Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 34–Ujian Dimulai!


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Di hari Sabtu dan Minggu, semua murid menghabiskan waktu mereka sebaik mungkin. Mumpung lagi waktunya mereka untuk bebas, jadi mereka bisa melakukan apa saja di dalam lingkungan sekolah.


Sampai akhirnya.... waktu yang sudah ditunggu-tunggu tiba juga! Ujian Akhir Semester akan dimulai pada esok hari!


****


Malam harinya, di kamar Dennis dan Rei–


Setelah puas memainkan ponselnya, Rei pun bangun dari tempat tidur untuk mematikan lampu kamar. Tapi sebelum itu, "Dennis, lampunya ingin aku matikan. Ayo kita tidur sekarang!" seru Rei pada Dennis.


Dennis saat ini sedang membaca dan belajar pelajaran besok. Hari Senin jadwal pertamanya adalah Matematika. Mungkin itu agak sulit untuk Dennis, jadi ia belajar sekuat yang ia bisa. Malah, sangking semangatnya, Dennis menolak ajakan Rei untuk tidur.


"Tidak, jangan sekarang, kak! Aku masih belum selesai. Nanti besok bagaimana? Gimana kalau aku tidak bisa mengerjakan soalnya." Dennis menggeleng, lalu menjatuhkan buku –yang sebelumnya ia angkat dengan kedua tangannya ke kasur.


"Dih! Tenang saja! Aku yakin kau pasti bisa mengerjakannya." Ucap Rei lirih.


"Tidak, ah!" Dennis tetap menolak. Ia menggeleng lagi. "Aku takut dengan ujian besok!"


"Hah, siapa tahu saja semua yang kau pelajari itu tidak akan masuk ke soal ujian besok."


"Eh?" Dennis tersentak. Matanya melirik ke arah Rei dengan cepat. "Kenapa kak Rei bicara seperti itu? Kalau semua buku yang aku pelajari tidak akan masuk ke soal, lalu gunanya apa aku belajar sekarang ini!?" Dennis jadi membentak.


"Eh, bukannya begitu! Aku... hanya memiliki perasaan buruk tentang Ujian besok." Rei bergumam sambil menundukkan kepalanya.


Dennis sempat mendengar gumaman Rei itu. "Perasaan buruk? Maksudnya apa?" batin Dennis.


Rei menggeleng cepat. "Ah, tidak mungkin." Ia bergumam lagi. Lalu setelah itu, Rei beranjak dari tempat tidurnya. Menghampiri Dennis yang masih terduduk di atas ranjangnya. "Sini. Biar aku bantu kau belajar."


"Nah, gitu dong, kak Rei! Kita bisa belajar bersama, kan?"


"I–iya. Coba berikan buku matematika-nya padaku. Sedari tadi kau ngapain aja dengan buku ini?" tanya Rei. Dennis memberikan buku paket matematika pada Rei. "Aku hanya membacanya saja, kok!"!


Rei membuka buku itu. Membuka-buka halamannya satu per satu. Lalu tak lama matanya kembali melirik ke arah Dennis. "Buku matematika kau baca, Dennis?" tanya Rei.


"I–iya. Memangnya kenapa? Kan aku sedang belajar."


"Tapi Dennis, di buku matematika ini hanya penuh dengan rumus. Bukan tulisan cerita seperti yang ada di pelajaran lain." Ujar Rei, lalu ia menutup buku paket matematika. Setelah itu, ia mengambil buku tulis milik Dennis yang ada di sampingnya. "Belajar matematika itu seharusnya dengan cara menghapal dan menulis."


"Menghapal dan menulis?" Dennis meneleng bingung.


Rei mengangguk. Lalu ia mengambil pensil yang ada di dalam buku tulis. "Nih, maksud dari menghapal itu, kau harus mencari rumus lalu mengingatnya di otakmu. Setelah itu, kau perlu latihan untuk menelaah isi dan jawaban dari rumus tersebut. Tulislah beberapa soal untuk mengasah otakmu."


Rei mulai menulis. Lalu setelah itu, tulisannya itu ia tunjukan pada Dennis. "Nih, seperti inilah contohnya. Coba kau jawab soal dariku."


Soalnya adalah....


"Eh? 1+1\=... Kak Rei... Pelajaran kita bukan seperti anak TK lagi, loh!"


"Ini kan hanya contoh. Jadi seperti itulah. Coba kubuat soal lagi untukmu."

__ADS_1


Rei kembali menulis. Dennis jadi penasaran dengan soal yang akan diberikan Rei padanya. Tak lama, Rei pun mengangkat buku yang ia tulis itu. Itulah soalnya. Dennis terkejut saat melihat soal yang diberikan Rei padanya.


"Ka–kak Rei! Apa ini?!" tanya Dennis.


"Ini soal yang kuberikan. Aku kasih yang seperti ini, karena soal yang sebelumnya itu terlalu mudah katamu. Makanya aku buat lebih sulit."


"Tapi... bagaimana cara mengerjakan soal seperti ini, Kak Rei?!"


"Ini mudah, kok! Kau harus merubah angka 2 ini menjadi bentuk desimal, lalu kau juga harus mengunakan rumus pythagoras. Setelah itu, hasilnya kau kalikan lagi dengan yang ini, lalu kemudian...."


Bla~ bla~


Malam itu juga, Rei mengajari Dennis mata pelajaran matematika dengan soal-soal yang telah membuat Dennis jadi pusing bukan main. Tapi semoga saja besok mereka berdua bisa mengerjakan Ujian mereka!


****


Pagi harinya–


Dennis, Rei, Adel dan Yuni sedang berjalan di lorong gedung dua, lantai dua. Mereka sudah berserag rapih dan membawa tas di belakang. Hari ini dimulailah Ujian yang sudah mereka tunggu-tunggu. Jadi mereka datang ke kelas lebih awal. Pukul 6 pagi, mereka sudah harus ada di kelas.


Saat sampai di kelas, terlihat semua murid sudah berkumpul di depan kelas mereka. Semuanya tidak diizinkan untuk masuk dulu karena di dalam kelas sedang ada persiapan dan penyetelan komputer yang akan digunakan untuk Ujian.


Lalu tak lama kemudian, Bu Mia yang sudah ada di dalam membuka pintu kelas dan meminta para murid untuk segera masuk ke dalam dan menuju ke tempat duduk mereka masing-masing.


Setelah semuanya datang, Bu Mia berdiri di depan kelas. Sebelum ujian dimulai, Bu Mia ingin mengumumkan sesuatu terlebih dahulu.


"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Bu Mia pada semuanya.


Murid-murid menyahut, "Pagi Bu!"


GRRRRKKK....


Pintu depan kelas bergeser. Lalu seseorang dengan badan besar masuk lewat pintu itu. Semua murid biasa saja dengan tampang orang itu. Tapi tidak dengan Rei dan Adit.


"I–itu... sepertinya aku tidak asing dengan orang itu!" batin Rei sambil berpikir.


"Itu Bob! Dia datang ke sini untuk mengawas, kah?" Batin Adit kegirangan. "Yes! Jika iya, maka dia bisa membocorkan soal-soal Ujian ini padaku. Dengan begitu, aku bisa mendapat rangking satu lagi!"


"Nah, anak-anak! Perkenalkan ini Pak Bob. Dia... kepala sekolah kita yang baru!" Bu Mia memperkenalkan orang bertubuh besar yang berdiri di sampingnya itu.


"Selamat pagi, anak-anak! Bagaimana hari kalian? Apakah kalian sudah siap untuk menyelesaikan Ujian hari ini dan hari kedepannya?" tanya Pak Bob sembari menyapa.


Semua murid bersorak. Mereka ada yang menjawab "Tidak" dan ada juga yang menjawab "Iya". Ada juga yang menjawab, "Tidak terlalu bersemangat!". Tapi intinya, sebagian besar mereka menjawab "Iya".


Pak Bob menepuk tangannya sekali, lalu kembali berkata, "Ya! Bagus! Nah sekarang pesan dari bapak sebelum kalian memulai ujiannya, kalian harus selalu berhati-hati dan usahakan yang terbaik agar mendapat nilai bagus."


"Eh? Berhati-hati? Maksudnya apa tuh?" tanya Akihiro bingung.


"Yaa... berhati-hati saja pada soalnya. Jika kalian lengah, maka tidak akan mendapat hasil yang terbaik." Jawab Pak Bob. Tapi jawaban itu malah membuat Akihiro semakin bingung.


"Kenapa kata-katanya terdengar menyeramkan, ya?" pikir Akihiro dalam hati sambil melirik sinis ke arah Pak Bob.


"Baiklah, Pak! Sekarang sudah saatnya semua murid untuk memulai Ujian mereka. Nanti waktunya keburu habis." Ujar Bu Mia mengingatkan.


Pak Bob mengangguk cepat. "Oh, iya! Iya. Silahkan."


"Baiklah, anak-anak! Sekarang kita mulai Ujiannya. Kalian tekan tombol on yang ada di keyboard nya, ya? Setelah komputernya menyala, kalian masukan nama lengkap kalian di sana." Jelas Bu Mia.

__ADS_1


Semuanya mengangguk, lalu mereka mengikuti arahan dari Bu Mia. Semuanya bisa menyalakan komputernya. Setelah komputer menyala, mereka langsung memasukan nama mereka masing-masing.


Lalu tak lama kemudian, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari kelas sebelah. Pada awalnya hanya terdengar satu suara. Tapi lama-kelamaan terdengar suara teriakan lainnya. Seketika semua murid yang ada di kelas 3-C jadi terkejut.


"Eh? Apa itu tadi?"


"Kok kelas sebelah pada teriak-teriak?"


"Eh, kenapa tuh?!"


Seketika semua murid jadi ribut dan mereka juga terlihat ketakutan. Bu Mia berusaha untuk menenangkan mereka. "Baiklah anak-anak! Kalian tenanglah dulu. Ibu... akan periksa ke kelas sebelah."


Bu Mia pergi. Lalu setelah Bu Mia pergi, Pak Bob berbicara pada semuanya. "Anak-anak di sini tenang, ya? Sekarang apakah kalian sudah menulis namanya masing-masing di sana?" tanya Pak Bob lirih.


Semuanya mengangguk. "Iya, sudah!"


"Baiklah kalau begitu. Sekarang pencet enter, ya?"


"Oke, sudah, Pak!"


****


"Haduh... anak-anak tadi berisik sekali. Ada ap– eh?!" Setelah Bu Mia mengintip lewat jendela kelas sebelah, yaitu kelas 3-B, tiba-tiba saja Bu Mia terkejut. Karena ia melihat semua murid yang ada di dalam sana terlihat tak sadarkan diri di depan komputer mereka masing-masing. Ada juga yang terjatuh dari kursi mereka dan ada juga yang tetap di atas kursi, dan ada yang kepalanya berada di atas keyboard komputernya.


Pengawas yang ada di dalam kelas itu tidak ada! Bu Mia jadi terlihat panik. Ia ingin membuka pintu kelas 3-B itu, tapi sayang tidak bisa terbuka. Terkunci dari dalam!


Bu Mia tidak bisa memeriksa semua murid yang ada di dalam kelas itu. "Oh tidak! Apa yang telah terjadi di sini?! Apa jangan-jangan... murid-muridku juga akan...."


"UWAAAAA!"


****


Pak Bob menyeringai. Lalu ia berkata, "Baiklah, anak-anak! Semoga sukses mengerjakan Ujian kalian." Lalu bergumam. "Dan semoga kalian bisa keluar dari sana hidup-hidup. Khu~ Khu~"


Semua murid kelas 3-C juga terjatuh. Keadaanya sama seperti kelas sebelah. Di layar komputer mereka terlihat ada tabel tentang informasi dan profil semua murid. Sekarang ini, tubuh mereka yang ada di kelas sudah kehilangan jiwa mereka. Dan... jiwa yang sebenarnya sudah terbawa masuk ke dalam dunia lain!


Yaitu, dunia di mana mereka akan memulai Ujian yang sebenarnya!


*


*


*


To be Continued-


**Follow IG: @pipit_otosaka8


Episode ini dibantu oleh teman sekelas Author. Follow juga Ig mereka.


@Nasheer.a


Follow kedua sahabat author:


@devinatri_a


@_wny395**

__ADS_1


__ADS_2