Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 6–Perjalanan Study Tour


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


Sesuai dengan jadwal keberangkatan, Bu Mia sudah memberitahu Busnya akan berangkat jam 9 pagi. Jadi... dari rumah, Dennis dan teman-temannya akan pergi ke halte dekat dengan rumahnya dari pukul 8. Mereka akan kembali ke desa lagi.


"Ibu~ Dennis izin pergi dulu, ya?" Dennis mencium tangan ibunya, lalu setelah itu ia menaikan tali tasnya yang terasa kendur. Tas yang ia gendong terasa berat sekali karena barang bawaannya banyak sekali. Kebanyakan baju sebenarnya. Soalnya mereka kan akan menginap di Villa selama 7 hari, alias seminggu.


Setelah Dennis, dilanjutkan dengan Adel yang mencium tangan ibunya, lalu dilanjut dengan yang lainnya juga. Yang terakhir adalah Natsuki. Ibunya Dennis tersenyum senang melihat penampilan Natsuki yang terlihat semakin tampan dengan jaket bertudung yang ia kenakan. Warnanya sama seperti yang Akihiro pakai. Tapi bedanya kalau Akihiro memakai Hoodie merah, bukan jaket.


"Kalau dilihat-lihat... kalian semua kok memakai baju merah, ya?" Mizuki terheran melihat penampilan Akihiro dan Dennis. Termasuk juga dengan kakaknya sendiri.


Natsuki dengan jaket merahnya. Lalu Akihiro pakai Hoodie merah. Dan Dennis... memakai kemeja merah yang tidak dikancingkan dan memakai kaus hitam di dalamnya. Para anak laki-laki juga baru menyadari tentang penampilan mereka yang sama.


"Apakah aku harus ganti?" tanya Dennis merasa tidak enak dan malu.


"Ah, tidak usah! Begitu saja sudah bagus, kok!" Mizuki menggeleng cepat sambil mengibaskan tangannya ke depan. Dennis mengangguk heran, lalu melirik ke arah ibunya.


"Ibu tidak akan kesepian lagi kan, di rumah?" ujar Dennis sambil tersenyum.


Ibunya menjawab, "Iya, Nak. Nanti sore ayah akan pulang, kok!"


"Yah... kalau begitu, Dennis berangkat sekarang, ya?"


"Iya. Hati-hati di jalan ya, Nak?"


"Baik, Bu!"


****


"Pagi, Rei!"


"Ah, pagi."


Kebetulan sekali. Saat Rei keluar dari jalan sepetak menuju rumahnya, ia bertemu dengan Rashino dan Nashira. Si kembar memakai kaus yang sama. Kaus putih, lengan se-siku dengan garis kuning di tengah bajunya.


"Sepertinya barang bawaanmu sedikit sekali, Rei?" tanya Rashino sambil berjalan mengikuti Rei. Mereka bertiga berjalan bersama menuju ke sekolah.


"Oh. Aku hanya membawa barang yang berguna saja." Jawab Rei dingin.


"Ah, begitu, ya?" Rashino tertawa kecil. Lalu melirik ke arah adiknya yang ada di sampingnya. Nashira menggunakan tongkatnya untuk pengganti kaki kirinya agar bisa berjalan. Sementara tangannya yang kanan, memainkan ponselnya.


"Rashino, apa kau tahu tentang kanibalisme?" tanya Nashira. Ia sedang membaca artikel tentang manusia pemakan manusia rupanya. Entah kenapa saat ini Nashira membuka cerita yang begituan.


"Em... yang kata orang makan orang, bukan?" Rashino bertanya balik.

__ADS_1


"Tapi tidak hanya manusia saja, sih.... Katanya di sini, jika makhluk hidup yang memakan sejenisnya suka disebut kanibal." Jelas Nashira.


Rashino mengangguk paham. Rei melirik, lalu bertanya, "Kenapa kau membaca berita yang seperti itu? Kau percaya kalau kanibal itu memang benar ada?"


"Aku percaya saja, Rei." Jawab Nashira dengan nada tegas. "Karena... aku melihat film tentang manusia pemakan manusia gitu, loh!"


"Itu kan hanya film."


"Tapi... bisa saja di dunia nyata juga ada!" tegas Nashira lagi.


"Ah, tidak mungkin ada." Rei cuek, lalu melirik ke arah jalannya lagi. Ia menggerutu, "Orang gila saja yang suka memakan daging sesama jenis. Aneh."


"Ta–tapi... apa jadinya ya kalau kanibal itu benar-benar ada di dunia nyata?" Rashino terlihat ketakutan. Ia merinding saat Nashira memberitahu tentang kanibal itu padanya.


"Makanya tidak usah dipercaya. Manusia seperti itu semoga saja tidak ada." Rei membalas perkataan Rashino. Rashino mengangguk cepat. Ia berusaha untuk tidak memikirkannya.


****


Saat Rei dan si kembar sampai di dekat jalan menuju ke sekolahnya, mereka melihat ada mobil Bus yang terparkir di depan jalan kecil di dalam hutan. Di sana juga sudah ada beberapa anak lainnya yang ikut dalam Study Tour. Mereka sedang menunggu di depan Bus.


"Hoy!" Ethan berteriak setelah ia melihat Rei dan si kembar datang. Untuk yang pertama, Ethan menyapa Rei, lalu dilanjutkan dengan si kembar. Rashino dan Nashira menyapa balik, tapi Rei hanya mengangguk saja.


"Oh iya, ngomong-ngomong di mana Dennis dan yang lainnya?" tanya Ethan. "Biasanya kalian selalu bersama."


"Ah, saat ini mereka ada di kota. Semuanya pergi ke rumah Dennis yang ada di sana." Jawab Rei.


"Oh begitu. Tapi kenapa kalian tidak ikut?"


"Hmm..." Ethan mengangguk paham. Lalu setelah itu, ia memberikan jalan dan meminta Rei, Rashino dan Nashira untuk masuk ke dalam Bus terlebih dahulu. Tapi Rei menolak karena ia ingin menunggu temannya yang lain agar mereka bisa masuk bersama-sama.


"Oke baiklah kalau begitu. Tapi setidaknya kalian memasukan barang kalian ke dalam Bus dulu agar tidak berat." Ujar Ethan. Ia merasa kasihan pada Rei karena telah membawa tas besar yang ia gendong di punggungnya. Pasti berat kalau menurut Ethan. Tapi sebenarnya... isi tas Rei hanya baju dan bukunya saja. Jadi tidak terlalu berat.


"Barang bawaanmu tidak banyak. Jadi jangan khawatir." Jawab Rei sambil menepuk tas di belakangnya. Ia tetap akan menunggu di depan Bus bersama dengan Ethan. Sementara Rashino dan Nashira sudah masuk ke dalam Bus untuk mencari tempat duduk mereka.


Tak lama setelah Rei menunggu sambil berbincang sedikit dengan Ethan, tak lama ada mobil Bus lainnya yang datang di halte depan mereka berdiri. Bus itu ternyata menurunkan beberapa penumpangnya. Ternyata penumpang dari Bus itu adalah Dennis, Adel, Yuni, Akihiro, Mizuki dengan kakaknya. Membawa barang banyak juga. Apalagi dengan si Akihiro.


Setelah mobil Bus itu berjalan kembali, Dennis dan yang lainnya langsung menyebrang jalan untuk mendekati Bus pariwisata yang ada di dekat Rei dan Ethan berdiri.


Sambil berlari, Dennis berteriak menyapa Rei dengan senangnya. Rei melambai, lalu melangkah maju ke depan. Setelah mereka berdua berhadapan, Rei mengelus rambut Dennis dan berbisik, "Kita ketemu lagi, kan?"


"Iya, haha... aku senang sekali." Dennis sedikit menjauh dari Rei, lalu menunduk. "Tapi aku sedikit merasa cemas saat Kak Rei tidak mengangkat telepon dariku."


"Oh, yang kata kau meneleponku malam-malam, ya?"


"Iya... kenapa kakak mengabaikan telepon dariku?"


"Ah, maaf, ya? Aku sedang tidak ingin berbicara karena saat itu aku sedang... membantu ayahku mengumpulkan padi. Seperti biasa." Jelas Rei. Dia sengaja berbohong agar Dennis tidak merasa cemas lagi. Apalagi... saat Dennis mendengar kabar duka tentang ibunya Rei.


"Oh, begitu, ya?" Dennis mengangguk paham. "Haha... aku pikir, Kak Rei benar-benar tidak ingin bicara padaku lagi."

__ADS_1


"Ah, tidak mungkin seperti itu, kok."


"Ya, kan? Aku bilang juga apa? Di rumahnya Rei pasti sibuk. Makanya dia tidak ada waktu untuk memegang ponselnya." Ujar Akihiro.


"Iya, kak Dian ternyata benar!"


Semuanya tertawa kecuali Rei yang hanya mengeluarkan senyumnya saja, sementara kalau Yuni hanya mengeluarkan ekspresi biasanya saja.


"Eh? Kalian kenapa masih kumpul di depan?" Bu Mia menegur Dennis dan teman-temannya dari depan pintu Bus. "Ah... ibu pikir kalian tidak datang. Sekarang ayo masuklah! Yang lain sudah kumpul semu, loh!"


"Ah, baik Bu!"


Dennis dan teman-temannya menurut. Lalu mereka semua membawa barang-barangnya memasuki Bus. Saat di dalam, ternyata benar, semua anak yang ikut dalam Study Tour sekolah telah duduk di dalam Bus. Begitu pula dengan Dennis dan yang lainnya juga mencari tempat duduk mereka.


Semua telah terisi. Yang tersisah hanya tempat duduk di belakang. Di sebelah kiri Bus terdapat 2 bangku empuk. Kalau di sebelah kanan Bus, terdapat 3 bangku.


Dennis dan Rei duduk berdua di bangku sebelah kiri. Adel dan Yuni juga di sebelah kiri. Mereka duduk di belakang bangku Dennis dan Rei. Lalu di belakang mereka lagi ada Rashino dan Nashira. Di samping Dennis dan Rei ada 3 bangku kosong. Bangku itu ditempati oleh Mizuki dan kakaknya dan... Akihiro juga.


Tadinya Mizuki akan duduk di tengah kedua cowok yang akan duduk di dekatnya itu. Tapi karena merasa tidak nyaman, Mizuki berpindah tempat. Ia ingin duduk paling pinggir saja. Akihiro di tengah dan Natsuki di pojok.


"Baiklah, anak-anak! Apa kalian semua sudah datang? Beritahu ibu jika kalian merasa ada yang kurang." Tanya Bu Mia. Ia berdiri di samping sopir Bus dan memegang kertas putih berisi daftar nama-nama anak yang ikutan Study Tour. Anggap saja kertas itu sebagai daftar absen, hanya saja nama-namanya tidak diurutkan sesuai huruf abjad.


Setelah Bu Mia mengabsen, ternyata semuanya telah datang. Telah berada di dalam Bus. Bu Mia akan meminta Pak Sopir untuk segera menjalankan mobilnya, tapi sebelum itu, beliau sempat melirik ke arah tempat duduknya Mizuki. Ada orang yang baru ia kenal duduk di sana.


"Anu... Mizuki? Itu yang ada di sampingmu siapa?" tanya Bu Mia.


"Si Dian." Jawab Mizuki.


"Bukan, sampingnya lagi."


"Oh... itu... kakakku, Bu." Jawab Mizuki malu. Setelah Mizuki berkata seperti itu, seketika semua murid yang belum mengenal Natsuki terkejut. Mereka pikir, Natsuki itu adalah guru baru yang akan menjadi pembimbing. Tapi ternyata... kakaknya Mizuki!


"Ooh? Dia ikut bersama kita, kah?" tanya Bu Mia lagi sedikit terkejut.


"I–iya. Tidak apa, kan, Bu?" tanya Mizuki ragu. Ia takut kalau kakaknya tidak diperbolehkan untuk ikut. Tapi ternyata Bu Mia membiarkan Natsuki untuk ikut.


"Tidak apa-apa dia ikut. Kan bisa ada tambahan sebagai orang dewasa yang akan menjaga kalian." Jawab Bu Mia. "Ngomong-ngomong berapa umurnya?"


"Em... 20 tahun mungkin." Jawab Mizuki. Ia sendiri padahal tidak tahu, hanya tebak-tebak saja.


"Oh begitu. Baiklah, selamat datang! Sekarang, ayo kita mulai perjalanannya!"


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2