Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 90– Permintaan


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Seharusnya malam ini kalian semua harus tidur di rumahku lagi, ya?" tanya Dennis. Ia berkata seperti itu setelah dirinya dan teman-temannya keluar dari tempat makan. Mereka sudah merasa kenyang dan puas dengan makanan yang mereka pesan. Jadi... tanpa berlama-lama di dalam tempat makan, langsung saja kalau semuanya sudah selesai dengan pesanannya, mereka keluar dari tempat itu.


Semuanya mengangguk untuk menyahut pertanyaan Dennis tadi. Dennis terlihat senang. Lalu setelah itu, Dennis kembali bertanya, "Sekarang kita mau ngapain lagi?"


"Emm... bagaimana kalau pulang saja?" jawab Mizuki. "Aku tidak ingin menghabiskan uangmu lagi, Dennis."


Seketika semuanya mengerutkan kening selain Rei dan Yuni. Semua terlihat kesal karena mereka belum mendapatkan apa-apa yang mereka inginkan. Sedangkan Mizuki sudah. Dennis tertawa kecil lagi, "Ah, bagaimana kalau kita pergi keliling bersama? Atau mungkin... ada barang yang ingin kalian beli?"


Semuanya terdiam. Mereka saling melirik sambil bergumam-gumam di dalam hati tentang benda-benda yang ingin mereka beli. Apalagi dengan Rashino dan Nashira. Mereka sangat menginginkan ponsel baru. Tapi harga ponsel itu melebihi dari 2 juta. Kalau Adel mau boneka kelinci yang ia peluk di Toko Boneka tadi. Kalau Yuni... dia sendiri tidak tahu ingin membeli apa. Rei juga sama. Dia tidak ingin merepotkan Dennis. Tapi ada satu permintaan. Dia ingin membelikan sesuatu untuk ibunya.


"Eh? Kenapa kalian diam?" Sontak semuanya langsung melirik ke arah Dennis karena terkejut. Mereka memiliki banyak permintaan, tapi tidak tega dengan Dennis karena selalu ditraktir oleh anak orang kaya itu terus.


"Permintaan kalian pasti banyak, kan?" Dennis ternyata bisa menebaknya. "Ah, jangan sungkan. Ayolah. Aku akan belikan untuk kalian. Karena uang ini juga diberikan dari ibuku dan kemauan ibuku juga untuk membelikan kalian barang-barang bagus."


"Ah, tapi...."


"Ayolah! Kalian mau apa? Mumpung kita masih ada di tempat luas ini." Dennis menyela. Ia melipat tangannya ke belakang lalu tersenyum dan menunggu teman-temannya memutuskan permintaan mereka.


Tak lama kemudian, Rashino akan mengeluarkan suaranya. Tapi Rei juga ingin mengatakan sesuatu. Kalau begitu, Rashino akan membiarkan Rei berkata duluan saja. Tapi ternyata Rei malah diam dan membiarkan Rashino yang bilang duluan.


"Loh? Kalian masih diam? Apa kita mau pulang saja?" tanya Dennis dengan ekspresi wajah sedih. Ia sendiri merasa tidak enak karena tidak membeli apa-apa untuk teman-teman terbaiknya. Ia hanya bisa mengajak tapi tidak bisa memberikan permintaan teman-temannya.


"Ah, Kak Dennis! Adel mau boneka kelinci." Ujar Adel. "Yang tadi ada di Toko Boneka itu, loh!"


Dennis terlihat senang. Lalu mengangguk. "Iya! Ayo kita beli. Kita kembali ke Toko Boneka itu, ya?"


Adel mengangguk senang. Dennis mengajak yang lainnya untuk mengikuti dirinya ke Toko Boneka. Dennis akan memberikan waktu untuk teman-temannya memikirkan benda yang ingin mereka miliki.


****

__ADS_1


Saat sampai di Toko Boneka, Adel langsung mengajak kakaknya ke tempat boneka yang ia inginkan. Setelah ia menemukannya, Adel langsung memeluk boneka itu, lalu memberikannya pada kakaknya agar Dennis bisa membayar boneka tersebut.


"Ayo? Apa kalian masih belum menemukan sesuatu yang ingin kalian beli?" tanya Dennis lagi setelah ia berdiri di antrian depan kasir. Semuanya hanya diam saja. Lalu tak lama, Rashino mengeluarkan suaranya. "A–aku ingin... bermain permainan di sini! Ada yang jual konsol game di sini, tidak?"


"E–eh? Maksudnya Konsol game itu seperti Play Station gitu?" tanya Dennis balik setelah ia terkejut mendengar permintaan Rashino.


Rashino mengangguk senang. "Iya seperti itulah! Apakah ada yang jual di sini?"


"Yah... biasanya ada. Ada di toko elektronik dan ada juga toko khusus untuk game gitu. Hmm... tapi... maaf, aku tidak bisa membelikan mu itu. Karena... kau tahu, kan? Satu PS itu harganya bisa lebih dari 5 juta, hehe...."


"Eh? Benarkah? Ah! Maaf! Permintaan aku terlalu berlebihan. A–aku tidak akan memintanya lagi." Rashino merasa malu. Ia menundukkan kepalanya sambil mengacak-acak rambutnya karena merasa kesal dengan sikapnya sendiri. Kenapa dia menyukai benda-benda yang berharga mahal?! Dia jadi tidak enak dengan Dennis.


"Eh, tapi jangan khawatir. Kalau Play Station, aku punya kok di rumah. Nanti kita bermain bersama, ya?" Dennis tersenyum. Rashino melirik ke arah Dennis secara perlahan. "Be–benarkah? Kalau begitu, untuk di sini aku tidak usah meminta apapun, deh."


Dennis menggeleng cepat. "Oh, jangan begitu. Kalau kau suka permainan, ayo kita ke tempat bermain saja! Di Mall ini, tempat bermain itu namanya adalah PlayZone!"


Adel melompat sekali, lalu menimpali, "Adel juga pernah ke sana! Di sana permainannya banyak sekali. Pokoknya bakal seru, deh!"


"Kelihatannya menyenangkan." Rashino tersenyum. "Baiklah! Ayo kita bermain bersama."


"Ya! Kita akan ke sana!" Dennis terlihat bersemangat. Lalu matanya melirik ke arah Nashira dan bertanya tentang permintaannya. "Kalau Nashira mau apa?"


"Eh? Memangnya apa yang ingin kau beli?"


"Ah, aku ingin ponsel baru. I–itu saja. Maaf, jangan dituruti karena terlalu mahal."


"Memangnya ada apa dengan ponselmu yang sekarang?" tanya Dennis.


"A–aku... ah, tidak kenapa-kenapa, sih... Aku... aku cuma..." Nashira melirik ke arah lain dengan ekspresi yang tidak biasa. Ia terlihat malu-malu gimana gitu. Intinya dia tidak berani menatap Dennis.


"Kau kenapa?"


"Ah! Aku iri padamu karena kau pasti memiliki ponsel yang model terbaru itu, kan? Ponselmu berwarna dan itu bagus sekali." Nashira berkata jujur. Dennis terkejut mendengarnya, lalu ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan memperlihatkan ponsel miliknya itu pada Nashira.


"Maaf, Nash! Dibanding dengan punyamu itu, sepertinya ponselmu lebih bagus daripada punyaku. Soalnya... ponsel punyaku ini model lama, loh."


"Eh?" Nashira melihat merek ponsel Dennis dan terkejut. "Eh benar juga." Ia bergumam. Lalu kembali melirik ke arah Dennis dan bertanya, "Kenapa kau tidak membeli ponsel yang lebih bagus?"

__ADS_1


"Ah, aku tidak ingin. Aku sudah sayang dengan ponselku yang ini. Jadi aku tidak mau menggantinya. Lagipula, dengan ponsel ini, aku bisa menyembunyikan kehidupan pribadiku."


"Eh? Apa maksudnya?" Nashira menggeleng. Rei yang akan menjawabnya. "Dengan ponsel model lama milik Dennis itu, ia bisa menunjukan kalau kehidupan Dennis hanya sebagai manusia biasa saja. Dia tidak ingin menunjukan kalau dirinya memiliki harta yang banyak. Sikap yang baik, agar tidak terlihat sombong dan tidak suka pamer." Jelas Rei.


"Ah, ya begitulah. Sekarang, kau boleh meminta yang lain saja, Nashira!"


Nashira berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia sudah memiliki permintaan. "Aku... ingin dibelikan minuman enak saja dan es krim. Karena jujur, dari tadi aku merasa haus sekali, tahu."


Dennis mengangguk. "Oke!" Matanya melirik ke Rei dan bertanya, "Kalau Kak Rei?"


Rei menghela nafas lalu menjawab, "Aku... ingin buku fiksi misteri saja."


"Ah, baiklah! Nah, kalau Yuni maunya apa?"


"Sama kayak Nashira."


"Minuman dan Es krim?"


"Iya."


"Oh, baiklah! Ayo kita ke tempat barang-barang yang kalian inginkan berada!"


Semuanya pergi beranjak dari Toko Boneka setelah Dennis selesai membelikan adiknya boneka kelinci itu. Untuk yang pertama, mereka terlebih dahulu akan mendatangi tempat terdekat, yaitu Toko Buku untuk membelikan Rei buku cerita misteri.


Setelah Rei mendapatkan barangnya, mereka baru pergi ke tempat bermain yang dikatakan Dennis. Tempat yang paling menyenangkan di dalam Mall itu.


Saat sampai di sana, Dennis mampir ke Toko makanan sebentar untuk membeli minuman dan Es krim yang diminta Nashira dan Yuni. Lalu setelah itu, Dennis mengajak semuanya untuk pergi ke kasir PlayZone untuk mengisi saldo permainan sebelum mereka mencoba semua game dan wahana.


Terlihat tempat bermain itu sangat luas dan penuh dengan cahaya dan warna pelangi. Permainannya juga terlihat menyenangkan. Bahkan, ada permainan yang besar seperti rollercoaster, Gyro Drop, dan lain-lain. Permainan kecil seperti game yang dimainkan untuk mendapat kartu-kartu kecil yang bisa ditukar menjadi hadiah menarik jika mendapat banyak kartu.


Pokoknya, di Mall itu, Dennis dan teman-temannya menghabiskan banyak waktu di tempat permainan itu sampai menjelang sore hari, baru mereka akan pulang ke rumah.


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2