Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 28–Peringkat


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


BUAK!


"Ugh! Wa–waaaa! A–Adit! Apa yang kau lakukan?!" Dennis sangat terkejut saat tubuhnya yang sedang berjalan di gudang itu tiba-tiba saja terdorong sampai ke tembok.


Lalu setelah itu, Adit memukul tembok di samping wajah Dennis dengan keras. Saat Dennis melirik ke sampingnya, ia langsung melebarkan matanya karena ia melihat tembok yang dipukul Adit dengan tinjunya itu terlihat agak retak sedikit.


Adit sudah memojokkan Dennis dan menatapnya dengan tatapan yang menyeramkan. Dennis hanya bisa diam sambil gemetar ketakutan. "A–Adit? Apa yang kau lakukan?" tanya Dennis.


Adit tidak menjawab. Ia masih berekspresi wajah marah seperti tadi. Dennis tidak ingin menatap matanya, jadi Dennis memutuskan untuk membuang muka dari Adit.


Tak lama kemudian, Adit tersenyum lalu ia melangkahkan kakinya ke belakang. Ia sedikit menjauh dari Dennis.


Dennis menghembuskan nafas lega, lalu ia melemaskan seluruh tubuhnya. Ia bersandar di tembok tempat ia berdiri. "Si Adit ini maunya apa, sih?!" batin Dennis sambil berusaha untuk mengatur nafasnya. Sebenarnya sedari tadi, saat Adit dekat sekali dengannya, Dennis selalu menahan nafasnya karena ia merasa sesak jika berada di dekat Adit.


"Kenapa? Kau takut, ya?"


Dennis kembali membuka mata, lalu melirik ke arah Adit. Ia mengerutkan keningnya. "Kau ini! Sebenarnya apa mau mu, sih? Dari tadi tidak jelas banget jadi orang!"


"Sekali lagi aku ingin bertanya padamu. Anak baru... eh! Maksudku Dennis! Mau bantu aku, gak? Tolong bantu aku agar aku bisa lulus di Ujian Akhir Semester kali ini. Kumohon!"


"Eh? Apaan? Kenapa dia memohon seperti itu? Kenapa harus sama aku, sih?" gerutu Dennis dalam hati.


"Hah, memangnya aku bisa apa?" tanya Dennis.


"Kau kan berteman dekat dengan Dennis. Nah, otomatis kau pasti belajar banyak darinya. Kalau sudah begitu, kamu jangan lupa bagi-bagi ilmu yang kau dapatkan itu padaku, ya? Hehe...."


"Kenapa kau tidak belajar sendiri saja?" ujar Dennis dingin.


"Karena kalau aku belajar sendiri juga percuma. Aku tidak ada orang pintar yang bisa mengajariku." Jawab Adit. Lalu ia mengepal kedua tangannya dan mengangkatnya sampai di depan dada. "Dennis... kumohon bantu aku!"


"Hih! Kau itu keras kepala sekali. Aku pergi saja dari sini!" Karena sudah merasa geram, Dennis pun berjalan cepat untuk menjauh dari Adit. Lalu Dennis mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan melihat angka jarum jam yang ada di layar itu.


"Hah...? 5 menit lagi masuk kelas? Haduh! Aku lebih baik kembali saja." Dennis berlari keluar dari dalam gudang itu. Kali ini, Adit tidak mengejarnya. Ia masih tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.


"Satu anak pintar saja sudah merepotkan! Tapi ini... muncul lagi anak pintar lainnya!" gerutu Adit dalam hati. "Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus mencari cara untuk menyingkirkan mereka berdua. Tapi... kalau aku pikir-pikir, di kelasku sepertinya sudah muncul anak pintar lainnya. Hmm... apa untuk permulaan, aku melihat ke absen kelas saja untuk mengecek jumlah rangking mereka?"


Adit tersenyum miring. Lalu ia tertawa sambil berbalik badan. "Haha... aku harap, di absen itu aku masih di posisi pertama! Khu~ khu~"


****

__ADS_1


"Haduh... Kak Rei bisa marah nih gara-gara aku terlalu lama di sana. Ah! Ini juga gara-gara Adit yang selalu menggangguku tadi." Gumam Dennis sambil berlari dan terus menatap ke layar ponselnya. Saat ia sampai di tengah lapangan, Dennis bertemu dengan Rei yang tiba-tiba datang menghampirinya.


"Dennis! Kau dari mana saja dari tadi?" tanya Rei. "Aku cemas tahu!"


"Hmm... kalau aku ceritakan yang sebenarnya, nanti Kak Rei bisa semakin mencemaskan aku. Ah! Pokoknya aku tidak boleh bilang kalau aku bertemu dengan Adit di gudang tadi." Batin Dennis.


Dennis tertawa kecil dan menjawab, "Hehe... aku kesulitan saat mencari kemocengnya tadi. Soalnya kan benda itu agak kecil, dan barang-barang di gudang juga banyak, loh, Rei! Makanya aku ingin kembali ke kamar untuk mengajakmu juga ke gudang itu agar kita pergi bersama-sama ke sana untuk mencari kemoceng itu."


"Tapi ternyata aku malah bertemu dengan Kak Rei di sini. Kebetulan sekali, ya?"


Rei mengangguk paham. "Ooh... pantas saja kau lama. Tapi lupakan saja soal bersih-bersihnya karena kita harus kembali ke kelas! Lihatlah. Sebentar lagi bel masuk kelas akan–"


KRIIIING... KRIIIING....


"Kan sudah masuk! Sekarang ayo kita ke kelas, cepat!"


"Ta–tapi Kak Rei, aku belum membawa tasku."


"Tenang saja. Hari ini, di kelas tidak belajar. Ibu Guru akan memberikan pengumuman saja."


"Oh, benarkah?"


"Iya!"


Rei dan Dennis pun berlari menuju ke gedung dua. Tempat kelas mereka berada. Lalu ada banyak murid lainnya juga yang menghampiri gedung itu.


Saat Rei dan Dennis sampai di lorong menuju ke kelas mereka, tiba-tiba saja ada Akihiro dari belakang. Anak itu lagi-lagi selalu mengejutkan orang yang ia datangi. Tapi untuk kali ini, hanya Rei saja yang tidak terkejut dengan kehadiran Akihiro itu.


"Aku sudah biasa. Ngomong-ngomong, dari mana saja, kau?!" Rei membentak. "Tadi katanya kau mau pergi menghampiri Dennis juga untuk pergi ke gudang. Tapi kata Dennis, dia tidak bertemu denganmu di sana."


"Oh... hehe~ Aku tidak jadi pergi ke gudang. Soalnya... tadi aku mampir ke kantin dulu untuk makan sebentar." Jawab Akihiro dengan tertawaannya. Dia memang berkata jujur, tapi perkataanya itu telah membuat Rei jadi kesal.


"Cih! Sudah aku duga." Rei bergumam. "Selalu saja yang ada di otakmu itu cuma makanan saja!"


"Hei, hei~ Kau tidak tahu, sih! Di kantin ada menu baru, loh! Kalau kau mencobanya, kau pasti ketagihan, deh...."


"Ya. Aku akan mencobanya. Tapi aku tidak akan makan secara berlebihan! Sudahlah... kita harus cepat ke kelas sekarang!"


"Tapi Rei? Kok aku merasa aneh dengan lorong ini, ya? Sepertinya aku mengalami Deja vu, deh!" ujar Akihiro. Ia kebingungan sendiri.


"Eh? Memangnya kak Dian pernah bermimpi kalau kita berjalan bertiga seperti ini?" tanya Dennis.


"Bukan mimpi. Tapi... Deja vu versi aku ini berbeda. Aku agak heran saja gitu. Kenapa setiap aku ingin ke kelas, selalu saja melewati jalan ini. Kan diulang-ulang melulu. Aneh, kan?" jawab Akihiro dengan wajah polosnya.


"Canda mu tidak lucu." Gerutu Rei. Lalu ia mempercepat langkahnya. Begitu juga dengan Dennis. "Kak Dian mau kucubit, deh, ginjalnya!" ujar Dennis.


"Jangan ginjal. Cabut jantungnya saja langsung!" timpal Rei yang masih kesal dengan Akihiro itu.

__ADS_1


****


Saat sampai di depan kelas–


"Eh? Kenapa semua murid tidak masuk ke kelas mereka?" tanya Dennis saat ia melihat ada kerumunan teman sekelasnya yang sedang berkumpul di depan kelas.


"Ada apa di sana?" Rei juga jadi penasaran. Lalu ia melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menghampiri kerumunan itu.


Saat semua orang yang ada di sana melihat Rei, mereka langsung menyingkir untuk memberikan Rei jalan. Dennis yang ikut di dekat Rei sempat mendengar bisikan-bisikan mereka semua.


"Itu si rangking pertama!"


"Keren sekali!"


"Kyaaaaa... itu Rei. Dia tidak pernah berubah, ya? Masih tetap stay cool!"


"Aku jadi iri padanya. Karena kepintarannya itu. Dia hebat sekali!"


Ya. Bisikan itu semua adalah pujian untuk Rei.


"Ada apa di sini? Kenapa kalian tidak masuk ke dalam kelas?" tanya Rei pada semua teman-temannya.


Serontak semuanya ingin menjawab pertanyaan Rei itu. Mereka sampai rebutan. Semuanya melontarkan jawaban mereka pada Rei. Tapi ternyata, semua jawaban mereka tidak ada yang bisa didengar Rei karena terlalu berisik dan ribut.


"Se–semuanya tenanglah! Jawab satu orang saja!" bentak Rei pada semuanya. Seketika mereka langsung terdiam. Lalu ada satu anak yang menjawab Rei dengan ragu. Seorang murid perempuan bernama Naila Shawarma menjawab, "I–itu di sana. Ka–kau sudah tahu belum? Sekarang di depan kelas kita ada sebuah Mading yang terlihat canggih, loh!"


"Eh? Maksudnya? Mading canggih?" Rei meneleng.


"I–itu. Madingnya ada di belakangmu. Bentuknya seperti tab dengan layar besar. Berisi tentang semua informasi tentang kita termasuk peringkat kepintaran kita selama di kelas." Jelas Naila.


Rei terkejut mendengarnya. Awalnya ia tidak percaya. Tapi setelah ia berbalik badan dan melihat Mading itu secara langsung, baru Rei percaya. "Jadi... Mading ini?"


Semuanya mengangguk. Lalu ada satu anak laki-laki yang berujar pada Rei. "Kau hebat!" Ia ternyata memuji Rei. "Kau berada di peringkat pertama, loh! Kau bisa mengalahkan si Adit. Keren sekali!"


"Eh? Peringkat pertama?" Rei melirik ke Mading yang ada di hadapannya itu. Madingnya saat ini sedang menunjukan tentang rangking semua murid kelas 3-C dari urutan yang terkecil sampai terbesar. Dan yang ada di urutan pertama, ternyata terpampang nama Rei dengan fotonya yang selalu menarik perhatian para siswi yang menyukai tampang Rei itu.


"Oh iya." Rei tidak menyangka kalau dirinya bisa diurutan pertama saat ini. Ia merasa senang. Tapi ia sedikit agak gelisah juga. Soalnya... saat ia lihat, Dennis berada di urutan ke-4.


"Dennis hampir bisa mendekati rangking Adit. Tapi tenang saja. Adit tidak akan bisa bertahan di rangking dua itu. Dennis juga harus bisa melewati rangkingnya Adit!" batin Rei.


"A–apa?! Ini tidak mungkin, kan?!" Adit ternyata sudah berdiri dibelakang kerumunan para murid. Dan setelah ia melihat rangking di Mading itu, seketika ia menjadi geram saat melihat ada nama Rei di peringkat nomor satu. "Seharusnya aku yang ada di peringkat teratas itu! Tapi... kenapa malah si Rei?!"


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @Pipit_otosaka8


__ADS_2