
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Jadi ini mata airnya?" tanya Dennis pada Rina yang ada di sampingnya.
Rina hanya mengangguk. "Iya, sekarang coba kau minum saja dulu. Airnya segar sekali, loh!"
"Oh, iya kah? Kalau begitu aku bisa mencobanya." Dennis terlihat senang. Ia mendekat ke mata air yang menggenang di bebatuan, lalu berjongkok di depan mata air tersebut. Ia akan menadahkan tangannya untuk mengambil air yang akan diminumnya.
Tapi tak lama setelah Dennis berjongkok, tiba-tiba saja Rina berdiri di belakangnya. Ia tersenyum dan memasang wajah menyeramkan. Lalu tak lama, Rina mengangkat kedua tangannya yang sedang memegang sesuatu.
Sebuah batu sebesar dua kepalan tangannya!
BUAK!!
BUK!
BUK!
Rina memukul kepala Dennis dari belakang dengan batu yang ia pegang itu. Berkali-kali sampai akhirnya Dennis jatuh pingsan. Kepalanya masuk ke dalam genangan air, dan seketika air di sana jadi berubah berwarna merah karena darah yang mengalir dari kepala Dennis.
Setelah Dennis tersungkur, Rina menjatuhkan batu yang telah berlumuran darah Dennis. Setelah itu ia mengeluarkan tertawa kejamnya, lalu berkata, "Aku yang akan membunuhmu duluan, loh! Hahaha...!!!"
****
"AH! DENNIS!!"
"Eh, kaget aku." Mizuki terkejut saat tiba-tiba saja Rei berteriak dan kakinya itu menendang kepala Mizuki saat ia sedang menyandarkan kepalanya di atas kaki Rei.
"Rei! Kau sudah sadar? Syukurlah!" Semua orang yang sedang berkumpul di kamar Dennis itu langsung menghampiri Rei. Semua orang itu adalah, Adel, Mizuki, Yuni, Akihiro, Rashino, Nashira, Zainal, Rasya dan Adit.
Setelah terbangun, semuanya jadi heran dengan Rei. Ekspresi Rei saat ini menunjukkan wajah kecemasan. Ia tidak berkata apa-apa setelah dirinya terbangun dan berteriak seperti tadi. Saat ini, ia hanya terdiam menatap semua orang di sekitarnya dengan bingung.
"Kau sudah merasa baikan, Rei?" tanya Mizuki cemas.
Tapi Rei hanya diam saja. Matanya terus melirik ke semua orang. Ia mencari seseorang. Dan orang itu adalah Dennis.
Karena tidak menemukannya, maka Rei akan bertanya, "Di–di mana Dennis?"
"Eh?" Semuanya tersentak mendengar Rei bertanya begitu. Mizuki yang akan mencoba untuk menjawabnya. "Dia kan... dia sedang menjalankan tugasnya."
"Tugas?"
"Iya. Kan... dia yang akan membunuh Rina itu. Si cewek yang pakaiannya tidak bisa dijaga." Mizuki sedikit mendekat pada Rei lalu berbisik. "Kau tahu itu, kan? Saat ini Dennis sedang membawa Rina ke suatu tempat karena di tempat sepi lah ia akan membunuh Rina."
"Eh?!" Matanya terbelalak kaget. Pupil matanya mengecil, begitu juga dengan irisnya. Ia benar-benar terlihat terkejut setelah mendengar jawaban dari Mizuki.
"Eh? Apa ada masalah, Rei?"
__ADS_1
"Ah, tidak boleh dibiarkan." Rei bergumam. Setelah itu, secara mendadak, tiba-tiba saja Rei turun dari atas tempat tidurnya. Ia langsung berlari ke pintu depan. Tapi Adit sempat mencegah Rei sebelum Rei menyentuh kenop pintu.
Mereka semua tidak ingin Rei meninggalkan kamar tanpa alasan yang jelas. Mereka semua ingin tahu kenapa Rei bisa ketakutan seperti itu.
Sambil menggenggam dan menahan tangan Rei, Adit bertanya, "Kau mau ke mana? Bukankah kau harus istirahat dulu?"
"Aku harus menyelamatkan Dennis!! Dia sedang dalam bahaya saat ini!" Rei menjawab dengan nada keras. Seketika semuanya terkejut. Apalagi dengan Adel yang mendengar kalau kakaknya sedang dalam bahaya.
"Bahaya?" Adel bergumam. Lalu ia berjalan mendekati Rei. "Kak Dennis kenapa, Kak Rei?"
"Aku tidak tau." Rei menunduk, lalu menggeleng. "Intinya, entah itu mimpi atau bukan, intinya di kepalaku, aku melihat Dennis dibunuh sama Rina di dalam gua!"
"Eeeeh?!" Semuanya terkejut. Mereka juga jadi khawatir dengan perkataan Rei.
Tapi untuk saat ini, Adit meminta Rei untuk tenang dulu karena keadaanya masih belum pulih. Adit mengajak Rei kembali ke atas tempat tidurnya. Setelah itu, Adit meminta salah satu orang untuk menghubungi Dennis. Karena menurut Adit, jika Rei atau yang lainnya pergi menemui Dennis untuk memeriksa keadaannya, maka nanti bisa mengganggu rencana Dennis.
Kan bisa gawat.
Maka dari itu sekarang....
"Biarkan aku yang menghubunginya." Ujar Rei dengan nada tegas. Ia tidak ingin dicegah oleh teman-temannya lagi. Untuk kali ini, Rei meminta teman-temannya membiarkan dirinya menelpon Dennis. "Mana ponselku?"
"Emm... ini." Mizuki mengambilkannya dari atas meja. Setelah itu, ia memberikan ponsel itu pada Rei.
Setelah Rei menerimanya, ia langsung membuka ponselnya itu. Mengetik beberapa nomor untuk menelpon Dennis. Setelah itu, ia menempelkan ponselnya ke telinga.
Yang terdengar hanya suara "Tuuut... Tuuut..." belum ada yang mengangkatnya. Sementara di dalam hatinya, Rei selalu berharap Dennis bisa cepat mengangkat teleponnya itu.
[ Halo? ]
Rei menyentakan matanya dengan cepat. Ia terkejut karena orang yang menjawab teleponnya itu adalah suara dari seorang gadis. Dan suara gadis itu, sepertinya Rei mengenalnya.
[ Ini... siapa? ]
Suaranya muncul lagi. Tidak terdengar suara dari Dennis dan hanya ada suara si gadis itu saja. Rei menggertakkan giginya, lalu menggeram. Ia pun membalas gadis itu dengan suara keras.
"DI MANA DENNIS?!"
[ Eh? ] Suara gadis itu terdengar terkejut saat Rei membentaknya. Ia hanya diam saja. Sekali lagi, Rei membentaknya dengan akhir kata ia menyebut nama Rina.
"DI MANA DENNIS, RINA?!"
[ Ah, anu... ] Suaranya terdengar ragu-ragu. Dia tidak berani menjawab. Sampai akhirnya, Rei menduga kalau mimpinya itu telah menjadi kenyataan. Ternyata Rina telah membunuh Dennis, seperti bayangan di mimpinya itu.
Rina tetap tidak ingin menjawab dan Rei juga tetap diam. Ia tidak ingin menanyakan hal yang sama karena ia tahu kalau teman baiknya itu telah terbunuh. Membuat hatinya terasa sakit.
"Rei, ada apa?" tanya Adel dengan raut wajah cemas. Ia ingin sekali mengetahui keadaan kakaknya itu lewat telepon.
Tapi Rei hanya terdiam dan tidak membalas pertanyaan Adel. Ia hanya menunduk, lalu tak lama ponselnya ia jatuhkan ke samping tubuhnya. Begitu juga dengan kedua tangannya. Rei hanya terduduk diam di atas tempat tidurnya. Ia tidak lagi menyentuh ponselnya dan ia juga belum mematikan teleponnya yang sudah terhubung dengan ponsel Dennis.
Semua orang jadi bingung dengan sikap Rei. Mereka ingin bertanya, tapi tidak berani. Sampai akhirnya, Adel sendiri yang akan mengetahuinya. Karena sedari tadi ia selalu dibuat penasaran dengan sikapnya Rei yang selalu diam saat ditanya tentang keadaan Dennis.
Dengan berani, Adel mengambil ponsel Rei yang masih menyala itu. Walau Rei menyadarinya, tapi ia akan membiarkan Adel untuk mengutak-atik ponselnya.
__ADS_1
"Ha–halo? Apa ini Kak Dennis?" Adel bertanya dengan nada pelan tepat di depan layar ponsel itu.
[ Oh! Jadi kau mencari Dennis? ]
"I–iya, apakah kakak ada di sana?"
[ Oh, ada! Sebentar! ]
Rei kembali mendongak dengan cepat. Lalu lirikan matanya mengarah ke Adel. Semuanya juga begitu.
Karena suaranya terlalu pelan, maka Adel akan menyalakan speaker suaranya agar terdengar lebih kencang. Setelah itu, tidak terdengar suara apapun. Tapi mereka mendengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari.
Lalu tak lama kemudian, suara Rina kembali muncul. [ Dennis! Ada telepon masuk, nih! ]
[ Eh? Telepon untukku? ] Itu baru suara Dennis. Semuanya terlihat senang apalagi dengan Rei. Ia langsung mengubah posisi duduknya menghadap ke Adel untuk mendengar suara Dennis.
[ Ha–halo? ]
Baru saja Dennis mengucapkan halo, tiba-tiba saja semua orang yang mendengarnya bersorak senang. Dennis jadi terkejut karena suara teman-temannya yang keras itu. Dengan cepat, ia langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. [ Ada apa, sih? ]
Terdengar suara langkah kaki lagi. Sepertinya Dennis sedang berjalan ke suatu tempat untuk menerima teleponnya itu.
"Kakak! Kakak baik-baik saja di sana?" tanya Adel.
[ I–iya tentu saja aku baik. Kalian bicara apa, sih? Ngagettin aja. ]
"Maaf, Dennis. Pada awalnya, aku pikir kau dibunuh oleh Rina," ujar Rei dengan Dennis lewat teleponnya.
Adel memberikan ponsel Rei pada pemiliknya. Setelah Rei menerima ponselnya itu, Rei kembali mendekatkan ponselnya ke telinga. Tapi ia tidak berpindah tempat agar semua teman-temannya bisa mendengarnya juga.
[ Kalian... kenapa menelepon sekarang? ] Dennis berbisik. [ Kalian tahu kan? Aku sedang dalam misi. Bagaimana kalau Rina mengetahui rencana kita? ]
"Oh, maaf, Dennis. Aku hanya ingin memeriksa keadaanmu saja." Jawab Rei jujur. "Soalnya aku mulai cemas. Aku mendapat mimpi yang buruk tentang keadaanmu."
[ Mimpi... buruk apa itu? ]
"Mimpi tentang... kematianmu yang dibunuh oleh Rina saat di dalam sebuah gua."
[ Eh? ] Dennis terkejut. [ Em... ngomong-ngomong, Rina juga mengajakku sampai ke gua di pinggir jalan. Dia bilang pada malam hari akan muncul banyak Kunang-kunang yang bisa membuat gua itu jadi terlihat indah. ] Jelas Dennis.
Rei juga ikut terkejut mendengarnya. Dengan cepat, ia langsung memberitahu isi dari mimpinya itu. "Dennis, kau tahu? Tempatmu saat ini sama persis dengan yang ada di dalam mimpiku. Saat itu, kau dibunuh oleh Rina di dalam gua itu juga, loh!"
[ Eh?! ]
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1