
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Yuni mengajak Rei sampai akhirnya mereka berada di dapur dekat dengan meja makan. Di dekat meja makan itu ada Ibunya Dennis yang sedang duduk di kursi depan meja.
"Ah, Rei... untung kamu mau Ibu ajak ke sini untuk berdiskusi." Ujar Ibunya Dennis setelah Rei dan Yuni duduk di kursi sampingnya.
"Ya? Ibu mau apa memanggilku? Apa yang akan kita diskusikan? Apa ada masalah?" tanya Rei lirih.
"Begini, ibu hanya ingin tanya sesuatu padamu. Saat kamu sedang berusaha untuk menghilangkan makhluk yang ada di dalam tubuh Dennis itu, apakah kamu merasakan ada yang aneh? Maksud Ibu, apa kau merasa seperti makhluk itu jadi lebih kuat?" tanya Ibunya Dennis.
Seketika Rei pun tersentak. "Eh? Untuk apa Ibu menanyakan hal itu sekarang ini?" tanya Rei heran sekaligus penasaran.
"Begini kak Rei. Sebenarnya dari tadi, aku dengan Ibundanya Dennis ini sedang membicarakan tentang makhluk berwujud wanita yang keluar terakhir dari tubuh Dennis itu. Kan sudah aku beritahu padamu. Apa kau masih mengingat ceritaku?" jawab Yuni dan kembali bertanya.
Rei mengangguk. "Oh yang itu... iya, iya! Aku masih mengingatnya. Memangnya ada apa?"
"Ibu Dennis hanya bertanya. Ia ingin memberitahu kita tentang sosok wanita itu, Rei." Ujar Yuni.
"Oh. Tadi Ibu ingin bertanya apa padaku?" tanya Rei lagi.
"Nih, saat kamu melawan makhluk yang ada di dalam tubuh Dennis itu, apakah kamu merasa ada makhluk lain yang lebih kuat?" Ibu Dennis bertanya dengan kalimat yang sama seperti sebelumnya.
"Iya. Kejadian itu baru pertama kali aku alami. Mengalahkan makhluk jahat lain yang ternyata memiliki kekuatan yang melebihi dari kekuatanku. Aku pikir saat itu, aku tidak akan bisa mengalahkan sosok jahat yang telah merasuki tubuh Dennis itu. Tapi untunglah. Pada akhirnya aku berhasil." Jelas Rei.
"Nah! Sebenarnya makhluk asli buatan Diana yang merasuki Dennis itu tidak sekuat yang sebenarnya. Yang membuatnya jadi terlihat kuat adalah karena sosok itu telah bersatu dengan sosok lainnya yang sebelumnya pernah merasuki Dennis tanpa ia sadari." Terang Ibunya Dennis.
"Eh? Jadi selama ini, Dennis selalu diganggu oleh sosok jahat lainnya?!" tanya Rei tidak percaya.
"Iya. Sosok itulah yang pernah kita bicarakan sebelumnya, Rei. Sosok hitam jahat yang berwujud seperti wanita itu." Ujar Yuni.
Rei terkejut. "Jadi... sosok wanita itu yang selalu ada di dalam tubuh Dennis? Tapi sejak kapan?"
"Sejak Dennis berpacaran dengan si Diana." Jawab Ibunya Dennis. "Diana lah yang sudah menyebarkan ilmu hitam pada Dennis. Lebih tepatnya, untuk menghancurkan hidup anak saya secara perlahan."
"Eh, benarkah?"
"Ya. Karena sejak awal, saya juga tidak percaya dengan Diana itu. Tapi karena anak saya sudah terlanjur cinta dengan Diana, jadi terpaksa, saya biarkan Dennis bersama dengan Diana. Mereka berdua langgeng sampai mereka masuk SMK yang sama di kota. Dan... saat di situlah, masalah pun dimulai...."
Flashback– Cerita Ibunya Dennis tentang hubungan Dennis dan Diana~
__ADS_1
4 tahun yang lalu~ Dennis saat masih SMP
"Ah, aduh... aku terlambat lagi! Ah!" Dennis yang memakai seragam sekolah putih biru dengan menggendong tasnya di belakang itu sedang berlari tergesa-gesa untuk pergi ke sekolah.
Pada akhirnya, ia pun berhasil sampai di depan gerbang sekolahnya tepat waktu. Di depan gerbang ia berusaha untuk mengatur nafasnya yang kelelahan dulu, baru ia akan masuk ke dalam lingkungan sekolah sebelum gerbang yang ada di depannya itu ditutup.
Puk!
Dennis terkejut. Karena tiba-tiba saja dari belakang ada seseorang yang menepuk pundaknya. Dengan cepat, Dennis menengok ke belakang.
"Eh, kamu tidak apa-apa?"
Dennis membesarkan matanya. Karena di sampingnya itu, ia melihat ada seorang gadis cantik dengan rambut putih panjang yang terurai sampai lututnya. "E–eh, kamu siapa?" tanya Dennis ragu.
"Oh, emm... anu..." Gadis itu terlihat takut ingin menjawab karena mungkin ia merasa malu. Lalu tanpa menjawab pertanyaan Dennis tadi, tiba-tiba saja gadis itu langsung berlari masuk ke dalam lingkungan sekolah dan meninggalkan Dennis yang masih berdiri di depan gerbang.
Dennis menatap gadis itu bingung. "Eh? Ada apa dengannya?" Ia bergumam. "Dia kok asing banget, ya? Sepertinya aku belum melihat gadis itu."
"Eh, kamu ngapain di depan terus? Cepat masuk sana! Sebentar lagi gerbang akan ditutup!" tegur Pak Satpam penjaga gerbang di sekolah Dennis.
Dennis terkejut karena disaat ia sedang bengong sambil berfikir, tiba-tiba saja ada yang menegurnya. Lalu dengan cepat, Dennis langsung berlari menuju ke kelasnya setelah ia mendengar suara bel masuk kelas berbunyi.
Saat dikelasnya, Wali kelas Dennis memberikan pengumuman baru tentang kedatangan murid baru. Siapa lagi kalau bukan gadis berambut putih itu. Dia datang sebagai murid baru di kelas Dennis.
"Eh? Dia kan...."
****
"Jadi... saat SMP dulu, si Diana itu menjadi murid baru di kelas Dennis? Apa ia hanya berpura-pura menjadi murid baru?" tanya Rei setelah ia mendengar setengah cerita Ibunya Dennis.
"Emm... sepertinya Diana itu memang murid baru. Karena sebelumnya, Dennis belum pernah bertemu dengan gadis itu. Dan saat di depan gerbang itulah pertemuan pertama Dennis dengan Diana." Jawab Ibunya Dennis.
Rei mengangguk paham. "Oke. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?" tanyanya lagi karena Rei penasaran dengan lanjutan cerita Ibunya Dennis.
"Hmm... kata Dennis, Diana itu anaknya agak malu-malu gimana gitu. Terus, dia juga memiliki sifat yang penakut dan sedikit ceroboh. Diana juga tidak memiliki teman karena mata merahnya yang gadis itu miliki. Makanya, Dennis selalu dekat dan menemani gadis itu. Tapi... seiring berjalannya waktu... lama kelamaan, mereka jadi punya perasaan satu sama lain...."
****
Kembali kepada Dennis dan Diana di masa lalu–
Setiap hari dan setiap saat, Dennis dan Diana menghabiskan waktu bersama. Entah itu di sekolah, maupun di luar sekolah. Intinya mereka sudah menjadi sahabat dekat. Malah mungkin... lebih dari sekedar sahabat.
Saat ini, mereka berdua sudah naik ke kelas 3 SMP. Masih di lingkungan sekolah yang sama.
Jam istirahat, seperti biasa, mereka berdua pergi ke atap sekolah/rooftop untuk makan bekal bersama di sana.
__ADS_1
Dennis dan Diana duduk di kursi panjang yang sudah tersedia. Mereka membuka bekal yang mereka bawa, lalu memakannya bersama.
"Emm... itu, kenapa tidak ada orang yang mendekati kita, ya?" gumam Dennis sambil sesekali melahap makannya.
"Ini salahku. Karena mataku ini." Jawab Diana pelan.
"Oh ini bukan salahmu. Kau tahu? Matamu itu indah, tahu! Kalau kau memang memiliki mata itu dari lahir, ya... kau bisa menjelaskan pada mereka semua kalau matamu ini tidak akan bisa membahayakan." Jelas Dennis lirih. Ia sendiri juga tidak suka jika ada orang lain yang menghina Diana karena mata merahnya itu yang dianggap mengerikan.
"Ehm... kamu memang sahabat terbaik, Dennis!" Diana memeluk Dennis dengan perasaan senang.
****
Kembali ke Ibunya Dennis lagi yang masih terus bercerita tanpa henti. "Dennis selalu membela Diana. Sampai akhirnya Dennis pun berani mengungkapkan perasaannya pada Diana. Dan akhirnya, mereka pun jadi memiliki hubungan yang lebih dari sekedar sahabat. Dan... saat Diana ulang tahun, Dennis berisik keras meminta dibelikan kucing untuk hadiah ulang tahunnya si Diana."
"Lalu ibu membelikan Dennis kucing itu?" tanya Rei.
"Iya... terpaksa. Ya sudah ibu belikan saja kucing dengan harga 500 ribu."
"Lalu apakah Diana senang mendapat kucing itu?"
"Iya dia sungguh senang. Tapi ia hanya bisa memelihara kucingnya itu selama 3 Minggu saja karena... kucingnya dimakan oleh anjing peliharaan tetangganya yang galak. Itulah alasan yang Diana berikan pada Dennis."
"Loh? Anjing makan kucing?!"
"Iya. Katanya juga, kucingnya itu telah lama hilang. Saat ditemukan, kucing itu ada di halaman belakang rumahnya dalam keadaan yang mengenaskan. Hanya tersisah tulang dan daging kecil-kecil, juga ada kalung kucingnya yang berlumuran darah." Jelas Ibunya Dennis.
"Katanya, itu hanya alasan Diana, kan? Tapi sebenarnya apa yang telah terjadi oleh kucing itu?" tanya Yuni.
"Sebenarnya..., Diana sendiri lah yang sudah membunuh kucingnya sendiri. Dia memutilasi kucingnya itu. Entah untuk apa tujuannya."
"Lalu... apakah Dennis mengetahuinya? Kalau Diana yang sudah membunuh kucingnya itu?" tanya Rei.
"Iya Dennis tahu."
"Oh benarkah? Kapan Dennis mengetahuinya?"
"Saat kencan pertama mereka pada malam hari dan saat malam itulah... Dennis membunuh Diana!"
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8