
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Pagi hari–Ruang OSIS
KRIIEEET....
Pintu ruang OSIS terbuka. Terlihat sosok Rei yang keluar dari dalam ruangan itu. Lalu di depan pintu, ada Dennis yang sedang berdiri di sana. Mereka berdua berhadapan dan saling bertatap muka.
"Sudah selesai?" tanya Dennis pada Rei yang ada di depannya.
Rei mengangguk. "Iya. Sekarang ayo kita ke rumah sakit."
"Ayo."
****
Semua murid yang selamat disarankan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing untuk menenangkan diri dari trauma yang mereka alami. Tapi tidak dengan Dennis dan Rei. Mereka masih ada di sekolah karena satu hal.
Rei sempat dipanggil karena ia harus memberikan penjelasan pada polisi yang datang ke sekolahnya. Tepat di dalam ruang OSIS, Rei bertatapan langsung dengan pak polisi untuk menjelaskan semua kejadian tentang Terror Internet yang sedang ditakuti oleh masyarakat dan juga murid-murid dari seluruh sekolah lainnya.
Sementara Dennis akan setia untuk menunggu Rei dari depan ruangan. Setelah 3 jam Rei berbicara dengan pak polisi di dalam ruangan itu, akhirnya Rei keluar juga. Dan saat ini, mereka berdua sedang berjalan menuju ke rumah sakit untuk menemui Akihiro di sana.
"Halo, Mizuki. Apa semuanya sudah ada di sana?" tanya Rei lewat telepon di ponselnya. Ia sedang menelepon Mizuki yang sudah ada di rumah sakit bersama dengan yang lainnya.
[ Sudah Rei. Dan baru saja tadi... Rashino dan Nashira datang. Sekarang tinggal kalian berdua. ]
"Oh. Lalu sekarang bagaimana keadaan si Dian itu?"
[ Dian baik-baik saja. Dia sudah sadar kembali saat tadi pagi dan... saat ini dirinya sedang sibuk memakan cemilan. ]
Dennis tertawa kecil mendengarnya. Lalu bergumam, "Haha... Kak Dian tidak berubah, ya?"
"Huf, ya sudah kalau begitu baguslah. Kami akan segera sampai di sana. Sekarang ini kami sedang menunggu Bus untuk pergi ke sana." Ujar Rei lagi. "Jaga Dian di sana, ya? Dian bisa selamat itu semua berkat dirimu, Mizuki."
[ E–eh, Rei... ah! Apa yang kau katakan? Jangan membuatku jadi malu, deh. Aku hanya mencoba untuk menolong temanku saja. ]
"Lebih dari sekedar menolong, Mizuki. Kerjamu bagus sekali sudah bisa menyelamatkan nyawa orang lain."
[ Oke... Rei... terima kasih. Kau terlalu berlebihan memujiku. Ah, aku harus pergi sekarang! Dah~ ]
TUT!
"Eh?" Mizuki mematikan teleponnya. Rei menurunkan tangan, lalu menutup ponselnya setelah Mizuki mengakhiri pembicaraannya dengan Rei barusan.
BRRRMMMM....
Mobil Bus yang mereka tunggu pun akhirnya datang dan berhenti tepat di depan halte karena pengemudi Bus tersebut melihat ada penumpang lain yang menunggu.
Setelah pintu Bus terbuka secara otomatis, Dennis dan Rei pun pergi beranjak dari halte Bus. Mereka menaiki Bus itu untuk pergi ke kota yang lokasinya lumayan jauh dari sekolah dan desa. Tapi mungkin, hanya butuh 1 jam saja untuk mereka berdua sampai ke kota dan pergi langsung ke rumah sakit dengan menggunakan kendaraan umum lainnya.
****
Saat turun dari Bus, Rei dan Dennis berjalan kecil di pinggir jalan yang sudah dipenuhi oleh banyaknya orang yang juga melintas di trotoar jalan. Rei merasa agak canggung dengan lingkungan sekitarnya. Kadang langkahnya sesekali terhenti untuk melihat gedung, toko dan... sampai kucing yang lewat di dekatnya juga Rei tatapi.
__ADS_1
Karena sikapnya, Dennis pun tertawa lalu bertanya, "Kak Rei ada apa denganmu, haha... dari tadi kau dilihat banyak orang, loh!"
Rei masih terdiam. Matanya juga masih menatap ke arah kucing yang baru saja lewat di dekatnya. Lalu tak lama, setelah kucing itu menjauh, Rei menengok ke arah Dennis dan menjawab, "Tidak apa-apa. Aku hanya masih baru saja dengan semua ini."
"Tapi... bukan berarti kau tidak pernah melihat kucing, dong! Hah... ayolah! Kita terlambat, kak." Dennis menarik tangan Rei, lalu mengajaknya kembali berjalan santai di pinggir jalan. Tapi walaupun Dennis sudah menarik kakinya untuk tetap berjalan, tapi kepala Rei masih belum bisa diam. Dia selalu celingak-celinguk setiap melihat benda atau sesuatu yang baru ia lihat.
"Kak Rei memang baru pertama kali ke kota, ya?" tanya Dennis heran.
"Kota, ya? Oh... jadi ini kota. Apa memang keadaannya seperti ini?" Rei bertanya balik.
Dennis mengangguk. "I–iya begitu. Di sini memang beda seperti di kota. Di sini lebih banyak bangunan dibanding dengan kebun dan sawah."
"Oh, begitu. Lalu... apa isi dari semua gedung-gedung tinggi di sini?"
"Ah... kalau soal itu aku tidak tahu. Intinya ayahku bekerja di dalam gedung yang entah di mana aku tidak tahu, hehe...."
"Oh, lalu di mana rumahmu? Bukannya rumahmu ada di kota?" tanya Rei lagi.
"Tapi bukan bagian pusat kota seperti ini, Kak. Rumahku berada dalam satu komplek."
"Apakah rumahmu besar?"
"Ah... aku tidak tahu. Haha... kita jangan bicarakan soal rumah sekarang. Ayo kita pergi ke rumah sakit saja!"
"Kau tahu jalan di sekitar kota ini?"
"Iya. Kan aku sering jalan-jalan di sekitar sini. Sekalian aku juga ingin pergi ke Mall bersama dengan keluargaku."
"Mall itu apa?"
Dennis memasang wajah melasnya. Ia tersenyum sambil memejamkan matanya. Rei terlalu banyak bertanya sampai Dennis jadi bingung untuk menjawabnya. Tentu saja kita sangat ingin mengetahui hal-hal yang baru saja kita lihat. Seperti Rei.
"Ah, memangnya itu nama tempat atau nama salah satu gedung di sini?"
Rei bertanya lagi. Dennis tidak ingin menjawabnya. Tapi terpaksa dia tidak bisa mendiamkan Rei yang sedang dalam mode penasaran. "Itu nama sebuah perusahaan untuk kita berbelanja sesuatu. Intinya ada, deh! Nanti aku beritahu."
"Apa kita bisa masuk ke dalam Mall itu?"
"I–iya tentu saja bisa. Di Mall, barang apa saja yang kita inginkan pasti ada, kok!"
"Semua?"
"Iya semuanya ada. Makanya sekarang Kak Rei diam dulu. Nanti kita ke Mall bersama-sama, ya?"
"Ah... oke."
****
DRRRRKKK ....
Pintu kamar rawat bergeser. Munculah Dennis dan Rei yang berdiri di dekat pintu itu. Lalu Dennis memasukan kepalanya ke dalam pintu untuk mengintip ke dalam ruangan.
"Oh, Dennis! Itu kau? Ayo masuk, sini!" Mizuki mengejutkan Dennis. Ia berteriak setelah Dennis membuka pintunya.
"Ayo." Rei mendorong punggung Dennis dengan perlahan, lalu menuntunnya sampai ke dekat teman-temannya yang sudah berkumpul di dekat ranjangnya Akihiro.
"Kak Dian! Kakak sudah sehat, kah?" tanya Dennis setelah ia berdiri di sampingnya Akihiro.
"Tentu saja." Jawab Akihiro sambil mengangguk cepat. Lalu setelah itu, ia memberikan sepotong apel yang ada di atas meja kecil yang terletak di atas tubuh Akihiro. Meja itu tersambung dari pinggiran ranjang Akihiro yang biasa digunakan untuk menaruh makanan yang akan disantap oleh pasien.
__ADS_1
"Rumah sakit itu enak sekali. Bisa dapat makanan gratis sepuasnya, haha... ini ambilah Dennis!"
Dennis mengangguk, lalu mengambil sepotong apel yang diberikan oleh Akihiro itu padanya. "Terima kasih, kak!"
"Oh, iya, Yuni! Apa kau sudah menemukan petunjuk lain tentang kejadian semalam?" tanya Rei.
"Petunjuk?" Yuni melirik dingin ke Rei.
"Iya. Yang belum kita ketahui adalah tujuan dari si Bob untuk membuat Ujian yang membunuh itu. Dan... kenapa dia juga ingin membunuh banyaknya para murid dari sekolah lain?"
"Dan satu lagi." Nashira berujar sambil mengetik ponselnya. "Misteri tetangga Dennis yang meninggal secara tiba-tiba itu masih belum terpecahkan."
"Kau masih memikirkan kasus itu, Ra?" tanya Rei heran..
"Iya tentu saja. Karena Yuni bilang, ada hantu yang membunuh orang itu."
"Eh, hantu?" Dennis meneleng.
"Iya. Hantu itu juga ada hubungannya sama si Bob. Karena... hantu itu pernah bilang padaku kalau hantu itu adalah temannya Bob yang meninggal karena kecelakaan di saat dirinya ingin menyelamatkan sekolah kita." Yuni menjawab.
"Eh? Menyelamatkan?"
"Iya. Hantu itu bilang padaku, kalau si Bob telah mengingkari janjinya. Bob berjanji kalau dirinya tidak akan berniat yang aneh-aneh dengan kepintarannya. Tapi karena si Bob itu telah membuat rencana aneh, maka temannya yang kembar dengannya itu pun marah. Lalu dia mengetahui sesuatu."
"Dia tahu kalau Bob akan mengincar beberapa sekolah untuk dijadikan permainannya. Lalu setelah dia tahu kalau sekolah kita diliburkan dan ujiannya diundurkan, dengan kesempatan itu temannya Bob akan pergi ke sekolah kita untuk mencari Buku absen yang sebenarnya sedang dicari oleh Bob juga untuk mengetahui nama-nama kita dan didaftarkan dalam perangkatnya."
"Tapi disaat itu juga lah, temannya Bob itu malah terbunuh tepat di depan jalan sepetak di dekat sekolah kita itu. Dia terbunuh karena sebuah kecelakaan tragis. Tapi... si orang yang menabrak dirinya itu tidak ingin menyerahkan dirinya. Dan yang lebih buruk adalah... orang yang menabraknya itu malah menyembunyikan tubuh temannya Bob yang sudah meninggal di suatu tempat. Hal itu juga yang telah membuat temannya Bob marah. Makanya...."
"Makanya, hantunya gentayangan, untuk mencari orang yang tidak bertanggung jawab itu. Dan orang itu adalah... tetangganya Dennis." Nashira menimpali. Lalu ia menutup ponselnya dan kembali melanjutkan, "Kematian tetangganya Dennis itu juga karena terror dari hantu orang mati itu yang menggentayangi dirinya. Sampai akhirnya saat malam itu juga, si hantu membunuh orang yang telah membunuhnya dengan cara menggantung penjahatnya di kamar mandi."
"Yosh! Sekarang kasus kita selesai, Nashira!" Rashino terlihat bangga. Dia senang sekali misteri yang sedang mereka selidiki itu akhirnya terjawab. Jadi jawaban dari pertanyaan, "Siapa yang telah membunuh tetangganya Dennis itu?" Jawabannya adalah hantu yang sudah ia bunuh duluan. Karena tidak mau bertanggung jawab, makanya hantu itu jadi marah dan balas dendam.
"Tunggu! Masalah kalian sudah selesai, dan sekarang... Yuni! Apa kau tahu kenapa Bob ingin membunuh kita dengan ujian buatannya itu?" tanya Rei.
"Iya aku tahu dari hantu yang bertemu denganku semalam." Jawab Yuni pelan.
"Lalu apa yang dikatakan Hantu itu?"
"Aku bertanya semua yang ingin aku ketahui. Dan dengan baiknya, dia mau menjawab pertanyaanku. Katanya, Bob itu adalah temannya yang paling pintar dan jenius...."
Yuni terus menjelaskan. Pada suatu hari, Bob menginginkan pekerjaan yang hebat dengan penghasilan yang banyak dan mendapat teman baru juga. Pekerjaan yang ia inginkan adalah menjadi guru. Tapi sayang... karena dia lulusan dari SMP saja, banyak sekolah yang tidak menerima dirinya untuk mengajar di sekolah tersebut.
Karena itu, Bob menjadi marah dan tidak terima. Impiannya telah dihancurkan dan sejak saat itu, dengan kepintarannya ia pun berencana untuk membunuh beberapa orang sebagai bentuk balas dendam.
Tapi hanya untuk beberapa orang yang ia benci saja. Dengan cara membuat sebuah perangkat yang bisa mengirim Email ke orang lain. Email ancaman pembunuhan gitu yang ia buat. Tentu saja ia mengirimkan email itu ke orang-orang yang ia benci.
Isi email yang ia tulis adalah tentang ajakan dan tantangan. Jika orang yang dikirimkan email itu tidak ingin menuruti Bob, maka Bob akan membunuhnya dengan cara mendatangi rumah itu langsung lalu secara diam-diam saat jam 12 malam, ia akan membunuh orang yang ia incar.
Sudah banyak yang ia bunuh. Sampai akhirnya, dirinya malah jadi keenakan dan keterusan. Menurutnya membunuh orang itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Makanya, setelah semua orang yang ia benci telah terbunuh, Bob melakukan aksinya ke orang lain dan akhirnya ia mendapat julukan...
si "Terror Internet".
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8