
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Malam hari di Villa semua anak diminta untuk tidur lebih awal sebelum Bu Mia pergi untuk mengobrol dengan pemilik Villa di dalam kamar dekat aula.
Semua murid menurut. Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing, tapi bukan untuk tidur. Mereka yang belum mengantuk memutuskan untuk bermain dan mengobrol bersama saja di dalam kamar sambil memakan cemilan. Seperti Akihiro.
Tapi kalau di kamar Dennis, Dennis serasa tidak memiliki teman karena tidak ada Rei di dekatnya. Dennis juga tidak terlalu akrab dengan teman kamar lainnya. Tapi untuk saat ini, Zainal mencoba untuk mengajak Dennis berbicara. Dennis menerimanya dengan senang hati. Sebelumnya ia sedang bermain ponselnya, tapi semenjak Zainal mengajaknya mengobrol, Dennis menaruh ponselnya di samping tubuhnya, lalu duduk menghadap Zainal.
"Jadi... untuk apa kau pergi ke hutan?" tanya Zainal pada Dennis. "Padahal kami semua mengkhawatirkan kamu, loh!"
"Aku hanya iseng saja mau jalan-jalan ke sana." Jawab Dennis pelan.
"Oh iya ngomong-ngomong... biasanya kau pergi dengan Rei. Sekarang di mana dia? Kau tidak bersamanya lagi?" tanya Zainal.
"Ah, Kak Rei menghilang saat di dalam hutan. Aku tidak tahu dia di mana."
"Yakin kamu mau jawab itu?"
"Eh?"
"Dari ekspresimu, kau seperti sedang berbohong." Zainal menyipitkan mata kirinya, lalu ia menyingkirkan poni rambutnya yang menutupi mata kanannya itu. Dapat terlihat mata boneka milik Zainal yang terdapat di mata kanannya. Mata itu berwarna merah. Jika terkena cahaya, maka akan terlihat bersinar.
"Ah, kau tahu, ya?" Dennis bergumam. Zainal mengangguk, lalu ia kembali bertanya, "Sebenarnya apa yang telah terjadi? Cerita saja padaku."
"Tapi... ini cerita yang benar-benar nyata aku alami. Jika kau tidak ingin percaya padaku, sebaiknya tidak harus aku ceritakan saja." Ujar Dennis mulai jujur. Ia ingin menguji kepercayaan Zainal dulu.
"Sepertinya serius. Oke. Aku akan mendengarkan."
"Tapi janji padaku, kau tidak akan panik dan merasa ketakutan, ya?"
"Oke baiklah. Kau bisa percaya padaku."
Dennis mengangguk. Walau Dennis tidak terlalu dekat dengan Zainal, tapi ia tahu teman sekelas yang ada di hadapannya itu adalah orang baik yang dapat diandalkan. Ia tahu banyak tentang Zainal dari sahabatnya Ethan. Katanya, Zainal itu memiliki banyak hobi dan dia bisa dalam segala hal.
Sebelum menceritakan, Dennis menghela nafas sejenak lalu mulai menjelaskan. "Berita ini hanya baru diketahui olehku dan teman-temanku. Jadi jika kau sudah mendengarnya, kau tidak boleh memberitahu siapapun, ya?"
"Baiklah! Aku tidak akan mengingkari janjiku!" Zainal tersenyum sambil mengangkat jari kelingkingnya di atas kepala. Tanda ia sudah berjanji pada Dennis. Mitosnya, jika Zainal mengingkari janjinya, maka ia harus memotong jari kelingkingnya itu. Begitulah cara seseorang untuk tetap menjaga rahasianya.
Dennis tersenyum. Ia mulai menceritakan semuanya pada Zainal satu persatu. Dimulai dari pengalamannya di hutan, sampai fakta tentang keluarga pemilik Villa. Tapi untuk saat ini, Dennis tidak memberitahu rencananya pada Zainal.
Setelah 5 menit bercerita, Dennis merogoh tasnya untuk mengambil baju kotornya yang sebelumnya ia pakai. Baju yang memiliki noda darah asli saat ia disekap di dalam gubuk.
__ADS_1
"Aku hanya memiliki kaos putih yang kupakai tadi. Sebenarnya aku memakai kemeja merah di depannya, tapi kemeja itu hilang." Dennis tertawa kecil lalu membuka lipatan bajunya dan menunjukan bukti noda darah itu. Dennis menunjuknya. "Ini aku yakin noda darahnya. Karena... saat aku sedang bersandar di meja yang ada di gubuk yang aku bilang, aku sempat terkena noda darah kering itu. Tapi noda paling banyak ada di kemejaku."
"Hmm... begitu, ya?" Zainal menempelkan telunjuknya ke bibir. Ekspresinya seperti sedang memikirkan sesuatu. "Ah, seharusnya kita pergi dari sini sebelum ada korban lagi."
"Itu yang aku rencanakan." Dennis berujar senang.
"Eh? Rencana apa?"
"Rencana untuk kabur dari sini."
"Kabur? Kenapa bahasamu kabur? Kan kita bisa pergi dengan santai seperti kita ingin pergi pulang kembali ke sekolah." Tanya Zainal.
"Karena... orang-orang Villa itu bukanlah orang pemakan manusia biasa." Jawab Dennis pelan. Ia kembali mendongak menatap serius pada Zainal. "Karena salah satu dari mereka adalah jenis manusia yang tidak biasa. Mereka memiliki ilmu ghaib yang mengerikan. Ternyata itu nyata!"
"Lo–loh?" Zainal sedikit mengerutkan keningnya, lalu meneleng. Ia melirik ke arah lain untuk memikirkan sesuatu, lalu kembali bertanya pada Dennis, "Apa jangan-jangan... daging manusia yang mereka gunakan itu untuk tumbal?"
"Aku tidak tahu benarnya. Tapi kalau kita sudah mendengar tentang manusia seperti itu, kita tetap harus berhati-hati. Mau percaya atau tidak."
"Ah, iya kau benar. Aku akan membantumu dengan yang lainnya agar kita bisa pergi dari tempat seperti ini bersama-sama." Zainal menyentuh kedua pundak Dennis, lalu menatap matanya dekat dan serius. "Tidak boleh ada korban lagi, Dennis!"
Dennis tersenyum miring. Ia hanya mengangguk, lalu menjauhkan kepala Zainal secara perlahan karena kepalanya itu terlalu dekat dengan wajah Dennis.
TOK TOK! TOK! TOK!
"Masuk sa–"
"Eh?!" Dennis dan Zainal terkejut. Mereka berdua melihat orang yang datang ke kamar mereka itu ternyata adalah Rei, Adel, Rashino dan Cahya!
Mereka berempat yang baru datang itu terlihat ketakutan. Karena setelah mereka masuk, Rei langsung mengunci kembali pintu kamarnya, lalu berlari kecil (tanpa membuka sepatu) mendekati Dennis.
"Kak Rei ada ap–"
"Ssstt! Diam." Rei menutup mulut Dennis agar tidak bicara lagi, lalu setelah itu ia mengajak temannya yang lain untuk pergi ke kamar mandi yang ada di kamar. Cepat! Cepat! Entah kenapa dengan mereka berempat itu. Mereka datang-datang seperti habis dikejar setan, lalu setelah masuk mereka berempat malah bersembunyi di dalam kamar mandi.
"Dennis tolong aku. Jika ada yang datang ke sini, jangan bilang kalau aku ada di sini, ya?" bisik Rei pada Dennis sebelum ia mengikuti yang lainnya pergi ke kamar mandi. Dengan bingung, Dennis hanya mengangguk saja.
Semua temannya yang baru datang itu sudah bersembunyi di kamar mandi. Lalu mata Dennis melirik ke lantai dan terkejut dengan jejak tanah dari sepatu yang kotor. Dengan cepat, Dennis pun mengambil sapu untuk membersihkan tanah yang berserakan di lantai itu.
Dennis memulai bersih-bersihnya dari depan kamar mandi. Ia akan terus menyapu sampai ke depan pintu. Tapi saat di depan tempat tidurnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang dari depan. Orang itu memutar kenop pintu lalu menariknya.
Dennis dan Zainal terlihat tegang. Apakah orang yang mengejar Rei dan yang lainnya itu sudah datang di depan pintu sana? Jika memang benar bisa gawat! Persembunyian Rei bisa diketahui. Tapi untuk melindungi sahabatnya, Dennis tidak ingin membuka pintu yang baru saja dikunci Rei tadi.
Kenop pintunya terus bergerak dan pintu terus bergetar. Jantung Dennis berdegup kencang. Ia merasa takut dengan orang yang berusaha untuk membuka pintu depan itu. Ingin memeriksa lewat jendela yang tertutup dengan gorden, Dennis tetap tidak berani ingin membukanya.
Tapi saat Dennis mendengar suara orang yang memanggil namanya dari depan pintu, seketika jantung Dennis kembali berdetak dengan normal. Suaranya seperti....
"Kak Dian?" Dengan ragu Dennis bergumam sambil menggenggam erat gagang sapu yang ia pegang.
__ADS_1
"Hoy, Dennis! Kau ada di dalam?" teriak Akihiro dari depan sambil mengetuk pintunya. "Apa kau punya cemilan untukku?"
Dennis tahu yang datang itu pasti Akihiro. Ia menjatuhkan sapunya, lalu berjalan cepat ke pintu depan. Dennis membuka kuncinya, lalu membuka pintu. Ternyata benar. Akihiro berdiri di depan sana.
"Ah, Kak Dian, ada apa?" tanya Dennis.
"Cemilan aku abis. Kamu ada makanan yang tidak kau makan, gak?" tanya Akihiro sambil menggaruk kepalanya dan tertawa. "Haha... kau tahu kan aku belum makan dari tadi pagi. Lapar banget tahu. Cemilanku habis semua. Mau ambil di Villa, takutnya makanannya gak sehat."
Dennis menggeleng pelan. "Maaf, Kak Dian. Aku tidak punya persediaan saat ini. Aku juga belum makan dari tadi."
"Eh, kak Dennis?" Adel membuka pintu kamar mandi lalu mengintip. Setelah Adel, yang lainnya juga ikut mengintip. Setelah mereka melihat keadaan aman, Dennis meminta Rei dan yang lainnya untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Mereka berempat menurut, lalu Rashino mengeluarkan plastik hitam dari balik tubuhnya. Dalam plastik itu berisi beberapa makanan yang ia beli saat di bawah bukit.
"Ternyata Dian. Bikin kaget saja." Rei menghela nafas lega, lalu berjalan mendekati tempat tidurnya. Kalau yang lainnya pergi mendekati Dennis dan Akihiro.
Adel memeluk kakaknya karena ia kangen sekali dengannya. Begitu juga dengan Dennis. Ia senang adiknya baik-baik saja. Tapi yang masih bikin Dennis terheran adalah, kenapa ada Rashino dan Cahya juga yang datang?
"Dian mau apa ke sini?" tanya Rashino.
"Tadinya aku mau minta makanan sama Dennis. Tapi karena tidak ada, tidak apa-apa, deh." Akihiro mengeluh. Karena ia tidak mendapatkan apa yang ia cari, maka Akihiro akan pergi kembali ke kamarnya. Kalau perlu, dia bisa mengecek kamar temannya yang lain demi makanan.
Tapi sebelum Akihiro pergi, ia sempat melirik ke arah plastik hitam yang Rashino pegang. Setelah Rashino tahu lirikan mata Akihiro mengarah ke makanannya, Rashino langsung menyembunyikan plastik itu dibalik tubuhnya lagi.
Karena penasaran, Akihiro pun bertanya, "Hei, itu... isinya apa? Kok aku mencium sesuatu, ya?"
"Ah! Ini bukan apa-apa, kok!" Rashino menjawab sambil tertawa kecil. Ia mundur ke belakang untuk menjauh dari Akihiro sebelum Akihiro menyadari isi dari plastik itu.
"Emm..." Akihiro mencoba untuk mengendus. Lalu tak lama, matanya tersentak setelah ia mencium bau yang enak dari dekat Rashino. Karena penasaran, Akihiro pun masuk ke dalam kamar, mendekati Rashino. "Ah, aku mencium bau yang enak. Hei! Apa kau menyembunyikan makanan dariku, ya?"
"Ah tidak, kok!" Rashino menggeleng. Lalu setelah itu ia berlari menjauh dari Akihiro. Karena merasa Rashino tidak ingin membagi makanannya itu, Akihiro jadi merasa geram. Ia menginginkan makanan yang disembunyikan Rashino itu. Sampai akhirnya, Rashino dan Akihiro saling kejar mengejar di dalam kamar dan membuat keributan.
Rei berusaha untuk menenangkan mereka. Dennis yang ada di depan pintu hanya bisa bergumam, "Hah... mereka masuk dan tidak membuka sepatunya. Padahal aku baru habis nyapu. Hah, capek, deh!" Lebih tepatnya gumaman itu adalah keluhannya Dennis.
Sekarang ia ingin menghentikan kedua temannya yang sedang memperebutkan makanan itu. Dennis kembali menutup pintu, tapi sebelum itu ia sempat melihat ada sosok bayangan manusia yang berjalan di turunan bukit.
"Siapa itu, ya?"
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1