Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 15– Bukti


__ADS_3

"Jadi, Diana pelakunya?!"


"Iya begitulah. Kalian mungkin tidak akan percaya kalau si anak baru itu adalah seorang psikopat yang memasuki daerah sekolah kita yang aman." Akihiro berterus terang. Ia merasa bangga sekali pada dirinya karena telah mengungkapkan semua itu pada teman-teman kelasnya.


Semuanya menggeleng. Lalu mereka keluar dari tempatnya untuk menjauh sedikit dari tempatnya Diana berada.


Bu Mia yang sedari tadi hanya berdiam diri saja, akhirnya mulai berbicara. Matanya melirik ke arah Diana. "Diana, apa itu benar? Jadi selama ini kamu yang telah...."


"Tidak ada bukti." Diana menyela.


"Apa?"


"Dia tidak berhak menuduhku sembarangan karena dia tidak memiliki bukti yang kuat." Ujar Diana dingin. Lalu, matanya melirik sinis ke belakangnya. Melirik ke arah Akihiro dan Dennis.


"Oh benar juga." Bu Mia mengangguk. Lalu, matanya kembali melirik ke arah Akihiro. "Dian Syahputra, seharusnya kamu tidak boleh menuduh temanmu sembarangan gitu, dong. Itu tidak baik. Apalagi saat ini, kasusnya adalah tentang pembunuhan. Tidak mungkin teman membunuh temannya sendiri."


Bu Mia malah menasihati Akihiro. Akihiro menggeleng pelan. Lalu ia berkata dengan nada tegas. "Tidak! Diana memang pelaku yang telah melukai Rei dan membuatnya menghilang."


Bu Mia berdiri dari kursi yang ia duduki, lalu berbicara tegas untuk membalas Akihiro. "Kenapa kamu Diana yang tidak-tidak? Apa kamu punya bukti? Jika tidak...."


"Aku tidak punya bukti. Tapi aku punya saksi." Sela Akihiro. Setelah diam sejenak, ia pun melanjutkan. "Seseorang telah memberitahuku tentang detik-detik Diana menyerang Rei. Orang yang telah menjadi saksi itu bilang kalau dia melihat Diana pada malam hari kemarin, ia membuang sampah berukuran besar yang tersimpan di dalam plastik hitam ke sungai. Bukannya itu melanggar peraturan sekolah?"


"Ta, tapi bukan itu saja. Kami menduga kalau isi dari kantung hitam itu bukanlah sampah, melainkan tubuh Rei!" Dennis akhirnya memberanikan diri untuk membuka mulut dan ikut menjelaskan seperti temannya, Akihiro.


"Huh, beneran tuh?" tanya Diana tidak percaya. Lalu ia berdiri dari kursinya. Tubuhnya ia hadapkan ke arah Akihiro yang ada di belakangnya. "Apa hanya itu saja bukti yang kau punya? Kalau tidak ada, lebih baik tidak usah menuduhku sembarangan, ya?!"


"Apa katamu?! Ini fakta. Aku hanya ingin kau mengakui semua kesalahanmu!" Akihiro membentak.


"Tapi tetap saja. Jika kau tidak melihat kejadian itu secara langsung, berarti 80% kau pasti tidak yakin jika aku yang telah melakukan pembunuhan itu. Dan sisahnya kau hanya percaya pada saksi yang bicara omong kosong!" Diana membalas Akihiro.


Akihiro jadi geram. Ia tidak akan menyerah semudah itu untuk mengungkapkan semua kenyataan yang sebenarnya telah diperbuat oleh Diana itu. "Akan aku tunjukkan padamu kalau kau itu memang bersalah, Diana!"


"Hah? Sekarang apa yang ingin kau lakukan?" tanya Diana dengan nada menjengkelkan.

__ADS_1


"Aku... akan pergi mencari Rei!" jawab Akihiro.


Seketika semuanya terkejut. Begitu juga dengan Bu Mia. Ternyata Akihiro memutuskan untuk pergi dari sekolahnya hanya untuk mencari Rei. Lalu, apa rencana dia berikutnya?


"Dian... kamu tidak boleh keluar dari sekolah ini." Tegas Bu Mia.


"Maaf, Bu. Aku sudah memutuskan keinginanku. Aku yang akan pergi mencari Rei dan aku akan membuktikan semua kesalahan Diana yang tidak kalian percaya itu! Akan aku tunjukkan kalau aku benar!"


"Aku juga akan ikut dengan Kak Dian. Karena aku tahu, kalau Rei pasti telah mengetahui semua masalah ini. Dan setelah kami menemukannya, kami akan membiarkan Rei untuk menjelaskan semuanya." Dennis juga ikut berbicara.


Akihiro jadi ikut senang karena Dennis juga ingin ikut bersamanya. Lalu pandangan matanya beralih ke Bu Mia. "Jadi, Bu! Kami izin pamit sebentar untuk mencari teman kami yang hilang."


Akihiro langsung berlari menuju pintu belakang kelasnya. Dennis sedikit menunduk sambil berucap, "Do'akan kami semoga berhasil menemukan Rei dan sampai jumpa lagi! Kami berjanji akan membawakan Rei kembali ke hadapan kalian." Setelah berkata seperti itu, Dennis pun juga ikut pergi mengejar Akihiro.


"Tunggu, Dian! Dennis! Jangan pergi kalian!" Bu Mia berteriak memanggil kedua anak muridnya yang lari keluar kelas itu. Tapi Akihiro dan Dennis tidak mempedulikan teriakan dari wali kelasnya itu. Mereka terus saja berlari di lorong, sampai akhirnya mereka keluar dari gedung 2 menuju gedung 1.


Pertama, mereka ingin kembali ke kamar untuk mempersiapkan barang dan pakaian ganti yang akan mereka bawa. Tak lupa juga Dennis menghubungi adiknya untuk mengajak adiknya juga. Sambil berlari, Dennis mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik nomor adiknya.


****


"Eh?"


Adel yang sedang memperhatikan guru yang mengajar di depan, langsung terkejut saat merasakan pergerakan di bawah mejanya. Tangannya pun ia masukan ke dalam meja itu dan mengambil sesuatu.


Ternyata, ponselnya lah yang bergetar. Saat di lihat ke layar ponselnya, ternyata kakaknya sendiri telah menelponnya. Karena sekarang sedang jam pelajaran, Adel tidak berani untuk mengangkat telpon dari kakaknya itu. Dengan sengaja, Adel pun mematikan telponnya.


Lalu setelah itu, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam kolong meja, lalu kembali mendengarkan guru di depan.


****


"Eh? Adel mematikan telponnya?" Dennis terkejut.


"Tentu saja. Saat jam pelajaran itu, tidak boleh ada yang memainkan ponsel. Semua murid wajib mematikan nada dering ponsel mereka. Kau tahu itu, kan?" jelas Akihiro.

__ADS_1


Dennis tertawa kecil. "Oh iya, yah! Kalau begitu, aku akan mengirim message saja padanya."


Dennis menghentikan langkahnya sejenak karena ia ingin mengetik beberapa kata di ketikan ponselnya itu. Lalu setelah ia berhasil mengirim pesan, Dennis pun kembali memasukan ponselnya ke saku celananya.


****


DRRRTTT....


Terasa getaran lagi di meja Adel. Kali ini getaran itu hanya sekali saja. Karena penasaran, Adel kembali mengambil ponselnya lagi.


Ia membuka layar ponselnya. Ternyata di layarnya itu tertulis nama kakaknya yang ada di dalam kotak message. Adel menekan kotak message itu, dan seketika beberapa tulisan pun muncul di layarnya.


Secara diam-diam, Adel membaca pesan itu. [ Adel, bisa kah kau ke kamar Kakak sebentar? Ada yang ingin kakak beritahu padamu. Jangan lupa ajak Yuni juga. ]


"Ah, Kakak mau ngapain?" gumam Adel dalam hati.


Setelah ia membaca pesan itu, Adel pun memasukan ponselnya ke dalam tas secara diam-diam. Setelah ia berhasil menyembunyikan ponsel itu ke dalam tasnya, Adel pun berdiri dari kursinya sambil mengacungkan tangan.


Guru yang sedang mengajar di depan langsung melirik ke arah Adel. "Iya? Adel mau apa?" tanya guru itu.


"Pak, boleh saya izin ke kamar sebentar? Saya merasa tidak enak badan." Kata Adel.


Pak Guru itu tersenyum. Lalu mengangguk. "Baiklah, mintalah salah satu temanmu untuk menghantarmu."


"A, aku akan mengajak Yuni. Ayo Yuni!"


"I, iya."


Adel dan Yuni keluar dari kelasnya. Mereka akan kembali ke kamarnya karena mereka diminta Dennis untuk pergi menemuinya.


*


*

__ADS_1


*


To be Continued-


__ADS_2