Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 45–Kembali ke Kelas


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Tidak mungkin. Rubah itu bisa mati? Ini tidak mungkin." Pak Bob yang masih terduduk di dalam ruangannya menggerutu sendiri setelah ia menyaksikan cara Dennis dan teman-temannya mengalahkan makhluk buatannya itu.


Tapi, dengan kekalahan si rubah miliknya, bukan membuat Pak Bob menjadi marah, malah semakin senang. Ia menyeringai sambil terus menatap ke layar. "Ini menarik sekali! Khu~ khu~"


****


Sekarang ini, Rei sedang memeriksa keadaan si rubah. Hanya memeriksa, apakah di rubah itu benar-benar mati atau tidak. Saat Rei menyentuh perut makhluk itu dan juga memeriksa matanya. Dan akhirnya, Rei dapat memutuskan kalau si rubah itu memang benar-benar sudah mati.


"Rei!" Rashino memanggil. Orang yang ia panggil itu pun menengok ke belakang. "Akihiro! Dia...."


"Oh tidak!" Rei lupa dengan keadaan Akihiro. Ia langsung berlari menghampiri temannya itu. "Rashino! Bagaimana keadaanya?" tanya Rei.


Rashino menggeleng. Lalu ia mengangkat tubuh Akihiro. "Aku juga tidak tahu. Tapi... seperti yang kau lihat ini. Lengannya telah...."


Rei melebarkan matanya kerena terkejut. Ia menyentuh dan mengangkat lengan Akihiro yang terluka. "Lengannya ini, benar-benar patah?" gumam Rei tidak percaya. Ia terus menggoyangkan lengan Akihiro. Dan ternyata bagian tulang lengan atasnya telah terbelah menjadi dua. Tapi tidak merobek kulitnya.


"DIAAAN!" Suara teriakan Mizuki terdengar. Gadis itu sedang berlari menghampiri temannya yang sedang terluka itu. Di belakangnya juga ada Yuni dan Adel yang sedang membantu Dennis berjalan. Sementara Nashira berjalan dengan bantuan tongkatnya.


Melihat adiknya yang kesulitan dalam berjalan, Rashino menyerahkan tubuh Akihiro pada Rei lalu ia kembali berdiri dan langsung berlari untuk membantu adiknya berjalan.


"Dian!" Mizuki sampai di dekat Rei. Ia langsung menggenggam tangan Akihiro dan berusaha untuk membangunkannya. "Rei...! Ini si Dian kenapa?!"


Rei menggeleng. Wajahnya juga terlihat cemas. "Di–dia terluka lebih parah daripada aku. Sekarang juga, kita harus membawanya ke rumah sakit!"


"Tapi... mana ada rumah sakit dalam keadaan seperti ini?!"


[ Memang tidak ada rumah sakit di tempat ini. Khu~ khu~ ] Bob akhirnya mengeluarkan suaranya lagi. Semuanya terkejut. Lalu Rei membalas Bob dengan bentakannya. "Manusia sialan! Cepat keluarkan kami dari sini!!"


[ Hei, Rei~ Sabar, dong. Aku salut dengan kalian semua yang berhasil mengalahkan rubah itu. ]


"Jangan banyak bicara! CEPAT KELUARKAN KAMI DARI SINI!!" Rei jadi semakin geram. Ia terus-menerus membentak Pak Bob.


[ Baik, baik! Karena kalian berhasil selamat dari rubah itu. Maka aku akan mengembalikan kalian ke dunia. Tapi... orang-orang yang sudah meninggal, tidak akan bisa kembali. ]


WUUSHH....


Semuanya terkejut. Mereka merasa ada yang aneh dengan tubuh mereka. Lalu Rei melihat bagian kaki Akihiro yang mengeluarkan cahaya dan perlahan menghilang. Tapi bukan hanya Akihiro. Ternyata yang lainnya juga begitu.


Tubuh mereka secara perlahan pun menghilang. Dimulai dari kaki, sampai akhirnya kepala mereka. Orang yang pertama menghilang adalah Adel, lalu dilanjut dengan Yuni dan yang lainnya juga menyusul. Orang yang menghilang itu akan kembali ke dunia mereka dengan selamat!


****


[ Nah! Selamat kembali ke kelas untuk kalian semua yang berhasil kembali ke dunia ini! ]

__ADS_1


Beberapa anak yang masih hidup di kelas 3-C mulai menggerakkan tangannya dan kembali membuka mata. Masih banyak murid yang hidup. Di kelas 3-C, hanya ada 4 orang saja yang meninggal. Yaitu, Lily, Lino, Lania dan Yony. Sayang sekali mereka berempat harus meninggal dimangsa oleh rubah lain di dalam gua lainnya juga.


Dalam posisi bersandar di kursi, Dennis akhirnya kembali tersadar. Jiwanya telah kembali ke tubuhnya. Ia mengernyitkan dahi, lalu secara perlahan Dennis membuka matanya. Ia bisa melihat langit-langit kelasnya.


Dennis mengangkat kepalanya secara perlahan. Rasanya berat sekali. Lalu setelah itu, ia membenarkan posisi duduknya dengan benar sambil memegang bagian belakang lehernya yang sakit. Lalu matanya melirik ke arah komputer yang ada di hadapannya itu.


"Aku... benar-benar kembali ke sekolah! Ini beneran kelasku, kan?" Dennis celingak-celinguk memperhatikan kelasnya. Ia akhirnya bisa percaya kalau sekarang ini dirinya sudah benar-benar kembali ke tempatnya berasal.


Lalu setelah puas melihat ke sekeliling kelasnya itu, Dennis menoleh ke arah tempat Rei duduk. Dennis terkejut karena temannya itu masih belum sadar. Dennis takut jiwa Rei tidak bisa kembali ke tubuhnya. Karena saat di dalam dunia aneh itu, Dennis sudah keburu menghilang duluan. Ia pergi dari dunia aneh itu sebelum Rei.


Dennis beranjak dari tempatnya, dan langsung pergi menghampiri Rei. "Kak Rei! Bangun! Hei... hei..." Dennis terus menggoyangkan tubuh Rei itu. Sesekali ia juga menepuk-nepuk pipi Rei. Dennis akan berhenti jika temannya itu menggerakkan tubuhnya.


Tapi tiba-tiba saja tubuh Rei terjatuh dari kursinya. Dennis merasa kalau dirinya telah menggoyangkan tubuh temannya itu terlalu kuat sehingga terdorong sampai terjatuh. Tapi ternyata bukan. Rei sendiri yang menggerakkan tangannya, dia sendiri yang kehilangan keseimbangan makanya terjatuh.


"Ah! Ka–kak Rei?"


Rei bangun terduduk sambil mengusap-usap kepalanya. Dennis langsung mendekat ke arah Rei dan tangan kanannya itu membantu Rei untuk mengusap-usap kepala Rei juga.


"Hentikan, Dennis." Ujar Rei pelan. Lalu kepalanya mendongak. Menatap dengan mata tajamnya itu ke arah Dennis yang ada dekat di hadapannya.


Dengan cepat, Dennis langsung melepaskan tangannya dari kepala Rei. Lalu ia mundur secara perlahan. "Ah! Syukurlah kau masih bisa selamat." Dennis merasa senang sekali melihat keadaan Rei yang terlihat baik-baik saja setelah kejadian mengerikan di alam lain.


Rei berdiri secara perlahan. Ia mengembalikan posisi kursinya yang terjatuh ke tempat semula. Lalu setelah itu, ia kembali melirik ke Dennis dan bertanya, "Kau baik-baik saja?"


Dennis tersentak. Ia menjawab cepat. "Iya! Aku baik."


"Ah, syukurlah." Rei bergumam. Lalu matanya melirik ke bagian bawah Dennis. Ia meneleng, lalu kembali mendongak menatap Dennis lagi. "Hei, kau sudah bisa berjalan lagi?"


"Kan... bukannya kakimu terluka?"


Dennis terkejut mendengarnya. "Oh iya! Eh? Eh! Kok?"


"Lukamu sembuh?" tanya Rei pelan.


"A–aku tidak tahu! Tapi sekarang ini, aku sudah tidak merasakan sakit apapun di tubuhku."


"Aku juga begitu." Rei memegang lengan kirinya yang sebelumnya terluka itu. "Aku juga sudah tidak merasakan sakit lagi."


Dennis tersenyum senang. "Eh? Itu bagus sekali! Berarti kita benar-benar selamat, kan?"


Rei mengangguk. "Iya." Lalu ia kembali berpikir. "Berarti, jika kita kembali ke dunia ini, luka-luka yang ada di tubuh kita yang sebelumnya kita dapat di dalam dunia aneh itu bisa menghilang. Itu berarti... Akihiro...."


"Oh iya! Kak Dian!"


Sontak Dennis dan Rei langsung menengok ke tempat duduk Akihiro. Tidak hanya menengok, tapi mereka juga menghampiri tempat duduk Akihiro. Di tempat duduk Akihiro, mereka melihat ada Mizuki juga di samping meja Akihiro sambil memarahi seseorang yang ada di depannya.


Ternyata orang yang sedang Mizuki marahi itu adalah si Akihiro sendiri!


"Kaget, bodoh! Kau ini!" Mizuki membentak. Sementara Akihiro hanya bisa tertawa saja sambil duduk di tempat duduknya.


"Hei, hei, kalian ini kenapa?" tanya Rei setelah ia berdiri di samping tubuh Mizuki. Di sampingnya lagi juga ada Dennis.

__ADS_1


"Si Dian ini! Tiba-tiba saja bangun tanpa tanda dan malah mengagetkan aku!" jawab Mizuki dengan perasaan kesal.


"Hehe... ekspresimu tadi lucu sekali. Kau mengkhawatirkan aku, ya? Haha...."


"Tutup mulutmu! Aku hanya ingin membangunkanmu saja dan memastikan kalau kau itu masih hidup atau tidak!"


"Sama saja. Kau mau membangunkan aku, itu berarti kau mencemaskan diriku, kan?"


"Kubilang tidak! Ikh!"


"Sudahlah kalian berdua! Lagi-lagi kalian selalu saja bertengkar!" Rei membentak Mizuki dan Akihiro. Seketika mereka berdua pun langsung terdiam dan menutup mulut mereka.


"Kak Dian? Apa kau baik-baik saja?" tanya Dennis.


"Apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku baik, loh! Aku kan kuat!" jawab Akihiro dengan penuh semangat. Lalu Akihiro melebarkan matanya. Ia mengekspresikan wajah imutnya, lalu melirik ke sekitar. Tak lama, Akihiro tersenyum kabar dan menunjuk.


Semuanya langsung menoleh ke arah Akihiro menunjuk. "Lihat itu! Ternyata masih banyak teman kita yang selamat! Keren sekali!"


Ya. Semuanya akhirnya terbangun dari mimpi buruk mereka. Semua bisa selamat dan kembali ke kelas tanpa luka sedikitpun. Kecuali dengan keempat murid yang tidak selamat itu.


Anak-anak yang tidak selamat, ditandai dengan mulut mereka yang mengeluarkan banyak darah. Murid yang mengeluarkan darah itu dianggap sudah meninggal. Semuanya sangat berduka atas kepergian keempat teman sekelas mereka itu.


"Mereka... tidak selamat, ya?"


"Kasihan sekali!"


"Ikh! Aku... tidak bisa menahannya."


"Kenapa harus sahabatku yang pergi?!"


Semuanya mulai berisik setelah mereka melihat mayat-mayat teman mereka yang telah meninggal dengan cara yang mengenaskan. Ada yang merasa geram dengan kematian mereka dan ada juga yang menangis karena kepergian sahabat dekat. Dan salah satu cowok di kelas 3-C yang menangis adalah si Arya. Ia sedih dan merasa tidak terima karena sahabatnya, yaitu si Lino telah pergi meninggalkannya.


Teman sebangku Arya berusaha untuk menenangkannya. Sementara sisahnya, semua anak perempuan yang masih selamat juga ikut menangis tersedu-sedu.


Sementara, kelompoknya Dennis hanya bisa menundukkan kepala mereka untuk berduka.


****


Sementara itu, di tempat lain yang belum diketahui lokasinya–Tempat persembunyian si Bob-


"Huh, kalian semua hebat. Tidak seperti murid-murid di sekolah lainnya. Baru satu hari saja, ternyata yang meninggal tidak terlalu banyak. Masih banyak anak yang bisa kembali dengan selamat. Hebat sekali~" Si Bob bergumam sambil memainkan mikrofon yang ada di depannya itu. "Tapi tunggu saja. Ujian yang berikutnya, tidak kalah menyenangkan dengan yang hari ini."


"Besok... ujian IPA, ya? Wah~ Pasti bakal seru, nih! khu~ khu~ khu~"


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2