Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 50– Telepon Dari Cahya


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Bu Mia... dia sudah meninggal." Zainal menjawab. Rei terkejut mendengarnya. Secara mendadak, ia turun dari tempat tidurnya lalu menarik kerah Zainal dengan cepat.


"Kau jangan bercanda, ya?!" Rei membentak tepat di depan wajahnya. Akibat tubuhnya ditarik dengan paksa oleh Re tadi, poni depan yang menutupi mata kiri Zainal itu langsung menyingkir ke samping. Menyebabkan mata merahnya dapat terlihat menyala karena terkena sinar matahari.


"Re–Rei! Aku... aku sungguh-sungguh..." Zainal mengangguk pelan. Ia mencoba untuk melepaskan bajunya dari genggaman Rei. "Mereka semua adalah saksi dan bukan aku saja."


Rei terdiam. Ia berdecih kesal, lalu menundukkan kepala dan menyenderkan kepalanya itu di dada Zainal. Kemudian tak lama, ia bergumam, "Aku... turut berduka cita."


Mendengar gumaman Rei, semuanya langsung menundukkan kepala mereka secara perlahan sambil memejamkan mata. Setelah itu, mereka semua kembali mengangkat kepalanya dan melirik ke Rei kembali.


Rei masih tetap di posisi yang sama. Tapi tak lama setelah semua orang mengangkat kepala mereka, Rei juga ikut mengangkat kepalanya. Ia menatap serius ke Zainal yang ada dekat di hadapannya.


"Apakah... orang itu sudah kau bunuh?" Rei bertanya. Wajahnya terlihat menyeramkan. "Orang yang aku minta untuk kau dan kelompokmu interogasi itu. Apakah sudah kau bunuh?!"


"E–eh?! I... Iya... Aku sudah menghabisinya." Zainal menjawab dengan wajah yang ketakutan.


Rei kembali mengubah ekspresinya. Setelah itu, ia melepaskan Zainal lalu kembali duduk di atas tempat tidurnya. Ia hanya duduk di bagian pinggirnya saja.


Sambil menundukkan kepala, Rei kembali bertanya, "Sekarang di mana jenazahnya Bu Mia itu?"


Semuanya saling menatap pada teman di samping mereka dengan bingung. Mereka tidak tahu Rei bertanya pada siapa. Jadi Zainal lagi yang akan menjawabnya. Karena hanya dia yang ditugaskan untuk mencari Bu Mia.


Tidak hanya Zainal juga. Tapi ada Mizuki, Adel dan Rasya. Tapi entah kenapa dari tadi mereka hanya menyimak dan tidak berani menjawab.


"Tubuhnya sudah tidak bisa ditemukan. Sepertinya... Ikh! Telah menghilang dengan cara tubuhnya yang terpotong." Jawab Zainal. Ia merasa mual saat menjawabnya.


Tapi ternyata menanyakan tentang kematian Bu Mia. "Kalau kau tidak bisa menemukan tubuhnya, lalu bagaimana cara kalian tahu kalau Bu Mia itu sudah meninggal?"


"Aku dengan Mizuki... menemukan tubuh Bu Mia di dalam gubuk samping dapur. Di sana terdapat banyak daging manusia. Dan... di sana juga kami menemukan seragam Bu Mia tergeletak di lantai yang penuh bercak darah. Di sampingnya, ada seragam bapak guru dari sekolah Adiwata itu. Ternyata, kedua guru kita telah terbunuh." Jelas Zainal.

__ADS_1


"Sialan. Setelah semuanya terbunuh, aku... akan menghabisi si Bapak Tertua itu!" Rei menggeram. Ia ingin membalas dendam atas kematian Bu Mia. Walaupun Rei tidak mengetahui siapa orang yang telah membunuh Bu Mia itu. Tapi ia tidak peduli siapa orangnya. Yang penting sekarang, Rei tidak ingin adanya korban lagi. Ia akan membawa semua teman-temannya untuk pergi dari Villa yang mematikan itu.


TRIIIING... TRIIIING ....


"Eh?" Rei kembali mendongak. Ia menoleh ke samping, lalu mengambil ponselnya. Ada telepon masuk lagi ternyata.


Saat Rei membuka ponselnya, ia melihat nomor asing yang muncul di layarnya. Rei belum mengetahui nomor itu sebelumnya.


Tapi karena penasaran, Rei akan mencoba untuk mengangkatnya. "Halo? Ini siapa?"


[ Hai, Rei. Aku Cahya. Maaf. Aku menggunakan ponsel ayahku. ]


"Eh? Bukankah itu terlalu berbahaya?!"


[ Tenang saja, saat ini dia tidak bisa mendengar pembicaraanku. ]


"Oke sekarang untuk apa kau meneleponku?"


[ Aku hanya ingin memberitahu kalian. Ayahku sebentar lagi akan pulang kembali ke Villa. Apa kalian di sana sudah membunuh orang-orang itu? ]


[ Kalian memang hebat kalau soal membunuh, ya! ]


"Kami tidak pernah ada niat untuk membunuh orang. Itu hanya terpaksa untuk menghentikan perbuatan mereka."


[ Ah, tapi tetap saja. Kalian hebat, hehe.... ]


"Sudah. Lanjutkan saja ke intinya. Sekarang kau mau bilang apa?" Rei yang mulai geram kembali bertanya. Ia tidak ingin berlama-lama bicara dengan Cahya.


[ Oh ngomong-ngomong, kan aku dengan ayahku akan kembali ke Villa. Apa kalian telah menyelesaikan tugas lainnya yang dikatakan Dennis sebelum aku kembali? ]


"Tugas lain?"


[ Eh! Jangan bilang kalau kau lupa?! ]


"Emm... sebentar!" Rei menurunkan ponselnya lalu melirik ke arah Mizuki. Ia meminta Mizuki untuk membuka ponselnya dan membuka grup. "Mizuki! Tolong lihat urutan rencana Dennis setelah kita membunuh Ibu dan Kakak Tertua itu, apa yang harus kita lakukan?"


"Ah, iya Rei. Sebentar!" Mizuki menurut. Ia akan membuka ponselnya sekarang juga. Setelah ia membuka grup, Mizuki mencari urutan rencana Dennis yang ke-8. "Emm... setelah membunuh mereka... kata Dennis jangan lupa untuk... Oh iya!"

__ADS_1


Mizuki terkejut. Lalu dengan cepat, ia menoleh ke arah Zainal dan membentaknya. "Zain! Kau tidak menyembunyikan mayat Ibu Villa itu, ya?!"


"Eh? Kenapa kau menyalahkan aku?!" Zainal membalasnya. "Kan kau sendiri yang tidak memberitahu aku!"


"Sial, kita benar-benar lupa soal itu. Bahkan si Kakak Tertua itu juga masih tergeletak di tengah lapangan." Rei bergumam. Lalu tak lama Cahya kembali bicara lewat ponselnya.


[ Ja–jadi... kalian belum menyembunyikan mayatnya? Sekarang bagaimana dong?! Kami sudah sampai di depan jalan turunan loh! ] Cahya juga terdengar panik.


"Baiklah! Sekarang juga, kami akan menyelesaikan tugas yang itu!" tegas Rei. Setelah itu, beberapa anak laki-laki akan pergi kembali ke dalam Villa untuk mengambil mayat Ibu Villa dan setengahnya akan pergi ke lapangan untuk mengambil mayatnya Kakak Tertua atau Kai.


Beberapa anak laki-laki itu adalah semua yang sedang berkumpul di dalam kamar kecuali Rei dan Nashira. Mereka adalah Akihiro, Rashino, Adit dan Zainal. Mungkin di depan kamar, mereka akan mengajak teman lainnya untuk ikut membantu. Rei tidak tahu itu.


Setelah mereka berempat pergi, Cahya kembali bicara. [ Ngomong-ngomong, apa kalian mengikuti aturan dariku untuk membunuh mereka? ]


"Eh? Apa maksudmu?" Rei kembali mengangkat ponselnya ke telinga. Ia terlihat terkejut. Beberapa anak perempuan lainnya juga mulai mendekati Rei.


[ Seperti yang aku bilang, kelemahan mereka ada pada lehernya. Bisa saja kau membunuh mereka itu dengan cara memenggal atau menghancurkan langsung kepalanya. Yang penting, kepala mereka harus terpisah dari tubuhnya! Kalau tidak... mereka bisa hidup kembali! ]


Penjelasan Cahya telah membuat semua orang yang mendengarnya terkejut. Lalu tiba-tiba saja Mizuki berteriak ketakutan. Begitu juga dengan Adel.


Teriakan mereka telah membuat Rei semakin kaget. Ia sedikit terheran dengan sikap kedua temannya itu. Karena penasaran, Rei bertanya, "Ada apa dengan kalian?!"


Mizuki mengacak-acak rambutnya, lalu memejamkan mata sambil berdiri tegak di depan Rei. Ia menjawab, "Sepertinya akan gawat, Rei! Kelompok kami tadi melupakan hal itu!"


"Kami tidak memotong kepalanya dan hanya membunuh dengan menusuknya saja." Rasya melanjutkan.


"Eh, apa?!"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2