
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Dennis, kau tahu? Tempatmu saat ini sama persis dengan yang ada di dalam mimpiku. Saat itu, kau dibunuh oleh Rina di dalam gua itu juga, loh!"
[ Eh?! ] Dennis terkejut. Ia memindahkan posisi berdirinya ke tempat yang lebih jauh dari dekat gua agar Rina tidak bisa mendengarnya bicara dengan Rei. [ La–lalu apa Kak Rei pikir, mimpi itu akan menjadi kenyataan? ]
"Aku tidak tahu, Dennis." Rei menggeleng. Ia jadi terlihat cemas semenjak nada bicara Dennis sudah seperti orang ketakutan. "Tapi untuk mencegahnya, aku ingin kau membunuh perempuan itu lebih cepat sebelum dia memulai aksinya."
[ Tapi Kak Dennis, aku ingin dia melihat kunang-kunang untuk yang terakhir kalinya. Karena itu yang dia minta. Dia sebelumnya ingin mengajakku pergi untuk melihat hewan bercahaya itu. ]
"Dennis, jangan bilang kalau kau takut membunuh perempuan itu?"
[ Eh? Ah, tidak kok.... ]
"Kalau tidak, kenapa kau membiarkan dia untuk mengabulkan permintaan terakhirnya? Jika kau kabulkan, maka setelah kalian melihat kunang-kunang, kau tidak akan berani untuk membunuhnya karena siapa tahu saja Rina menceritakan hal-hal yang membuatmu jadi kasihan dengan wanita itu!" Jelas Rei dengan nada tegas. Ia sudah sering menebak sikap Dennis yang selalu merasa kasihan pada orang lain. Padahal Rei tahu kalau di dalam hati, Dennis selalu ingin membunuh Rina dan dia juga memiliki jiwa yang sedikit sadis.
Bahkan Rei sendiri juga merasa takut kalau Dennis mode marah mulai on. Karena ia menduga kalau biasanya, orang diam itu adalah orang yang paling mengerikan.
Dennis adalah teman satu-satunya yang jarang sekali untuk marah. Bahkan kalau diingat-ingat, Rei tidak pernah melihat Dennis marah besar seperti temannya yang lain.
Dennis itu orangnya terlalu lembut kalau menurut Rei. Karena hatinya juga terlalu baik dan dia juga termasuk anak yang masih polos.
Dennis terdiam setelah ia mendengar tegasan dari Rei itu. Ia akan mencoba untuk memikirkannya. Ia juga ingin menurut dengan Rei dan secepatnya akan membunuh Rina dan menyelesaikan rencananya. Tapi sebelum itu....
[ Kak Rei, beritahu aku, bagaimana aku bisa terbunuh oleh Rina? ] Dennis bertanya.
Rei menghela napas sejenak. Ia akan mencoba untuk mengingatnya. Rei membuka matanya, lalu kembali berbicara pada Dennis lewat teleponnya. "Dari awal, kau diajak oleh Rina untuk minum di dalam gua. Ngomong-ngomong, apa kau sudah periksa gua itu?"
[ Eh, belum. Tadinya aku ingin masuk, tapi Rina memintaku untuk di luar dulu sebentar. ]
"Oh, lalu... kenapa saat aku telepon tadi, kenapa ponselmu ada di tangan dia? Kenapa dia yang mengangkat teleponnya?" tanya Rei.
[ Oh, tadi Rina ingin memotret di dalam gua. Makanya dia meminjamkan ponselku padanya. ]
__ADS_1
Rei dan semua orang yang mendengar perkataan Dennis itu pun terkejut. "Kau meminjamkan ponselmu pada wanita seperti dia?!"
[ I–iya. Tapi tenang saja. Dia tidak bisa membuka message dan Email ku, kok! Semuanya sudah aku kunci, dan hanya kameranya saja yang masih terbuka. Bahkan album juga aku kunci. Jadi saat dia ingin melihat hasil jepretannya, dia akan membuka albumnya dulu. Jika tidak bisa dibuka, maka dia harus minta izin padaku. Jadi ponselku itu masih aman, dong! ] Jelas Dennis.
"Tapi bagaimana kalau saat kau tidak menyadarinya, si Rina itu malah memasukan sesuatu ke dalam ponselmu?! Kan bisa gawat! Bisa-bisa saja itu alat penyadap lagi!"
[ Tenang saja, Rei. Aku tahu ponselku bagaimana. Semua sudah aku periksa. Tidak ada apapun yang tertempel di body ponsel bahkan pada bagian dalamnya. ] Dennis berusaha untuk menjelaskan kalau ponselnya itu masih aman. Sekalian ia juga ingin membuat Rei jadi lebih tenang sedikit. Dari tadi dia selalu berbicara tegas pada Dennis.
"Baiklah kalau begitu, sekarang juga aku akan memberitahumu." Ujar Rei. Ia mulai sedikit agak tenang. "Intinya, kau harus mulai berjaga-jaga saat Rina mengajakmu untuk masuk ke dalam gua bersama. Jangan biarkan dirimu berjalan di depannya. Karena saat aku melihatnya di dalam mimpiku, Rina itu menyerangmu dari belakang."
[ Oh begitu. Aku akan berhati-hati dengannya. ]
"Iya. Intinya berjaga-jaga saja dengan sikap Rina, ya?"
[ Tenang saja, Rei. Aku tahu bagaimana cara untuk membunuhnya. ]
"Eh? Kau yakin ingin membunuhnya sekarang juga?"
[ Emm... setelah kupikir-pikir, lebih cepat lebih baik, kak Rei. ]
"Oh, oke. Tidak apa-apa." Rei menggeleng pelan. Setelah itu, Adel naik ke atas tempat tidur lalu mendekat ke Rei. Ia ingin bicara dengan kakaknya juga. Rei memberikan ponselnya pada Adel.
[ I–iya. Kalian jangan khawatir. ] Dennis menjawab. Ternyata dia belum mematikan teleponnya. Tapi tak lama setelah itu, tiba-tiba saja ada suara Rina yang muncul memanggil Dennis. [ Oh, sudah dulu, ya? ]
"Ya, Dennis. Ingat pesanku. Dia menyerang dari belakang. Berhati-hatilah." Rei berbisik.
[ Oke. Serahkan saja padaku. Dan jangan lupa juga dengan rencana kita selanjutnya. Jika aku sudah selesai dengan tugasku, aku akan menghubungi kalian lagi. ]
"Oke."
TUT!
"Kak Rei, apakah Kak Dennis akan baik-baik saja?" tanya Adel cemas.
Rei tersenyum, lalu mengelus kepala Adel dan menjawab dengan nada lembut. "Jangan khawatir. Kakakmu kan adalah kakak yang hebat. Dia tahu apa yang harus ia lakukan."
Adel tersenyum senang. Ia mengangguk cepat, lalu turun dari atas tempat tidur. Ia ingin bermain dengan Yuni saja.
Tapi sepertinya untuk saat ini, bukanlah waktu untuk bermain. Mereka harus menunggu Dennis sampai dia menyelesaikan tugasnya. Lalu setelah itu, rencana terakhir dan yang paling berbahaya akan dimulai.
__ADS_1
"Rei, jika kau belum merasa sehat, lebih baik jangan banyak bergerak dulu." Ujar Mizuki lirih padanya.
Rei hanya menatap Mizuki sekilas, lalu kembali melirik ke layar ponselnya. Tak lama setelah itu, Rei kembali menutup ponselnya, lalu bertanya, "Sebenarnya... ada apa denganku?"
"Eh? Apa kau tidak ingat?" tanya Akihiro dengan wajah terkejut.
"Yang aku ingat, saat aku sedang membunuh si Kakak Tertua itu di lapangan." Jawab Rei. "Apakah aku menang dan berhasil membunuhnya?"
"Emm... kau berhasil membunuhnya, kok." Zainal menjawab karena ia dan Adit saja yang melihat Rei membunuh Kai. "Tapi setelah itu, aku tidak tahu lagi."
"Eh?"
"Kau kan aku gendong." Adit yang akan menjelaskan. "Tapi karena kau tidak ingin aku gendong, jadi aku turunkan kamu saja dan membiarkan kau jalan sendiri. Tapi saat baru beberapa langkah, tiba-tiba kau malah terjatuh. Jadi terpaksa aku harus membawamu sampai ke kamar dengan menggendongmu lagi. Tapi saat di depan Villa, semua orang sangat khawatir dengan keadaanmu."
"Oh iya, apakah lukamu sudah tidak sakit lagi?" tanya Rashino. "Kau sebelumnya terluka parah. Tidak terlalu juga sih. Tapi Mizuki sudah mengobatimu dan membiarkan kau tidur sampai 3 jam malah."
"Eh? Tiga jam?!" Rei terkejut. "Se–selama itu, kah?"
Semuanya mengangguk.
"Ah, begitu." Rei merasa tidak enak. Lirikan matanya mengarah ke arah lain. Ia tidak menatap semua teman-temannya lagi. Tapi ia mencari seseorang yang ada di dalam kamarnya.
"Emm... Mizuki... Adel... Rasya dan... Zainal sudah kembali. Eh?! Oh iya! Apa kalian menemukan Bu Mia?!" Rei bertanya.
"Eh?! Bu Mia... emm..." Mereka semua tiba-tiba saja menundukkan kepala. Mereka tidak berani menjawab dan malah memasang wajah ketakutan.
Ekspresi mereka membuat Rei jadi bingung. Sekali lagi ia bertanya tentang Bu Mia. Tapi tetap tidak ada yang menjawab. Sampai akhirnya hanya ada satu orang saja yang menjawab. Yaitu Zainal.
"Bu Mia... dia sudah meninggal."
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1