Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 66– Dian Syahputra, part 3


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*Adegannya untuk tidak ditiru, ya?


*


*


*


"AAAAAAKH! Kakak! Hentikan! Kakaaaak!" Akihiro berteriak kesakitan saat kakaknya itu mengelupas kuku tangannya secara paksa. Sambil melakukan hal itu, Kakaknya yang bernama Tias itu hanya bisa tertawa senang sambil berbicara lewat kamera ponselnya. Karena... sambil dirinya menyiksa Akihiro, ia juga memasang kamera di depan Akihiro untuk menunjukan sesuatu yang menyenangkan baginya.


Setelah satu penuh kuku jarinya Akihiro ia potong dan tarik, seketika darah segar pun mengalir melewati sela-sela jari Akihiro. Akihiro hanya bisa menangis dan berusaha untuk menahan rasa sakitnya.


Ia tidak bisa bergerak untuk memberontak karena kakaknya telah mengikat dirinya di kursi kayu dan menutup matanya agar Akihiro tidak bisa melihat hal-hal mengerikan yang akan kakaknya lakukan terhadap dirinya.


"Hei! Hei! Tolong jangan berisik, dong!" bentak seorang lelaki dewasa dari luar pintu kamar Kak Tias. Ternyata lelaki dewasa itu adalah ayahnya Akihiro sendiri. Beliau sedang berdiri di depan pintu sambil memegang sebotol minuman keras di tangan kanannya.


"Dan kau, Tias. Jangan terlalu kasar sama anak itu. Dia bisa mati nanti, haha..." Ayahnya tertawa terbahak-bahak dan sesekali meminum minumannya, lalu setelah itu ia pergi meninggalkan kamar Kak Tias.


"Kak... kakak... aku mohon... lepaskan aku..." Akihiro meminta dengan nada lirih. Ia sudah terlihat lemas dan entah bagaimana ekspresi wajah kesakitan Akihiro. Kak Tias tidak bisa melihatnya karena matanya yang tertutup kain hitam.


"Eh~ Ini baru permulaan, loh! Tahan sedikit lagi, lah! Gue mau kasih tunjuk temen-temen gue tentang kesadisan gue. Makanya gue ngerekam ekspresi dan teriakan lu." Jelas Kak Tias. Lalu setelah itu, ia merogoh kantung celananya dan mengambil sebungkus rokok dari dalam saku celananya. Setelah itu, ia menyalakan korek gas, lalu membakar ujung rokok. Sesekali ia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya keluar.


Akihiro mencium asap rokok itu dan terkejut. Seketika ia langsung merasa khawatir dengan keadaan kakaknya. "Kak! Kakak kan sudah aku bilang untuk jangan merokok lagi. Itu tidak baik untuk kesehatan kakak. Nanti kakak bisa sakit, loh!"


PSSSSHHH!


"AAAAAKH!" Akihiro kembali berteriak kesakitan saat kakaknya itu tiba-tiba saja menusukan puntung rokok ke leher belakang Akihiro.


"Lu anak kecil gak usah sok nasehatin gue, ya?!"


"Kak! Ampun...."


"Haha! Coba kita lihat videonya." Kak Tias kembali melepas rokok itu lalu membuangnya. Setelah itu, ia menginjak rokok tersebut agar apinya menghilang. Lalu Kak Tias mengecek video di ponselnya. "Hmm... baru 4 menit. Belum seru, ah!" Ia bergumam, lalu meletakan kembali ponsel itu ke tempatnya.


"Nah, Dian sayang... sekarang gue mau ngapain lagi, ya? Hmm... pokoknya apa saja. Asal jangan sampai bikin lu mati." Kak Tias berpikir sejenak untuk mencari cara lain untuk menyiksa adik kecilnya itu.

__ADS_1


"Kakak... kumohon... biarkan aku. Kak... biarkan aku bebas dari sini." Batin Akihiro memohon. Ia benar-benar ketakutan. Di umurnya yang masih terbilang sangat muda itu telah mengalami dan merasakan kesakitan ini. Apalagi, yang telah memperlakukannya seperti itu adalah kakaknya sendiri.


"Tias!" Ibunya menegur kakaknya dari depan. Akihiro tersentak. Begitu juga dengan Kak Tias. "Hei! Anak itu. Kau lepaskan dia dulu. Karena di depan ada beberapa orang yang sedang mencari dia." Ujar Ibunya yang sedikit mengintip lewat pintu kamar yang terbuka.


Kak Tias menghembuskan nafas berat dan menggeleng. "Hah! Kenapa di saat seru-serunya, malah ada gangguan!"


Kak Tias membuka ikatan Akihiro, dan juga melepaskan kain hitam yang telah menutup mata adiknya. Saat dilihat, ekspresi Akihiro memang sudah seperti orang mati. Karena... Kakaknya melihat wajah Akihiro yang pucat ditambah dengan matanya yang sedikit bengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.


"Ka... kakak..." Akihiro memanggilnya lirih setelah ia dibantu berdiri oleh Kakaknya. Tapi Kak Tias malah membalas dengan membentak adiknya. "Berisik! Pergi sana. Temui ibu lu, tuh!!" Setelah itu, Kak Tias mendorong Akihiro ke depan pintu keluar kamarnya.


Akihiro mengangguk. Lalu secara perlahan, ia berjalan keluar dan mendekati ibunya. "Ibu... ada apa?" tanya Akihiro pelan.


"Itu ada orang yang nyari kamu. Sono cepat temui mereka! Ada ayah juga di depan." Jawab Ibunya cuek. Beliau sedang menonton televisi. Saat berbicara dengan Akihiro, dirinya juga tidak melirik sama sekali ke arah anaknya.


Akihiro mengangguk lemas. Lalu ia kembali berjalan menuju ruang tamu dan pintu depan. Tapi sebelum itu, tiba-tiba ibunya kembali memanggil dirinya lagi. "Oh iya, Dian! Ingat, ya? Kamu gak boleh ngadu sama orang-orang itu! Ingat! Awas saja kalau kamu berani macam-macam!"


Akihiro tidak menganggap perkataan ibunya itu sebagai ancaman. Tapi Akihiro akan berjanji, ia tidak akan bilang pada siapapun tentang kelakuan seluruh keluarganya yang tidak ia sukai.


"Ayah... ada apa?" Setelah Akihiro sampai di depan pintu, ia langsung mendekati ayahnya.


Ayahnya itu menepuk kepala anaknya pelan, lalu mengelusnya. Setelah itu, ia berkata, "Ini. Bapak-bapak semua ingin menanyakan sesuatu padamu, Dian."


Salah satu orang dewasa itu adalah ketua RT di komplek yang Akihiro tempati. "Selamat malam, Nak... Dian, kan?"


Akihiro mengangguk. "Iya, kenapa?"


"Begini. Kata warga setempat, katanya kamu ada di tempat kejadian saat kecelakaan mobil di jalan Pisang itu terjadi. Kami hanya ingin menyelidiki dan bertanya sesuatu padamu. Karena... kamulah salah satu korban yang selamat dari ketiga korban lainnya."


"Eh? Tiga korban?" Akihiro meneleng.


"Iya. Salah satunya adalah kamu. Dan... kedua korban lainnya dinyatakan telah meninggal." Akihiro terkejut mendengarnya. Ia mengangkat tangan kanannya dan menggenggam dadanya yang terasa sakit. "Satu orang dewasa yang merupakan si pengemudi truk itu. Dan satunya lagi adalah... seorang anak kecil yang tubuhnya terhimpit pohon tumbang." Lanjut Pak RT.


"A–anak kecil, pak?!" Tiba-tiba saja Akihiro berteriak. "Apa anak kecil itu seorang perempuan?"


Pak RT mengangguk. "Iya, Dek. Apa adek kenal dia?"


"Dia teman saya, pak!"

__ADS_1


"Oh. Tapi maaf, dek. Dia... meninggal karena tubuhnya terbakar dan pohon tumbang itu telah menghancurkan wajahnya." Jelas Pak RT.


Seketika Akihiro terkejut. Ia masih tidak percaya kalau temannya itu harus meninggal. "Tidak mungkin! Dia tidak mungkin meninggal!" teriak Akihiro sambil mengacak-acak rambutnya. Lalu setelah itu, Akihiro berlari dari rumahnya begitu saja. Ia ingin kembali ke tempat terjadinya kecelakaan yang telah merenggut nyawa sahabatnya.


"Dian! Dian kembali, Nak!" Walah ayahnya selalu meneriakinya, Akihiro tidak peduli. Ia ingin kembali ke tempat terakhir ia bertemu dengan Dinda.


"Pasti bohong. Bohong!" Akihiro terus bergumam. Ia tidak yakin kalau temannya harus berakhir seperti itu. "Mereka semua bohong! Dinda... dia belum mati!"


"Aku harus mencarinya!"


"Harus menemukannya!"


"Dia... harus selamat!"


Akihiro terus bergumam seperti itu, sampai akhirnya ia tiba di lokasi tujuannya. Tanpa alas kaki yang Akihiro kenakan, Akihiro menginjak sesuatu yang rapuh dan berwarna hitam. Tidak hanya itu, ia juga melihat tempat kejadian kecelakaannya telah menjadi sarang untuk arang bertebaran di mana-mana. Benda-benda yang terbakar telah menjadi abu dan semuanya tempat yang terbakar menjadi hitam dan tidak ada yang tersisah selain arang dan debu.


"Ti–tidak! Tidak mungkin." Akihiro bergumam ketakutan. Ia tidak bisa menemukan temannya di tempat itu. Sampai akhirnya... munculah cahaya yang bersinar terang mengarah cepat padanya.


Akihiro hanya terdiam saja sambil menutup setengah wajahnya dengan lengannya untuk menghindari tatapan cahaya itu secara langsung karena sangat menyilaukan.


Tak lama, cahaya yang ada di hadapannya itu pun menghilang. Dan saat itulah, Akihiro bisa melihat asal dari cahaya tersebut.


"E–eeehh?! Mo–mobil ini kan...."


"Dian sialan! Masuk kamu ke dalam mobil sekarang juga!" Seseorang keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa menghampiri Akihiro. Ternyata orang itu adalah ayahnya Akihiro sendiri yang datang untuk mencari dirinya yang tiba-tiba saja berlari pergi meninggalkan rumah.


"Aku tidak mau! Aku tidak mau kembali ke rumah itu lagi!" Akihiro membalas bentakannya. Hal itu telah membuat ayahnya menjadi semakin geram dan marah. Lalu dengan cepat, ia langsung menghempaskan pukulannya tepat di belakang leher Akihiro.


Setelah pukulan itu, seketika Akihiro langsung jatuh pingsan di depan ayahnya. "Aku tidak akan membawamu pulang ke rumah. Tapi... ada tempat yang lebih menarik yang ingin aku tunjukan padamu, Dian... hi hi...."


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2