
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Halo kalian semua! Pendatang baru, ya?"
"Ya? Kau siapa?" Rei menyahut dengan tampang dingin. Lalu berdiri dari tempat duduknya. Semuanya juga berdiri, mengikuti Rei.
Ada seorang cowok tinggi berambut kuning kecoklatan berdiri di hadapan Rei. Ia mengangkat tangannya sampai depan dada lalu melambai kecil. "Yo! Kau pasti pemimpin grup sekolah kalian, ya? Kenalan, dong! Hehe...."
"Di kelompok kami tidak ada yang namanya pemimpin grup." Rei menjawab. Tapi sekarang ia merubah ekspresinya menjadi wajah datar. Lebih tepatnya tidak berekspresi sama sekali.
"Oh, begitu, ya? Kalau kelompok sekolah kami ada! Akulah pemimpin mereka. Kami semua ini sekelas. Kelompok dari sekolah Adiwata di kota dekat sini. Ah... apa sih nama kotanya?" Lelaki itu kebingungan sendiri dengan perkataannya. Lalu ia berbisik dengan teman perempuan yang berdiri di sampingnya.
"Distrik 3?" Temannya menyahut. Lelaki itu pun mengangguk cepat, lalu kembali melirik ke arah Rei. "Ah, iya itu. Eh? Emangnya ada kota distrik 3, ya?" Ia kembali berbisik lagi.
Rei jadi bosan mendengarnya. Lalu ia menyela pembicaraan ini. "Hah, nama kota tidak penting. Sekarang mau kalian apa?"
"Kak Rei... jangan kasar, dong." Dennis berbisik lirih pada Rei yang ada di sampingnya. Ia merasa tidak enak dengan orang-orang baru yang ada di hadapan mereka.
Rei menghela nafas lalu mengangguk. "Iya... iya...."
"Kami mau kenalan." Anak cowok itu menjawab Rei. Ia mengulurkan tangan pada Rei dan mulai menyebutkan namanya. "Namaku Zein! Itu saja. Aku tidak memiliki nama panjang. Dan rumahku ada di dekat sekolahku. Salam kenal, ya?" Anak cowok itu tersenyum.
Dengan ragu, Rei menjabat tangan anak itu. Setelah tangan mereka saling menggenggam, Zein mengayunkannya dengan cepat, lalu melepaskan tangan Rei. "Nah! Sekarang siapa nama kamu?"
"Rei. Reizal Alfathir." Jawab Rei dingin. Ia tidak menjelaskan tentang dirinya, jadi dilanjut langsung saja ke Dennis. "Hai, kak! Kalau aku Dennis Efendy. Panggil Dennis aja gak apa-apa, kok, hehe..."
"Oke... salam kenal juga untukmu." Zein mengedipkan mata kanannya sedetik, lalu setelah itu ia menoleh ke belakang. Menatap teman-temannya yang lain untuk memperkenalkan diri mereka juga.
Sejak saat itu, mereka semua pun memberitahukan nama mereka masing-masing. Saling mengenal dan akhirnya berteman. Anak-anak dari sekolah lain juga baik-baik ternyata. Dennis senang dapat teman baru. Apalagi dengan pemimpin mereka yaitu Zein. Kelihatannya dia orang yang ramah dan ceria.
****
__ADS_1
Beberapa menit setelah perkenalan dengan teman baru, Bu Mia meminta murid-muridnya untuk masuk ke dalam Villa. Mereka menaiki 4 anak tangga, lalu membuka sepatu. Setelah masuk melewati pintu utama Villa, ternyata dalamnya terlihat sangat besar juga. Tapi yang kelihatan besar hanya aulanya saja.
Di pojok ruangan aula terdapat satu kaca jendela yang besar tanpa tirai. Mungkin jendela itu digunakan untuk melihat bintang malam yang indah dari ketinggian puncak bukit di Villa ini. Lalu di depan jendela itu ada sebuah panggung kecil-kecilan yang digunakan sebagai tempat penampilan pentas, konser dan lain-lain. Apa nanti malam mereka semua akan berpesta dalam aula itu?
Dennis berharap seperti itu. Karena pasti akan sangat menyenangkan jika mereka semua berkumpul di aula untuk bernyanyi dan makan bersama.
Belum selesai. Di pojok sebaliknya, terdapat banyak bangku kayu yang terletak di sudut ruangan. Dan beberapa jendela lainnya. Juga ada satu pintu menuju ke luar. Anggap itu pintu utama kedua. Di depan pintu itu terdapat meja dan beberapa bangku lainnya. Mungkin akan digunakan untuk nongkrong bersama di malam hari dan pagi hari. Untuk makan dan ngopi juga enak. Apalagi... saat baru saja menginjak lantai di dalam Villa itu rasanya dingin dan udaranya juga tidak terlalu panas. Padahal berada di ketinggian puncak bukit. Tapi entah kenapa hawanya malah terasa sejuk dan tidak panas. Bagaimana dengan malam harinya? Pasti seperti di kutub.
"Sekarang kalian semua duduk dulu di sini, ya?" Bu Mia meminta semua anak muridnya untuk duduk di lantai tengah-tengah ruangan Villa. Lalu setelah itu, beliau berjalan menghampiri beberapa orang dewasa yang berdiri tak jauh dari kumpulan Dennis dan teman-temannya.
Ternyata beberapa orang dewasa itu adalah satu keluarga pemilik Villa. Mereka terdiri atas ibu dan ayah, dengan ketiga anak mereka. Satu kakak lelaki yang seumuran dengan Natsuki (mungkin). Lalu kedua anak perempuan yang seumuran seperti Dennis dan yang lainnya. Salah satunya adalah si Cahya. Teman baru yang sudah Dennis kenal.
Mata Dennis terus menatap ke arah Cahya yang sedang tersenyum manis. Tapi setelah ia melirik sedikit ke orang yang ada di sampingnya, Dennis sedikit terkejut. Karena kakaknya Cahya yang memiliki rambut hitam panjang itu menatap tajam ke arah Dennis sambil tersenyum. Entah ada apa dengan anak yang satu itu. Tampangnya menyeramkan, tapi kelihatannya, dari gaya bicaranya, dia seperti orang baik. Suaranya juga lembut saat Dennis dengar di dekat tanjakan menuju ke Villa ini.
Tidak berani menatap kakaknya Cahya, Dennis pun melirik kembali ke Cahya. Tapi setelah Cahya melirik ke arah Dennis, seketika Dennis langsung membuang muka dengan menyembunyikan kepalanya dibalik tubuh temannya yang duduk di depannya. Rei yang ada di sampingnya terheran melihat tingkah Dennis. Karena penasaran, ia pun berbisik dan bertanya, "Kau kenapa, sih? Dari tadi kayak tidak nyaman gitu."
Dennis kembali menegakkan tubuhnya dan menjawab dengan cepat, "Aku baik-baik saja, kok! Sungguh!"
"Hah, dasar. Kalau ada apa-apa. Panggil aku saja, ya?"
"I–iya!"
Semuanya mengangguk paham. "Baik, Bu!"
"Untuk kamar putri, ada di dalam bangunan ini. Lalu... untuk kamar putra, ada di depan sana. Dekat dengan turunan kan ada beberapa rumah kecil. Rumah kecil itu akan menjadi kamar kalian!"
"Nah, sekarang langsung saja kalian pergi cari kamarnya masing-masing, dan... sekali lagi, selamat datang di Villa Bukittinggi!"
"YAAA!!"
Dennis dan teman-temannya berdiri kembali lalu berpencar untuk mencari kamar mereka masing-masing. Para anak laki-laki dan perempuan berpencar. Mereka pergi sesuai dengan petunjuk dari Bu Mia. Dennis, Rei, Akihiro dan Natsuki pergi bersama keluar dari Villa, memakai sepatu mereka kembali, lalu berjalan mendekati rumah-rumah kecil yang ada di dekat tanjakan.
Saat sampai di sana, semuanya langsung mencari nama-nama mereka yang sudah tertempel di depan pintu. Jika ada namanya, maka itulah kamar mereka. Satu kamar dimasuki oleh 5 orang anak. Dan ternyata... Dennis dan Rei satu kamar. Tapi kalau Akihiro dan Natsuki berada di kamar lainnya. Walau pisah kamar, tapi ternyata kamar mereka bersampingan. Sungguh! Mereka memang sudah ditakdirkan untuk bersama.
Di dalam kamarnya, Dennis melihat ada dua tempat tidur besar di sana. Kasurnya terasa empuk sekali. Akan cukup untuk 5 orang. Dan 3 orang lainnya itu adalah Azra, Zainal dan Davin.
"Kenapa harus aku yang sekamar dengan Dennis, sih? Menyebalkan." Gerutu Davin dalam hati. Ia meletakan tasnya di samping tempat tidur, lalu setelah itu membanting tubuhnya ke atas kasur. "Ah, nyaman juga ternyata di sini."
__ADS_1
"Ah, Kak Davin! Kau mau ikut dengan aku tidak?" tanya Dennis yang ada di depan pintu. Davin membuka matanya, lalu menyahut. "Mau ke mana?"
"Aku sama Kak Rei ingin berkeliling di sekitar Villa ini sambil menikmati–"
"Pergi saja sana. Aku ingin beristirahat di sini." Davin menyela, lalu kembali menutup matanya. Dennis tidak keberatan jika Davin tidak ingin ikut. Jadi Dennis dan Rei saja yang pergi. Tapi ternyata setelah Dennis dan Rei pergi, Azra juga ikut keluar.
Kalau Zainal masih di dalam kamar. Ia juga ingin beristirahat di sana sambil memainkan ponselnya. Dan Davin... entah sejak kapan, dia sudah tertidur begitu saja di atas tempat tidur sampingnya Zainal.
Zainal akan membiarkan temannya itu tidur. Ia tidak terlalu mementingkannya. Sekarang lanjut main ponsel saja. Tapi tak lama, Zainal dikejutkan dengan bunyi benda jatuh yang terdengar di dalam kamarnya. Saat dilihat, ternyata hanya sapu yang tergeletak di sudut ruangan saja yang jatuh.
"Mungkin angin." Tanpa memedulikannya, Zainal pun kembali memainkan ponselnya.
****
"Hah... nyaman dan sejuk sekali di sini! Aku menyukai cuacanya!" Dennis berteriak senang. Saat ini dia sedang berada di atas papan untuk selfie. Dia berdiri di atas papan itu bersama dengan Rei. Dari atas papan, bisa terlihat hutan dan perbukitan lainnya yang terlihat indah.
"Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini." Dengan cepat, Dennis pun mengambil ponsel di sakunya. Ia akan memotret pemandangan alam yang indah di depan matanya itu.
"Emm... aku akan ke sana sebentar, ya, Dennis?" ujar Rei sambil melangkahkan kakinya pergi. Dennis tidak mendengar Rei karena ia terlalu senang memotret. Rei pergi ke tempat lain yang ingin ia lihat. Sementara Dennis sendirian di atas papan selfie itu.
Setelah mendapat banyak gambar, Dennis menurunkan tangannya lalu memeriksa hasil fotonya di ponsel. Bagus-bagus sekali. Dennis akan menyimpannya.
"Kau... sedang apa di sini?" Dennis merasa ada yang menyentuh kedua pundaknya. Ia merasa tidak nyaman setelah merasa ada sesuatu yang lembut dan kenyal menyentuh punggungnya. Lalu dengan cepat, Dennis pun berbalik badan dan langsung menjauh dari orang di belakangnya itu.
"Eh? Itu kau?" Dennis akhirnya tahu siapa orang yang muncul itu. Ternyata si gadis berambut panjang dari keluarga pemilik Villa. Lalu mata Dennis melirik ke bagian bawah tubuh si gadis itu dan terkejut, lalu langsung mengedipkan mata dan membuang muka. Karena ia melihat baju yang dikenakan gadis cantik itu sedikit terbuka di bagian dada.
"Maaf. Itu... kancing bajunya terbuka." Ujar Dennis pelan tanpa melirik ke arah lawan bicaranya. Gadis itu berjalan mendekat ke arah Dennis. Lalu mendekatkan tubuhnya pada Dennis dan berbisik, "Oh benarkah? Bisakah kau menutupnya untukku?"
Gadis itu menggoda Dennis dengan dadanya yang terlihat besar. Wajah Dennis memerah, lalu dengan cepat ia pun menjauhi gadis itu. Dennis berusaha untuk menahannya. Ia merasa tidak nyaman jika melihat anak perempuan yang berpenampilan seperti itu. "Ma–maaf! Aku harus pergi sekarang!" Dennis berlari. Ia ingin mencari Rei. Dia tidak ingin dekat dengan gadis yang belum ia kenal itu.
Di atas papan, Gadis itu bersandar di pagar papan, lalu mendesah kecil. Ia tersenyum sinis melihat Dennis. "Sepertinya dia sulit untuk didekati. Tapi tenang saja. Dia akan jadi milikku."
*
*
*
__ADS_1
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8