
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Setelah kembali ke tempat perkumpulan di dalam aula, Bu Mia memberikan waktu bebas untuk semuanya bermain di sekitar. Selalu memberi peringatan yang sama, yaitu jangan pergi jauh-jauh dari sekitar Villa.
Semuanya menurut. Beberapa anak mulai pergi berpencar ke tempat yang mereka inginkan. Ada yang memutuskan untuk tidur kembali karena lelah, lalu ada juga yang pergi ke kamar mereka saja untuk beristirahat tapi tidak tidur. Ada juga yang bermain di setiap pondok pada kelompok mereka. Bahkan pada jam 4 dini hari, ada juga yang menyeburkan diri ke kolam renang karena ulah teman yang iseng.
Kalau Dennis dan teman-temannya memutuskan untuk tetap di dalam aula Villa. Mereka sedang duduk bersama di kursi panjang yang terbuat dari bambu. Terletak di pojok ruangan dekat dengan jendela luar.
Saat ini, mereka sedang membicarakan tentang hantu hitam yang pernah dilihat Dennis dan Rei sebelumnya. Di sana juga ada Cahya yang akan bercerita tentang hantu. Ia duduk di samping Dennis. Tepat di tengah-tengah kursi.
Adel, Yuni, Mizuki dan si kembar mendengarkan ceritanya Dennis dan Rei tentang hantu hitam yang mereka lihat dari lapangan. Kecuali Akihiro yang tidak ada di sana. Anak cowok yang satu itu sedang mengambil beberapa gorengan, kue kecil dan cemilan lainnya yang terletak di atas meja yang telah disediakan di tengah ruangan. Pemilik Villa menyediakan makanan itu sebagai pengganjal perut bagi murid yang lapar. Dan... yang ada di depan meja penuh dengan makanan itu hanya ada Akihiro di sana yang sedang sibuk memilih makanan yang ia inginkan.
"... Jadi seperti itulah. Cahya bilang, itu hantu kanibal yang keluar masuk ke dalam hutan." Dennis selesai bercerita. Lalu dilanjutkan dengan Rei. "Kalian tidak mungkin percaya dengan cerita kami."
"Aku percaya, kok!" Cahya menjawab. Rei menatapnya sinis, lalu membalas perkataannya dengan nada kesal, "Aku tidak bertanya padamu."
Cahya tersenyum kecil, lalu sedikit menunduk. Merapatkan kedua kakinya, dan meletakan telapak tangannya di atas paha. Dennis tertawa kecil lalu menyenggol tubuh Rei pelan. Rei menyenderkan tubuhnya di kursi lalu menghela nafas.
"Umm... kalau Rei benar-benar melihat hantu itu, maka aku percaya." Nashira menjawab. Tapi lirikan matanya masih fokus dengan ponsel yang ia mainkan. Kalau Rashino menutup ponselnya terlebih dahulu, baru menjawab, "Iya. Aku juga percaya. Soalnya kan Kak Rei itu memang bisa melihat hantu."
"Eh, benarkah?" Cahya terkejut mendengarnya. Tapi ia jadi terkagum dengan Rei karena matanya itu bisa melihat yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa.
"Itu hanya kemampuan biasa yang tidak disengaja saja." Rei menjawab Cahya tanpa melirik ke arah gadis itu. Cahya mengalihkan pandangannya dari Rei, lalu bergumam, "Dingin banget kayak planet Neptunus."
"Oh, iya! Bagaimana dengan Yuni? Apa kau percaya?" tanya Dennis dengan penuh semangat. Tadinya ia ingin melanjutkan pertanyaannya itu dengan beberapa kata yang mengatakan kalau Yuni itu anak indigo yang dapat melihat hantu juga. Tapi ia tidak bisa mengatakannya karena ia telah janji pada Rei. Sifat dan kemampuan asli dari Yuni tidak boleh ia beritahu oleh sembarang orang. Dennis akan menjaga rahasia itu.
Yuni hanya mengangguk. Ternyata ia percaya. Lalu Adel juga mengangguk. Sama dengan Mizuki. "Adel tidak ingin melihat hantu itu! Adel takut."
"Tenang saja. Hantu itu hanya muncul di dekat hutan saja. Kalau di tempat di sekitar sini tidak ada hantu yang berkeliaran, kok!" ujar Cahya. Adel jadi merasa tenang. Tapi kalau Rei malah nambah gelisah.
"Katanya tidak ada hantu, ya?" Ia bergumam di dalam hatinya. "Lalu wanita yang sering kulihat di kamar itu siapa?! Apa harus aku katakan saja kalau di sekitar sini juga ada hantu yang mengganggu?"
Rei akan memberitahu tentang hantu yang pernah ia lihat pada Cahya. Tapi saat Rei ingin kembali membuka mulutnya, tiba-tiba saja Mizuki menyela.
"Tidak ada hantu katamu?"
__ADS_1
Dia berkata seperti itu dengan nada tegas dicampur kekesalan gitu.
"Eh? Memangnya apa yang telah terjadi, Mizuki?" tanya Dennis.
"Saat aku baru tiba di kamar kemarin, aku sudah merasa tidak nyaman dengan kamarku sendiri. Lalu saat aku sedang mandi sore, tiba-tiba saja lampu kamar mandinya kedip-kedip sendiri. Aku jadi buru-buru mandinya agar tidak keburu pingsan di kamar mandi." Jelas Mizuki.
"Emm... mungkin saja itu teman Mizuki yang iseng. Kan kamar mandi jadi satu dengan kamar. Siapa tahu saja ada yang datang ke kamar untuk mempermainkan kamu." Cahya mencoba untuk menyangkal. Tapi Mizuki tidak akan menyerah. Ia terus memberitahu hal-hal mengerikan yang telah ia alami saat masuk ke dalam Villa.
"Tidak mungkin teman iseng. Kan Adel dan Yuni sedang berenang sore itu bersama dengan kalian. Aku belum gabung dengan kalian di kolam karena aku ingin mandi dulu. Dan... semua orang sedang berkumpul di depan kolam dan pondok untuk melihat Rei, kan? Nah, otomatis tidak ada orang di dekat aku mandi. Makanya itu! Siapa yang mencoba untuk menakutiku saat aku sedang mandi?" jelas Mizuki.
"Eh? Benarkah itu?" Cahya masih belum percaya ternyata. "Ke–kenapa? Biasanya kan Villa ini tidak pernah ada hantu sebelumnya. Kok aneh?"
"Jadi kau tidak percaya pada kami, Cahya?" tanya Rei dengan nada bicara yang terdengar ngeselin.
Cahya tersentak, lalu dengan cepat ia pun menggeleng cepat dan mengibaskan kedua tangannya di depan dada untuk menyangkal. "Ti–tidak! Tentu saja aku percaya. Aku hanya bingung saja. Kenapa Villa milik keluargaku ini bisa berhantu."
Dennis mengelus lengan atas Cahya lalu bertanya dengan nada lirih. "Emm... memangnya sebelumnya belum pernah ada hantu yang mengganggu seperti ini?"
"Belum. Pengunjung di sini aman-aman saja. Hanya saja...."
"Hanya?"
"Apa ada yang sedang kau sembunyikan?" tanya Rei yang mulai curiga dengan tingkahnya Cahya.
Cahya yang mendengar pertanyaan Rei itu langsung tersentak kaget. Ia tidak berani menjawab. Tapi yang menjawab pertanyaan Rei itu malah Dennis. "Kak Rei, dia tidak apa-apa, kok! Kan dia di sini untuk menceritakan tentang hantu dan rumah dalam hutan itu. Kenapa kalian semua malah nyambung-nyambung ke cerita hantu lainnya, sih?"
Rei dan Mizuki terdiam. Mereka bisa menjawab. Hanya bisa menggerutu di dalam hati mereka. Seperti Rei, "Si Dennis ini kenapa jadi lebih membela anak keluarga pemilik Villa, sih?"
"Kak Rei sepertinya sedang kesal, ya?" batin Yuni. Lalu matanya melirik secara diam-diam ke arah Cahya. Ia menatap gadis itu. Tadinya ia ingin mencaritahu apa yang sedang dipikirkan Cahya. Tapi ternyata tidak bisa. "Isi otak cewek ini lagi kosong, kah?"
"Nah, sekarang Cahya! Apa kau tahu sesuatu tentang rumah itu? Apakah aku boleh mendatangi rumah itu?" tanya Dennis pada gadis di sampingnya.
"Ah! Iya. Eh, tidak!" Cahya menggeleng. "Kau tidak boleh pergi ke rumah itu. Tidak ada yang boleh mendekati gubuk tua itu. Karena di sana sangat berbahaya!"
"Loh? Apa bahayanya?" tanya Rei.
"Karena... sering terjadi longsor di sekitar gubuk itu. Kan jadi bahaya!" jawab Cahya.
"Oh? Lalu bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanya Rei lagi.
"Yah... karena sudah ada korbannya. Aku kan tinggal di sekitar hutan itu dulu. Jadi aku tahu beritanya."
__ADS_1
"Kenapa kalau suka ada longsor di tempat itu, kenapa rumah kecil itu masih tetap berdiri kokoh?" tanya Rei lagi.
Cahya merasa lelah menjawab semua pertanyaannya. Tapi untuk pertanyaan Rei yang terakhir itu, ia tidak bisa menjawabnya. Karena... ada sesuatu yang tersembunyi di dalam rumah itu yang Cahya ketahui.
"Kak Rei~ Kak Rei~ Kita jangan banyak bertanya pada dia, ya? Hehe..." Dennis tiba-tiba saja menghalangi wajah gadis yang ada di sampingnya itu dari Rei. Rei menyingkirkan tangan Dennis, lalu berkata, "Memangnya ada apa? Apa kau ingin melindungi kebohongan Cahya?"
Dennis terkejut mendengarnya. Begitu juga dengan Dennis. "Eh? Kebohongan apa yang Kak Rei maksud?"
"Ah, entah mengapa aku merasa curiga dengan gadis itu. Apa kau tidak melihat dari mimik wajahnya? Dia seperti sedang berbohong tahu!"
"Eh? Cahya apa itu benar?"
"Ti–tidak, kok! Tidak!"
"Tuh, Kak Rei. Cahya lagi sedang tidak berbohong, kok. Dia... hanya menceritakan tentang apa yang terjadi di tempat itu saat dulu sekali. Gitu. Kan kita tidak tahu ceritanya."
"Ah, terserah kamu saja, Dennis." Rei menggerutu. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil memejamkan matanya.
"Kalau boleh aku beritahu pada kalian... em... kalian intinya tidak boleh mendekati rumah itu saja. Karena rumah itu adalah tempat tinggalnya si hantu kanibal. Dan di dalam rumah itu juga terdapat banyak daging manusia dari hasil buruannya." Jelas Cahya. Semuanya terkejut mendengarnya, kecuali Rei dan Yuni.
"Lagi-lagi kau bahas tentang kanibal." Gumam Rei.
"Wow! Kanibalisme! Apa benar manusia seperti itu ada?" tanya Nashira.
"Ini lagi. Masih aja percaya dengan yang begituan." Rei menggerutu lagi setelah mendengar Nashira berkata tentang rasa penasarannya terhadap hal yang berbau makhluk hidup pemakan sejenisnya.
"Iya." Cahya mengangguk pelan. Lalu ia mendongak cepat dan menggeleng. "Ah, aku juga tidak tahu benar atau tidak. Cerita hantu hitam itu hanya kata-kata orang saja. Katanya sih... rumah itu memang ada daging manusianya. Makanya kalian jangan ke sana, ya?"
"Ada larangan untuk tidak pergi ke rumah itu. Tapi karena ada larangan seperti itu, malah membuatku semakin penasaran." Batin Dennis dalam hatinya. "Aku ingin pergi ke rumah di dalam hutan itu."
Dennis sedikit tersenyum, lalu bergumam, "Besok siang, saat jam bebas, aku ingin pergi ke rumah itu."
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1