang asing?"
"Iya. Dia memakai kaus putih dengan tulisan sablon 'I love Tokyo' gitu. Membawa dua koper juga." Rashino menimpali. Lalu dilanjut oleh Nashira lagi. "Tapi pada awalnya, laki-laki itu terlihat agak ragu dan malu-malu untuk masuk ke kamar yang kami tiduri. Tapi pada akhirnya, ia masuk juga. Dia berbicara pada kami, tapi kami tidak mengerti bahasanya."
"Apa dia itu kakakmu, Dennis?" tanya Rashino. "Kakakmu yang dari luar negeri, ya? Makanya bahasanya aneh." Nashira melanjutkan.
Dennis tersentak mendengarnya. Ia menggeleng dan mengibas tangannya ke samping. "Ah, bukan, bukan! Aku tidak punya kakak. Aku anak pertama. Orang yang masuk ke kamar kalian itu adalah–"
"Kakaknya Mizuki." Suara Rei menyela Dennis. Semuanya langsung melirik ke arah orang yang ada di belakang Dennis itu.
Rei sudah terduduk di atas kasur sambil memegang ponsel Dennis. Ia baru saja mematikan alarm di ponsel Dennis yang berisik itu. Mungkin Rei terbangun karena alarm Dennis, ditambah dengan suara berisik dari teman-temannya yang mengganggu.
Setelah menunduk lama, Rei pun akhirnya menengok ke arah teman-temannya. Dengan rambut yang masih acak-acakan karena baru bangun tidur, Rei berujar dengan nada dingin dan tatapan tajamnya. "Kalian semua. Pagi-pagi sudah berisik amat, sih?"
Semuanya tertawa kecil. Lalu setelah itu, Akihiro bertanya, "Apakah lelaki yang ada di kamar Rashino dan Nashira itu adalah kakaknya Mizuki?"
Dennis mengangguk. "Iya. Karena semalam, aku dengan Mizuki menjemput kakaknya di bandara."
"Oh, lalu bagaimana Rei bisa tahu kalau lelaki itu kakaknya Mizuki?"
"Aku kan melihat Dennis dan Mizuki keluar. Sebelum itu juga, aku sempat mendengar Mizuki berteleponan dengan kakaknya." Jawab Rei pelan. Setelah itu, ia menutup mulut dengan tangan dan menguap sambil mengucek mata dengan tangan yang satunya. Setelah itu, Rei meregangkan badannya dan terdiam sejenak untuk menghilangkan pusing di kepalanya.
Ia juga tidak lupa mengembalikan ponsel Dennis pada pemiliknya. Dennis menerima ponselnya yang diberikan Rei, lalu membukanya. Ia sedikit melebarkan mata, setelah melihat ada satu notifikasi message di ponselnya. Saat dibuka, ternyata itu pesan dari grup Kelas 3-C yang dikirim oleh Bu Mia langsung.
[ Ingat, ya? Jam 10 kalian sudah harus ada di sekolah. ] Setelah membaca pesan itu, Dennis sedikit terkejut. Jam 10 saja mereka sudah harus ada di sekolah, sementara sekarang... sudah jam setengah tujuh. Belum lagi, mereka harus pergi kembali ke desa dan ke sekolah. Karena jarak dari kota ke desa memerlukan waktu 1 jam (mungkin).
"Jam 10 sudah harus ada di sekolah, Kak Rei!" tegas Dennis. Setelah itu, ia turun dari tempat tidur. Melempar ponselnya ke atas kasur, lalu berjalan cepat ke pintu depan kamar. "Kita harus cepat, Kak Rei! Dan semuanya juga!"
CKLEK! KRIIEEEETT....
Dennis membuka pintu kamarnya dan kembali melangkahkan kakinya. Tapi saat satu langkah ke depan, tiba-tiba saja Dennis terhenti setelah ia menabrak seseorang yang berdiri dekat di depannya.
__ADS_1
Dennis sedikit mendongak secara perlahan. Ia melihat orang lain yang memiliki tinggi lebih dari dirinya. Memakai baju putih dengan tulisan "I Love Tokyo" dan... tampang dari seorang lelaki berwajah tampan. Tak salah lagi, orang itu adalah Natsuki Hanashita!
"Ka–Kak Natsuki?" Dennis bergumam. Semua orang yang ada di dalam kamar Dennis langsung berdiri dan berjalan menghampiri Natsuki dan Dennis. Kecuali hanya Rei saja yang masih duduk di tempatnya. Ia hanya melirik ke arah teman-temannya dari tempatnya duduk.
Natsuki mengangkat tangan kanannya, lalu mengibas pelan. "Ohayou gozaimasu!" Natsuki menyapa orang-orang yang ada di depannya dan mengucapkan met pagi pada mereka semua.
"Ohayou, senpai!" Karena mengerti dengan bahasanya, Akihiro juga ikut melambai dan membalas sapaan Natsuki. Kemudian, Nashira berbisik ke saudara kembarnya, "Tuh, kan. Bahasanya aneh lagi." Lalu Rashino balik membalas, "Dia menggunakan bahasa Jepang."
"Tapi kenapa si Dian bisa ngerti, ya?"
"Mungkin dia belajar."
"Ah, mungkin, ya?"
"Eh! Kenapa kalian malah ngomongin aku, sih?!" Akihiro tiba-tiba membentak dan menghentikan Rahsino dan Nashira yang sedang berbisik membicarakan orang asing baru yang ada di hadapan mereka. "Seharusnya kalian bilang 'ohayou' juga dong sama Senpai... emm...."
"Dennis, nama kakak ini siapa, sih?" Dian berbisik pada Dennis untuk mencari tahu nama dari kakaknya Mizuki itu. Karena diantar mereka, hanya Dennis lah yang tahu namanya. Dennis memberitahu namanya, lalu setelah itu, Akihiro kembali menatap Rashino dan Nashira.
"Ah, kasih sapaan sama Senpai Natsuki-san!" perintah Akihiro. Rashino dan Nashira masih kebingungan. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Dan ucapan yang diminta Akihiro itu... ucapan selamat pagi seperti apa?
"Ahaha..." Natsuki tertawa melihat Akihiro dengan si kembar saling adu mulut. Menurutnya itu sangat lucu walau dia sendiri tidak tahu apa artinya. "Ti–tidak... masalah." Natsuki menggunakan bahasa Indonesia!
Seketika semuanya terkejut mendengarnya. Suaranya masih terdengar kaku dan agak gagap. Namanya juga orang baru belajar. Natsuki mengetahui beberapa bahasa Indonesia dari buku kamus Jepang-indonesia yang ia pelajari. Dan sebagian juga, dia mencari dan mengeja beberapa kata dalam kamus Bahasa Indonesia yang diberikan Mizuki.
"Se–selamat. Selamat... emm... pa–pagu, eh! Eto... selamat pagi!" Natsuki menyapa lagi sambil melambai kecil pada semua orang yang berdiri di depannya itu. Nada bicaranya yang masih kaku terdengar aneh. Rashino dan Nashira ingin tertawa. Tapi semenjak Dennis menyenggol Rashino, mereka berdua pun menahannya.
"Pagi..." Dennis membungkuk sedikit. "Kak... Natsuki."
"Lennis? Siapa Lennis?" Rashino dan Nashira berujar meledek Dennis, dicampur dengan tertawaan mereka.
"Kalian berdua, berhentilah tertawa! Tidak sopan." Rei membentak si kembar dari belakang. Lalu setelah itu, ia beranjak dari tempat tidur. Berjalan mendekati Dennis, lalu mengulurkan tangan untuk mengajak Natsuki berkenalan. "Aku Rei."
Natsuki mengangguk pelan. "Lei... san?"
"Bukan. Rei. Rei. R–E–I. Rei." Karena ucapan nama Natsuki selalu salah, maka Rei akan mengeja untuknya. Natsuki mengangguk paham. "Rei. Rei-san." Akhirnya dia bisa memanggil Rei dengan nama yang benar. Natsuki senang bisa berkomunikasi dengan teman barunya dalam bahasa baru yang ia pelajari. Tapi walau begitu, Natsuki tetap terus mempelajari bahasa Indonesia agar bisa mahir seperti adiknya, Mizuki.
Ngomong-ngomong soal Mizuki, sedari tadi gadis remaja itu tidak kelihatan. Mungkin dia ada di....
"DENNIS! REI! RASHINO! NASHIRA! ONII-CHAN! AYO SARAPAN BERSAMAAA!" Baru saja diomongin. Nashira berteriak dari bawah dengan suaranya yang keras. Satu-satu semuanya dipanggil namanya. Mereka yang dipanggil namanya itu langsung beranjak dari kamar dan pergi menuruni tangga.
Sarapan pastinya di dapur. Dennis dan yang lainnya langsung saja pergi ke dapur. Di dapur sudah tersedia banyak makanan enak di atas meja. Di setiap kursi di depan meja, sudah ada yang menempati. Ada Adel, Yuni, dan... Ibunya Dennis. Kalau Ayahnya... sepertinya tidak ada. Karena ayahnya Dennis sedang pergi ke luar kota selama seminggu. Jadi hari Senin beliau akan pulang. Untuk sarapan hari ini, tidak ada sosok sang ayah yang menemani. Hanya sang ibu Dennis saja yang merupakan orang tua yang harus dihormati.
Dari pagi, Mizuki sudah bangun untuk mempersiapkan semua makanan yang telah tersedia di meja. Tentu saja dengan bantuan Ibunya Dennis juga. Tidak mungkin Mizuki bisa memasak sebanyak itu tanpa bantuan dari siapapun.
Semuanya duduk di tempatnya masing-masing. Mizuki sudah memberikan kursi tambahan untuk kakaknya duduki. Dan akhirnya, Natsuki juga bisa makan bersama dengan yang lainnya.
Setelah Mizuki meletakan piring terakhir di atas meja, ia pun duduk di tempatnya. Di samping kakaknya. Setelah itu, semuanya mengambil piringnya masing-masing dan Ibunya Dennis akan memberikan nasi hangat ke piring mereka masing-masing. Setelah mendapatkan nasi, mereka semua mengambil lauk yang diinginkan. Dan... setelah itu, baru dimulailah makan bersama setelah berdoa. Tapi kalau Natsuki....
"Itadakimasu!" Dia sendiri yang mengucapkan kata bahasa Jepang yang biasa diucapkan sebelum menyantap makanan. Sambil menepuk tangannya sekali, ia mengucapkan satu kata itu dengan tujuan untuk memberikan rasa syukur pada makanan yang akan ia santap. Begitulah gayanya orang Jepang.
Tidak ingin membuat kakaknya malu karena hanya dia sendiri yang mengucapkan kata sebelum makan itu, Mizuki juga ikutan mengucapkannya. "Itadakimasu." Tapi dengan nada yang pelan. Seperti ia sedang berbisik pada makanannya.
Dah! Setelah itu, mereka semua menyantap makanannya masing-masing dengan lahap. Walau Natsuki sendiri tidak terbiasa makan menggunakan sendok dan garpu. Sungguh lucu kadang. Maklum, biasa orang Jepang selalu menggunakan sumpit. Kalau begitu, Mizuki akan mengajarkan kakaknya supaya bisa menggunakan sendok dan garpu seperti gaya makan orang Indonesia.
__ADS_1
****
Setelah makan bersama, semuanya bergantian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara yang lain, sambil menunggu kamar mandi kosong, maka mereka akan menyiapkan barang bawaan yang akan mereka bawa ke sekolah. Tapi untuk hari ini, mereka tidak memakai seragam. Tapi tetap memakai pakaian bebas. Karena... seragam mereka tertinggal di kamarnya masing-masing.
Setelah selesai berapih-rapih, Dennis dan teman-temannya siap untuk kembali ke sekolah pada pukul setengah sembilan. Tapi sebelum mereka pergi ke depan pintu untuk memakai sepatu, mereka tentunya harus izin dan berpamitan pada Ibunya Dennis terlebih dahulu.
Mereka mencium tangan Ibunya Dennis dan meminta doa perlindungan pada beliau. Lalu setelah itu, mereka memakai sepatu dan bersiap untuk pergi meninggalkan rumah Dennis yang besar.
"Ah, biarkan ibu mengantar kalian sampai halte, ya?" tanya Ibunya Dennis. Ia ternyata masih cemas dan belum bisa melepaskan Dennis dan Adel untuk pergi meninggalkannya lagi. Dennis bisa melihat wajah kekhawatiran dari ibunya hanya dengan melihat ekspresinya saja.
"Ibu jangan cemas. Dennis cuma sehari saja, kok! Nanti balik lagi, kok." Ujar Dennis untuk menenangkan perasaan cemas Ibunya. "Iya! Nanti Adel balik lagi, ya? Adel juga gak mau lama-lama di sekolah, tau." Adel melanjutkan.
"Iya. Onii-chan juga terus ada di sini untuk menemani Tante. Jadi jangan merasa kesepian, ya?" ujar Mizuki dengan senyumnya. Natsuki mengangguk. Ia akan terus bersama dengan Ibunya Dennis untuk menemaninya dan membantu pekerjaan rumahnya dengan senang hati. Dia memang lelaki yang baik.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, ya, Nak?" Ibu Dennis melambai. Dennis dan Adel mengangguk. Lalu sekali lagi, Dennis mencium tangan dan pipi Ibunya, lalu setelah itu ia menyusul teman-temannya yang sudah jalan duluan. Sambil berlari pun, Dennis masih melambai pada ibunya.
Setelah keluar dari gerbang komplek, sosok Dennis dan teman-temannya sudah tidak terlihat lagi. Ibu Dennis dan Natsuki pun masuk kembali ke dalam rumah.
Di dalam, Natsuki membantu membereskan rumah Dennis untuk membantu Ibunya Dennis juga. Ia bisa berkomunikasi sedikit-sedikit dengan bahasa Indonesia. Dan kalau ada kata yang tidak dimengerti, Natsuki akan mencari arti kata tersebut di dalam kamus dan kadang...
Natsuki juga suka menelepon adiknya untuk membantu menerjemahkan kata-kata yang diucapkan oleh Ibunya Dennis jika ia tidak mengerti. Mizuki jadi ribet sendiri juga. Di Bus, ia sudah 4x mendapat telepon dari kakaknya terus setiap menitnya.
****
Setelah lama menyusuri jalan raya di kota, akhirnya Bus yang ditumpangi Dennis dan teman-temannya pun sampai di jalan beraspal yang penuh dengan semak di pinggir jalan. Biasanya, jalan tersebut memberi tanda kalau desa yang akan mereka tuju sebentar lagi juga sampai. Hanya memerlukan waktu 20 menit lagi untuk sampai ke sekolah....
Tapi nyatanya... setengah jam kemudian, mereka baru sampai di jalan sepetak menuju ke sekolah. Di depan halte, semuanya turun. Setelah turun, mobil Bus pun kembali berjalan untuk mencari penumpang lainnya.
Dari depan halte, Dennis dan teman-temannya bisa melihat beberapa anak lainnya yang mereka kenal juga ada yang baru datang. Ada Arya dengan Lania juga yang ingin masuk ke jalan kec menuju ke sekolah. Lalu ada Putri dan... Adit juga ada di sana. Hanya mereka berempat saja yang kelihatan. Mungkin beberapa anak lainnya sudah ada di dalam lingkungan sekolah, atau mungkin mereka masih di jalan.
Tapi yang terpenting sekarang, Dennis dan teman-temannya merasa senang bisa kembali ke sekolah mereka walau hanya untuk satu hari. Saat sampai di depan gerbang, mereka bisa melihat ada spanduk bertuliskan "Selamat Datang, Murid Baru!"
Pada awalnya semua merasa heran dengan tulisan di spanduk itu. Mereka juga menduga kalau tidak mungkin ada murid baru yang ingin bersekolah di Beautiful Death High School. Tapi... setelah Dennis membuka gerbang sekolah, mereka semua terkejut karena....
Ada banyak anak-anak asing yang belum mereka kenal sedang berdiri di tengah lapangan. Ada juga yang pergi keliling lingkungan sekolah dengan seragam biru putih mereka. Semuanya menduga kalau... semua anak-anak itu adalah murid baru di sekolah dan teman baru untuk mereka semua!
*
*
*
Season 3–End~
*
*
*
Coming soon Season 4!
Follow IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1