
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"De–Dennis? Kau menangis?!" Dengan cepat, Rei menggoyangkan tubuh Dennis. Refleks Dennis pun terbangun karena terkejut. Ia langsung menoleh ke arah Rei yang menatapnya dengan cemas.
Air mata Dennis keluar dari pelipis matanya, mengalir melewati pipi secara perlahan. Dennis merasakannya, lalu ia menyentuh pipinya lalu bergumam, "Loh, kok basah?" Ia melihat telapak tangannya yang masih banjir dengan air mata.
Rei menarik selimut yang dikenakan Dennis, lalu membantu Dennis mengelap air matanya dengan selimut itu. "Saat kau lagi tidur, kau menangis. Sebenarnya kau ini kenapa? Apa yang kau takutkan? Apa ada sesuatu yang kau cemaskan?" Rei bertanya banyak hal pada Dennis. Suaranya terdengar lirih dan lembut.
Pipi Dennis terlihat memerah lalu dengan ragu ia menjawab, "Aku baik-baik saja. Tapi...."
"Tapi?"
"Ah, tapi apa, ya?" Dennis tertawa kecil. Rei menelengkan kepalanya. "Aku lupa mau bilang apa."
"Dennis! Jangan dipendam! Katakan saja apa yang ingin kau katakan padaku!" tegas Rei sambil memegang kedua pundaknya Dennis. Rei bisa merasakan. Tubuh Dennis bergetar pelan dan terasa hangat.
"Emm..." Dennis mengerutkan bibir dan keningnya, lalu menunduk. Ia tidak ingin menjawab sambil melihat mata Rei yang menyeramkan baginya. "Aku... aku minta...."
"Ha? Kau mau apa?" Rei menyahut. Ia berusaha mengangkat kepala Dennis untuk melihat ekspresi wajahnya. Tapi ternyata Dennis tetap tidak ingin mengangkatnya.
"Kak Rei... apa kau marah padaku?" tanya Dennis pelan.
"Eh?"
"Kalau kau marah padaku, maka ... aku minta maaf! Kak Rei aku minta maaf. Karena perkataanku telah membuat perasaanmu jadi sakit, ya?"
"Ah, jadi begitu." Rei tersenyum. Lalu secara perlahan, ia kembali mengelap air mata Dennis lagi. "Kau menganggapnya serius, ya?"
"Eh, maksud Kak Rei apa?"
Rei tersenyum lalu menjawab, "Pesan itu hanya bercanda saja, Dennis. Aku pura-pura marah sama kamu karena aku ingin melihat ekspresimu bagaimana jika aku berpura-pura tidak ingin menjadi temanmu lagi. Ternyata parah juga. Kau sampai menangis seperti ini. Lucu, deh!" Rei tertawa kecil, sambil mencubit pipi Dennis dengan gemasnya.
Dennis melebarkan matanya karena terkejut saat mendengar Rei yang tertawa dan tersenyum manis di hadapannya. Secara perlahan, Dennis melepaskan cubitan Rei dari pipinya lalu bertanya, "Jadi selama ini Kak Rei hanya bercanda?"
"Iya." Rei memasang wajah datarnya lagi, lalu berdiri. Ia duduk di pinggir tempat tidur lalu memandang langit-langit kamar. "Maaf aku telah mempermainkanmu dan membuat hatimu jadi sakit. Lagipula, mana bisa aku marah padamu, Dennis."
PLUK!
__ADS_1
Tanpa tanda, Rei tiba-tiba saja merasakan dorongan yang sangat kuat dari depannya sampai dirinya itu terlentang di atas tempat tidurnya. Sesuatu yang berat telah meniban tubuhnya. Ternyata itu Dennis. Ia memeluk Rei dengan erat di atas tempat tidur, lalu kembali menangis sambil menutupi wajahnya dengan perut Rei dan membiarkan baju Rei basah karena air matanya.
"Huwaaa... Kak Rei tega sekali. Aku hampir mau mati kalau Kak Rei benar-benar marah padaku. Haaa... tapi aku senang. Ternyata Kak Rei tidak marah. Aku terima semua candaan Kak Rei tadi." Dennis merengek dengan keras. Ia juga mengeratkan pelukannya sampai Rei merasa sesak. Rei juga berusaha ingin melonggarkan sedikit pelukan Dennis itu, tapi ternyata agak sulit. Ternyata Dennis tidak ingin melepaskan Rei.
"De–Dennis... kau terlalu berlebihan. Jangan sampai seperti ini, dong, aduh! Ah..."
"Huwaaa... aku tidak ingin melepaskan Kak Rei sebelum Kak Rei menerima permintaan maaf ku!"
"Maaf apaan? Jelas kau itu tidak salah, Dennis! Aduh!"
"Aku salah... aku sangat menyesal! Jadi maafkan aku Kak Rei!"
"Hoy, Hoy! Ini ada apa sih? Berisik banget?" Akihiro tiba-tiba saja datang dan membuka pintunya. Ia menghentikan langkahnya di depan pintu karena terkejut melihat posisi Dennis dan Rei.
Seketika Akihiro memasang wajah melasnya, lalu kembali menutup pintu secara perlahan. "Maaf, aku mengganggu kalian."
"EEEEH?! JANGAN SALAH PAHAM!" Rei membentak lalu melempar bantal yang ada di atas kasur ke pintu kamar. Setelah itu, Rei memaksa Dennis untuk melepaskan pelukannya, lalu bangun dari tempat tidur. Ia berlari cepat menghampiri pintu.
"Loh? Di mana Rei dan Dennis?" tanya Mizuki yang ada di depan kamar Dennis dan Rei. Ia sedang bertanya pada Akihiro. "Mereka berdua selalu terlambat. Mereka bisa kena masalah sama Bu Mia nanti."
"Ssstt ... jangan berisik. Dennis sedang ituan sama Rei." Akihiro menjawab pelan.
Seketika Mizuki langsung peka dan wajahnya memerah, lalu secara tidak sengaja ia berteriak. "De–Dennis?! Lagi?!" Lalu setelah itu, ia berjalan cepat ke depan pintu kamar dan langsung menyentuh kenop pintunya.
Mizuki melihat keadaan dalam kamar yang sudah sepi. Ternyata di dalam sana hanya ada Dennis dan Rei saja. Dennis sedang duduk di pinggir tempat tidur sambil memeluk selimut dan mengelap air matanya. Kalau Rei... dia berdiri tepat di hadapan Mizuki dengan tatapan tajam.
"Jangan salah paham." Ujar Rei dingin. Lalu ia melirik ke arah Akihiro dengan cepat dan menggerutu. "Dian bodoh! Jangan sebar rumor seperti itu."
Akihiro tersentak. Lalu ia tersenyum miring dan tertawa. "Ah, habisnya... tadi kalian di kamar itu sedang ngapain? Udah berduaan, peluk-pelukan lagi. Haduh... kacau!"
BUK!
Karena geram dengan perkataan Akihiro, Rei pun melempar bantalnya tepat mengenai wajah Akihiro. Bantal yang ia pungut di bawah pintu. "Jangan bicara seperti itu lagi!"
"Ah, baiklah!" Akihiro masih tertawa, lalu ia melempar bantal itu kembali ke pemiliknya. Rei menangkap dengan satu tangan, lalu berjalan kembali ke dalam kamar. Ia meletakan bantal itu di samping tempat Dennis duduk, lalu duduk di lantai untuk memakai sepatu.
"Ayo, Dennis! Kita harus pergi sekarang." Ajak Rei. Dennis mengangguk. Lalu ia turun dari tempat tidur dan berjalan mengambil sepatunya yang ia letakan di atas rak. Setelah itu memakainya.
Setelah Rei selesai mengikat tali sepatu, ia pun berdiri dan menunggu Dennis selesai. Lalu setelah semuanya siap, Dennis dan Rei berjalan menghampiri Mizuki dan Akihiro yang sudah menunggu di depan, lalu menutup pintu kamar. Setelah itu, mereka berempat bersama-sama pergi ke Villa.
Setelah mereka pergi, seseorang berpakaian serba hitam tiba-tiba saja muncul dibalik pohon yang ada di samping kamar Dennis dan Rei. Sosok yang tidak terlihat itu membawa karung di punggungnya dan wajahnya yang hitam mengarah dan menatap ke anak-anak yang baru saja pergi. Terlihat mulutnya terbuka sedikit seperti sedang bergumam, lalu lidahnya keluar dan menjilati bibirnya. Setelah itu, sosok itu pun pergi menghilang entah ke mana.
****
__ADS_1
Saat di dalam Villa, Bu Mia meminta Dennis dan Rei untuk duduk di tempatnya, sementara Bu Mia akan mengumumkan tentang permainan Uji Nyali hari ini.
"Semuanya sudah berkumpul, kah?" tanya Bu Mia pada anak muridnya. Ia melirik ke semuanya, lalu mengangguk. Semuanya juga ikut mengangguk. "Ternyata sudah semuanya, ya? Baiklah."
Sebelum memulai pengumumannya, Bu Mia berbisik pada teman sepekerja yang ada di sampingnya. Orang itu adalah guru dari sekolah Adiwata dengan murid-muridnya yang ternyata juga ikut bergabung dalam permainan malam hari ini. Guru itu seorang lelaki yang kira-kira sudah berumur di atas 30 tahun. Namanya adalah Pak Wijaya. Panggilan singkatnya adalah Pak Wija saja.
"Silahkan, Bu! Dimulai saja. Biarkan mereka memilih kelompoknya." Ujar Pak Wija pada Bu Mia. Bu Mia pun mengangguk, lalu kembali menghadap ke arah murid-murid yang ada di depannya.
"Nah, sekarang bebas, ya? Kalian pilih kelompoknya masing-masing. Sat kelompok terdiri dari 3 orang saja agar lebih menantang! Jadi jangan terlalu ramai."
"Iya. Usahakan 3 orang saja, ya? Boleh gabung juga kok dengan kelas saya jika tidak ada yang kebagian kelompok." Pak Wija menimpali.
Semuanya mengangguk paham. Lalu dengan cepat, mereka semua pun mulai menentukan kelompoknya. Saat pemilihan kelompok telah dimulai, Rei langsung menarik tangan Dennis agar ia bisa ikut dalam kelompoknya. Lalu setelah itu, Akihiro juga akan ikut dengan kelompoknya Rei. Jadi mereka pas 3 orang.
Kalau Mizuki, pastinya dengan Adel dan Yuni. Mizuki akan melindungi teman-teman kecilnya. Tidak terlalu kecil juga. Tinggi tubuh Mizuki hanya beda 40 cm saja. Mungkin sepundaknya Mizuki.
Kalau Rashino dan Nashira pastinya selalu berdua. Tapi teman sekelompok mereka yang satunya lagi, ia ambil saja si Ethan yang bisa memimpin kelompok.
Dan sisahnya menentukan kelompok mereka masing-masing. Setelah semuanya menemukan dan membentuk kelompok mereka masing-masing, Bu Mia dan Pak Wija menghitung jumlah kelompok dari masing-masing kelasnya.
Ternyata yang berasal dari sekolah Beautiful. D. High School berjumlah 9 kelompok dari seluruh siswa. Kalau dari sekolah Adiwata, seluruh kelompok berjumlah 7 kelompok. Tapi ada satu kelompok yang kekurangan anggota dari sekolah itu. Sedangkan dari kelas 3-C, malah kelebihan.
Putri sendirian belum mendapatkan kelompok. Dan ada satu kelompok dari sekolah Adiwata yang kebetulan sedang kekurangan kelompok satu orang. Jadi kelompok itu memutuskan untuk mengajak Putri bergabung. Dengan senang hati, Putri ingin bergabung. Sekarang kelompoknya Putri sudah lengkap. Anggotanya bernama Lian dan Lutfi. Walau keduanya adalah anak laki-laki, tapi Putri bisa mengandalkan mereka untuk keselamatannya. Kelihatannya mereka berdua juga terlihat baik-baik.
"Baiklah! Sekarang karena kalian semua telah memilih kelompoknya dan semuanya tidak ada yang kelebihan dan tidak ada yang kekurangan, maka Ibu akan mengumumkan cara bermain dalam Uji Nyali ini, ya?" Bu Mia tersenyum manis. Jadi sekarang... bagaimana permainan tengah malam itu?
*
*
*
To be Continued-
*
*
*
Thor izin Hiatus dan tidak melanjutkan Chika untuk sementara. Mohon maaf, karena di rumah aku lagi banyak tugas. Ada pr sampe setengah buku LKS. Terus dikumpulkan hari Sabtu. Kehidupan sekolahku gak seperti yang lainnya yang bisa libur sampe 2 Minggu. Kalo aku, nanti hari Senin juga masih masuk. Dikasih libur cuma 3 hari. Dan 3 hari itu digunakan untuk mengerjakan pr dari berbagai macam pelajaran.
Jadi mohon pengertiannya. Aku akan lanjut Chika setelah selesai Ujian akhir semester. nanti di Senin depan berikutnya. Jadi... Chika izin Hiatus 2 Minggu. Mohon pengertiannya, dan terima kasih telah mendukung Chika sampai sejauh ini. I lop u :)
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8