Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 74– Ujian IPS Berakhir


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"EEEHHH?! Mo–mouth to mouth itu a–artinya... berarti... berarti..." Dennis jadi salah tingkah dan wajahnya memerah setelah ia membayangkan bagaimana caranya Mizuki memberikan nafas buatan itu padanya.


Rei menghela nafas, lalu ia berdiri. "Sudahlah. Sekarang, ayo kita lanjut–"


KREK! KREAK!!


Setelah Rei berdiri, tiba-tiba saja perahunya retak dan membuat air asin itu masuk ke dalam kapal. Kapalnya akan tenggelam dan semua orang yang menaiki kapal itu akan kebasahan!


Apalagi Dennis sudah diketahui kalau dirinya tidak bisa berenang. Apalagi dengan anak-anak lainnya? Bisa-bisa saja anak lainnya juga ada yang tidak bisa berenang. Kan bisa gawat. Rei juga tidak akan mampu untuk menyelamatkannya jika ada 2 orang lebih yang tidak bisa berenang.


"Kalian semua! Tetap tahan perahunya dan usahakan agar perahu itu jangan sampai terbelah!" Ethan mengulurkan tangannya pada Rei. "Pintu Biru itu tepat di hadapan kita. Aku akan menarik kamu dan teman-temanmu bersama dengan kapalnya juga dengan bantuan tenaga dari kapalku!"


Rei mengangguk. Begitu juga dengan semuanya. Lalu Adit dan Rashino memberikan dayung mereka pada kelompoknya Ethan. Dayung itu dapat digunakan sebagai tenaga dan kekuatan tambahan untuk perahu mereka.


"Sekarang kalian siap?" tanya Rei pada semuanya setelah ia menggenggam erat tangan Ethan. Semuanya mengangguk dan satu persatu mereka memeluk tubuh Rei untuk bertahan agar tidak jatuh.


Ethan mulai menarik dan bersama dengan kelompoknya, mereka melaju dengan cepat sampai akhirnya... tepat di depan Pintu Biru, kapal yang ditunggangi Rei dengan yang lainnya itu hancur. Tapi... mereka semua telah menyentuh Pintu Biru yang merupakan jalan keluar dan....


CRIIING!


Pintu Biru bersinar terang dan seketika pintu itu terbuka lalu membawa masuk semua orang yang ada di depan pintu. Mereka semua menghilang bersama dengan pintunya. Mereka ke mana?


Tentu saja kembali ke dalam kelas! Karena... di layar komputer telah tertulis, [ Ujian IPS telah berakhir! 28 Orang selamat dan 70-an anak telah meninggal dunia di dalam Ujian IPS. ]


Benar-benar ujian yang banyak memakan korban. Untuk Ujian IPS ini, mereka menduga kalau anak-anak yang mati itu sebagian besar meninggal karena dimangsa oleh dinosaurus yang ganas di dalam hutan. Dan sisahnya adalah... dibunuh oleh Hantu Duyung.

__ADS_1


Seperti biasa, setelah semua anak-anak yang selamat, mereka selalu terbangun dengan pemandangan kelas yang mengerikan. Mayat dan darah di mana-mana. Sekali lagi, mereka yang selamat di kelas masing-masing menundukkan kepala untuk berduka atas kematian teman mereka (lagi).


"Ugh! Kapan ujian ini akan berakhir?!" gerutu Rei. Tangannya menggenggam erat kursinya sendiri. Lalu tak lama kemudian, Ethan memanggil dirinya. Ethan sedang berdiri di depan papan tulis. Rei menghampirinya.


"Ada ap– Eh?!" Rei membesarkan matanya. Ia terkejut saat melihat kata-kata yang ditulis dengan spidol di papan tulis besar. Semuanya juga melihat tulisan itu dan membacanya.


"Semua yang selamat, tolong temui aku di kantin. Jangan panik dan jangan membuat si Bob curiga. Bersikap seperti biasa saja. By: Dian/Akihiro."


"Tulisan yang ditulis oleh Kak Dian langsung? Apakah ini benar?" tanya Dennis pada Rei. Rei menyipitkan matanya, lalu mengangguk. "Iya. Aku kenal dengan tulisannya yang sangat bagus sampai tidak bisa dibaca ini."


"Waduh~ Kak Rei menyindir." Batin Dennis. "Ah, tapi Kak Rei masih bisa membacanya, kan?" tanya Dennis lagi.


"Iya tentu saja." Rei mengangguk lagi, lalu setelah itu ia bergumam, "Apa yang direncanakan si Dian sekarang?"


"Hmm... oh iya! Kita juga harus mengabarkan berita ini pada yang lainnya, Kak Rei!" Dennis mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu membukanya. Ia mengetik beberapa tombol untuk untuk menemukan nomor teman yang akan ia hubungi.


Pertama Dennis akan menghubungi Adel. Tapi ternyata tidak bisa karena galat sinyal lagi. Dennis merasa kesal karena komunikasinya selalu terputus disaat genting!


Tapi... kalau Adel sepertinya tanpa ditelepon juga dia akan datang dengan sendirinya. Buktinya saja, setelah Dennis melemaskan tangannya yang sedang memegang ponselnya, tiba-tiba saja Adel datang membuka pintu kelas. Ia tidak sendiri. Pastinya dia selalu bersama dengan Yuni juga. Dan ternyata ada Rashino dan Nashira juga yang datang.


"Kak Dennis! Adel takut!" Baru saja Adel datang, ia langsung berlari menghampiri kakaknya dan memeluknya. "Di kelas Adel, semua teman Adel mati. Kelas Adel menjadi kelas berdarah. Intinya seram sekali, huwaaa!"


Dennis tersenyum, lalu mengelus-elus kepala Adel. "Tenang, sayang. Jangan khawatir, kakak ada di dekatmu sekarang." Ucap Dennis lirih. Adel hanya mengangguk, lalu setelah itu, ia melepaskan pelukannya. Adel tetap ingin selalu dekat dengan kakaknya. Dia tidak ingin jauh dari kakaknya itu.


"Hei, ada bercak darah di sini. Lihatlah!" Zainal menemukan darah yang ada di depan pintu kelas. Darahnya sedikit agak bergesekan dan sepertinya sudah mau kering gitu. Tidak terlalu basah dan kental.


Dennis ikut terkejut. "Tu–tunggu! Apakah itu darahnya...."


"Iya. Itu darahnya Dian." Yuni menyela.


"E–eeehh?! Kau selalu menyelaku!" Dennis membentak, lalu ia kembali menoleh ke arah Rei. "Rei! Eh, maksudku Kak Rei! Ayo kita pergi ke kantin sekarang juga. Sesuai dengan perintah yang dituliskan Akihiro di papan tulis!"


"Tapi bagaimana dengan anak-anak di kelas lainnya? Seperti... anak-anak di kelas 2-A. Di sana masih banyak anak yang selamat." Ujar Ethan. Semuanya mengangguk.

__ADS_1


"Ka–kalau begitu, biarkan aku yang akan menjemput mereka!" Arya membuka mulut. "Dari tadi aku tidak ada tugas. Makanya sekarang, aku yang akan menjemput anak-anak lainnya untuk berkumpul di kantin."


"Arya! Biarkan aku ikut denganmu, ya?" Lania juga ingin ikut ternyata. Arya mengangguk, lalu setelah itu ia berlari keluar kelas. Diikuti oleh Lania juga di belakang.


"Baiklah, sekarang yang lainnya ayo kita pergi duluan!" Ethan mengajak. Ia berlari keluar kelas. Semuanya juga begitu. Mereka langsung saja pergi keluar kelas dengan sikap yang biasa. Jangan berlari, kalau tidak Bob bisa melihat sikap mereka lewat CCTV. Mereka bisa dicurigai nanti.


"Di kantin! Si Dian pasti punya rencana hebat!" batin Rei. "Tapi anehnya, kenapa dia bisa kembali ke sini dengan cepat?"


"Kak Dian baik-baik saja, kan?" Batin Dennis. Dia lagi-lagi mencemaskan Akihiro. Dan dirinya juga masih belum yakin kalau tulisan di papan tulis itu ditulis oleh Akihiro langsung.


****


"Ooh~ Ternyata hanya mereka yang tersisah, ya? Jumlah yang sangat sedikit. Tapi aku menyukainya." Ujar Bob sambil memainkan bolpoin di tangannya. Matanya terus fokus ke layar yang memperlihatkan bagian depan kantin lewat CCTV yang ia pasang di tembok depan kantin.


"Mereka pasti kelaparan setelah mereka bermain cukup lama. Itu bagus, karena... mengisi perut yang kosong setelah bermain itu memang cara terbaik untuk menghilangkan rasa cemas, ketakutan dan keletihan mereka."


"Yah~ Aku akan membiarkan mereka semua makan dengan tenang di kantin. Aku tidak harus terus mengawasi mereka. Capek juga duduk melulu di kursi ini. Huuuh~" Bob menggerutu. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan memainkan video game di dalam ponselnya itu. Untuk sementara waktu, Bob tidak akan mengawasi para muridnya.


"Hmm~ Setelah anak buahku menembak anak bernama Dian itu, dia malah menangkap kedua orang yang diduga sebagai keluarganya Dian. Yah~ Terpaksa setelah aku menangkap kedua orang itu, aku juga harus menahannya untuk sementara waktu."


"Tapi anehnya... di mana anak yang bernama Dian itu pergi? Dia menghilang begitu saja saat aku sedang lengah. Apa aku harus mengirim anak buahku lagi untuk mencarinya?"


Bob tersenyum. "Yap! Sebaiknya begitu. Karena aku tidak tahu di mana keberadaannya, aku jadi khawatir dengan anak itu. Hah, terpaksa deh~ Aku kirim si botak 1 untuk mencari anak itu. Setelah ketemu kan bisa gampang aku mengawasinya."


"Lagipula, bukankah dia sedang terluka? Dia pasti belum jauh, dong!"


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2