Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 84– Penjelasan 2


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Menurutnya membunuh orang itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Makanya, setelah semua orang yang ia benci telah terbunuh, Bob melakukan aksinya ke orang lain dan akhirnya ia mendapat julukan...


si "Terror Internet".


Setelah julukan itu diberikan oleh beberapa orang yang sangat takut padanya, Bob jadi semakin menjadi-jadi. Dia mengirim banyak email ke banyak orang di kota dan sebagian besar orang menolak perintahnya dan akan dibunuh.


Lalu sampai akhirnya, ia menginginkan permainan baru setelah dirinya mendengar kalau Ujian Akhir Semester di sekolah seluruh negeri akan dimulai!


Dia membuat Ujian virtual yang hanya bisa dibuat oleh dirinya. Lalu setelah semuanya selesai, ia pergi ke sekolah pertama yang akan ia incar dengan cara menjadi orang baik di sana. Tentu saja dia datang sebagai guru pengganti. Lalu setelah semua warga sekolah mempercayainya, barulah dia memulai aksinya di saat Ujian akhir semester itu dimulai.


"Ooh jadi begitu." Rei mengangguk paham setelah ia mendengar penjelasan dari Yuni. Lalu setelah itu, tak lama Dennis kembali bertanya. Kali ini ia akan bilang tentang gadis berambut pendek yang suka ketemu samanya di dalam Ujian Virtual.


"A–anu... Yuni? Aku ingin tanya sesuatu lagi. Emm... apa kau pernah melihat seorang gadis kecil yang memiliki rambut pendek saat kita sedang berada di dalam Ujian Kematian itu?" tanya Dennis.


"Ooh, si anak kecil itu?" Ujar Rei mengejutkan Dennis. "Apa kau melihatnya lagi?"


"I–iya." Dennis mengangguk kaku. Lalu kembali melirik ke arah Yuni. "Sebenarnya siapa gadis itu, ya? Kenapa dia suka menolongku di saat aku dalam bahaya? Dan... kenapa dia hanya muncul di dalam ujian itu saja?"


"Hah, gadis yang dilihat Dennis itu pasti adalah hantu dari murid yang meninggal di dalam Dunia Ujian itu." Jawab Yuni.


"Eh? Kau tahu dari mana?"


"Entahlah. Aku hanya menjawabnya saja. Soalnya, aku juga pernah bertemu anak lain di Dunia itu. Malah... ada banyak anak lainnya yang sebenarnya sudah meninggal." Jelas Yuni.


"Ja–jadi selama ini si gadis itu adalah hantu?"


Yuni hanya mengangguk lalu terdiam. Setelah Yuni diam, semuanya juga ikut diam. Seketika keadaan ruang rawat Akihiro jadi sepi dan sunyi. Yang terdengar hanya suara kunyahan makanan dari mulut Akihiro saja.


"E–em... anu... ini kenapa kita jadi diam begini, ya?" tanya Mizuki ragu. Semuanya menggeleng. Mereka kehabisan topik.


Eh, tapi ternyata Rei masih ada satu hal lagi yang ingin dibicarakan. Ia berkata, "Kemarin saat di dalam gudang, aku melihat ada dua orang asing yang terjebak juga di dalam gudang itu."


"Dua orang asing?" tanya Akihiro. Ia menghentikan makannya sejenak, lalu melirik heran ke arah Rei.


"Iya. Aku tidak kenal siapa mereka berdua. Saat kubuka ikatan mereka, tiba-tiba saja mereka berdua itu langsung lari kabur dari gudang dan menghilang begitu saja." Jelas Rei.


"Ah, apakah mereka berdua berdua berkelamin laki-laki dan perempuan?" tanya Akihiro. "Maksudku, emm... yang si laki-lakinya itu masih muda. Tapi yang perempuannya itu... sudah terlihat seperti keibu-ibuan gitu?"


Rei mengangguk. "Iya. Eh, apa kau mengenal kedua orang itu?"


Akihiro mengangguk pelan. Lalu menjawab, "Mereka berdua adalah keluargaku yang masih tersisah."


Semuanya terkejut. "Eh? Jadi mereka berdua itu adalah ibu dan kakakmu, Dian?!" tanya Rei tidak percaya.


"Iya. Aku pikir, mereka sudah pergi dari sekolah. Tapi ternyata mereka malah tertangkap juga."


"Ah, jangan khawatir, Dian. Mereka berdua sudah pergi, kok!"


"Tapi... aku takut kalau mereka kembali lagi. Aku tidak ingin ikut pulang bersama dengan keluargaku." Akihiro menundukkan kepalanya lalu bergumam, "Aku lebih memilih mati saja, daripada harus hidup bersama dengan keluargaku itu."


"Kasihan Kak Dian... dia pasti sangat ketakutan karena keluarganya yang ia anggap kejam itu." Batin Dennis dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


Lagi-lagi mereka semua terdiam. Lalu tak lama keheningan itu seketika tergantikan oleh suara nada dering ponsel Mizuki yang bikin ribut. Nada deringnya itu terdengar aneh tapi bagi Mizuki nada suaranya enak.


Dengan cepat, Mizuki mengambil ponselnya yang ia letakan di atas meja. Saat dibuka dan dilihat ke layar, ternyata ada orang lain yang menelpon dirinya. Di layarnya itu tertulis huruf Jepang yang dibaca Onii-chan atau artinya adalah "Kakak".


"Eh? Onii-chan menelponku kenapa, ya?" gumam Mizuki. Lalu sebelum nada deringnya mati, dengan cepat Mizuki langsung menekan tombol tengah ponselnya untuk mengangkat telepon dari kakaknya itu. "Moshi-moshi?"


*( Moshi-moshi\= Halo (Ucapan sebelum memulai pembicaraan lewat telepon)


Setelah mengangkat teleponnya, ia berjalan cepat ke arah pintu keluar. Ia ingin bicara dengan kakaknya di luar saja biar tidak ada yang berisik. Lagipula, Mizuki dengan kakaknya itu pasti menggunakan bahasa Jepang untuk berkomunikasi. Makanya Mizuki mau keluar saja dan meninggalkan teman-temannya agar mereka tidak kebingungan dengan bahasa yang Mizuki gunakan.


"Siapa yang menelpon dirinya?" tanya Dennis.


"Kakaknya." Jawab Yuni singkat.


"Eh? Dari mana kau tahu?"


"Tadi aku sempat mendengar Mizuki bergumam.


"Ooh..." Dennis mengangguk. Lalu setelah itu, ia bertanya pada Rei, "Kak Rei? Sekolah diliburkan sampai kapan?"


"Hanya Minggu ini saja. Nanti hari Senin kita kembali lagi ke sekolah itu." Jawab Rei, lalu ia melirik ke arah jam tangannya. "Pukul 11 siang. Cepat sekali."


"Eh? Ada apa Kak Rei?"


"Bukan apa-apa."


"Oh oke." Dennis mengangguk lagi. Lalu terdiam. Semuanya juga begitu. Sekarang yang terdengar hanya suara Akihiro yang sedang makan, dan sesekali juga terdengar suara Mizuki yang berbicara dengan seseorang di depan pintu.


Dennis duduk di kursi kecil yang sudah tersedia di pinggir tempat tidurnya Akihiro. Sementara Rei berjalan pelan menghampiri jendela besar yang ada di ruangan itu. Rei menatap gedung-gedung yang dapat terlihat lewat jendela. Kalau Yuni sedang duduk di ranjang lain yang ada di ruangan itu. Ia duduk sambil menundukkan kepalanya dan memejamkan mata. Dan kalau Adel sedang melihat si kembar memainkan ponselnya mereka. Rashino sedang bermain game, sementara Nashira terus menekan-nekan ketikan ponselnya sambil membaca berita lewat situs web yang ia buka.


"Membosankan sekali." Dennis bergumam. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dari saku. Dennis akan menghubungi Ibunya lewat pesan Message yang akan ia kirimkan. Tapi sebelum itu, Dennis menulis pesannya dulu. Untuk permulaan, Dennis menanyakan tentang keadaan keluarganya terlebih dahulu.


Dennis tersenyum kecil setelah ia mengirim pesan Message itu ke Ibunya. Ia berharap, ibunya bisa cepat membalas pesannya. Tapi walau belum ada balasan, Dennis akan tetap menunggu.


Tapi tak lama setelah Dennis memasukan ponselnya ke saku, tiba-tiba saja ponselnya itu bergetar dan mengeluarkan suara nada dering yang berdurasi sedetik saja. Saat Dennis kembali membuka ponselnya, ia terlihat senang karena ibunya membalas pesannya itu.


[ Ibu baik. Dennis sayang sedang apa di sana? Kamu ada di sekolah kan? ]


Dennis kembali mengetik untuk membalas pesan ibunya. "Aku lagi di rumah sakit sekarang."


TERKIRIM!


TRING!


Cepat sekali langsung dibalas oleh ibunya. [ Ada apa denganmu? Kau sakit apa? ]


"Bukan aku, tapi Kak Dian."


[ Si Dian kenapa? ]


"Ah, dia tidak kenapa-kenapa. Tidak ada yang harus dikhawatirkan, Bu! Dia hanya terjatuh dari tangga saja." Dennis mengirimnya. Ia sengaja berbohong agar ibunya tidak membuat banyak pertanyaan lagi untuknya. Dan Dennis juga tidak ingin membuat ibunya jadi cemas.


TRING!


[ Oh begitu, syukurlah baik-baik saja. ]


TRING!


[ Ngomong-ngomong, kamu ada di rumah sakit mana sekarang? ]

__ADS_1


"Ah, kebetulan Rumah Sakit Ananta yang ada di kota."


[ Ooh! Dekat dari rumah dong. Kamu mau ibu jemput? Apa mau ibu menemui temanmu juga? ]


"Ah, tidak usah, Bu."


[ Oh, baiklah kalau begitu. ]


TRING!


[ Kamu tidak sekolah besok? Atau hari ini kamu izin, ya? ]


"Tidak, Bu. Aku sudah berlibur sekarang. Tapi hanya untuk satu Minggu."


[ Oh, kalau begitu, bagaimana kalau kau pulang saja hari ini bersama dengan Adel. ]


[ Kau tidak menginap di sekolah lagi, kan? Kalau begitu pulang saja. ]


"Ah, iya. Nanti sore aku pulang. Bersama dengan temanku yang lainnya juga."


[ Eh? Mereka mau menginap lagi di rumah kita? ]


"Ah, apa ibu keberatan?"


[ Oh tidak, sayang. Ibu senang kalau ada temanmu. Rumah jadi ramai. ]


"Oh oke baiklah. Nanti sore aku akan ke rumah."


[ Kau ingat jalan ke rumah? ]


Dennis tersentak lalu tertawa kecil. Ia sebenarnya ingat-ingat lupa dengan jalan pulangnya sendiri. Karena sudah lama dia tidak pulang ke rumahnya yang ada di kota. Ia kembali mengetik ponselnya dan menjawab ibunya lewat pesan.


"Aku ingat, Bu. Tenang saja."


[ Baiklah kalau begitu, ibu tunggu kamu di rumah nanti, ya? ]


"Iya Bu."


Dennis menghentikan kedua jempolnya untuk mengetik. Di akhir kirimannya itu, ibunya sudah tidak mengirim pesan lagi. Sepertinya Dennis dan Ibunya berhenti berbicara lewat pesan Message.


Dennis memasukan ponselnya ke sakunya setelah itu berdiri dan melirik ke arah Akihiro. Ia melihat Akihiro sudah ketiduran di ranjangnya. Entah sejak kapan. Mungkin karena kekenyangan. Lalu Yuni masih dengan posisi yang sama. Mungkin dia juga tertidur. Karena sedari tadi, anak berambut pendek itu selalu menunduk dan memejamkan matanya. Sementara Rei masih menatap keluar jendela.


Setelah berdiri, Dennis menghela nafas, lalu ia berjalan pelan menghampiri Rei. Tapi baru saja 2 langkah maju, tiba-tiba saja Mizuki membuka pintu ruangan lagi. Ia datang kembali dengan ekspresi wajah... yang entah bagaimana. Intinya dia terlihat panik.


Semuanya terkejut saat Mizuki membanting pintu. Akihiro dan Yuni yang sedang tertidur pun langsung terbangun karena suara berisik dari Mizuki. Rei menoleh ke belakang dan bertanya, "Ada apa, Mizuki?"


"Hah... hah... teman-teman! Kakakku... akan datang ke Indonesia!"


Eh? Kalau kakaknya mau datang, kenapa dia harus panik seperti itu?


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2