Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 66– Masalah Selesai


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Dennis merunduk!!" Rei berteriak lagi. Dennis yang mendengarnya pun langsung menurut. Ia tidak merunduk, tapi malah membungkuk. Lalu setelah itu, Rei menembakan beberapa peluru mematikan dari senapannya ke arah kepala Bapak Tertua.


Sudah 5 kali Rei menembak kepala Bapak Tertua sampai berdarah-darah. Setelah tembakan itu dihentikan, Dennis kembali berdiri tegak, lalu menoleh ke belakangnya.


Ia melihat tubuh Bapak Tertua yang tergeletak di belakangnya dengan kepala yang penuh lubang. Dari lubang-lubang itu masih mengalir banyak darah yang banyak.


Tapi Dennis masih belum yakin kalau Bapak Tertua telah mati. Untuk mengakhirinya, Dennis yang akan lanjut membunuhnya.


Ia akan mengambil senjata tajam dari dalam gubuk itu. Tapi sebelum itu, ia menoleh ke belakang. Menatap Rei dan tersenyum, lalu mengacungkan jempolnya. "Terima kasih, Kak Rei! Hehe...."


"Dennis!" Rei berlari menghampirinya. Diikuti oleh temanya yang lain, yaitu Akihiro, Rashino, Ethan, Adit dan Zainal.


Saat berdiri di hadapan Dennis, Rei menepuk kepala Dennis lalu bertanya, "Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat kacau sekali."


"Ah, tidak apa-apa, Kak Rei." Dennis menggeleng pelan, lalu kepalanya menoleh kembali ke Bapak Tertua. Setelah itu, ia berjalan menghampiri beberapa senjata yang diletakan di atas papan yang tertempel di dinding.


"Biarkan aku yang membunuhnya, Kak Rei." Dennis mengambil satu pisau daging. Setelah itu, ia kembali menghampiri Bapak Tertua dan berdiri di depan tubuhnya. "Dengan tenagaku yang masih tersisah, aku akan mengakhiri hidupnya sekarang juga. Aku membunuhnya atas kematian Bu Mia!"


Dennis memejamkan matanya. Ia tidak tega melihat tangannya yang akan menusuk leher Bapak Tertua. Ini baru pertama kali dalam hidupnya, ia membunuh orang dengan niatnya sendiri.


Dennis mulai mengangkat pisaunya, lalu mengayunkannya dengan cepat sambil berteriak.


CRAK!


Hantaman dari mata pisau daging itu berhasil menembus daging leher sampai ke tulangnya. Tapi hanya dengan begitu saja, Dennis masih belum merasa puas. Sekali lagi ia mengayunkan pisaunya sampai tulang leher Bapak Tertua itu patah. Tapi Dennis masih belum diam. Ini yang terakhir.


TAK!!


Kepala Bapak Tertua pun terpisah dari tubuhnya. Darah bercipratan kemana-mana sampai mengenai benda yang ada di dekatnya. Dennis juga mulai terdiam dengan matanya yang masih menatap ke arah kepala Bapak Tertua yang telah menggelinding ke sudut ruangan.


Tapi tak lama kemudian, tubuh Dennis tiba-tiba saja tumbang. Sebelum badannya jatuh menyentuh tanah berdarah, Rei sempat menangkapnya. Ia menggendong Dennis lalu mengalirkannya dari dalam gubuk.


Rei tidak bisa mendirikan tubuh Dennis lagi. Karena ia tahu kalau Dennis sudah kehabisan tenaganya. Dia pasti kelelahan. Ditambah dengan luka-lukanya yang banyak.


Saat Rei menggeletakkan tubuh Dennis di pangkuannya, Rei berteriak memanggil ketiga orang dewasa yang sebelumnya telah berdiri di belakangnya untuk mengawasi. Rei meminta mereka untuk segera menolong Dennis.


Tapi sebelum Dennis menutup matanya, ia sempat bertanya, "Di... di mana... Cahya... kak Rei?"


"Oh, kau jangan khawatir! Tim penyelamat telah menemukannya. Dia... baik-baik saja, kok!" Rei menjawab.


"Oh... syukurlah... aku pikir sekarang aku sudah bisa merasa lega...."

__ADS_1


Dennis mulai menutup matanya. Ia tertidur dalam pangkuan Rei. Di dalam pandangannya sangat gelap. Tubuhnya juga sudah tidak bisa digerakkan lagi. Sekarang hanya telinganya saja yang masih mendengar beberapa seruan dari teman-teman yang memanggil namanya.


"Yang penting sekarang, semuanya telah berakhir. Aku mendapat pengalaman baru lagi yang tidak bisa aku lupakan dalam hidupku."


"Termasuk dengan... kejadian saat aku dengan Cahya bersembunyi bersama. Aku... aku belum menjawabnya dengan lisanku. Tapi aku harap, ciuman itu bisa menjawab pertanyaan Cahya."


"Aku juga... menyukaimu, Cahya!"


****


"Ugh..."


Dennis kembali membuka matanya secara perlahan. Ia melirik ke sekelilingnya. Sebuah ruangan yang berwarna putih sepenuhnya. Ada jendela di sampingnya yang memancarkan sinar matahari dari luar. Membuat ruangannya saat ini jadi lebih terang.


Di luar terdapat dedaunan dari pohon besar yang terlihat segar. Dennis menyentakan matanya saat ia melihat beberapa bunga yang mekar dengan indah di matanya. Bunga berwarna merah muda, seperti bunga sakura. Namun bukan sakura.


"Apakah itu bunga... Tabebuya? Aku tidak percaya bisa melihatnya di sini." Gumam Dennis.


Lalu setelah puas menatap keluar jendela, Dennis pun melirik ke samping sebaliknya. Di sana ia sedikit terkejut. Karena di atas kakinya, Dennis melihat ada Cahya yang sedang tertidur di sana.


Dennis tak sengaja menggoyangkan kakinya, yang membuat Cahya terbangun. Rambut gadis itu acak-acakan dan wajah habis bangun tidurnya terlihat menggemaskan. Membuat wajah Dennis memerah saat melihatnya.


Cahya sedikit menguap, lalu mengucek matanya. Setelah itu, secara perlahan ia melirik ke arah Dennis. Cahya pun melebarkan matanya karena terkejut melihat Dennis. Lalu dengan cepat, ia berteriak senang dan langsung memeluk Dennis dan mengalungkan tangannya di leher Dennis.


"Dennis! Akhirnya kau bangun juga, ya ampun aku senang sekali!!"


Dennis langsung memanas. Wajahnya benar-benar merah dan ia hampir tidak bisa bernapas karena pelukan dari Cahya itu.


"Ah, maafkan aku!" Dengan cepat, Cahya pun kembali menjauh dari Dennis. Kemudian ia kembali duduk di bangku kecilnya yang terletak di samping tempat tidur Dennis.


"Ah, tidak apa-apa, hehe..." Dennis tertawa kecil. Ia berusaha untuk membangkitkan tubuhnya. Tapi rasanya masih sakit. Yang bisa ia lakukan hanya duduk sambil menyandarkan tubuhnya dengan bantal.


Lalu tak lama setelah suara keributan dari Cahya, beberapa orang lainnya pun datang ke kamar Dennis. Mereka semua tentunya adalah teman-teman terbaik Dennis.


Mereka juga terlihat bahagia saat melihat Dennis kembali membuka mata dan tersenyum manis seperti biasanya.


"Hei, aku senang kau akhirnya bisa kembali pada kami." Ujar Rei sambil tersenyum. Mereka semua berdiri mengelilingi ranjang Dennis.


"Aku kangen juga sama kamu, tahu! Kau tidurnya lama banget, sih!" kata Akihiro.


Dennis sedikit terkejut mendengarnya. "Eh? Memangnya berapa lama aku tidur?"


"Satu bulan, tahu!" Mizuki menjawabnya dengan cepat. Nadanya sedikit membentak, tapi setelah itu ia mengelus kepala Dennis sambil tertawa.


Tapi tak lama kemudian, Akihiro membalas perkataan Mizuki tadi. "Bukan satu bulan, sih! Empat Minggu tahu!!"


"Ah, sama saja, bodoh!!" Mizuki mengarahkan tangannya ke kepala Akihiro, lalu memukulnya dengan kuat.


Akihiro tidak mengeluh sakit. Ia hanya tertawa saja sambil mengelus kepalanya. Setelah itu, ia mendekat pada Dennis lalu berbisik sesuatu. "Hei, Dennis. Apa kau tahu?"

__ADS_1


"Eh? Apa?" tanya Dennis penasaran.


"Aku... sama Mizuki... sudah balikan lagi, dong! Hehe... berita bagus, kan?"


"Oh, selamat, ya?" ucap Dennis dengan senangnya. Akihiro mengangguk. Ia juga merasa senang.


"Halo Kak Dennis!" Adiknya muncul dari balik pintu bersama dengan Yuni. Mereka berdua membawa sesuatu. Satu nampan yang penuh dengan makanan kesukaan Dennis.


Mereka berdua meletakan makanan itu di atas tubuh Dennis, agar Dennis sendiri juga bisa menyantapnya. "A–Adel... apa ini?" tanya Dennis ragu.


"Ini adalah makanan kesukaan kakak! Ikan goreng dengan udang goreng, hehe...."


"Ah, tapi... aku merasa ada yang aneh dengan makanan ini. Kalian tahu kan? Makanan rumah sakit itu tidak enak."


"Tapi kan kau belum makan selama satu bulan ini! Ayolah makan saja." Ujar Rei. Ia mengambil sesendok nasi untuk disiapkan pada Dennis. Tapi Dennis menolaknya karena ia bisa makan sendiri.


"Ah, baiklah kalau kalian memaksa." Dennis akan makan. Ia mengangkat satu piring di tangannya, lalu menyuap nasinya. "Mungkin aku akan makan sedikit."


****


5 menit kemudian–


Rei dan Akihiro sedang berjalan di lorong rumah sakit. Mereka ingin mengembalikan nampan dan beberapa piring kotor ke tempat mereka ambil sebelumnya.


"Katanya dia mau makan sedikit, tapi kenapa semuanya habis tanpa sisah begini?" tanya Akihiro heran. "Bahkan porsi makannya melebihi aku."


"Wajar saja. Dia kan kelaparan. Selama dia koma, perutnya tidak terisi apapun." Jawab Rei.


"Tapi kan setidaknya dia bagi-bagi makanannya dengan aku, dong!"


"Kau ini tadi sudah makan banyak snack yang Kau beli di luar!" Rei membentak geram. "Apa kau masih belum kenyang juga?"


"Makan Snack kecil saja mana kenyang, Rei~"


"Kalau begitu, makan batu saja sana. Ganjal tuh perut biar gak bisa lapar lagi." Balas Rei dengan nada menyindir. Setelah itu, ia melajukan langkahnya agar tidak dekat dengan Akihiro lagi.


Tapi nyatanya, Akihiro masih tetap mengejar Rei dan ingin dekat dengannya.


Sekarang, mereka akan berbelok untuk memasuki lorong lain di dalam rumah sakit. Tapi saat mereka melewati ruang pribadi dokter, tiba-tiba saja Rei dan Akihiro mendengar suara ibunya Dennis yang sedang berbicara dengan orang lain di dalam sana.


"Anak saya selalu celaka semenjak dia sekolah di sana. Jadi... saya memutuskan untuk memindahkan Dennis dan Adel ke sekolah lain."


Kalimat itulah yang Akihiro dan Rei dengar. Seketika mereka langsung terkejut. Dennis dan Adel sungguh-sungguh ingin pindah sekolah?


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2