Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 33–Kebakaran dan Kebebasan


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


Saat Rashino sedang berlari masuk ke dalam hutan untuk mengejar Akihiro dan Mizuki, ia menemukan sebuah kumpulan botol beling yang terkumpul di dalam hutan. Entah untuk apa dan dari mana botol-botol yang berserakan itu berasal.


Rashino tidak mempedulikan botol itu. Ia akan terus berjalan sambil memainkan ponselnya dan mengikuti jejak pita yang selalu ia temukan di setiap pohon. Rashino berpikir, pasti teman-temannya yang masuk ke dalam hutan ini juga mengikuti arah pita yang terikat di pohon.


Kalau begitu, Rashino akan pergi menyusuri hutannya semakin dalam.


Tapi tak lama setelah Rashino melewati tempat botol-botol beling berserakan tadi, tiba-tiba saja ia mendengar suara langkah kaki seseorang dari belakang. Saat Rashino menoleh, mendadak ada botol beling yang melayang menghantam kepalanya.


Botolnya pecah menjadi serpihan beberapa kaca dan kepala Rashino pun terluka. Saat disitulah Rashino terjatuh dan ponselnya terlepas dari genggaman tangannya. Ada orang lain di belakangnya yang menarik kaki dan menyeret tubuhnya untuk dibawa ke suatu tempat.


Tapi sebelum Rashino kehilangan kesadarannya, ia sempat mengambil pecahan kaca dari botol yang hancur tadi, lalu menyembunyikan pecahan kaca itu di dalam lengan bajunya dan membiarkan orang yang ada di belakangnya itu terus menyeretnya sampai ke tempat tujuannya.


****


Saat Rashino kembali membuka mata, ia melihat dirinya telah berada di dalam ruangan yang tidak ia ketahui lokasinya. Tidak ada siapapun di sana, hanya dia sendirian. Duduk di pojokan dan tidak bisa bergerak.


"Berapa lama aku tertidur?" Rashino bergumam lemas. Ia mengangkat kepalanya sedikit, lalu merasakan ada sesuatu yang mengalir melewati keningnya.


Saat Rashino menunduk, ia melihat tetesan darah yang terjatuh dari kepalanya. Rashino jadi teringat, saat kepalanya dipukul oleh seseorang menggunakan botol beling. Mungkin terluka sampai berdarah itu karena terkena pecahan belingnya.


Tapi Rashino terlihat baik-baik saja. Ia melirik ke sekitarnya. Melihat satu jendela yang ada jauh di hadpaannya. Jendela dekat pintu. Keadaan di luar sudah terang. Tidak gelap seperti terakhir kali ia berjalan di hutan.


"Jam berapa sekarang? Apakah ini sudah pagi lagi?" Rashino bergumam bingung.


Pada awalnya ia merasa takut dengan tempatnya. Selalu berusahalah untuk melepaskan dirinya. Ia juga sudah mengeluarkan kembali pecahan kaca yang ia simpan dalam lengan bajunya yang panjang. Dengan ujung pecahan kaca itu, Rashino dapat mengiris tali yang mengikat tangannya secara perlahan.


Tapi saat Rashino sedang sibuk menggesek talinya, tiba-tiba saja pintu depan ruangan itu terbuka. Rashino tidak sempat menyimpan pecahan kaca miliknya ke dalam lengan bajunya lagi. Jadi ia menyimpan pecahan kaca itu ke dalam saku celana belakangnya sjaa. Setelah pintu terbuka lebar, munculah seorang gadis berambut panjang di sana. Dan dari sanalah Rashino bertemu dengan Rina.


****


"Nah! Akhirnya aku bebas." Rashino bergumam senang. Setelah kedua tangannya bisa digerakkan kembali, Rashino menjatuhkan pecahan kacanya, lalu berdiri dengan kaki yang masih terikat.

__ADS_1


Kalau menggunakan pecahan kaca itu lagi untuk memotong tali di kakinya, maka akan memakan waktu lama. Jadi Rashino akan menggunakan pisau yang diletakan Rina di atas meja.


Dengan tangan kanan, Rashino mengambil pisau lalu mulai memotong tali di kakinya. Tapi saat ia sedang sibuk dengan pisau itu, tiba-tiba saja Rashino mencium bau yang tidak enak di sekitarnya.


Ia pikir bau itu hanya bau dari daging di ruangan itu yang mulai membusuk. Tapi setelah Rashino berhasil melepaskan kakinya, ia mulai tidak nyaman dengan udara di sekitar ruangan itu. Rasanya sesak dan tidak enak untuk dihirup dan mencari oksigen.


Tentu saja sesak. Karena di dalam ruangan itu tidak ada ventilasi udara dan semua jendela tertutup rapat. Rashino harus segera keluar dari ruangan yang ia sebut dengan dapur itu.


Tapi saat Rashino menyentuh pintu depan, tiba-tiba saja ia mendengar suara desis dari suatu benda yang ada di dalam ruangan. Rashino menoleh ke belakang dan terkejut. Ia melihat ada kumpulan asap seperti gas transparan yang muncul dari dalam lemari bawah dekat kompor.


Rashino tidak berani untuk mengecek keadaan di sana. Karena ia sudah menduganya kalau asap itu berasal dari Gas Elpiji yang tersimpan di dalam lemari. "Oh tidak! Apakah ada gas yang tersembunyi di dalam sana? Kalau memang benar, gas itu bisa menimbulkan ledakan."


Rashino tidak tahan dengan bau gas yang menyengat, ditambah dengan bunyi desis yang keluar dari dalam lemari. Karena di dalam ruangan yang tertutup, gas itu berkumpul dan tidak bisa keluar lewat celah manapun. Rashino mulai merasa pusing. Ia menyadari kalau Gas di dalam lemari itu bocor dan dalam hitungan menit akan terjadi ledakan. Apalagi saat ini, Gas itu terletak dekat dengan kompor.


"Sial. Aku harus cepat keluar dari sini!" Rashino menarik pintunya. Tapi ternyata tidak bisa dibuka. Ia khawatir pintunya telah dikunci oleh Rina dari depan. Saat Rashino mendobraknya, tetap saja pintunya tidak bisa terbuka. Dia terjebak di dalam dapur yang akan meledak!


"Oh, tidak! Cepat pikirkan sesuatu!" Rashino mulai panik. Tapi ia akan berusaha untuk bersikap tenang agar otaknya bisa dingin untuk memikirkan caranya keluar dari dalam dapur.


Rashino mencoba dengan jendelanya. Tapi saat hendak dibuka, ternyata jendela yang dipasang di samping pintu itu hanya kaca bening saja. Tidak dapat dibuka sama sekali. Salah satunya jalan keluar adalah jendela itu. Tapi dengan apa Rashino memecahkan jendela itu?!


Ia ingin mengambil kursi yang terletak di dekat meja untuk memecahkan kacanya. Tapi saat Rashino melangkah sedikit mendekat meja, tiba-tiba saja ia melihat percikan api yang keluar dari dalam lemari Gas.


DUAR!


Ledakan kecil terjadi. Rashino sangat terkejut. Lalu tanpa sadar, tiba-tiba saja tubuhnya bergerak sendiri. Berlari cepat dan menabrak kaca jendela dengan punggungnya.


Kaca jendelanya berhasil pecah dan Rashino akhirnya bisa keluar dari dalam dapur. Saat ia melihat keadaan dalam dapur lewat jendela yang baru saja ia hancurkan, Rashino melihat api yang sudah membara di dekat kompor.


"Tadi baru permulaan. Pasti akan terjadi ledakan yang lebih besar!" Dengan cepat, Rashino kembali berdiri sambil memegang lengannya yang terluka. Ia berlari cepat menjauh dari dapur.


Saat Rashino melihat dari kejauhan, ternyata ruangan dapur itu adalah sebuah gubuk kec yang terletak di dalam hutan. Saat ini Rashino benar-benar tersesat. Ia tidak tahu daerah hutan ini.


Ledakannya telah terjadi dan satu gubuk itu pun hancur terbakar. Jika tidak cepat dipadamkan, api akan membakar satu hutan. Kan bisa gawat!


Tapi Rashino tidak mempedulikannya. Ia tetap jalan dengan sempoyongan. Setelah bersembunyi dibalik semak yang jauh dari sekitar api yang membakar, Rashino duduk lemas di sana. Sebanyak-banyaknya ia menghirup udara segar sampai kepalanya pulih kembali. Rasa pusingnya pun menghilang. Rashino merasa jadi lebih baik.


Kalau begitu, Rashino akan kembali melanjutkan perjalanannya. Ia akan mencari jalan keluar dari hutan itu dan kembali ke Villa untuk melaporkan pada Bu Mia apa yang telah ia lihat dan alami.


"Villa dihuni oleh keluarga kanibal." Rashino menggerutu. "Seandainya aku tahu dari awal, aku pasti sudah mengajak Bu Mia dan teman-teman untuk segera pergi meninggalkan Villa itu. Tapi... kami tidak bisa pergi meninggalkan Rei, Dennis dan Adel yang menghilang."

__ADS_1


"Bahkan sampai sekarang, aku juga belum bisa menemukan Akihiro dan Mizuki. Sekarang aku sendirian. Ponselku juga menghilang entah ke mana."


Rashino mengelus perutnya lalu kembali bergumam, "Perutku juga lapar dan aku kelelahan. Andai saja ada yang bisa menolongku. Ah, aku juga tidak tahu harus ke mana."


Rashino mendongak. Menatap langit sambil terus melangkah maju ke depan. "Apa aku pergi mencari Rei, Dennis dan Adel saja, ya? Aku juga bisa melakukannya sendiri! Kalau aku berhasil menemukan mereka, aku jadi sedikit lebih baik karena aku punya teman yang bisa melindungiku."


"Yah! Ini mungkin sudah memasuki hari ketiga! Aku harus cepat menemukan temanku yang lainnya." Rashino sudah berniat. Ia pun berlari dengan hati-hati menyusuri hutan semakin dalam sampai ia menemukan tempat perlindungan dan orang lain yang dapat ia percaya.


****


2 Jam kemudian–Setelah Rashino pergi meninggalkan Gubuk Dapur....


"Hah... hah... akhirnya..." Rina menjatuhkan ember yang ia pegang ke samping tubuhnya dengan nafas yang terengah-engah. Lalu jatuh duduk di tempatnya karena merasa kelelahan. "Akhirnya bisa dipadamkan juga."


"Ya. Untung apinya belum terlalu besar." Seorang wanita tua yang berdiri di samping Rina menimpali perkataan Rina. Ternyata wanita itu adalah Ibu angkat dari Rina. Saat ini, satu keluarga kanibal itu sedang berkumpul di dekat Gubuk yang sudah menjadi abu. Mereka baru saja memadamkan api dengan air yang mereka ambil dari sungai.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Rin?" tanya ayahnya. "Apa kau yang sudah membakarnya?" Wajahnya juga sudah mulai keriput seperti Ibunya Rina. Rambutnya putih semua karena dipenuhi uban. Tapi kedua orang tua Rina masih terlihat segar dan sehat.


"Tidak, ayah! Aku tidak tahu. Saat aku kembali, tiba-tiba saja sudah seperti ini!" Rina menyangkal.


"Hmm... Pasti korban kita telah hangus terbakar di dalam sana." Ujar Ibunya. "Tidak ada yang bisa dimakan. Semuanya telah menjadi abu."


"Sepertinya kita harus mencari korban lainnya, Bu."


"Iya, ayah. Sekarang ayo kita pergi."


Kedua orang tuanya Rina sudah berjalan pergi. Sementara Rina sendiri masih terduduk di depan abu Gubuk Dapur. Di sana ia bergumam kesal, "Ini pasti ulah anak itu. Ternak yang satu itu telah membawa bencana."


Ia menggeleng cepat, lalu kembali menggerutu, "Tidak mungkin. Dia pasti berhasil melarikan diri. Dia tidak ikut mati di dalam sana. Aku harus menemukan anak itu kembali!"


"Dia pasti belum jauh! Akan aku kejar dia!"


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2