Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 56– Ujian IPA berakhir


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


“DENNIS!” Rei berteriak. Ia menghentikan langkah dan langsung pergi menghampiri Dennis. Ia ingin membantu Dennis untuk bangkit kembali. Tapi sayang, waktunya sudah tidak banyak lagi. Tangkai duri yang merambat itu hampir mendekati kaki Dennis. Rei harus apa? Menyelamatkannya sekarang juga tidak mungkin. Nanti yang ada, Rei juga ikut terjebak dan pada akhirnya dia sendiri juga tidak bisa menyelamatkan Dennis.


“Seseorang! Kumohon. Selamatkan temanku!” Rei berharap keselamatan Dennis di dalam hatinya. Ia memohon pertolongan pada seseorang. Siapa saja! Tolong selamatkan Dennis sebelum waktunya habis!


WUUSHHH~


“Eh?” Rei kembali membuka matanya. Ia merasa ada sesuatu yang dingin tiba-tiba saja lewat dan menyentuh tubuhnya. Lalu secara tidak sengaja, Rei melirik ke arah Dennis dan terkejut.


Karena secara mendadak, tiba-tiba saja tubuh Dennis terlempar ke arahnya. Rei tertabrak oleh tubuh Dennis sampai dirinya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Rei pikir, ia akan mati saat ini juga. Karena... Sudah tidak ada waktu untuk berdiri kembali. Beberapa duri itu telah menyentuh kakinya juga. Ia merasa takut. Berdiam diri sambil memeluk tubuh Dennis.


WUSSHH....


Sekali lagi Rei merasa ada angin sejuk yang lewat sebelum tanaman merambat melilit kakinya. Setelah hembusan angin itu lewat, tiba-tiba saja Rei merasa tubuhnya agak ringan. Tubuhnya terangkat ke udara bersama dengan tubuh Dennis juga. Lalu tak lama kemudian, tubuh Rei dan Dennis terhempas dengan kuat mengarah ke pintu keluar terowongan.


Saat dirinya sedang melayang dengan cepat tanpa sebab itu, Rei sempat melihat sosok seseorang yang ada di dekat kumpulan bunga-bunga di dalam terowongan. Sosok seorang gadis berambut pendek. Rei tidak sempat melihat wajahnya karena dirinya telah keluar dari dalam terowongan. Hanya ada cahaya silau saja yang telah menghalangi pandangan matanya.


*


*


*


“HAH!” Rei kembali membuka matanya dengan cepat. Ia memperhatikan lingkungan yang ada di sekitarnya. “Eh, ini kan... ruang Kelas?”

__ADS_1


Dengan cepat Rei bangun terduduk. Ia ternyata tertidur di lantai samping kursinya. Ternyata memang benar. Rei sudah kembali ke kelas. Dia berhasil selamat keluar dari Ujian IPA!


“Rei? Kau baik-baik saja?” tanya Akihiro yang sudah berdiri di hadapannya. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Rei berdiri.


Rei mengangguk. Ia menggenggam tangan Akihiro, lalu mencoba untuk berdiri. Setelah itu, Rei menengok ke arah tempatnya Dennis. Di sana... lelaki itu masih belum sadar. Rei terkejut. Lalu dengan cepat, ia langsung menghampiri Dennis untuk membangunkannya.


Ia khawatir. Sebagian besar semua anak di kelas 3-C sudah kembali ke tubuh asli mereka. Tapi... Kenapa hanya Dennis saja yang masih belum tersadar? Apa jangan-jangan... jiwanya tidak kembali ke tubuh aslinya dan... Dennis yang sebenarnya itu masih terjebak di dalam dunia aneh? Dia... mati di dalam dunia itu?


“De–Dennis! Tidak mungkin, kan?” Rei bergumam. Ia menggeleng cepat karena telah memikirkan hal yang bukan-bukan. Setelah itu, ia menggoyangkan tubuh Dennis untuk membangunkannya.


Dennis mengerutkan keningnya. Tangannya bergerak dan sedikit terangkat. Rei terkejut. “Eh, Dennis?”


“Ugh,” Dennis membuka matanya. Sontak ia melirik ke arah Rei yang sudah dekat dengan wajahnya. Pandangan dan tatapan mata Rei itu telah membuat dirinya terkejut. “Ka–kak Rei?!” Dennis langsung bangun terduduk. Ia sedikit menyentuh kakinya yang terasa sakit.


“Dennis! Kau selamat.” Ucap Akihiro senang. Keadaan Dennis terlihat baik-baik saja. Anak itu tersenyum senang. Ia menjawab, “Iya. Kita semua berhasil selamat!”


“Tapi...” Dennis menundukkan kepalanya. Ia mengingat sesuatu. Lalu kembali mendongak dan langsung berdiri. Ia memperhatikan keadaan kelasnya. “Apakah... Kita semua selamat? Adakah anak di kelas kita yang mati?” tanya Dennis. Ia berharap Rei dan Akihiro bisa menjawabnya.


“Di kelas kita... hanya Cindy saja yang tidak bisa selamat.”


“Kak Zuki? Ikh! Jadi... ada yang mati lagi?” tanya Dennis.


Mizuki mengangguk. “Iya. Walau hanya satu orang untuk hari ini. Tapi tetap saja sakit rasanya. Dia diduga meninggal karena tidak bisa menyelamatkan diri dari serangan tanaman yang mematikan itu. Cindy itu orang yang baik. Semoga dia tenang di alam sana.” Setelah menjelaskan, Mizuki pun menundukkan kepalanya untuk berduka atas kematian teman sekelas mereka. Setelah ia menunduk, dapat terlihat beberapa tetes air mata yang turun dari mata Mizuki. Tubuhnya gemetar dan sesekali terdengar suara isakan Mizuki.


Semuanya juga ikut menundukkan kepala. Sebagian besar, semuanya menangis. Tapi hanya anak laki-laki saja yang bisa menahannya. Setelah itu, beberapa anak lainnya akan mengurus jenazah Cindy dan membersihkan tempat duduknya dari darah, lalu masing-masing anak akan menaruh bunga di atas meja untuk menghormati kepergian teman sekelas mereka. Sama seperti anak yang meninggal lainnya juga.


Bunga-bunga itu mereka petik dari taman di halaman sekolah mereka. Setelah itu, beberapa anak yang ditugaskan untuk mengurus mayat anak yang sudah meninggal akan meletakan tubuh teman mereka yang sudah tidak bernyawa di halaman belakang untuk dikubur.


Semuanya benar-benar sudah tidak tahan dengan kematian teman dekat mereka. Semuanya berharap bantuan dari luar akan datang. Mereka juga ingin menghubungi seseorang yang bisa diandalkan untuk membantu, menolong dan menyelamatkan mereka.


Jika ingin menghubungi bantuan lewat ponsel, mereka tidak akan bisa. Karena... Entah kenapa sinyal malah menjadi penghalang untuk mereka berkomunikasi lewat ponsel genggam. Padahal, cara paling aman adalah dengan cara menelpon polisi langsung lewat ponsel.


Mereka tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah karena... Gerbang sekolah telah dijaga ketat oleh dua orang berbadan besar yang entah mereka itu siapa. Dan lagi, jika ada yang berniat ingin memanjat tembok pembatas untuk melarikan diri, mereka juga tidak akan bisa karena pada bagian atas dinding pembatas yang tebal itu terdapat serpihan beling, duri-duri dan kawat yang dapat melukai tangan mereka. Semuanya benar-benar sudah terjebak di dalam sekolah mereka sendiri. Tidak bisa ke mana-mana, dan hanya bisa menunggu ajal menjemput mereka dengan cara yang tidak biasa.

__ADS_1


Yaitu, mengikuti Ujian yang wajib mereka lakukan. Jika tidak bisa, mereka akan mati! Itulah ancaman hidup semua murid sekolah. Guru-guru juga pada menghilang entah ke mana. Dan cara satu-satunya untuk bisa selamat adalah dengan cara menyelesaikan Ujian mematikan itu. Selain Ujian yang mematikan di setiap pagi, apalagi cobaan yang akan mereka dapatkan?


Terror Internet?


Bisa jadi.


****


Sore harinya, semua murid telah selesai mengurus teman-teman mereka yang sudah mendahului mereka. Dan sekarang, semuanya sedang berada di dalam kamarnya masing-masing untuk termenung dan menangis karena ketakutan.


Di dalam Beautiful Death High School sudah tidak ada kebahagiaan dan senyuman dari para murid yang menempati sekolah itu. Tidak satupun! Yang ada hanyalah ketakutan, kegelapan, kesepian, dan kecemasan akan kematian mereka yang semakin dekat seiring berjalannya waktu.


Yang sekarang ini sedang berdiri di tengah lapangan itu adalah Dennis dan teman-temannya. Entah mereka sedang apa di sana, tapi dari tatapan mata, mereka sedang menatap gerbang sekolah yang merupakan pintu keluar satu-satunya untuk melarikan diri dari sekolah mematikan ini.


“Secepat mungkin, aku akan bisa menerobos pintu gerbang itu dan mencari bala bantuan!” ujar Akihiro. Dennis yang ada di sampingnya mengangguk. “Aku juga begitu. Aku sudah tidak tahan dengan kegilaan ini.”


“Kita bersama-sama... akan keluar dari sekolah ini! Pokoknya harus!” tegas Rei.


“Kalau bisa, kita juga harus menyelamatkan teman kita yang lainnya sebelum jatuhnya korban lagi!” –Mizuki.


“Adel tidak ingin melihat teman Adel mati lagi! Tidak akan! Adel sendiri juga harus berusaha!” –Adel.


“Walau nyawa taruhannya, tapi setidaknya kita masih bisa menolong orang lain.” Si kembar juga ikut berujar. “Karena jika bersama-sama kita akan semakin kuat!”


“....” Yuni terdiam. Tapi otaknya tetap berpikir untuk mencari cara yang tepat agar dirinya bisa keluar dari sekolahnya juga.


Dan sekarang... Apakah Dennis dan teman-temannya bisa keluar dari sekolah itu untuk mencari bala bantuan? Atau mereka akan terus mengikuti Ujian mematikan ini sampai berakhir?


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2