
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Yuuuhuu! Akhirnya kita sampai juga!" Akihiro berteriak sambil meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Lalu setelah itu, Akihiro menghampiri Dennis yang sedang duduk di bangku panjang yang tersedia di pinggir jalan. Ia sedang memakan roti yang diberikan Rei.
"Dennis! Kau sedang apa?" tanya Akihiro dengan senyum manisnya. Sepertinya mood Akihiro sedang baik dan ceria.
"Em... lagi makan roti." Jawab Dennis sambil mengunyah. Lalu ia memberikan rotinya itu pada Akihiro agar ia bisa membaginya. Tapi ternyata Akihiro tidak menginginkannya karena ia merasa sudah kenyang. Lalu setelah itu, Akihiro duduk di samping Dennis.
"Hei! Menurutmu, bagaimana Tour kita hari ini? Apakah menyenangkan?" tanya Akihiro lagi.
"Emm... bagaimana, ya?" Dennis tertawa kecil, lalu menggeleng pelan. "Aku belum bisa menilainya. Kan kita baru sampai. Bersenang-senangnya juga belum dimulai dan bahkan aku sendiri saja tidak tahu Villa-nya seperti apa,"
"Oh, iya juga, haha... payah aku!" Akihiro tertawa.
"Tapi kalau memang menyenangkan, aku tidak akan melupakan momen ini. Selama kita ada di sini, aku ingin mengambil gambar yang banyak sebagai kenangan." Dennis melanjutkan.
"Iya, tentu saja. Kita tidak boleh melewatkannya, ya, kan?"
"Hm!" Dennis mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia kembali memakan rotinya yang tersisah tinggal sedikit. Jadi langsung saja Dennis melahap semuanya sampai ia kesulitan mengunyah dan kedua pipinya menjadi mengembang. Wajah imut Dennis dapat terlihat karena mulutnya yang penuh dengan makanan itu.
"Anu... apa kalian tamu mamah aku?"
Dennis dan Akihiro terkejut. Lalu dengan cepat, Akihiro menunjuk ke arah belakangnya Dennis. Dennis pun menoleh. Mereka berdua melihat ada seorang gadis yang seumuran dengan mereka berdua berdiri di belakang Dennis. Entah sejak kapan gadis itu muncul di sana.
Seorang gadis berambut hitam panjang. Memakai jepit rambut berbentuk bunga Kamboja. Memakai pakaian minim dan seksi. Akihiro terus melihat gadis cantik itu. "Cantik sekali..." Ia terpesona ternyata.
"Ah, iya? Ada apa?" Dennis berdiri. Lalu menghadap ke arah gadis yang ada di depannya saat ini.
"Kalian pasti tamunya mamah aku, ya?" tanya gadis itu.
__ADS_1
Dennis agak ragu menjawabnya. Ia tidak mengerti dengan perkataan si gadis itu. Dennis tidak menjawab. Lalu tak lama, Bu Mia datang menghampiri si gadis dan bertanya, "Hai, kamu yang kemarin, kan?" Bertanya dengan nada menyapa.
Gadis cantik itu mengangguk sambil membungkuk sedikit. "Iya, Ibu. Oh, jadi benar, kan? Ibu sudah datang. Ayo ikut saya. Mamah saya juga sudah menunggu."
"Iya, terima kasih, ya?" Bu Mia membalas dengan senyum. Lalu setelah itu, matanya melirik ke arah Akihiro dan Dennis. "Kalian berdua, beritahu teman kalian untuk ikuti Ibu, ya?"
Dennis dan Akihiro mengangguk. Lalu mereka langsung pergi menghampiri Rei dan yang lainnya untuk memberitahu teman-temannya kalau mereka semua harus bersiap lagi dan pergi mengikuti Bu Mia sampai ke Villa.
Setelah Dennis pergi, gadis berambut panjang itu sempat melirik ke arah Dennis lalu bergumam di dalam hatinya, "Yang berambut coklat acak-acakan itu cakep juga." Gadis itu tersenyum, lalu menyentuh dan meraba bibirnya. Kemudian mengeluarkan senyum sinis. "Diajak main sama aku mau tidak, ya?"
****
Semuanya mengikuti Bu Mia dan si gadis yang belum diketahui namanya pergi ke Villa dengan melewati jalan yang menanjak. Sungguh sangat curam. Karena tanjakannya tidak ada ujungnya. Entah sampai kapan mereka bisa sampai ke Villa. Rasanya jauh sekali. Dari tadi terus menanjak tanpa berhenti, ditambah dengan barang-barang bawaan mereka yang amat banyak dan berat.
"Kapan sampainya, nih? Haduh..." Dennis sudah mengeluh. Ia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Tas yang ia gendong itu besar dan berat.
Rei juga berhenti di sampingnya. "Tapi setidaknya dari sini kita bisa lihat pemandangan yang indah, kan?" Rei meminta Dennis untuk melirik ke samping baliknya. Dennis menurut dan terkejut. Ia terkagum dengan pemandangan alam yang begitu indah. Dari atas, ternyata dapat terlihat pemandangan gunung, bukit-bukit serta hutan hijau yang sangat enak untuk dipandang. Ditambah dengan langit biru tanpa awan, menjadi pemandangan yang sungguh indah.
"Kau benar, Kak Rei! Di sini bagus sekali. Jadi tempat foto-foto bisa sangat bagus hasilnya. Tempat ini berasa di surga, haha..." Dennis tertawa kecil. Ia bangga dengan keindahan alam yang dimiliki di negaranya.
"Eh?" Dennis menoleh ke sampingnya. Ia sedikit terkejut dengan kehadiran seorang gadis lain yang belum ia kenal, tiba-tiba muncul di sampingnya. Tapi setelah Dennis melihat gadis itu, tiba-tiba saja ia merasa jantungnya berdetak cepat. Pipinya juga sedikit memerah dan di dalam hatinya, Dennis selalu bergumam, "Dia cantik."
"Apa di tempat kalian berasal tidak ada pemandangan seperti ini?" tanya gadis itu lagi.
"Ah, em... tidak ada, sih... kami dari sekolah di desa, tapi tidak ada pemandangan seindah ini." Ujar Dennis sambil tertawa malu. Entah ada apa dengan dirinya.
"Oh begitu." Gadis itu bergumam, lalu tak lama ia mengulurkan tangannya ke arah Dennis. "Kenalin. Aku Aulia Cahyandi. Panggil saja aku Cahya." Gadis bernama Cahya itu memperkenalkan diri sambil tersenyum dan memejamkan matanya.
"Ah," Dennis menjabat tangannya Cahya. Lalu dengan ragu, ia juga memberitahu namanya. "A–aku... Dennis. Dennis Efendy. Panggil saja aku–"
"Panggil DenDen saja, ya? Hehe..." Cahya tertawa kecil, lalu melepaskan tangan Dennis. DenDen? Nama yang lucu. Entah kenapa Cahya ingin memanggil Dennis dengan nama seperti itu. Apa mungkin nama Dennis terlalu panjang, makanya disingkat saja? Atau Cahya ingin menjadikan nama Dennis jadi terdengar lebih imut? Entahlah....
"DenDen?!" Dennis terkejut mendengarnya. "Kenapa kau memanggilku dengan nama seperti itu?" Dennis sendiri jadi malu jika dipanggil DenDen oleh gadis yang baru saja ia kenal.
"Yah... agar terdengar lebih imut saja begitu, hehe..." Gadis itu menjawab jujur. Lalu setelah itu, ia berlari menjauh dari Dennis. Cahya tidak meninggalkan Dennis. Saat jaraknya tak jauh dari Dennis, ia berteriak. Mengajak Dennis untuk segera mengikutinya. Karena sedari tadi... gerombolan teman-teman Dennis telah pergi meninggalkannya. Termasuk Rei juga.
__ADS_1
"I–iya!" Semenjak Cahya muncul, Dennis jadi merasa lebih semangat untuk terus berjalan di jalanan menanjak seperti teman-temannya yang lain. Ia menggendong tasnya lebih kuat lagi, lalu melangkah dengan kekuatan penuh dan mengejar Cahya yang sudah mendahuluinya.
****
Saat sampai di puncak, Villa yang akan mereka tinggali untuk 7 hari pun dapat terlihat. Villa-nya tidak terlalu besar dan tidak kecil pula. Di depan Villa terdapat kolam renang besar dan di sampingnya Villa terdapat papan injakan yang terbuat dari kayu. Papan itu terletak di pinggiran tebing dengan diameter yang cukup besar untuk menampung 8 orang. Papan itu digunakan untuk ber-selfie dan mendapatkan pemandangan yang bagus dari sana.
Tapi... walau tempatnya bagus, tetap ada halangannya. Seperti... saat mereka sampai di depan Villa, di sana mereka bertemu dengan banyak anak lainnya. Murid-murid dari sekolah lain ternyata juga mengunjungi Villa tersebut.
Arya si ketua kelas 3-C yang sedang berdiri di samping Bu Mia pun berbisik pada wali kelasnya. "Ibu. Kenapa ada anak dari sekolah lain juga di sini?"
"Loh? Memangnya kenapa?" Bu Mia balik berbisik. "Kan bagus. Kalian bisa dapat teman baru."
Arya terdiam, lalu menggerutu di dalam hatinya. "Yah... walau begitu tetap saja tidak asik gimana gitu rasanya. Ini kan pariwisata kami, tapi kenapa ada anak lain yang ikutan juga? Kan jadi tidak nyaman kalau ada orang asing yang memperhatikan aktivitas kami."
Tidak hanya Arya saja yang berpikiran seperti itu. Ternyata teman-temannya yang lainnya juga beranggapan seperti itu. Termasuk dengan Rei juga. Mata tajamnya terus menatap ke arah satu anak yang terlihat lebih tua darinya. Anak dari sekolah lain yang sedang berdiri di depan tangga Villa. Anak yang sedang ditatap Rei juga menatap balik. Rei punya firasat kalau anak-anak dari sekolah lain yang berjumlah 23 orang itu bukanlah anak-anak yang baik. Karena bisa dilihat dari tampang mereka yang terlihat sinis dan cuek. Gayanya seperti orang sombong. Apalagi dengan si cewek berambut kuning panjang yang digerai di depan dadanya. Jadi terlihat seperti anak alay.
"Aku jadi merasa tidak nyaman." Rei bergumam. Dennis yang ada di sampingnya mendengar gumaman itu. Ia juga memiliki perasaan yang sama seperti Rei. Tapi apa boleh buat. Sebelumnya mereka juga tidak tahu kalau akan ada anak-anak asing lainnya yang juga datang ke Villa itu.
Tapi kalau dilihat... sepertinya Bu Mia sama guru pembimbing murid dari sekolah lain itu terlihat akrab. Mereka berbincang saja berdua dengan santai dan biasa-biasa saja. Lalu tak lama, Bu Mia berbalik badan. Ia memberitahu pada anak muridnya untuk mencari tempat duduk untuk menunggu sejenak sebelum masuk ke dalam Villa.
Semuanya mengangguk. Mereka akan mencari pondok kecil di sana untuk digunakan sebagai tempat duduk sementara. Mereka tidak berpencar. Karena dengan kehadiran anak-anak asing, mereka jadi merasa tidak terbebas. Seperti selalu diawasi. Makanya mereka semua berkumpul bersama saja.
Setelah anak-anak mendapatkan pondok kecil yang kosong dan duduk di sana, Bu Mia dengan guru lainnya pergi memasuki Villa untuk menemui pemilik Villa dan meminta izin untuk penginapannya. Sekarang yang harus Dennis dan teman-temannya lakukan adalah menunggu kabar dari Bu Mia. Apakah mereka sudah boleh masuk ke dalam Villa itu atau tidak.
"Halo kalian semua! Pendatang baru, ya?" Seseorang datang menghampiri kelompoknya Dennis di pondok kecil. Ternyata orang itu adalah salah satu anak murid dari sekolah lain. Tak lama, teman-temannya juga datang menghampiri dirinya.
Dari tampangnya yang sekarang, sepertinya mereka semua baik karena murah senyum. Mungkin tampang yang dilihat Rei tadi hanya tampang mereka yang sedang berusaha untuk menerima pendatang baru. Tapi apakah anak murid dari sekolah lain itu benar-benar murid yang baik?
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8