Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 46– Rencana Dilaksanakan, part 4


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


PATS!!


Lampu ruangan dimatikan, lalu muncul lampu sorot lainnya yang lebih terang. Zainal berdiri di depan Ibu Villa sambil menyoroti wajahnya dengan cahaya ponselnya yang terang. Semuanya berkumpul mendekati Ibu Villa yang terikat erat di kursi yang empuk.


"Jawab pertanyaanku!" Zainal membentaknya. "Di mana kau meletakkan guru kami sekarang ini?!"


"Zen, jangan berlebihan, deh," Gumam Mizuki.


"Eh, memang seharusnya seperti ini, dong! Aku suka nonton di film detektif. Kalah mau mengintrogasi orang, kita harus mematikan seluruh ruangan dan cahaya hanya fokus pada wajah tersangka." Jelas Zainal. Semuanya hanya bisa diam. Tapi ternyata Rasya juga ikut-ikutan sama seperti Zainal. Ia mengeluarkan ponselnya dan menyalakan lampu flash. Ia juga ikut menyoroti wajah Ibu Villa.


Ibu Villa yang sudah tersadar sedari tadi hanya bisa menyipitkan mata dan menunduk karena silau dengan cahaya yang disorotkan ke arahnya.


Tapi karena Ibu Villa itu selalu menunduk, wajahnya tidak terlihat dan ia tidak ingin menjawab pertanyaan Zainal, telah membuat Zainal jadi geram. Ia menjambak rambut Ibu Villa dengan kasar lalu menarik kepalanya. Sekali lagi ia bertanya dengan nada membentak, "Dimana guruku, sialan?!"


"Kak Zain, tidak sopan sama orang tua." Ujar Adel pelan.


Zainal membalasnya dengan nada dingin dan melirik tajam pada Adel. "Tidak ada kata 'sopan' untuk penjahat seperti dia."


"Cepat jawab! Atau aku akan mengeksekusi kau lebih cepat, nih!" Rasya juga ikut membentak. Ia mendekatkan pisau yang ia rebut dari Mizuki ke leher si Ibu Villa untuk membuatnya bicara.


"Cepat jawab! Kami hanya ingin mengetahui keadaan guru kami saja!" Zainal membentak lagi. Mizuki dan Adel hanya bisa diam. Biarkan kedua teman mereka yang akan mengurus tugas mereka.


"Kalian tidak akan bisa membuat saya bicara." Ujar Ibu Villa. Bukan itu jawaban yang ingin Zainal dan Rasya dengar. Mereka berdua semakin geram dengannya.


"Tentu saja ada!" Zainal membentak, lalu menggocoh wajah Ibu Villa sampai hidungnya mengeluarkan darah. Setelah itu, Rasya menusuk tangan Ibu Villa dengan pisau yang ia pegang. Darah segar telah mengalir dari luka besar di tangannya.

__ADS_1


Setelah menusuk, Rasya mencabut kembali pisaunya, lalu menatap tajam ke Ibu Villa. Ia kembali berujar pelan dengan nada yang menyeramkan. "Cepat katakan di mana guru kami? Kalau tidak, aku tidak akan segan-segan untuk membuatmu lebih tersiksa."


"Iya. Kami tidak ingin membunuhmu lebih cepat. Karena akan percuma jika kami membunuhmu sebelum kau menjawab pertanyaan kami." Timpal Zainal. Ia memukul wajah Ibu Villa sekali lagi, lalu bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Cepat katakan! Di mana kau menyembunyikan guru kami, hah?!"


"Katakan saja, Bu!" Adel juga ikut membentak. Mizuki terkejut mendengarnya. "Jangan sampai kami mengulangi pertanyaannya itu. Jawab saja, Bu!"


Mizuki mengeluarkan suara erangan, lalu matanya kembali melirik ke arah Ibu Villa. Ia tidak kuat menahannya lagi. Jadi secara tidak sengaja, Mizuki juga ikut membentak Ibu Villa. "Jangan bilang kalau kau sudah membunuhnya!"


"Hah?!" Zainal terkejut mendengarnya. Ia kembali melirik tajam ke arah Ibu Villa, lalu menjambak rambutnya lagi. "Apa kau telah membunuhnya?! Jika kau benar-benar melakukannya, aku akan membunuhmu lebih sekarang juga!!"


Rasya menggertakkan giginya, lalu menendang kursi yang Ibu Villa duduki dengan kasar. "Cepat jawab, sialan!"


Mizuki terkejut mendengarnya. Ia membuang muka dari Rasya. Ia sedikit memonyongkan bibirnya dan bergumam, "Untuk seorang gadis, ternyata dia kasar juga, ya?"


"Berikan," Zainal merebut pisau yang dipegang Rasya. Setelah itu, ia mengarahkan pisaunya ke tangan sebelah Ibu Villa. "Cepat jawab. Hanya satu pertanyaan saja susah sekali. Kalau tidak menjawabnya, aku... akan membuatmu lebih merasa tersiksa!"


Ibu Villa masih diam. Zainal tidak sabar menunggu. Langsung saja ia mulai melakukan hal kejamnya. Ia mendekatkan mata pisaunya di telapak tangan Ibu Villa, lalu menggoresnya. Seperti sedang mengiris daging.


Ibu Villa memejamkan matanya. Ia menahan rasa sakitnya. Darahnya kembali mengalir. Tangan Zainal sudah mulai lengket karena terkena darah yang menjijikkan itu.


Setelah Zainal berhasil memisahkan jari tengah itu, ia menunjukkan jari tengahnya Ibu Villa ke depan wajahnya dan berkata, "Lihat? Memangnya Ibu saja yang bisa berbuat kejam seperti ini? Aku juga! Aku tahu kalau kalian semua membunuh manusia dengan memotong jari mereka terlebih dahulu. Maka dari itu sekarang, aku akan memotong semua jarimu sebelum membunuhmu."


Mizuki dan Adel terus membuang muka selama Zainal memotong jari tengah itu. Mereka tidak kuat melihatnya. Tapi berbeda dengan Rasya yang berdiri dekat dengan Zainal. Entah kenapa perempuan yang satu itu ternyata kuat melihat hal yang menjijikkan seperti yang Zainal lakukan.


"Ah!" Zainal mendengar sesuatu. Suara erangan kesakitan yang keluar dari orang yang ia eksekusi di depannya itu. Zainal tersenyum sinis. "Hah? Kau sudah merasa kesakitan sekarang? Jika kau menyukai daging manusia, kenapa kau tidak makan dagingmu sendiri saja sana!!"


Zainal memasukkan potongan jari yang ia pegang ke dalam mulut Ibu Villa dengan paksa. Tapi setelah Zainal memasukkannya, Ibu Villa itu malah mengeluarkan potongan jari itu dari mulutnya.


Setelah itu, Ibu Villa mulai gemetar. Air mata keluar dari matanya dan menetes ke lukanya. Terasa perih dan sangat menyakitkan. Zainal senang melihat lawan yang ia benci itu mulai merasa tersiksa.


Kali ini, ia akan bersikap lembut. Dirinya kembali menarik kepala Ibu Villa agar matanya bisa menatapnya. "Di mana guru kami sekarang ini?! Jika kau menjawabnya, maka aku akan membiarkanmu seperti ini sampai kau mati karena kehabisan darah. Tapi jika kau menjawab kalau kau telah membunuhnya, maka aku tidak akan segan-segan untuk memutuskan semua jarimu bahkan sampai kepala gemukmu itu!" Zainal mengancam.


Ibu Villa merinding mendengarnya. Sekarang ini, karena ia sudah merasa tidak sanggup melawan keempat anak muda yang akan membunuhnya itu, maka Ibu Villa itu akan menjawab dengan jujur.

__ADS_1


"Guru kalian masih hidup. Sa–saya mengurungnya di dalam... sebuah gubuk tak jauh dari sini." Ia menjawab jujur akhirnya.


Zainal tersenyum senang. Ia melepaskan kepala Ibu Villa, lalu berjalan mundur menjauh darinya. "Bagus. Makasih sudah menjawab dan tidak membunuh guru kami."


"Ta–tapi... guru dari sekolah lain itu... sudah aku cincang dan aku–"


ZLEB!!!


"Ah!" Mizuki dan Adel terkejut. Begitu juga dengan Rasya. Belum saja Ibu Villa menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja Zainal melempar pisaunya tepat ke kening Ibu Villa. Setelah itu, Zainal kembali melangkah mendekatinya. Ia mencabut pisau itu lagi, lalu mencolok kedua matanya.


Setelah itu, Zainal menarik lidah Ibu Villa lalu memotongnya dengan pisau. Zainal masih belum selesai di situ, ia lanjut dengan tubuh lainnya.


Tanpa suara, Zainal menusuk-nusuk tubuh Ibu Villa sampai berlubang banyak. Seketika, kursi yang ia duduki dan kain yang mengikat tubuhnya telah dipenuhi oleh darah yang terus mengalir.


Setelah puas menusuk, Zainal menoleh ke belakang. Ia melihat ketiga teman perempuannya telah ketakutan melihat Zainal yang terlihat seperti seorang monster yang kejam dan suka membunuh.


Saat itu, Zainal hanya menoleh ke belakang. Poni kanannya tidak menutup mata merahnya. Sehingga saat poni itu terbuka, Zainal terlihat menyeramkan. Dengan wajah penuh dengan bercak darah, ia tersenyum keji menatap teman-temannya. Ekspresi wajahnya itu merasa puas dengan yang ia lakukan pada Ibu Villa.


"Teman-teman... sudah selesai semuanya. Sekarang, kita cari guru kita, yuk~" Ujar Zainal dengan nada menyeramkan. Setelah itu, ia mengangkat satu tangannya yang memegang pisau. Zainal menjilati pisau yang penuh dengan darah itu sebanyak 2 kali. Setelah itu, Zainal menjatuhkan pisaunya.


Ketiga temannya yang menatap Zainal dengan ekspresi ketakutan itu hanya bisa mengangguk. Setelah itu, Zainal kembali menutup mata bonekanya dengan poninya, setelah itu berjalan perlahan menghampiri teman-temannya.


Setelah puas membunuh Ibu Villa, ia akan mencari gurunya sekarang. Zainal dan ketiga teman perempuannya akan pergi meninggalkan kamar dan Ibu Villa yang telah mati begitu saja.


Sekarang, pergi ke tempat Bu Mia disekap!


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


*Hiatus mulai besok. Ditulis kembali hari Minggu DEPAN


__ADS_2