
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Pagi harinya–
[ Ohayou... Onii-chan! Onii-chan ohayou! Ohayou.... ]
Alarm di ponsel Dennis masih terus berbunyi dan belum dimatikan. Bahkan, suara alarmnya itu sampai terdengar ke luar kamar. Sudah lama alarm itu berbunyi dan pemilik ponsel itu masih belum mematikannya. Sampai akhirnya... ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Dennis dari depan.
Tetap saja Dennis belum terbangun. Begitu juga dengan Rei. Lalu karena merasa kesal karena bunyi alarm itu yang dianggap berisik, maka orang yang ada di depan pintu kamar Dennis itu langsung saja membuka pintunya.
Ternyata orang yang ada di sana itu adalah si Akihiro. Ia berpenampilan agak berbeda hari ini. Ia membawa handuknya yang ia kalungkan di lehernya. Dan... Akihiro masih memakai baju tidurnya. Yaitu baju daster sedengkul berwarna merah muda dengan gambar seorang loli anime di bajunya itu.
*( Loli\= Karakter anime/manga perempuan kecil yang memiliki wajah imut. )
"Eh? Ternyata mereka masih tidur? Kok tidak biasanya, sih?" Akihiro menggerutu. Lalu ia menarik handuk dari lehernya. Ia berjalan mendekati Rei terlebih dahulu karena Akihiro ingin membangunkan temannya yang satu itu.
"Mereka ini tidur apa mati, sih?" gumam Akihiro. Tadinya ia ingin menyabet tubuh Rei dengan handuk untuk membangunkannya. Tapi karena alarm di ponsel Dennis yang terdengar keras dan mengganggu, terlebih dahulu Akihiro akan mematikan ponselnya Dennis.
Tapi setelah Akihiro mematikan alarm di ponsel Dennis, tiba-tiba saja pemilik ponsel itu langsung bangun terduduk dan berteriak. Seketika Akihiro yang berdiri di samping Dennis pun terkejut bukan main. Lalu secara tidak sengaja, Akihiro melompat ke belakang sampai ia terjatuh ke atas tempat tidur Rei dan menindih orang yang sedang menggunakan tempat tidur itu.
Seketika, Rei langsung terbangun saat ada benda berat yang menimpa tubuhnya itu. Dengan cepat, Rei membentak pada Akihiro karena ia tidak suka kalau dirinya sedang tidur itu diganggu orang lain. "APA MASALAHMU, DIAN?!"
"E–eh? Maaf! Aku tidak sengaja. Ini semua gara-gara si Dennis! Dia mengejutkan aku. Sungguh! Aku tidak sengaja." Akihiro menggeleng sambil mengibaskan tangannya ke depan untuk terhindar dari amarah Rei.
Dengan tampang yang masih terlihat seperti orang mengantuk, Rei kembali membentak Akihiro. "Kau itu terlalu lebay! Sakit tahu!"
"Iya, iya. Aku kan sudah minta maaf. Sudahlah~" Setelah itu, Akihiro berbalik badan. Ia kembali melirik ke arah Dennis dan terkejut. Karena ia melihat temannya yang satu itu terlihat seperti orang yang sedang sakit.
__ADS_1
Tubuh Dennis mengeluarkan keringat dingin, wajahnya pucat, nafasnya terengah-engah dan tangan kanannya itu selalu menggenggam dadanya. "Ja–jantungku." Dennis bergumam.
Dengan cepat, Akihiro dan Rei langsung menghampiri Dennis dan mereka serontak langsung bertanya tentang keadaanya. "Ka–kau kenapa, Dennis?!"
"A–aku baru saja mendapat mimpi buruk dan... sekarang ini, entah kenapa jantungku... jadi berdetak kencang sekali. Hah... hah..." Dennis menjawab tanpa menoleh ke arah kedua temannya itu. Lalu tak lama kemudian, Dennis menghembuskan nafas panjang, setelah itu perasaanya kembali tenang. Ia menjatuhkan tangan kanannya ke samping tubuhnya.
"Mimpi buruk? Mimpi tentang apa kau semalam?" tanya Rei cemas.
Dennis tidak menjawab. Pertanyaan Rei itu telah membuat Dennis kembali teringat tentang kejadian mengerikan yang ada di dalam mimpinya itu.
Di dalam pikirannya, Dennis bisa melihat beberapa temannya yang telah terjebak oleh akar-akar pohon yang melilit dan akan membunuh semua temannya. Dennis ingin menyelamatkan semuanya, tapi... tiba-tiba saja ada seseorang yang telah menarik tangannya ke belakang dan langsung membawanya masuk ke dalam lubang besar yang ada di batang pohon. Seketika, setelah itu Dennis pun terbangun dengan perasaan takut dan tidak tenang.
"Maaf. Tolong jangan bicarakan soal mimpi itu lagi." Dennis menjawab Rei dengan gumamannya. Lalu setelah itu, secara perlahan Dennis turun dari atas tempat tidurnya.
"Dennis, kau beneran tidak apa-apa? Wajahmu pucat, loh!" Akihiro terlihat semakin cemas saat melihat Dennis yang berusaha untuk berjalan keluar dari kamarnya. Padahal langkah berjalannya agak sempoyongan dan hampir mau jatuh.
"Ya, ya. Aku... baik-baik saja." Dennis menjawab pelan. "Aku.. ingin pergi ke kamar mandi untuk bersiap." Dennis kembali melangkahkan kakinya. Ia pergi ke arah kanan, seharusnya kamar mandi itu ada di arah yang sebaliknya.
"Wah, tuh anak benar-benar tidak sehat Sepertinya." Akihiro bergumam. Lalu ia berlari keluar kamar untuk mengejar Dennis dan memberitahu arah jalan yang benar. Rei juga mengikuti Akihiro dari belakang. Setelah Rei keluar dari kamar, ia langsung menutup pintu kamarnya dan pergi.
****
Pukul 8~
[ Apa semuanya sudah berkumpul di kelas? Ayolah! Yang terlambat sampai tidak bisa ikut ujian, loh~ Dan yang terlambat akan menghilang dari dunia ini~ ]
"Sial!" Rei bergumam kesal setelah ia duduk di kursinya. "Aku... terpaksa harus pergi kembali ke kelas ini karena pengumuman itu. Entah kenapa aku malah menakuti ancaman dari si penjahat sialan itu. Dan satu lagi...."
"Kak Rei! Kumohon! Kita kembali ke kelas saja, yuk! Aku... ingin cepat menyelesaikan ujian hari ini!"
"Entah kenapa tiba-tiba saja si Dennis jadi merengek padaku tadi. Kenapa dia ingin sekali mengikuti ujian ini. Padahal, semalam dia menyetujui ajakan ku untuk tidak pergi ke kelas." Pikir Rei dalam hati. Lalu matanya melirik ke arah tempatnya Dennis berada. "Ada yang aneh dari anak itu." Lanjut Rei.
"Pesan Message tadi pagi... pesan itu... tiba-tiba saja muncul di ponselku. Apakah... isi pesan itu sungguhan? Salah satu teman terbaikku... akan mati?!" Secara perlahan, Dennis melirik ke arah Rei. Tapi karena saat ini si Rei juga sedang menatapi dirinya, Dennis terkejut dan langsung membuang muka dari Rei.
__ADS_1
"Haduh... apa dia memperhatikan aku dari tadi?" gumam Dennis. Ia tidak berani menatap ke Rei lagi untuk sementara. Perasaanya sedang tidak enak saat ini.
"Kan benar. Memang sedang ada yang tidak beres dengan anak itu. Aku... akan mencaritahu nanti." Batin Rei. Setelah itu, ia kembali menatap ke arah layar komputer yang ada di hadapannya.
KRIIIING... KRIIIING....
Bel dua kali, bertanda masuk kelas. Tak lama, pintu kelas tertutup sendiri dan terkunci dari luar. Semua murid yang ada di dalam kelas mencoba untuk membuka pintu itu, tapi tidak bisa.
[ Nah, sekarang kalian duduk di tempatnya masing-masing. Nyalakan komputer kalian dan masukan namamu di sana! ]
Semuanya agak ragu untuk menyentuh komputer itu. Karena mereka tidak ingin masuk ke dalam dunia mengerikan itu lagi. Jika mereka masuk dan tidak bisa bertahan di sana, maka mereka akan mati!
Lagipula, untuk Ujian IPA hari ini, mereka juga tidak tahu tantangan yang diberikan itu tentang apa. Jika tidak bisa memainkan ujian itu, mereka bisa merenggang nyawa di dalam sana.
[ Baik... kalau kalian tidak ingin menekan nama kalian, maka... biar aku saja yang melakukannya. ]
Setelah perkataan Pak Bob itu, tiba-tiba saja semua komputer yang belum dinyalakan di kelas 3-C menyala dengan sendirinya. Lalu di layar komputer itu, sudah tertulis nama mereka masing-masing. Semuanya terkejut dan mereka berusaha untuk kabur.
Lagi-lagi terdengar teriakan di mana-mana. Bukan hanya di kelas 3-C. Tapi di kelas sebelah juga. Mereka semua beranjak dari bangkunya masing-masing dan langsung pergi ke pintu kelas untuk pergi melarikan diri dari kelas mereka.
Tapi... karena komputer sudah menyala dan nama mereka sudah otomatis terdaftar, jadi... Pak Bob bisa langsung memulai Ujiannya tanpa kemauan para murid.
[ Sekarang... selamat menyelesaikan Ujian di hari kedua kalian! Semoga berhasil keluar dengan selamat! ] ujar Bob dengan santainya. Lalu ia menekan tombol biru yang ada di depannya dan seketika, semua anak di kelas langsung terjatuh di tempat. Jiwa mereka sudah pergi ke dunia aneh itu lagi.
Ujian apa yang akan mereka dapatkan dan... apakah mereka bisa keluar dari sana?
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8