
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Maaf, aku tidak tahu kalau kalian sedang kelaparan di dalam sini." Ucap Mizuki merasa tidak enak dengan teman-temannya. Saat ini ia sedang membagikan Mie Cup yang ia punya kepada teman-temannya yang sedang berkumpul di dalam kamar Dennis.
"Tolong bahasanya jangan 'kelaparan'. Aku benci mendengarnya." Ujar Rei dingin. "Dan ngomong-ngomong terima kasih atas makanannya."
"Ah, maafkan aku, Rei." Mizuki menundukkan kepala, lalu kembali mengangkatnya dan menjawab ucapan "terima kasih" Rei dengan kata "sama-sama". Setelah itu, ia kembali membagikan Mie Cup pada temannya yang belum kebagian.
Mie Cup itu sudah diseduh dengan air panasnya dan siap untuk disantap. Semuanya memakan makanan dari Mizuki dengan lahap. Apalagi Akihiro yang sudah habis 1 gelas. Dan sekarang adalah Mie Cup kedua yang ia makan.
Tapi belum saja habis, Akihiro ingin meminta Mie Cup-nya lagi pada Mizuki. Tapi Mizuki melarangnya karena makan Mie terlalu banyak itu tidak boleh.
"Emm... ngomong-ngomong di mana kakakku, ya?" tanya Mizuki.
"Diwa adwa di kamarnha." Akihiro menjawab dengan nada kurang jelas karena ia menjawab dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Telan dulu makananmu, bodoh!" Mizuki membentak kesal.
Akihiro tertawa kecil, lalu menelan dengan cepat. Ia menjawab, "Dia... si kakakmu itu ada di kamarku. Di sebelah. Palingan dia sedang main ponselnya."
"Eh? Oh iya! Dia kan belum makan." Mizuki mengambil satu Mie Cup yang masih tersisah, lalu kembali berdiri dan berjalan pergi keluar kamar. Ia ingin memberikan Mie Cup itu untuk kakaknya.
Tapi sebelum Mizuki pergi, Rei sempat memanggilnya. Mizuki menghentikan langkah, lalu menoleh ke belakang. "Ada apa, Rei?"
"Tolong bawa kakakmu ke sini. Kita berkumpul bersama." Pinta Rei. "Ada yang ingin aku bicarakan."
Mizuki mengangguk. "Oke, baiklah!" Setelah itu ia pergi keluar kamar. Dapat terdengar suara Mizuki yang mengetuk pintu kamar sebelah.
"Hal apa yang ingin kau bicarakan, Kak Rei?" tanya Dennis penasaran.
"Ini tentang si pengemudi bis kita." Jawab Rei.
"Oh iya! Yang tadi itu. Ah, tidak." Rashino menimpali. Ia terlihat ketakutan. Dennis semakin penasaran. Tapi jika Dennis bertanya lagi, Rei tidak akan menjawabnya karena ia ingin semuanya berkumpul dulu. Rei tidak ingin mengulang perkataanya.
"Oh iya, Kak Rei, apa Nashira tidak diajak juga?" tanya Akihiro setelah menyeruput kuah Mie Cup-nya yang enak.
Rashino tersentak mendengarnya. Ia memukul keningnya pelan, lalu berdiri. "Iya! Aku lupa dengan saudaraku. Ah, tunggu sebentar, aku akan menjemputnya. Tapi... apa ada yang tahu dia di mana?" tanya Rashino.
__ADS_1
"Mungkin dia ada di kamarnya." Jawab Dennis. "Kan sebelumnya kita semua suruh berada di kamar masing-masing."
"Eh, tapi kedua teman sekamarmu menghilang, tuh!"
"Oh, kalau Davin dan Azra, mereka ada di...."
"Mereka berdua sedang mampir ke kamar lain." Jawab Zainal. "Padahal hanya Davin saja. Tapi Davin mengajak Azra untuk pergi bersama."
"Oh begitu. Okelah. Sekarang aku ingin ke kamar Nashira dulu, ya?" Rashino akan pergi. Tapi untuk saat ini, Akihiro ingin menemani Rashino. Karena di luar sana sangat berbahaya. Apalagi malam hari. Rashino tidak boleh keluar sendirian. Kalau tidak beruntung, dia bisa saja tertangkap oleh salah satu manusia kanibal yang mungkin saja sedang berkeliaran di depan Villa.
Rashino menerima Akihiro untuk ikut dengannya. Sekarang juga, sambil menunggu Mizuki kembali, Rashino dan Akihiro akan pergi menjemput Nashira untuk bergabung.
****
Semuanya sudah berkumpul kembali. Rashino dan Akihiro berhasil membawa Nashira ikut bersama mereka dan kembali ke kamar Dennis dengan aman. Sekarang karena semuanya sudah berkumpul, dan Zainal pun ikut dalam kelompoknya Dennis, maka langsung saja Rei akan memulainya.
"Apa kalian tahu? Sepertinya kita tidak bisa mudah pergi dari sini." Ujar Rei. Semuanya terkejut. Mereka pikir, Rei akan memberikan kabar baik, tapi ternyata malah sebaliknya. Apa maksudnya Rei dengan katanya 'tidak bisa mudah pergi dari sini'?
"Kenapa kau berkata seperti itu, Kak Rei?" tanya Dennis.
"Sebenarnya... saat aku sampai di bawah bukit itu, aku melihat... seseorang telah membunuh supir bisnya." Rashino yang menjawab pelan. Ia sedikit menundukkan kepala seakan sedang berduka dan tidak kuat untuk menceritakan tentang kematian orang yang ia lihat itu.
"Dibunuh?!" Tanpa sengaja, semuanya pun berteriak. Lalu dengan cepat, mereka yang berteriak itu langsung menutup mulut mereka dengan telapak tangan.
"Iya." Rei mengangguk pelan. "Setelah kami berempat habis dari warung dekat pemberhentian bis untuk membeli makanan, kami sempat melihat bayangan di dalam bis. Saat kami hampiri dan mengintip lewat jendela, kami melihat orang dewasa yang sedang menusuk sesuatu di bawahnya dengan pisau besar. Saat kami melirik ke arah orang yang ia tusuk itu ternyata... si supir bis yang membawa kita." Jelas Rei.
"Ta–tapi tadi kenapa kalian tergesa-gesa dan terlihat ketakutan saat sampai di sini?" tanya Dennis lagi.
"Soalnya saat kami mengintip, si pembunuh itu sempat menengok ke arah kami. Wajahnya menyeramkan dan matanya mutih semua tanpa pupil!" jawab Rashino. "Dia seperti zombie pembunuh. Jadi saat dia sudah melihat kami, kami pun langsung lari ke atas bukit dengan cepat. Takut orang itu mengejar dan membunuh kami juga."
"Mengerikan juga." Zainal bergumam. "Ah, ngomong-ngomong... dia itu seorang pria atau wanita?" tanya Zainal.
"Siapanya?"
"Si pembunuhnya itu."
"Kalau tidak salah, laki-laki. Dia seperti... Natsuki tinggi badannya. Dan apa kalian tahu? Aku melihat wajahnya seperti sudah hancur terbelah jadi dua begitu, loh!" jawab Rashino menjelaskan.
Seketika setelah mendengar jawaban dan deskripsi tentang si pembunuh itu dari Rashino, Dennis dan Akihiro terlihat terkejut. Mereka benar-benar terkejut karena... kalau mereka pikir-pikir... deskripsi yang cocok untuk si pembunuh itu seperti yang Dennis kenal.
"Ada apa, Dennis?" tanya Rei sambil menyentuh bahu Dennis. Tubuhnya terasa gemetar ketakutan. Ekspresinya juga menunjukkan wajah ketakutannya.
"O–orang itu..." Dennis mulai menjawab. "Si pembunuh itu seharusnya... sudah mati."
__ADS_1
"Hah?!"
"Di–dia adalah kakaknya Cahya."
"Hah?!"
"Dia... dia dibunuh oleh Akihiro tadi pagi!"
"Eeeeh?!"
"Bisakah kalian hentikan itu?!" Mizuki membentak. Ia mulai geram dengan suara teman-temannya yang terus berteriak disaat Dennis sedang menjawab.
"Dari deskripsi yang diberitahukan Rashino tadi... itu sama persis dengan kakaknya Cahya. Wajahnya memang hancur karena Akihiro membunuhnya dengan cara membelah kepalanya dengan golok." Jelas Dennis lagi.
Semuanya terdiam dengan tampang terkejut mereka. Kecuali Rei dan Yuni. Apalagi dengan Cahya yang mendengar kakak tirinya yang telah terbunuh itu bisa hidup lagi ternyata.
"Maafkan aku!" Akihiro menempelkan kedua telapak tangannya ke depan dan memohon. "Kumohon maafkan aku! Aku tidak sengaja membunuhnya! Aku tidak ingin membunuh siapapun tapi... semua terjadi begitu saja."
"Tidak Dian, ini bukan salahmu." Cahya menggeleng sambil menenangkan Akihiro. "Kerja bagus karena telah membunuh orang itu!"
"Eh?" Akihiro kembali membuka matanya, lalu melirik Cahya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Keluargaku tidak pantas untuk disebut manusia. Karena mereka tidak punya hati dan tidak punya otak!" Cahya berbicara tegas. Ia ingin mengeluarkan dan menceritakan semuanya. "Kalau ingin membunuh, penggal kepala mereka langsung! Jika hanya segitu saja, mereka masih bisa hidup kembali. Sekali lagi aku bilang, mereka itu bukan manusia!!"
"Ah? Cahya?" Dennis bergumam cemas. Ia melihat Cahya menyender di pundak Akihiro sambil menangis setelah ia selesai berbicara tegas seperti tadi.
"Jadi cepat! Bantu aku untuk membunuh mereka! Karena itulah yang aku mau, dan itulah cara untuk kalian bisa keluar dan pergi dari tempat ini!" tegas Cahya lagi.
"Jadi... sekarang saatnya untuk menggunakan rencana ketigaku." Ujar Dennis pelan. Otaknya kembali berjalan. Lagi-lagi ia menyentuh dan memainkan rambutnya. Tanda ia sedang memikirkan sesuatu. Mungkin rencana lainnya untuk...
Membunuh si manusia kanibal!
Dennis melirik dingin ke arah Cahya lalu bertanya dengan nada tegas. "Cahya, beritahu aku kelemahan yang kau ketahui dari si manusia kanibal itu!"
"Tak lama lagi, kita akan memulai pertumpahan darah di tempat ini. Persiapkan diri kalian!"
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8