
"Tidak salah lagi." Dennis bergumam. "Bunyi ponsel itu berasal dari ponsel Rei. Dan suara ponsel Rei itu berasal dari dalam gudang ini. Itu berarti, Rei ada di dalam gudang ini!"
"Eh? Benarkah? Memangnya itu benar?" tanya Akihiro tidak percaya.
"Mungkin saja. Karena saat Yuni menghubungi ponsel Rei, kita malah mendengar nada dering dari ponsel lain. Dan kemungkinan besar, nada dering itu pastinya dari ponselnya Rei yang ada di dalam gudang ini!" Dennis menjelaskan.
"Itu bisa jadi." Yuni berujar. "Kalau begitu, coba kita buka saja."
"Iya." Dennis yang akan membuka pintu gudang itu.
"Hati-hati, kak!"
Dennis mengangguk. Lalu setelah tangannya menyentuh kenop pintu gudang itu, Dennis langsung membuka pintu gudangnya. Terlihat di dalam tidak ada siapapun. Di sana hanya ada barang-barang yang usang dan berdebu.
"Eh? Tidak ada tuh!" kata Akihiro.
"Yuni, coba kau hubungi nomor Kak Rei lagi." Pinta Dennis cepat.
Yuni tidak menjawab. Tapi ia menuruti permintaan Dennis. Ia kembali mengetik di tombol yang ada di ponselnya. Mencari nomor Rei. Setelah ia menemukannya, Yuni menekan nomor itu.
TRIIING... TRIIIING....
"Suara nada dering itu lagi." Akihiro bergumam.
"Ponsel Rei pasti ada di sini! Ayo kita cari." Dennis bergegas memasuki gudang itu. "Yuni, tetap jaga ponselmu. Jangan dimatikan lagi."
Yuni mengangguk pelan. Lalu Dennis dan Akihiro memasuki gudang itu semakin dalam. Mereka mencari ponsel Rei dengan cara mengikuti asal suaranya.
"Ini dia! Aku menemukannya." Akihiro berhasil menemukan ponsel Rei di atas lantai dekat dengan tumpukan kursi rusak dan ada beberapa tali yang berserakan di dekat tempat itu.
"Kerja bagus, kak!" Dennis mengacungkan jempol. Lalu, mereka berdua kembali keluar dari gudang itu. Setelah itu, Kembali menutup pintunya lagi.
Akihiro menunjukkan ponsel Rei yang ia temukan pada semuanya. "Ini. Aku hanya menemukan ponselnya saja."
"Tapi... di mana Kak Rei?"
Tes...
"Eh, apa itu?"
Mereka semua terkejut saat melihat ada tetesan air yang turun dari ponsel Rei yang sedang dipegang Akihiro itu.
Setelah tetesan air itu terjatuh ke lantai, bisa terlihat kalau tetesan air itu berwarna merah. Karena kaget, Akihiro pun langsung menjatuhkan ponsel Rei ke lantai.
"I, itu darah?" tanya Akihiro dengan ekspresi terkejutnya.
"Itu darah." Jawab Yuni pelan. Tatapan mata kosongnya melirik ke arah tetesan darah yang telah terjatuh ke lantai. Lalu Yuni menunjuk ke arah kaki Akihiro. "Dan itu juga darah."
Akihiro semakin takut. Dengan cepat, ia pun menunduk. Melirik ke arah alas kaki yang sedang ia gunakan itu. Akihiro melihat darah yang banyak menempel di alas kaki sebelah kanannya itu.
__ADS_1
"Huwaaa! I, ini... ini tidak mungkin!"
"Tunggu dulu. Di mana kakak menemukan ponsel kak Rei tadi?" tanya Dennis cepat.
"Di dalam. Dekat dengan kursi rusak itu." Jawab Akihiro.
Dennis membesarkan matanya, lalu ia kembali memasuki gudang itu. Ia menuju ke tempat yang diberitahukan Akihiro tadi. Setelah sampai di sana, Dennis langsung kaget dengan apa yang ia lihat di bawahnya itu.
Karena... di dekat tumpukan kursi itu telah terdapat banyak bercak darah di lantai yang kotor. Karena merasa tidak nyaman dengan tempat itu, Dennis pun kembali keluar lalu menutup pintu gudangnya lagi.
Ia bersandar di depan pintu gudang sambil mengatur nafasnya perlahan. Jantungnya berdetak kencang. Ia jadi merasa takut dengan darah yang ia lihat tadi.
Lalu seketika, ia jadi terpikir sesuatu. "Darah itu... tidak mungkin darahnya Rei, kan?" Dennis bergumam pada semuanya.
Akihiro dan Adel terkejut. "Kau jangan bercanda! Tidak mungkin Rei, kan?!" Akihiro membentak. "Jangan bicara sembarangan!"
"Ta, tapi... di dalam sana benar-benar ada banyak bercak darah. Dan... yang membuatku tambah yakin adalah... tentang ponsel Rei. Kenapa ponselnya bisa ada di sana?" Dennis menjawabnya dengan ragu dan penuh dengan ketakutan. Saat ini tubuhnya bergetar dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
BRAK! BRAK!
Akihiro memukul pintu gudang yang saat ini sedang dibuat sandaran untuk tubuh Dennis yang lemas itu dengan kasarnya. Lalu dirinya pun berteriak. Ia seperti sedang membentak dirinya sendiri. "Tidak! Tidak mungkin Rei. Dia... tidak boleh menjadi korban tentang pembunuhan itu. Tidak! Dia pasti ada di suatu tempat sekarang."
Lalu Akihiro berbalik badan dan langsung menunjuk ke arah Adel dan Yuni yang sedang berdiri di belakangnya. "Kalian berdua juga jangan sampai menganggap kalau Rei telah terbunuh, ya?! Karena aku tahu... Rei hanya pergi saja. Dia pasti ada di suatu tempat saat ini!"
"Kalau begitu, kita lapor ke guru saja, kak. Biar mereka juga bisa membantu kita untuk mencari Kak Rei." Usul Adel.
"Ya... cepat lapor. Biar aku dengan Dennis yang akan mencari Rei duluan."
"Sekarang, Dennis! Ayo kita cari Rei. Dia pasti masih ada di sekitar sini." Ajak Akihiro.
Dennis menggeleng cepat. "Ti, tidak. Kak Rei... dia... dia sudah tidak ada di dekat kita lagi. Tidak... andai aku tahu kalau semalam itu adalah hari terakhirku dengannya, mungkin aku... aku akan menghabiskan waktu menyenangkan dengannya."
"Dennis! Jangan berpikir yang tidak-tidak. Rei pasti baik-baik saja. Dia masih ada di sekolah ini, kok! Sekarang ayo kita cari dia. Cepat!" Mau tidak mau, Akihiro menarik paksa tangan Dennis agar Dennis nya sendiri bisa menggerakkan kakinya untuk melangkah.
Tak lupa juga, Akihiro selalu berusaha untuk menenangkan teman se-hobi yang satunya itu. Karena saat ini, Dennis benar-benar sedang dalam keadaan yang tidak baik. Dia terus saja memikirkan tentang keadaan Rei yang tidak-tidak.
Sekarang... apakah benar dugaan Akihiro kalau Rei itu baik-baik saja, dan dia masih hidup?
****
Sudah lama Akihiro dan Dennis berkeliling di sekolah mereka hanya untuk mencari sahabatnya, Rei yang menghilang tanpa sepengetahuan mereka.
Mereka masih memakai piyamanya dan alas kaki berupa sepatu karet.
Saat di tengah lapangan, Dennis memutuskan untuk menghentikan langkahnya. Karena ia merasa kakinya sudah mulai sakit. Pastinya dia kelelahan karena mereka sudah berjalan selama satu jam. Dan sekarang ini sudah hampir jam masuk kelas berbunyi.
"Dennis? Kenapa kau berhenti? Kita belum periksa di sebelah sana. Dekat pintu gerbang. Ayo kita cari Rei lagi!" Ajak Akihiro dengan paksa.
"Tidak bisa, Rei... kakiku beneran sakit, loh! Aduh... lagi pula, kita kan sudah mencarinya ke seluruh sekolah." Dennis mulai mengeluh.
__ADS_1
"Ah, tapi di dekat gerbang sana kita belum periksa. Siapa tahu saja, Rei pergi ke luar sekolah."
"Tapi Kak Dian tahu sendiri, kan? Kak Rei dilarang pergi ke luar lingkungan sekolah tanpa izin dari gurunya. Dan ia mengikuti peraturan untuk dirinya itu. Kak Rei tidak pernah melanggarnya. Kakak tahu sifatnya, kan?"
"Iya sih..." Akihiro hanya bergumam. "Tapi mau bagaimanapun juga, kita harus tetap menemukan Rei. Bisa saja dia dalam bahaya di luar sana."
"Tapi... Kak Dian... aku...."
"Hei, ayo semangat lah! Aku tahu kau masih kuat. Karena... aku juga tahu sikapmu yang tidak akan menyerah itu. Kau tidak berpikiran yang aneh-aneh tentang Rei, kan? Kau percaya pasti dia masih ada di sekitar kita, kan?" Akihiro mengulurkan tangannya, untuk membantu Dennis yang sudah tumbang duluan. Ia akan membangkitkan semangat Dennis lagi.
Setelah perkataan Akihiro tadi, Dennis hanya terdiam. Lalu tak lama kemudian, Dennis mengeluarkan senyumnya. Lalu ia mengangguk dan menggenggam tangan Akihiro.
"Ya! Aku yakin kalau Rei pasti akan baik-baik saja." Dennis kembali mengangguk, lalu ia memberikan genggaman tangannya itu.
"Nah, begitu dong... sekarang lihat ke sana!" Akihiro menunjuk ke arah pintu gerbang keluar sekolah mereka itu. Di sana berdiri seorang satpam yang menjaga sekolah ini.
Dennis mengangguk. "Iya, kenapa?"
"Pak Satpam di sana. Kebetulan sekali. Ayo kita tanya dia saja. Siapa tahu saja dia melihat Rei." Ajak Akihiro. Ia sudah berlari duluan. Dennis juga mengikutinya dari belakang.
Saat sampai di depan gerbang, Dennis dan Akihiro mendekati Pak Satpam yang ada di sana.
"Biar aku saja yang bertanya." Kata Akihiro. Lalu ia memanggil Pak Satpam itu. "Selamat pagi, pak! Saya mau bertanya sesuatu."
Pak Satpam itu memandang Akihiro. "Iya? Mau tanya apa?" Beliau menyahut.
"Apa bapak mengenal Rei? Anak yang kemarin menyelidiki kasus pembunuhan di tempat ini." Akihiro memulai pertanyaannya.
"Oh... Dia. Iya, iya. Bapak tahu. Memangnya kenapa, ya?"
"Apa bapak lihat dia hari ini? Atau bapak melihatnya semalam? Atau apakah bapak melihat Rei sedang bersama seseorang gitu?" pertanyaan Akihiro terdengar terbelit-belit. Pak Satpam itu jadi bingung.
"Emm... kalau hari ini, saya juga belum lihat dia. Tapi... semalam saya melihat Rei berlari di lorong mana, ya? Ah... dekat dengan kamar mandi. Dia berlarian di sana."
Akihiro terkejut. "Eh? Dia kenapa berlarian?"
"Saya juga tidak tahu. Saya hanya melihat sekilas. Dia terlalu cepat berlari, saya tidak tahu dia mau ke mana."
"Hmm... bagaimana, ya? Soalnya hari ini Rei menghilang, Pak! Kami semua tidak bisa menemukan keberadaanya."
"Eh? Rei menghilang? Perasaan anak itu kemarin masih baik-baik saja. Kok ini aneh, ya? Apa jangan-jangan dia dekat dengan cewek itu."
"Eh? Cewek mana yang bapak maksud?" Akihiro dan Dennis bertanya bersamaan. Mereka semakin mendekat ke arah Pak Satpam itu.
"Cewek berambut putih. Semalam bapak lihat dia bersama dengan Rei."
*
*
__ADS_1
*
To be Continued-