
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Malam harinya, Dennis dan Akihiro sedang bermain di kamar. Sekarang hanya mereka berdua yang menetap di kamar itu. Biasanya kan ada Rei sama si kembar. Tapi mereka bertiga sudah pulang ke rumahnya masing-masing.
Tanpa adanya Rei di dekatnya, membuat Dennis jadi kesepian. Padahal masih ada Akihiro yang menemaninya. Eh, tidak menemani juga sih....
Soalnya... Akihiro malah sibuk sendiri dengan komiknya. Dennis tidak diajak main bersama. Sekarang ini, dia sedang tiduran di atas kasurnya sambil memainkan ponsel yang membosankan. Sesekali Dennis membulak balikan tubuhnya, mengubah posisi ke segala arah dan mengacak-acak tempat tidurnya dengan gerakan tubuhnya sendiri.
Sungguh. Benar-benar bosan tanpa ada sahabat dekatnya. Tapi jika ada Rei di dekatnya, Dennis juga tidak melakukan apa-apa pada Rei. Jadi sekarang... maunya Dennis itu apa?
"Haduh... sekarang apa yang harus aku lakukan? Aaahh!" Dennis tengkurap, dengan kesal ia mengangkat kakinya lalu menghempaskan ke atas kasur. Berkali-kali.
"Kau kenapa, sih? Berisik amat, dah." Akihiro menegur Dennis dengan nada malas. Memang iya sih, sedari tadi, tanpa tujuan entah kenapa si Dennis berisik sendiri.
"Kak Dian..." Dennis mengeluh. "Kita harus melakukan apa, ya?"
"Baca komik sini."
"Aku sudah membaca semuanya."
"Ya sudah. Itu urusanmu."
"Aaahh... tapi setidaknya ajak aku bermain yang seru gitu."
"Main sama Natsuki-senpai seru tuh." Akihiro memberi saran lain untuk membuat temannya terhibur.
"Gak ah! Aku ga ngerti sama bahasa dia."
"Main sama adikmu di kamar bawah sana."
"Aku ga suka permainan perempuan."
"Bantu ibumu beres-beres."
"Dia kan pergi ke luar barusan."
Akihiro membelakangi Dennis dengan cepat lalu menggerutu kesal, "Maunya anak ini apa siiih?!"
"Apa aku harus menelepon Rei, ya?" Dennis bergumam. Lalu membalikan tubuhnya ke posisi terlentang. Ia mengangkat ponselnya lagi, lalu mengetik. "Mungkin aku bisa mendapat hiburan hanya dengan menelpon dia."
"Tekan."
TUT!
Dennis telah menghubungi Rei. Dan sekarang di layar ponselnya itu telah tertulis "menghubungkan" yang artinya telepon dari Dennis sudah masuk ke ponsel Rei. Sekarang tinggal menunggu Rei mengangkat telepon dari Dennis itu.
"Kak Rei... angkat, dong." Dennis memohon. Dia ingin sekali mendengar suara Rei. Padahal belum ada sehari saja mereka berpisah, tapi rasa rindu pada Rei selalu muncul begitu saja. Apa mungkin Dennis tidak bisa jauh dari Rei, ya?
[ Maaf. Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi....]
__ADS_1
TUT!
"Ah, benar-benar tidak diangkat. Dia sedang apa, ya? Apa sudah tidur?" Dennis melirik ke jam dinding yang ada di dekat jendela. Menggeleng pelan, lalu kembali bergumam, "Tapi baru jam 8. Tidak mungkin dia sudah tidur."
"Apa aku coba telepon lagi?"
Sekali lagi Dennis mencoba untuk menghubungi Rei. Ia berharap Rei bisa mengangkat teleponnya itu. Tulisan "menghubungkan" sudah tertulis di layar, tapi kenapa Rei masih belum bisa mengangkatnya.
****
DDRRRTT... DRRRTTT ....
"Kakak... ini ponselnya bunyi terus loh dari tadi." Lino datang ke kamar ibunya. Di sana ada Rei yang sedang duduk termenung di atas tempat tidur orang tuanya. Di dalam kegelapan, yang menyinari Rei hanya cahaya bulan dari depan jendela yang ada di sampingnya saja. Dan cahaya lain juga muncul dari ponsel Rei yang selalu mengedipkan cahaya biru jika ada pesan atau telepon masuk.
"Biarkan saja seperti itu." Rei menjawab pelan tanpa menggerakkan tubuhnya sedikitpun.
"Tapi dari tadi bunyi terus, loh!"
"Biarkan."
"Tapi...."
"Kubilang, biarkan saja!" Tanpa sadar, Rei pun membentak adiknya sendiri. Rei tersentak. Ia tidak bermaksud untuk membuat adiknya ketakutan karena suaranya yang keras itu. Tapi... setelah Rei membentak Lino, seketika Lino langsung merasa sedih dan kesal. Dia melempar ponsel Rei dengan kuat ke arah kakaknya, lalu setelah itu ia berlari keluar kamar.
"Li–Lino!" Rei memanggil adiknya. Tapi sudah terlambat. Ia sudah pergi dan tidak ingin kembali lagi untuk menemui kakaknya.
"Ah, sialan." Rei menggerutu. Lalu matanya melirik ke arah ponselnya sendiri yang masih berkedip, bergetar dan mengeluarkan suara nada deringnya.
Rei mengambil ponselnya, lalu membukanya. Ia melihat ada telepon masuk dari Dennis. Dengan berani, Rei akan mengangkatnya. Tapi sebelum jempolnya menekan tombol bulat tengah di ketikan ponselnya, tiba-tiba saja nada dering ponselnya dan telepon itu terputus.
****
"Yah... mati lagi." Dennis mengeluh kesal. "Kenapa dia tidak mau mengangkat teleponku? Pasti Kak Rei benar-benar sudah tidur, mungkin."
"Mungkin dia sedang mandi. Kau telepon dia besok lagi saja." Ujar Akihiro. "Jangan mengganggunya juga. Siapa tahu di Desa dia sedang sibuk membantu pekerjaan orang tuanya."
"Ah, benar juga, ya? Oke deh." Dennis meletakan ponselnya ke atas meja, lalu setelah itu ia bergabung dengan Akihiro saja untuk membaca komik.
****
Keesokan harinya–
BRAK! BRAK!!
"DENNIS! DIAAAN! BANGUN! HEI! HEI!!"
Dari depan pintu kamar, Mizuki berteriak sambil berusaha untuk mendobrak pintu. Ia merasa kesal karena mentang-mentang hari Minggu, Dennis dan Akihiro tidak mau beranjak dari tempat tidur mereka.
Mizuki tidak bisa membuka pintunya karena dikunci dari dalam oleh mereka berdua. Suara berisik dari ketukan keras di pintu kamar tidak dapat terdengar oleh Dennis dan Akihiro. Karena sambil tidur, Akihiro menggunakan handset yang disambung ke ponselnya untuk mendengar musik. Dari semalam, musik itu sudah dibesarkan volumenya oleh Akihiro. Jadi... selama tidur, dia tidak mendengar apapun. Dennis juga melakukan hal yang sama, hanya saja dia tidak menyalakan musik di ponselnya. Hanya dengan menutup telinganya dengan handset, Dennis langsung tidak mendengar suara yang mengganggunya dalam tidur.
Mereka ingin menggunakan handset saat tidur karena ide dari Akihiro semalam....
****
"Denniiis! Tidur, nak! Sudah malam ini!" Ibu Dennis berteriak dari bawah tangga. Meminta anak-anaknya untuk segera tidur karena sudah jam sebelas malam.
__ADS_1
"I–iya, Buu!" Setelah Dennis menjawab, Ibunya Dennis pun terdiam dan beliau kembali ke ruang tamu untuk menonton acara malam sebelum tidur.
"Kak Dian. Sepertinya kita harus tidur sekarang." Bisik Dennis pada Akihiro. Ia menutup buku komik, lalu meletakan kembali komik yang ia baca ke tempatnya. Setelah itu, Dennis naik ke atas tempat tidurnya.
Tapi setelah Dennis merapihkan tempat tidurnya, ia melihat Akihiro masih sibuk dengan komiknya. Sekali lagi, Dennis pun menegurnya. "Kak Dian! Ayo naik ke tempat tidur!"
"Ah, nanti dulu, dong. Aku belum mau tidur." Dian menjawab cuek.
"Tapi... nanti ibuku akan marah dan... besok jika kita bangun telat, Kak Zuki akan marah pada kita jika kita susah dibangunin."
"Kita kan mau begadang. Jadi tidak mungkin kita tidur sekarang."
"Tapi... nanti bagaimana kalau kita telat bangunnya? Nanti pagi-pagi kita bisa babak belur sama Kak Zuki."
"Begini saja. Kita kunci pintunya dan selama tidur kita menggunakan ini." Akihiro memberikan handset pada Dennis. Dennis menerimanya. Ia tersenyum dan mengangguk. Ternyata dia ingin mengikuti caranya Akihiro.
****
Akihiro masih tertidur nyenyak. Sementara Dennis, tidak. Dia merasa terganggu karena suara keributan dari depan kamarnya itu. Walau sudah memakai handset, Dennis bisa mendengar suara teriakan Mizuki dari depan. Berisik sekali!
"DENNIS! DIAN! KALIAN MAU BANGUN ... ATAU AKU HARUS...."
CKLEK!
Mizuki terdiam setelah ia mendengar suara kunci diputar dari dalam kamar. Mizuki tahu pasti ada yang sudah bangun di dalam sana. Pintu pun terbuka dan muncul sosok Dennis dari balik pintu.
"Dennis! Huh, sepertinya kau memang anak yang paling mudah untuk dibangunkan, ya?" Mizuki berkacak pinggang sambil menatap Dennis yang ada di depannya. Wajah Dennis masih terlihat seperti orang yang mengantuk. Sesekali ia memejamkan mata dan kembali membukanya dengan cepat karena menahan kantuknya.
"Ah, Kak Zuki... pagi-pagi sudah berisik saja." Ujar Dennis pelan. Ia menyandarkan tubuhnya di pinggir pintu, lalu mengucek matanya.
"Kalian tidak mau bangun dari tadi. Oh iya, pergi ke dapur duluan. Ibumu sudah menunggu."
"Baiklah..." Dennis melangkahkan kakinya pelan keluar dari kamarnya. Tapi sebelum menuruni tangga, Mizuki sempat menghentikan langkahnya dan bertanya, "Kenapa kau sendirian? Di mana si Dian itu?" tanya Mizuki dingin.
Melihat ekspresinya, Dennis jadi merinding. Dengan ragu, Dennis menjawab, "Ka–Kak Dian... ada di kamar."
"Sedang apa dia di sana?"
"Di–dia... dia masih tidur!"
"Ooh~ Begitu, ya?" Mizuki tersenyum keji. Lalu setelah itu, ia melepaskan Dennis dan berjalan secara perlahan ke kamar Dennis. Langkah yang pelan, tapi hentakan kaki yang kuat. Mizuki berjalan seperti Zombie yang sedang mencari mangsanya.
"Oh, tidak. Aku harus cepat pergi dari sini!" Dennis langsung berlari menuruni tangga. Ia tahu apa yang akan terjadi di dalam kamarnya. Pasti akan bahaya jika Dennis tetap berdiri di tempatnya.
"Ya ampun... Kak Dian pasti tidak akan selamat!" Tak lama Dennis bergumam seperti itu, tiba-tiba saja suara keributan muncul dari dalam kamar Dennis. Lalu setelah itu, suara teriakan ketakutan Akihiro juga muncul.
"Kan benar! Akihiro tidak akan bisa selamat jika Mizuki sudah seperti itu."
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8