
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
****
"Eh, Hei?! Sedang apa kalian di sana?! Siapa kalian?"
Rashino dan Nashira terkejut karena dari belakang mereka tiba-tiba saja ada yang menegur mereka. Dengan cepat, Rashino dan Nashira pun menengok ke belakang.
Ternyata di belakang mereka ada seorang opsir polisi yang berjalan cepat menghampiri Rashino dan Nashira. Opsir itu tidak sendiri. Ia berjalan bersama dengan seorang pemuda yang ikut di sampingnya. Sepertinya pemuda itu memiliki umur yang sama seperti Rashino dan Nashira.
"Nashira... kau tahu siapa mereka itu?" tanya Rashino dengan berbisik.
"E–entahlah, kak! Apa perbuatan kita ini salah karena sudah mendekati tempat kejadian ini?" bisik Nashira.
"Aku juga tidak tahu. Tapi... kan niat kita baik untuk pergi ke sini. Lagipula, kita kan sudah susah-susah tau buat sampai ke sini."
"Iya. Mana tadi mobilnya juga lama sekali datangnya."
"Ho'oh!" Nashira mengangguk.
"Eh! Kalian kenapa malah diam saja. Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan tadi, hah?!" Opsir polisi itu membentak Rashino dan Nashira lagi. Kali ini langkahnya semakin mendekat ke arah si kembar.
"Ah, tidak! Kami hanya ingin melihat tempat ini. Kami hanya numpang lewat saja di jalan ini, kok!" jawab Rashino cepat sambil mengibaskan telapak tangannya ke depan.
"Seharusnya anak-anak seperti kalian ini tidak boleh ada di tempat ini. Tempat ini terlalu berbahaya untuk kalian, anak kecil!"
Seketika Nashira tersentak. Dirinya merasa kesal karena sudah dipanggil anak kecil. Walau hanya dua kata saja, tapi sebutan 'anak kecil' itu benar-benar tidak disukai Nashira.
"Eh? 'Anak kecil' kata anda? Hei! Apa kau tahu? Kami ini sudah kelas 2 SMA dan kami pastinya sudah dewasa, dong! Tidak sopan anda memanggil kami anak kecil!" Gerutu Nashira. Ia juga sedikit membentak di kalimat terakhirnya.
"Na–Nashira! Tahan dirimu..." Rashino berbisik. Ia tahu kalau adik beda 5 menitnya itu benci dipanggil anak kecil.
Opsir Polisi itu tersentak. Lalu ia kembali membalas bentakan Nashira. "Hei! Kalian yang tidak sopan, tahu! Bentak-bentak orang tua. Sebenarnya kalian mau apa di sini?!"
"Bapak sendiri juga sedang apa di sini?!" balas Nashira.
"Saya ingin menyelidiki tempat ini, lah! Kalian tidak tahu? Semalam telah terjadi kecelakaan di sini dan juga pembunuhan. Saat ini, saya ingin mencari pelaku si pembunuh itu!"
"Kami berdua juga ingin menyelidiki tempat ini, tahu!"
"Eh, memangnya kalian ini siapa? Anak kecil seperti kalian ini seharusnya ada di rumah, tahu!"
__ADS_1
"Eh! Bapak ini, ya? Masih berani panggil aku anak keciiill?!" geram Nashira. Ia akan menghajar si Opsir Polisi. Tapi sebelum itu, Rashino pun menahan adiknya agar tidak berbuat yang aneh-aneh pada Pak Polisi yang ada di depannya. Kan bisa bahaya juga jika mereka malah kena masalah sama Pak Polisi itu.
"Tahan Nashiraaa!"
"Tidak, kakak! Bapak ini benar-benar keterlaluan. Aku tidak suka dipanggil anak kecil, tahu!"
"I–iya aku tahu. Tapi kau jangan bertindak ceroboh seperti ini, dong! Kalau mau lawan lihat situasinya, Nashira. Dia itu bapak polisi. Kau bisa kena masalah nanti." Bisik Rashino sambil memeluk tubuh Nashira untuk menahannya agar tidak berbuat yang macam-macam pada Opsir Polisi yang ada di hadapan si kembar.
"Haduh kalian ini! Benar-benar! Sebaiknya kalian pulang saja sana! Tidak aman, dan janganlah ikut campur dengan urusan yang seperti ini." Ujar Opsir Polisi itu lagi sambil berusaha untuk mengusir Rashino dan Nashira dari tempat itu.
"Kami tidak akan pergi sebelum kami menyelesaikan kasus ini!" ujar Nashira keras sambil berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukan kakaknya.
"Kalian ini memangnya bisa apa? Ini kasus untuk orang dewasa. Bukan anak kecil seperti kalian. Sebaiknya kalian pulang saja sana!" Pak Polisi itu kembali mengusir Rashino dan Nashira.
"Maaf, Pak! Kami kemari juga ingin membantu menyelesaikan kasus yang ada di sini. Jadi tolong kerja samanya." Kali ini, Rashino yang berisik keras pada Pak Polisi itu agar mereka berdua bisa dibiarkan berada di tempat kejadian untuk menyelidiki tempat itu.
"Ah, sudahlah! Pulang saja pulang sana!" Kali ini Pak Polisi itu mulai bertindak. Ia mendorong paksa si kembar agar mereka mau pergi dari tempat itu.
"Tidak, Pak! Kami sudah punya bukti dan kami sudah menemukan pelakunya! Kami tahu semua yang telah terjadi di tempat ini!" bentak Rashino tiba-tiba.
Seketika semuanya jadi hening kembali. Pak Polisi itu juga terdiam sambil menelengkan kepalanya. "Hah? Apa maksud kalian?" tanya Pak Polisi itu bingung.
"Lihatlah ini. Kami punya satu bukti yang mungkin bisa membantu anda." Kata Rashino sambil merogoh saku celananya. Ia akan mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku. Lalu, setelah ia mengeluarkan ponselnya itu, Rashino mengetik sebentar untuk membuka album. Setelah ia menemukan foto yang ia cari, Rashino pun langsung memperlihatkan layar juga foto itu pada Pak Polisi yang ada di hadapannya.
"Inilah bukti yang kami temukan!"
"Ini adalah bumper dari mobil truk yang kami temukan. Lihatlah! Di bumper itu terdapat bercak darah. Kami berpikir, pasti mobil truk inilah yang telah menabrak si korban di tempat ini. Darah itu adalah darah milik si korban." Jelas Rashino.
Pak Polisi itu terkejut. "E–eh? Apakah benar? Apakah foto ini asli?" tanya Pak Polisi tidak percaya.
Rashino dan Nashira mengangguk kompak. "Iya. Kami sendiri yang memotret foto ini." Jawab Rashino.
"Kalau begitu, apakah kalian tahu di mana mobil truk ini berada? Dan apakah kalian tahu siapa pemilik dari mobil truk ini?" tanya Pak Polisi lagi.
"Iya, tentu saja kami tahu. Kalau tidak tahu, dari mana juga kami memotret foto ini!" gerutu Nashira yang masih kesal dengan Pak Polisi itu.
"Tapi tunggu dulu. Bapak bilang tadi, kecelakaan di tempat ini terjadi pada malam hari, kan?" tanya Rashino.
"Iya. Baru saja tadi malam." Jawab Pak Polisi itu.
"Oh, benarkah?!" Rashino dan Nashira terlihat terkejut mendengarnya.
"Eh, kalian ini kenapa?"
"Begini, pak! Ada yang aneh dengan kasus kali ini. Kata bapak, kecelakaan itu terjadi tadi malam, kan?"
Pak Polisi mengangguk. "Ya. Memangnya apa yang aneh?"
__ADS_1
"Begini, pemilik truk itu kebetulan tinggal dekat dengan rumah teman saya, Pak! Di sana juga dekat dengan tempat tinggal kami. Makanya kami bisa memotret foto ini untuk dijadikan bukti. Dan apa bapak tahu? Tadi pagi, pemilik dari mobil truk itu ditemukan tidak bernyawa di rumahnya. Dia ditemukan dalam keadaan gantung diri. Dan yang anehnya itu, kenapa si pemilik truk itu tiba-tiba saja meninggal begitu saja setelah ia menabrak orang lain pada malam harinya?" jelas Rashino.
Pak Polisi terlihat terkejut mendengar penjelasan dari Rashino itu. "Eh? Pemilik mobil truk itu meninggal?!"
"Iya! Entah kenapa dia bisa meninggal keesokan harinya setelah ia menabrak orang lain dengan mobilnya itu pada malam hari. Itulah yang masih kami bingung kan sampai sekarang." Jawab Rashino.
"Haduh... ini sulit." Pak Polisi itu mulai menggunakan otaknya untuk berpikir. "Jika si pelaku itu telah meninggal, berarti kasus ini selesai. Tapi anehnya... kenapa si pelaku itu mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu?"
Mata Pak Polisi terpejam sejenak untuk memikirkan sesuatu. Lalu tak lama, ia kembali membukanya dan langsung melirik ke arah Rashino dan Nashira.
"Anu... apa kalian sudah bertanya tentang kematiannya pada istri atau ibunya si pelaku?" tanya Pak Polisi. "Karena siapa tahu saja kita bisa menemukan informasi penting tentang kematian si pelaku yang mendadak itu." Lanjutnya.
Rashino dan Nashira tersentak. Lalu mereka berdua menggeleng. "Oh iya! Kami lupa bertanya pada keluarganya!"
"Kalau begitu, ayo ikut dengan saya. Kita bersama akan mendatangi rumah si pelaku itu. Kalian yang memimpin jalannya." Ajak Pak Polisi sambil berbalik badan, lalu melangkah mendekati mobil patroli yang ternyata sudah terparkir di pinggir jalan sedari tadi.
Rashino dan Nashira pun mengangguk cepat. Lalu mereka berjalan mengikuti Pak Polisi itu. Tapi sebelum mereka menaiki mobil, tiba-tiba saja seorang pemuda yang tadinya muncul bersama Pak Polisi itu memanggil nama Rashino dan Nashira.
"Hei, kalian benar, kan? Yang namanya Rashino dan Nashira itu?" tanya pemuda itu.
Rashino dan Nashira mengangguk pelan. "I–iya. Memangnya ada apa, ya? Dan kau ini siapa?"
Lelaki yang memiliki tubuh lebih tinggi dari Rashino dan Nashira itu tertawa kecil sambil memegang kepala belakangnya dengan kedua tangannya. "Masa kalian tidak kenal dengan aku, sih?"
"Maaf! Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Nashira sinis.
"Iya tentu saja. Kita kan satu sekolah! Kalian ini bagaimana, sih?! Aku dari kelas 3-C, loh. Anak tertua di kelas itu."
"Maaf, kami tidak kenal dengan kau." Balas Nashira cuek.
Pemuda itu tersentak dengan tatapan dingin Rashino dan Nashira itu. "Ya, ampun kalian ini! Namaku Adit. Masa kalian tidak kenal, sih?!"
Si kembar menggeleng. "Kami memang tidak kenal."
"Huh, dasar! Kalian tidak kenal denganku. Tapi kalian pasti kenal dengan si Dennis anak baru yang culun itu, kan?"
Seketika Rashino dan Nashira tersentak. Ternyata pemuda itu juga mengenal Dennis?
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: Pipit_otosaka8
__ADS_1