Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 68– Teman Egois


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Aduh... kapan kita sampai di pantai itu?" tanya Dennis sambil mengeluh. Ia sudah berjalan lama sekali di dalam hutan bersama dengan temannya yang lain.


"Sabar dulu, Dennis. Semua juga butuh waktu. Yang penting kita masih berusaha untuk keluar dari sini." Jelas Rei. Lalu setelah itu, ia mendongak ke atas. Melirik ke arah si Zainal yang berjongkok di atas dahan pohon raksasa.


Tugas Zainal di atas sana adalah untuk mengawasi sekitar dan juga mencari jalan yang aman. Karena dari tempat Zainal berdiri, ia bisa melihat semuanya. Walau Zainal hanya memiliki satu mata, tetap saja matanya yang tersisa itu kelihatan masih baik dan pengelihatannya juga masih tajam.


Zainal, seorang lelaki muda yang berasal dari kelas 3-C. Rangking ke 19 di kelasnya. Memiliki rambut berwarna hitam dengan poni yang sangat panjang terurai ke bawah sampai menutupi kedua matanya. Tapi... poni sebelah kanannya ia potong agar dirinya dapat melihat. Sementara poni kirinya, tetap memanjang ke bawah dan menutupi mata kirinya. Tapi... kalau dilihat, Zainal memang sudah tidak memiliki mata kiri. Bukan tidak ada, tapi mata kirinya itu sudah tidak berfungsi lagi karena... mata kirinya itu hanya mata mainan.


"Teman-teman! Dari arah barat, aku melihat ada beberapa pohon yang bergoyang dengan kuat. Aku pikir ada bahaya di sana." Ujar Zainal memperingati teman-temannya yang ada di bawah.


"Lalu... apa kau bisa mencari jalan lain? Apa dari atas sana kau tidak melihat laut, gitu?" teriak Ethan dari bawah pohon. Ia sengaja berteriak agar Zainal yang ada di atas pohon itu bisa mendengarnya.


Zainal mensipitkan matanya. Ia melihat sesuatu yang berwarna biru. "Itu... aku hanya melihat sekilas. Apakah itu laut atau bukan, aku tidak tahu, Ethan."


"Oh, oke baiklah. Terimakasih, Nal!"


Zainal mengangguk. "Kita coba hampiri sesuatu yang kulihat seperti lautan itu. Ke arah Timur!" Lalu ia kembali berteriak pada Ethan untuk meminta bantuan. "Ethan! Tolong tangkap aku. Aku tidak bisa turun."


Ethan menghembuskan nafas berat dan mengangguk. "Oke, deh." Ya begitulah Zainal. Dia suka memanjat pohon, tapi saat sudah di atas ia malah lupa caranya untuk turun.


"Kak Rei..." Dennis memanggil. Rei pun langsung menengok ke arahnya. Hanya menengok dan tidak menyahut. Dennis kembali melanjutkan. "Kak, kita belum menemukan Kak Dian, loh! Kita harus menemukannya dulu sebelum keluar dari sini. Kan kita akan bersama-sama."


Rei mengangguk. "Iya pastinya. Kita akan menemukannya. Tapi... untuk saat ini, kita harus tahu letak laut itu terlebih dahulu, baru setelah itu, kita mencari Kak Dian, ya?" Jelas Rei, lalu mengelus kepala Dennis. Ia terlihat cemas karena salah satu temannya menghilang begitu saja tanpa jejak.


Setelah Zainal turun, dan Ethan menangkapnya, kedua kelompok yang bersatu itu kembali melanjutkan perjalanan mereka. Seperti yang diarahkan oleh Zainal, mereka semua harus ke arah Timur.


Kelompok yang dipimpin oleh Ethan itu ternyata beranggota 10 anak dari kelas 3–C semua. 10 anggota itu adalah Ethan si pemimpin kelompoknya, Arya si ketua kelas, Lania yang merupakan pacarnya Arya, Mizan, Putri, Rizky, Oliva, Revi dan Zainal si anggota yang paling bisa diandalkan, dan yang terakhir adalah Shinta si gadis yang paling dilindungi karena dia gadis paling penakut dalam bertindak.


****


Di waktu yang sama, Davin sedang berada di atas pohon tertinggi bersama dengan pasangan setianya. Seorang gadis yang ahli bermain pedang. Gadis itu bernama Nirmala. Dia sahabat dekat Davin. Saat ini, kenapa hanya mereka berdua saja yang bersembunyi di atas pohon? Ke–ke mana yang lainnya?!

__ADS_1


"Davin... bukankah yang tadi itu terlalu berlebihan?" bisik Nirmala pada Davin yang ada di sampingnya.


"Bodo. Kita kan ingin selamat. Masih mending kau sudah aku selamatkan." Jawab Davin pelan. Ia mengerutkan kening dan menatap tajam ke arah Nirmala.


Nirmala sedikit menunduk dan berujar kembali. "Tapi sekarang... yang tersisah hanya kita berdua saja. Semua kelompok kita sudah mati. Dan kita masih selamat sampai sekarang karena kau mengorbankan nyawa mereka. Bukankah itu kejam, Davin?"


Davin sudah tidak tahan mendengar ucapan si gadis bawel di sampingnya itu. "Bisakah kau diam! Aku sedang berpikir. Kau bilang aku kejam? Hei, ingatlah! Siapa yang sudah menolong nyawamu sampai di sini?!" bentak Davin.


"Iya aku tahu itu kamu. Tapi..." Nirmala mengingat kejadian sebelum semua teman-teman sekelompoknya mati.


Saat sedang berjalan untuk mencari jalan keluar dari dalam hutan itu, mereka sempat bertemu dengan 3 ekor Velociraptor yang sedang mencari mangsa. Kelompok mereka tidak memiliki rencana untuk bisa bebas dari para Velociraptor yang kelaparan itu. Sampai akhirnya, dengan tega si Davin malah mendorong salah satu temannya untuk keluar dari persembunyiannya.


Dan akhirnya... temannya itu malah menjadi incaran semua Velociraptor yang ada di dekat mereka. Temannya itu pergi berlari karena ia dikejar oleh semua Velociraptor. Sementara temannya sedang di kejar-kejar, Davin menggunakan kesempatan itu untuk berlari dan keluar dari tempat persembunyiannya. Bersama dengan teman-temannya yang lain.


Kelompok mereka tinggal 9 orang. Davin senang dirinya bisa terbebas dari ketiga Velociraptor. Tapi... saat ia sedang berlari, tiba-tiba saja salah satu temannya yang lain menabrak sesuatu yang bersembunyi di balik semak. Sesuatu yang besar dan keras!


Semuanya mendongak saat mereka melihat bayangan tubuh yang besar dari suatu makhluk yang ada di hadapan mereka. Saat itulah, temannya Davin yang menabrak makhluk itu pun mati karena... makhluk yang ada di depannya telah melahap habis seluruh tubuh temannya dengan mulut yang besar.


Makhluk besar itu adalah... si Dino yang bernama Spinosaurus. Dinosaurus yang terbilang cukup besar dan ganas. Ia bahkan bisa melahap satu manusia dengan 2x kunyah dan telan. Satu teman Davin telah terbawa masuk ke dalam lambung si Spinosaurus.


Setelah Spino itu selesai memakan manusia yang ia dapat, mata Dino itu melirik tajam ke arah kelompoknya Davin yang lain.


****


Hanya sampai situ saja Nirmala bisa mengingat teman-temannya mati satu per satu dimakan oleh si Spino. Ia menggeleng cepat untuk melupakannya. Lalu setelah itu, ia kembali mendongak dan menatap tajam ke arah Davin. "Davin... sebenarnya yang telah membunuh semua teman-teman kita itu adalah kau!" Ia membentak kesal.


"Hei! Kenapa sekarang malah aku yang kau salahkan?!" Davin juga membalas bentakan Nirmala.


"Tentu saja kau salah! Kalau bukan karena dirimu, teman-teman kita masih selamat sekarang. Mereka meninggal karena perbuatanmu yang disengaja untuk membunuh mereka!" Nirmala masih membentak. "Kau itu! Dengan tanganmu yang kotor itu, kau mendorong teman yang akan kau korbankan sampai terjatuh agar dia bisa dimakan oleh dinosaurus yang mengejar kita. Dengan cara seperti itu, kau bisa memperlambat gerakan si dinosaurus besar tadi, kan?"


"Iya! Memangnya kenapa? Mereka semua itu tidak berguna! Aku menyesal karena sudah mengajak mereka semua masuk dalam kelompokku. Makanya aku langsung bunuh saja mereka dan biarkan aku yang selamat di sini!"


"Itu namanya kau anak yang egois, Davin! Kau lebih mementingkan dirimu sendiri daripada keselamatan orang-orang yang telah menolongmu sebelumnya." Nirmala mengepal tangannya kuat-kuat, lalu kembali teringat dengan teman perempuannya yang telah tiada. "Apa kau tahu? Saat ada dahan pohon yang tumbang dan terjatuh menimpa tubuhmu saat kita sedang berlari untuk menjauh dari kejaran si dinosaurus itu, si Mia menolongmu, tahu!"


"Dia mengangkat dahan itu kembali dan membebaskan dirimu. Tapi dengan kejamnya, kau malah memukul dia sampai terjatuh dan akhirnya... kau telah mengorbankan Mia juga agar dia dimakan oleh dinosaurus yang besar."


"Cih! Semua itu aku lakukan agar kita berdua bisa selamat!" tegas Davin. "Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku sudah menyelamatkan hidupmu!"


"Tapi tidak seperti ini caranya, Davin! Aku lebih baik mati bersama Mia tadi, daripada harus ikut dengan orang yang egois seperti dirimu!" bentak Nirmala sambil menunjuk keras ke arah Davin.

__ADS_1


Davin hanya terdiam. Lalu tak lama, ia mengeluarkan senyumnya. Ia tersenyum sambil menunduk. Lalu tertawa kecil dan kembali mendongak. Ia meneleng dengan ekspresi wajah menyeramkannya. "Oh~ Jadi kau memilih untuk mati saja, ya?"


"Eh?"


BUK!


Davin mendorong teman gadisnya itu dengan sengaja. Lalu karena kehilangan keseimbangan tanpa sadar, Nirmala pun terjatuh dari ketinggian pohon yang ia panjat bersama dengan Davin.


Saat kepalanya menyentuh tanah, Nirmala langsung pingsan di tempat. Ia hanya pingsan dan tidak mati. Tapi kepalanya mengeluarkan darah karena saat mendarat, kepalanya duluan yang menyentuh tanah.


"Matilah kau di sana." Dari atas pohon, Davin melihat ada beberapa semak yang bergerak cepat menghampiri pohon yang ia panjat itu. Lalu tak lama kemudian, ada dua ekor Velociraptor yang muncul dari semak dan langsung melompat menginjak tubuh Nirmala yang ada di bawah pohon.


Dengan cakar yang panjang dan tajam, salah satu dari Velociraptor itu menusuk punggung Nirmala dan menginjak-injak tubuhnya. Sementara Velociraptor yang satunya lagi, menginjak kaki Nirmala lalu menggigit dan menarik kakinya sampai... putus!


Saat di situlah, Nirmala kembali tersadar karena merasakan sakit yang luar biasa. Tubuhnya menggeliat dan suara teriakan kesakitan muncul. Dari atas pohon, Davin tersenyum senang melihat sahabat gadisnya yang sudah terkoyak oleh dua Velociraptor di bawah sana.


"Cih! Tidak ada untungnya punya teman. Mereka hanya bisa menyusahkan saja." Gumam Davin. "Kan seperti ini jadi enak. Tidak ada yang harus aku khawatirkan. Sekarang, aku hanya harus menyelamatkan diriku sendiri."


Tadinya Davin ingin turun secara diam-diam dari atas pohon. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja ia melihat kedua Velociraptor di bawah sana berlari ketakutan dan meninggalkan makanan mereka begitu saja.


Davin terheran. Ada apa dengan kedua dinosaurus itu? Lalu karena sudah tidak melihat bahaya di bawah pohon, maka langsung saja ia merosotkan diri ke bawah pohon. Setelah itu, ia melirik ke arah tubuh Nirmala yang sudah setengahnya hancur dan penuh dengan darah di mana-mana.


"Cih! Menjijikan sekali–"


BUM! BUM!


Davin terkejut. Ia merasa getaran di tanah yang ia injak. Lalu tanpa sadar, kepalanya menengok ke belakang. Di belakangnya, ia melihat ada....


Seekor Spinosaurus besar yang sudah berdiri di belakangnya!


"Oh, tidak. Ini gawat!"


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2