Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 44– Rencana Dilaksanakan, part 2


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Rei! Ah, astaga!" Rashino menjatuhkan tongkat kayu yang ia pegang tadi, lalu membantu Rei yang terjatuh kembali berdiri.


Rei menyentuh kepalanya, lalu menggelengkannya. "Aduh, pusing...."


"Rei, maafkan aku! Ah, aku pikir kau orang dari Villa itu yang tiba-tiba datang. Jadi aku ingin memberikan perlawanan." Ucap Rashino cepat dengan nada menyesal. Tapi Rei tidak menjawabnya.


Akihiro dan Natsuki keluar dari tempat persembunyiannya. Akihiro menopang dagunya di meja, lalu tersenyum miring. Ia malah meledek Rashino dengan menakut-nakutinya. "Hayolo Rashino... Rei marah padamu. Hah, untung kau tidak memukulnya sampai pingsan. Kalau tidak, rencana ini bisa gagal, deh."


Rashino terkejut mendengarnya. Ia kembali melirik ke arah Rei yang masih terduduk di tanah dengan ekspresi wajah sedih. Sekali lagi, Rashino merengek meminta maaf pada Rei.


"Rei, apa kau marah padaku?" tanya Rashino lembut.


Rei menggeleng sekali lagi, lalu mendongak menatap Rashino dengan mimik wajah tanpa ekspresi. "Tidak, aku tidak marah padamu." Lalu secara perlahan, Rei berdiri kembali dengan sendirinya setelah ia memulihkan kekuatannya. Karena semenjak kepalanya dipukul Rahsino tadi, rasanya sakit sekali. Untung dengan cara berdiam diri seperti tadi, Rei bisa menahan rasa sakit itu.


Lalu setelah semuanya kembali baik-baik saja, Rei berdiri menghadap ke Rashino. Ia menepuk kepala Rashino dengan lembut, lalu berkata, "Menjadi pengawas memang perlu tanggung jawab besar. Kerjamu bagus. Kau bisa menyadari kedatanganku tadi."


Rashino mengangguk lalu tersenyum. Setelah membuat perasaan Rashino menjadi lebih baik, Rei mendongak menatap Akihiro dan Natsuki. "Hei, kalian berdua berikan aku dua buah pisau, cepat!" pinta Rei.


Akihiro mengangguk. Lalu ia mengambilkan dua pisau untuk Rei bawa. Setelah Akihiro memberikan pisau itu, ia bertanya, "Untuk apa ini? Bukankah kau harusnya ke tempat Mizuki?"


"Aku ingin begitu. Tapi aku merubah rencananya sedikit. Percaya saja padaku." Rei menyelipkan pisau itu di kantung celananya, lalu melambai kecil. "Sudah, ya? Aku sudah agak terlambat sepertinya."


Rei pergi berlari. Menjauh dari dapur, lalu pergi memasuki Villa secara diam-diam.


Setelah Rei pergi, Akihiro dan Natsuki melanjutkan tugas mereka. Lalu setelah semuanya selesai, Natsuki membawa karung yang berisi senjata tajam itu, lalu mereka bertiga pergi dari dalam dapur. Jangan lupa juga untuk kembali menutup pintunya.


Setelah ketiganya berhasil dengan tugas pertama mereka, Akihiro, Natsuki dan Rashino pergi kembali ke kamarnya Dennis untuk menyimpan senjata yang mereka bawa. Niatnya mereka akan menyembunyikan senjata itu di dalam kamar mandi.


Akihiro, Natsuki dan Rashino tidak bisa menggunakan pintu depan sebagai jalan masuk ke dalam kamar. Karena mereka takut kalau Bapak Tertua masih ada di sekitar kamar mereka. Makanya mereka memanfaatkan jendela untuk memasukan satu karung itu ke dalam kamar.


Kebetulan jendelanya terletak di samping bangunan kamar Akihiro. Jadi di sana mereka bisa bebas memasukkan karungnya ke dalam. Sementara di dalam kamar sudah ada Davin dan Zainal yang akan menjaga dan menyembunyikan senjata-senjata yang didapatkan kelompok Akihiro.


Setelah berhasil menyembunyikan senjata itu di dalam kamar mandi, Zainal akan menghubungi Dennis untuk laporan kalau kelompoknya Akihiro telah berhasil mencuri senjatanya.


Dennis ikut senang. Ia tersenyum, lalu membalasnya. [ Apakah tidak ada yang mengikuti mereka? ]

__ADS_1


Zainal mengangguk. Ia kembali mengetik dan mengirimnya. [ Aman. Tidak ada yang mengetahui mereka bertiga mendapatkan senjatanya. ]


[ Kerja bagus. ]


Dennis menutup ponselnya. Saat ini ia sedang berada di atas papan selfie yang terletak di pinggiran tebing bukit. Sambil melihat pemandangan yang indah, Dennis akan menunggu hasil dari Rei. Setelah itu, rencana yang sebenarnya akan dimulai.


****


Rei sudah berada di dalam Villa. Tapi ia keluar lagi lewat pintu samping Villa. Dari sana ia akan berjalan sampai mendekati pintu belakang Villa yang katanya tidak boleh didekati. Tapi sekarang Rei akan pergi ke sana, karena jalan itulah yang paling aman.


Sambil berjalan, Rei mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Mizuki. Sambil berjalan, Rei mengetik beberapa nomor dengan satu tangan, lalu mendekatkan ponselnya itu ke telinga. Sekarang tinggal menunggu Mizuki mengangkatnya.


Ternyata tidak perlu waktu lama. Tidak sampai 1 menit, Mizuki akhirnya menjawab telepon dari Rei itu. [ Halo Rei? Kau lama sekali? Ada di mana kau sekarang ini? ]


"Aku sedang dalam perjalanan. Maaf, tadi ada hal lain yang harus aku lakukan."


[ Kalau begitu cepatlah. Jangan lama-lama. ]


"Iya. Tapi sebelum aku sampai sana, maukah kau menyiapkan tembakan kecil yang dipegang Rasya dengan peluru biusnya?"


[ Eh? Untuk apa? ]


"Lakukan saja. Nanti saat aku sudah datang di sana, aku akan mengambilnya."


[ Oke Rei. Eh? Tapi... peluru biusnya tidak ada lagi. Kami baru menggunakannya tadi untuk Ibu Villa dan itu peluru yang terakhir. ]


TAK!!


Tiba-tiba saja ponsel Rei terdorong dengan cepat dan akhirnya terjatuh ke tanah. Rei tidak tahu apa yang membuat ponselnya bisa terlepas dari genggamannya.


Tapi sebelum teleponnya dengan Mizuki mati, Rei akan memungut kembali ponselnya yang jatuh. Tapi setelah Rei membungkuk, tiba-tiba saja ada sesuatu yang bergerak dari atas melewati wajahnya dengan cepat.


Benda yang terjatuh itu adalah peluru bius yang meleset entah dari mana. Dengan cepat, Rei langsung mengambil kembali ponselnya, lalu peluru bius itu. Setelah itu, Rei kembali berdiri tegak dan berlari di jalan di depannya.


Sambil sesekali Rei menoleh ke belakang. Ia sedikit tersenyum, lalu bergumam, "Ah, akhirnya muncul juga, ya?"


Sebuah keberuntungan untuk Rei. Saat Rei sedang berteleponan tadi, ada orang yang tidak terlihat telah mendorong ponselnya Rei sampai terjatuh. Saat di situlah, peluru bius yang membibik leher belakang Rei diluncurkan. Tapi saat itulah Rei membungkuk untuk mengambil ponselnya yang terjatuh sekalian ingin menghindari tembakan peluru bius itu.


Sambil berlari, Rei mengucapkan terima kasih untuk Yuni karena telah mengirimkan makhluk tidak terlihat untuk melindunginya.


Saat ini, Yuni sedang berada di atas kasurnya untuk menjaga teman hantunya di kamarnya itu. Dalam rencana Dennis juga dituliskan kalau tugas Yuni adalah mengirim bantuan mendadak lewat teman hantunya yang suka berkomunikasi dengannya.


Ternyata tidak hanya Rei saja yang memiliki pelindung dari makhluk tidak terlihat. Masing-masing kelompok lainnya juga memilikinya. Para hantu itu telah dikirim oleh Yuni. Sebagai gantinya, Yuni akan membantu menguburkan tubuh asli teman hantunya itu ke tempat yang layak.

__ADS_1


Yuni sudah berjanji, asalkan teman hantunya juga ingin membantunya dan teman-temannya untuk pergi dari Villa dan kembali ke sekolah. Tapi sekarang ini, tujuan mereka bukan hanya untuk kabur dari Villa. Tapi target mereka adalah membunuh Bapak Tertua agar keluarga kanibal tidak bisa melakukan aksi kejamnya lagi.


[ Rei! Rei! Apa yang terjadi? ] Panggil Mizuki lewat telepon yang ada di genggaman Rei. Ternyata telepon mereka belum mati. Rei masih sempat berbicara dengan Mizuki.


"Hei, Mizuki! Aku hampir sampai. Kau keluar dan berikan tembakan itu padaku."


[ Oke, Rei! ]


Sekali lagi, Rei menoleh ke belakangnya. Ternyata orang yang ingin menembak dirinya itu masih mengejar Rei dari atas atap bangunan Villa.


Rei harus cepat mendapatkan tembakan dari Mizuki itu agar dirinya bisa melawan orang yang mengejar dirinya.


Tak lama akhirnya Rei sampai. Ia melihat pintu belakangnya yang terbuka. Dan tepat di pintu itu, Rei melihat ada Mizuki yang menyodorkan tangannya untuk memberikan tembakan yang Rei minta.


Saat sampai di depan pintu, Rei mengambil tembakannya, lalu merogoh kantung celananya dengan cepat dan mengambil satu pisau untuk Mizuki bawa.


Setelah Rei memberikan pisau itu pada Mizuki, Rei ingin Mizuki menginterogasi si Ibu Villa. Tanyakan tentang keberadaan kedua guru yang hilang. Setelah Ibu Villa itu menjawabnya, Mizuki ditugaskan untuk membunuh Ibu Villa itu langsung di tempatnya.


Mizuki mengangguk paham. Setelah itu, Rei kembali menutup pintu belakang yang terbuat dari kaca. Tapi setelah pintu tertutup, tiba-tiba saja ada orang lain yang muncul dan langsung mendorong Rei dengan cepat.


Mizuki melihat Rei sedang dalam bahaya di depan sana. Ia bisa tahu karena Mizuki sempat melihat Rei diserang lewat kaca pintu.


Tadinya Mizuki ingin menolong Rei. Tapi ia tetap harus fokus dengan tugasnya saat ini. Mizuki tidak ingin menggagalkan rencana yang telah Dennis bentuk dengan susah payah. Sekarang ini, ia akan melanjutkan misi selanjutnya.


****


"Ah!" Rei terdorong jauh sampai tubuhnya membentur tembok Villa. Tapi ia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh. Setelah itu, Rei kembali berlari menyusuri jalan kecil di depannya. Karena untuk pertarungannya melawan salah satu dari anak keluarga Villa, Rei memerlukan tempat yang luas agar dirinya bisa bebas menyerang.


Rei berlari sampai ke lapangan berumput yang ada di belakang Villa dekat dengan pintu masuk hutan. Saat sampai di tengah lapangan, Rei menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan.


Ia menatap tajam pada musuhnya yang mengejar dirinya itu. Lawan Rei saat ini adalah Kai, si kakak tertua dari keluarga kanibal. Dia yang dikenal pemburu hebat dan ahli dalam menembak.


Tapi Rei tidak mempedulikan mau sehebat apa lawannya itu. Tapi yang penting sekarang, Rei yang bertugas untuk membunuhnya di tempat luas itu juga.


Secara perlahan, Rei mempersiapkan peluru biusnya ke dalam tembakannya, lalu mengarahkan bibikannya ke arah lawannya di depan. Rei menyipitkan matanya lalu mengeluarkan senyumnya.


"Ayo kita mulai permainan ini."


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2